Translate This Page

Thursday, June 3, 2010

Menembus Dingin, Angin Dalam Kesendirian

Sesak, kuil tua itu dipenuhi oleh cukup banyak turis yang datang berkunjung. Aku harus mengakuinya, Kyoto sangat mengagumkan. Kuil-kuil Shinto dan Buddha berdampingan bersama dalam harmoni tanpa ada pertentangan antar dua keyakinan yang pada dasarnya berbeda. Lagi, pelancong dari ras kaukasius itu semakin memadati kuil-kuil tua yang kelihatannya kesal dengan semakin banyaknya manusia yang mencoba menjajakinya. Teman-teman satu tur sekolah dan guru-guru terjebak di dalam kuil, mencoba mencari jalan keluar sambil terus berusaha mendapatkan udara segar yang bersaing dengan bau dupa dan asapnya. Aku tak begitu suka dengan bau dupa, sehingga 3 menit melihat-lihat bagian dalam bangunan kayu tersebut kurasa sudah cukup. Langit Kyoto kelabu, sesekali ada kabut tipis menghalangi pandangan sejauh kurang lebih 8 meter. Aku berjalan keluar kuil, mencoba menembus dinginnya cuaca. Entah berapa derajat Fahrenheit, tapi udara dingin berhasil menembus jaket dan kaus lengan panjangku kemudian menusuk kulit menuju tulangku yang remuk perlahan. Di tengah-tengah usahaku mendapatkan hangat tubuh agar suhu tubuh kembali optimal, aku masih bisa melihat seseorang duduk di tangga kuil. Ia melihat ke arah danau di depannya. Dari kejauhan di ujung danau ada sebuah jembatan yang menghubungkan Kyoto dengan hingar bingar megapolitan prefektur setelahnya. Matanya terlihat sayu, namun masih ada semangat dari rona wajahnya.

"Ka Bayou ngga masuk?", tanyaku sambil terus menggosok-gosokan tanganku.
"Ngga ah dek..", jawabnya sederhana. Anak yang usianya hampir seumuranku walaupun lebih tua, dengan tinggi yang lagi-lagi hampir sama dan tentunya dia yang lebih tinggi. Kakinya dihentakkan ke anak tangga, entah karena apa. Ia pasti kedinginan. Celana jeans biru tidak bisa membantunya menahan cuaca seperti ini. Jaket hitam aksen ungu tuanya juga takkan membantunya. Ia mulai membatu namun wajahnya masih menunjukkan senyum khasnya. Seseorang yang menyenangkan menurutku.
"Kenapa? Di dalem ada banyak orang loh ka."
"Ngga ah dek. Kan bau dupa. Bayou ngga suka, bikin pusing sama pasti baunya ngga hilang-hilang."
"Iya juga sih ka.."


Salah satu alasan mengapa aku pun tak mau berlama-lama di dalamnya. Untuk menghilangkan bau dupa itu memang cukup sulit. Sudah cukup pengalamanku saat kepergian Opa untuk selamanya. Di ruangan yang cukup besar itu kurasa mereka meletakkan dupa di setiap sudut rumah, di depan altar sudah pasti. Selesai upacara tersebut, aku benar-benar mandi untuk menghilangkan bau dupa yang menjelma menjadi bau tubuhku. Ditambah baunya menempel di bajuku. Bahkan parfum sekelas Giorgio Armani pun kalah dengan bau dari batangan tipis berwarna merah tersebut.

"Kak Bayou lagi bosen ya?"
"Ngga. Lagi asik aja sendirian di luar."
"Kok sendirian? Biasanya sama yang lain. Oh, kakak kan di dalem ya..", aku sedikit bingung karena tidak biasanya dia agak renggang dengan kakakku.
"Ya biarin aja dek, dia kan lagi ikutan tur. Kalo Bayou ngga mau ikutan ah cape. Disini aja jadinya ngeliat-liat pemandangan."
"Apanya yang diliat ka? Sakura belum mekar."
"Ya gapapa. Emangnya harus selalu mekar ya?"
"Tapi kan dingin ka. Masuk ke bis aja yuk ka.."
"Ngga ah. Bayou mau tetep disini aja. Ade aja ke bis duluan, nanti kaka susul sambil bawa takoyaki. Kamu mau kan, dek?"
"Hmm.. Kita beli barengan aja yuk kak. Masih ada beberapa sen nih."


Vendor takoyaki itu berada tak jauh dari kuil. Bahkan dari sini aku masih bisa melihat bis rombongan kami. Sebuah bangku kayu berwarna coklat kehitaman menjadi tempat kami beristirahat sejenak sambil menggigit setiap bagian dari makhluk bertentakel itu.
"Enak ya ka.."
"Iya. Apalagi sepi kaya gini."
"Ade ngga ngerti, ga biasanya Ka Bayou suka sendirian."
"Hmm.. Ada saatnya kamu menyendiri. Kamu ga bisa selalu ada di dalam hingar bingarnya kesibukan atau kesenangan kamu. Terkadang kamu dapat ketenangan jiwa dan kesenangan tersendiri saat kamu sendiri kaya gini."
"Maksudnya?"
"Secara ngga sadar, saat kamu sendiri di tempat kaya gini kamu akan dapetin ketenangan di jiwa kamu. Berfikir juga jadi lebih baik karena otak kita lebih jernih. Kuil ini, menyatu sama alam di sekitarnya. Berhasil membuat atmosfer mengagumkan, khususnya secara pribadi buat Bayou malahan jadi pengalaman spiritual tersendiri. Di tangga kuil tadi, Bayou masih bisa introspeksi diri dan berfikir tentang banyak hal. Bayou juga menyadari banyak hal-hal kecil yang sering dianggap remeh ternyata benar-benar punya pengaruh besar ke hidup Bayou. Di kesendirian juga Bayou menyadari akan pentingnya cinta, sahabat, dan keluarga. Bayou merasa lebih tenang dan lebih sehat di tempat seperti ini. Kebisingan dari mesin-mesin mobil, motor, polusi, cuma bikin Bayou sakit. Tapi disini, walaupun dingin tapi bikin Bayou merasa benar-benar hidup dan memang inilah hidup yang sebenarnya. Klaus, apa yang disebut hidup tidak selalu ketika kamu merasa sangat senang dengan semua kesenangan yang dibuat manusia. Kamu akan benar-benar hidup saat kamu menyatu dengan alam. Saat dingin menusuk tulang kamu, jangan anggap itu sebagai ancaman. Dingin mencoba mendekatkan diri dengan kamu dan saat kamu berhasil beradaptasi dengannya, kamu semakin dekat dengan alam. Alam membuat kamu mengintrospeksi diri kamu, memperlihatkan kesalahan-kesalahan atau sisi negatif yang harus diperbaiki. Alam juga yang membuat kamu mengerti akan kebesaran Tuhan. Bayangkan, apa ade bisa mikir tentang kebesaran Tuhan kalau di tempat yang ribut seperti itu? Atau ketika ada sangat banyak orang? Ya mungkin kamu bisa, tapi tak akan pernah diresapi dan dihayati. Saat kamu sendiri dan hanya bersama alam, di saat itulah kamu menyadari betapa indahnya keajaiban Tuhan."


Aku terdiam dan memaknai kata-kata Kak Bayou. Sebuah paragraf yang cukup panjang mengalir lancar dari mulutnya. Sebuah hal yang tak pernah kukira dari mulut seorang Kak Bayou, orang yang kukenal sebagai seorang yang lincah dan atletik. Kata-katanya terlalu bijak, sehingga aku tenggelam ke dalam pemaknaannya. Penjual takoyaki itu tidak mengerti dengan bahasa yang kami gunakan, sehingga ia kembali menyalakan pemantik apinya dan merokok dalam-dalam. Asap rokok segera hilang ketika perlahan butir-butir air turun dari langit. Hujan. Semakin lama semakin deras. Kami berlari ke arah bis, dan dari arah tangga kuil teman-teman dan guru-guru kami pun berlarian menuju bis. Hujan datang keroyokan, membuat kami ketakutan karena kalah jumlah. Setelah mencari tempat duduk, aku memilih duduk di sebelah Kak Bayou yang ternyata masih menikmati keindahan alam di luar.

"Hujan. Saat hujan, kamu tau ngga de bahwa dunia ini berubah?"
"Maksudnya?"
"Saat hujan, akan ada sesuatu yang berbeda di dunia ini. Kamu bakal tau kalau kamu udah bisa menyatu dengan alam. Bisa satu hati dengan alam. Kalau dilihat dari atas sana mungkin bisa terlihat bedanya."


Aku berada dalam pemaknaan dan kebingungan tersendiri karena kata-katanya. Bis mulai melaju, ke arah jembatan menuju hingar bingar perkotaan. Hujan turun cukup deras. Daun-daun pohon elm berguguran karena berat rintik hujan yang ditanggungnya. Di kaca, butiran-butiran hujan membentuk sungai, bertemu di satu titik dan turun ke bawah. Aku mulai mendapati diriku dalam suhu tubuh yang tepat, sehingga bisa melakukan berbagai pergerakan. Cuaca di dalam bis lebih hangat dibandingkan cuaca di luar. Jendela mulai tertutupi uap air. Aku menuliskan namaku di jendela. Dari kejauhan terlihat kuil tua tadi. Berdiri kaku dengan balutan warna coklat tua kemerahan. Gerbang kuil seolah menyambut pengunjung dengan payung-payung aneka warna. Cukup lelah, aku mengatur sandaran kursi. Kak Bayou kelihatannya tertidur. Aku pun mendapatkan posisi ternyaman dan mulai menutup mataku dalam campuran hingar bingar anak-anak dan suara air hujan di atap bis. Aku merasakannya. Air hujan itu menerpa wajahku halus.

Pasir Hangat Menerpa Telapak Perih

Pukul 3 sore merupakan waktu yang tepat untuk meluangkan sejenak waktu di bawah rimbunnya pohon kelapa sambil menikmati deburan ombak diikuti dengan suara gemercik dari anak ombak yang menerjang pasir basah kecoklatan. Sementara yang lain mencoba bermain air agak ke tengah, saya menikmati sejuknya angin laut sore itu, di atas sebuah kursi pantai dan ditemani dengan alunan lagu-lagu yang dengan tepat saya pilih dalam playlist berjudul "Sea, Serenity and Sunset". Sengaja saya tidak memakai kacamata hitam karena tidak mau dunia yang telah Tuhan ciptakan ini hanya sebatas layar monokrom oleh sepotong kaca kecil berwarna kehitaman yang ditempelkan dengan kuat pada sebuah frame berwarna hitam dari bahan stainless steel. Musik terus mengalun, menit demi menit terus berputar. "Beyond The Sea" telah sampai pada waktunya ia harus dimainkan, dan irama alto saxophone terdengar manis di telinga. Sedikit beradu keras dengan gemuruh ombak, namun masih bisa terdengar dengan jelas melodi-melodi di nada dasar C mayor tersebut.

Angin laut kembali berhembus, dan terus berhembus. Terasa halus di wajah dan menyegarkan. Saya bosan berlama-lama membangkai di atas kursi pantai kayu itu. Mulailah berjalan sepanjang pantai dan menginjak partikel-partikel pasir kecil yang terasa hangat di telapak kaki. Sesekali saya menginjak pecahan kerang yang cukup menusuk, tapi tidak sampai melukai saya. Berjalan lebih mendekati arah air, perlahan dan halus anak ombak mencoba menerjang kaki saya membuat saya runtuh ke pasir. Saya cukup kuat untuk berdiri tapi tidak sanggup menahan untuk tidak semakin bermain-main dengan ombak. Saya duduk di pasir dan mulai merasakan air membasahi lutut saya, kemudian terasa masuk ke dalam celana. Basah dari mulai pinggang. Matahari bersinar cerah, tapi tidak panas. Saya semakin bergairah untuk lebih menikmati sore ini. Bau air laut yang asin masuk ke hidung, dan saya pun semakin berjalan ke arah lautan biru. Berdiri menerjang ombak, yang bukan anak ombak lagi. Angin mencoba menguak rambut yang telah ditata dengan rapi.

Suasana yang menyentuh hati, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Betapa keindahan yang telah Tuhan berikan tak bisa dibandingkan dengan apapun. Sinar yang terpancar hangat, desiran anak ombak halus, pasir hangat sehalus kapas. Apalagi yang bisa saya katakan? Sejauh mata memandang, hanyalah lautan biru tua tanpa batas. Langit biru cerah, awan Cirrus putih, burung-burung camar, musik yang mengalun, dan sebungkus biskuit coklat ditambah dengan segelas teh limun dingin. Beberapa anak kecil berlarian, entah apa yang mereka kejar. Ada banyak layang-layang mencoba berpacu melawan gravitasi di langit sana, semakin mereka mencoba bebas, semakin benangnya menarik kembali mereka. Para peselancar menontonkan keahlian mereka menari diatas ombak, lekukan-lekukannya seperti legato yang mengikat not-not agar tidak lepas. Di sebelah sana ada banyak sekali orang yang mungkin sama-sama sedang menikmati mahakarya Tuhan ini. Beberapa turis asal negara-negara barat terlihat menyolok dengan bikini mereka. Setelah lelah bermain dengan air, saya kembali ke pinggir, naik ke kursi pantai dan menikmati lagu-lagu selanjutnya.

Matahari semakin turun, langit seperti di set menuju pengaturan warna magenta yang lebih tinggi, degradasi warna alami yang pastinya akan membutuhkan puluhan juta ton cat dan jutaan manusia untuk membuat lukisan sebesar itu. Siluet kapal-kapal nelayan mulai terlihat. Sinar matahari menyorot wajah bak spotlight. Angin lagi berhebus halus. Teh limun dingin sekarang telah habis, menyisakan sepotong limun di bibir gelas yang terlihat kaku. Es di dalamnya perlahan mencair. Saya pun kembali tertidur.

Monoton, Mematung, dan Membusuk

Melangkah ke jajaran batu-batu yang disusun sedemikian rupa, membuat sebuah pola klasik antara warna kelabu dan merah terakota yang mulai pudar seiring ban-ban dan tapak sepatu meingjaknya. Tersusun menjadi sebuah jalan yang cukup lebar, mengarah ke sebuah komplek bangunan-bangunan yang terlihat kusam. Daun-daun kering tertarik gravitasi, tak bisa melepaskan diri dari jeratnya, mengotori jalan tersebut. Dari kejauhan tampak beberapa tubuh, bercengkrama membuat kegaduhan. Suara-suara yang terdengar sama setiap harinya, wajah-wajah yang sama, dan tentunya apa yang disebut dengan "human beings" yang sama pula setiap harinya.

Menelusup lebih jauh, menapaki anak tangga yang lantainya mulai retak. Retakan-retakan yang terlihat ironis, ketika melewati masa-masa keemasannya. Dinding dengan beberapa retakan bekas gempa tektonik dan noda kusam dari debu, ikut mewakili bekas-bekas jamannya. Beberapa lukisan hasil tangan-tangan terampil menunjukkan kemegahan yang terjadi beberapa tahun silam karena orang-orang hebat yang ada. Namun sekarang mereka pergi, menyisakan lukisan-lukisan dan sedikit graffiti kampung sebagai kenang-kenangannya. Di akhir tuntunan tangga terdapat lobby kecil, sangat kecil dengan ukuran 2 x 2 meter. Menghubungkan koridor yang ada di sisi kanannya, tangga yang menuju ke dunia berikutnya, maupun surga bagi para penderita diare ataupun mereka yang tak kuat melepaskan hajatnya. Bau yang sama berasal tempat dari ujung anak tangga di setiap lantai. Melihat ke arah kanan, koridor tua dan mengerikan memisahkan dua buah ruangan yang cukup besar. Koridor gelap, terkadang lampu neon itu berkedip-kedip manja. Kedipan yang menakutkan selepas matahari turun ke peristirahatannya. Tubuh lemas dengan langkah gontai setiap kali menapaki tangga yang sama, memasuki koridor yang sama dan ruangan yang sama walaupun hanya beberapa hari dalam seminggu. Ya, sepertinya 5 hari dalam seminggu mengalami deja vu yang sialnya akan terus dialami sampai masanya selesai.

Di lantai terbawah gedung, jika ditelanjangi secara horizontal akan terlihat seperti labirin kecil. Dibawah setiap tangga utama, terdapat tangga yang mengarah ke mezzanine. Sumpek dan sesak, di ruangan kecil yang berukuran mungkin hanya 2 x 4 meter. Memasuki pintu kaca yang berderit setiap terbuka, ada sebuah ruangan yang cukup besar. Bisa jadi titik pusat di lantai terbawah. Di tengah-tengahnya ada pintu yang menghubungkan ke koridor yang lebih pendek, namun terdapat banyak pintu. Salah membuka pintu semoga tidak masuk ke lubang buaya. Di ujung koridor ada pintu menuju udara bebas. Lagi-lagi berderit setiap dibuka. Suara deritan bak jeritan anak kecil yang disiksa orangtuanya.

Dibalik semua perincian bangunan, bagaimana dengan penghuninya? Entahlah, mereka sama tak berubah.
Tak ada yang berubah. Hitam dan putih. Kursi yang sama, debu yang sama.
Wajah menyebalkan dan bualan hasil copy-paste oleh manusia itu sendiri.

Monoton, persis layar TV tahun 50an.

Memang Tidak Tahu

Hidup memang bukan DVD player ataupun iPod yang bisa me-rewind segala jenis film ataupun musik yang ada di dalamnya. Oleh karenanya ketika kita merasa kehilangan suatu bagian dari film atau lagu tersebut, kita akan sangat merindukannya. Bahkan mencari lagi supaya kepingan hilang itu bisa kembali dinikmati.

Mungkin satu tahun setelah aku dan kakakku memilih jalur yang berbeda. Dia mengarah ke pusat kota, sementara aku mengarah ke bagian barat kota. Kehidupan kami berbeda, sangat berbeda terutama dari mulai pukul 7 sampai pukul 5 sore. Jalan pulang yang kami tempuh berbeda, dan tidak ada lagi kaki-kaki yang sangat kukenal melangkah di depan bahkan tepat di sebelahku.

Aku sengaja memilih pulang dengan berjalan kaki. Memang terbilang cukup jauh jarak dari sekolah dengan rumahku. Apalagi kalau dengan berjalan kaki, sudah cukup olahraga hari itu. Sore itu matahari tidak bersinar dengan terik, namun cerah. Segelas minuman dingin di tanganku cukup melegakkan tenggorokan yang perih, walaupun tak bisa dipungkiri kedua kakiku dan tubuh minta dipijit Shiatsu karena letihnya. Sampai di gerbang komplek, aku tak cukup puas. Sebenarnya rumahku tak jauh dari gerbang komplek. Ya, aku bisa melihat pos dari rumahku sebenarnya. Namun karena jarak dari satu rumah ke rumah lainnya yang cukup panjang dan bukan karena taman pemisah atau kavling kosong sebagai pemisah namun betapa besarnya rumah-rumah yang ada, terpaksa aku anggap jarak dari satu rumah ke rumah berikutnya seperti melewati 3 buah minimarket. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan sejenak memang. Beberapa anak kecil bermain sepeda, ada beberapa pasangan muda yang berbagi kasih dan cerita. Dua ekor Terrier kecil digendong oleh pemiliknya sambil berjalan sore, sementara anak kecil disebelahnya yang kurasa adiknya memegang kokoh PSP sambil menekan tombol-tombolnya. Entah permainan apa itu, tapi si adik terlihat sangat serius. Kurasa satu level yang ia tamatkan telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia di kota Bandung ini. Aku agak sebal ketika mulai melewati patung di bundaran tersebut. Terkadang beberapa pengendara motor yang egois berputar-putar disana atau menonjolkan kemampuannya bermain kecepatan. Raungan motor terdengar menyebalkan, bahkan lebih buruk dari Tenor Saxophone yang rusak. Semoga saja "Membran Timpani"-ku tidak apa-apa.

Sampai di depan rumah dan langsung melangkah ke beranda depan. Tidak ada yang berbeda. Seperti biasa, mobil tidak ada di carport. Ayah masih di kantor. Dari jauh aku masih bisa melihat kolam dengan air kebiru-biruan. Aku ingin berenang. Beberapa ekor kucing berlarian di atas rumput hijau. Ingin kubawa masuk ke rumah namun kurasa bunda tak akan membiarkan lebih banyak kucing lagi merusak bagian dalam rumah. Bel kutekan dan segera pintu terbuka.

Memasuki ruang tamu, beberapa foto terpajang. Pengaturan vertical blind dan pencahayaan yang tepat memberikan efek sepia yang natural. Aku masuk lebih dalam, ke sebuah ruangan yang besar. Aku meletakan tasku yang berat seolah-olah berisi batuan hasil lava yang membeku di atas kursi piano. Iseng, aku menekan satu tuts di oktaf terendah. Pianonya menggerutu. Aku tertawa kecil. Melangkah masuk lebih dalam ke ruang keluarga. Tak ada orang. Sepi. Ruang makan pun tak lebih daripada tempat menyimpan kursi dan meja makan saja. Buah-buahan sebagai pengganti bunga. Karena melihat sangat sedikit tanda-tanda pergerakan dinamis di lantai bawah, aku pun menyusuri anak tangga, berjalan agak cepat dan membuka pintu kamar sedikit tergesa-gesa, melangkah masuk ke kamar dan membantingkan tubuh ke atas kasur.

Selepas melepas seragam dan mengenakan pakaian yang lain, aku melangkah turun. Bunda di ruang keluarga, dengan bukunya dan secangkir teh limun hangat. Ayah kelihatan baru pulang dari kantornya dan tepat di anak tangga terakhir aku hampir bertubrukan dengan kakakku yang baru tiba pulang sekolah, seperti kejadian kapal Olympic dan Hawke.
"Ade.. Jalannya hati-hati dong."
"Maaf. Ga sengaja."
"Gapapa. Gimana sekolahnya?"
"Cape.", kalimat terakhir sengaja dilontarkan dengan volume yang agak keras agar bunda dan ayah bisa mendengar.
"Kamu ini, yaudah ntar ngobrol-ngobrol sama kakak kalo kakak udah ganti baju ya dek.."

Kakakku menghilang dibalik pintu kayu bercat warna putih. Ia bahkan tidak menyisakan bayangannya.

Aku pun pergi ke ruang keluarga. Ayah sekarang ada disana juga dengan bunda. Seperti biasa ayah yang sibuk tidak akan begitu peduli dengan kegiatan-kegiatanku.
"Gimana di sekolah dek?"
"Ga rame. Cape pa."
"Oh.."

Ayah, 'Oh' bukanlah jawaban yang aku ingin dengar. Bunda masih berkutat dengan bacaannya dengan secangkir teh yang setengah habis.
"Bunda.. Ade capek di sekolah."
"Jalani aja, nanti juga betah."
"Ih, dengerin cerita ade coba! Ayolah, ade cape. Bunda sama ayah harus tau."
"Ya ikutin aja. Gitu aja kok repot dek."
"Papa ngga bisa ngerasain sih gimana rasanya!"
"Dek, dengerin papa. Coba aja dulu dijalani. Kamu coba ikhlas, coba jangan terlalu banyak fikir ini itu ini itu. Biarin aja. Omongan orang yang negatif jangan didengarkan. Kalau kamu pusing ya minum obat saja. Ohya, ayah malam ini ada makan malam sama rekan-rekan ayah. Kamu mau ikut, Klaus?"


Aku yang sudah kehilangan emosi pergi dari ruang keluarga. Ayah dan bunda sedikit terkejut namun segera sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku ambil tasku di atas kursi piano. Satu bagian tasku menyambar tiang penopang lid piano, bergeser dan miring akhirnya terjatuh. Lidnya menutup dengan keras, membuat piano mengamuk. Ayah, bunda, dan aku pun kaget. Tapi aku tak mau melihat ke belakang. Aku terlalu kesal. Tak pernah didengarkan. Dan memang tak mau mendengarkan.

Memang, memang tidak tahu keadaannya.

Saturday, May 29, 2010

Great Wishes in Each Gift!

Wow, one of those special gifts for my birthday was a blue box (I could make it as a time capsule) containing so many swan-shaped origami papers. My friends gave me on this afternoon, when we were enjoying tea-time at Pizza Hut. They were colorful and there was also my favorite color, blue.

The rule said to open each paper and read the message inside. Whoaaa! My sister said the box contained about 39 swans from different friends! Oh God, bet how long I could open it one-by-one and read the messages LOL

It wasn't a long time to find a message from 'her', my super-duper-huckleberry-pie sister. The message was something.. I guess I should know it by myself LOL (in other word : lovely secret). Then I couldn't open it one-by-one cuz it would take longer time. So I continued opening the papers in my bedroom as soon as I came home.

Whoaaa! Some messages from unpredictable persons! Thanks you guys have made me aware that this life should have been enjoyed. Well I was used to thought from one point of view only and I was used to see the negative side. You guys just made me open my mind. Other papers said something inspiring. Other papers were come from the old friends LOL

I couldn't mention the friends who wrote those papers. Some of them were unnamed and I was so curious. But thanks buddy. At all!

Friday, May 28, 2010

Welcome Brand New Age, Kazuma!

Wow! I'm stepping new age of my life and yeah realizing more than 80 notifications on my Facebook account, soon I should say thanks to 'em from the greetings. Well, so what's going on with the first time of my new age? I'm 16 or 17 now, I don't care of that actually. I don't really make it so special personally. I just woke up lately and found several new messages from my friends. Thanks for the greetings, pals! And went downstairs, met my mom and she said "Happy Birthday!". Walked to the toilet and washed my face. Then, yeah nothing's so special!

I don't think that I should celebrate this at all. I'm growing older, that's the most important thing I know. Sometimes, I wish to stay in 15 or 16 for longer >.< hahaha. Any wishes? Umh.. Wanna be taller and a bit fatter (what?), that ouvalresearch jacket so I wouldn't have a cold when driving the motorcycle, and what else? I dunno what to wish!

At all, I just wanna be errr.. better.
And, what can I say for more? I don't know.
I guess I have to go to the barber shop today...

Thursday, May 27, 2010

Untuk Direnungkan : Partikel Ke-x-An

Dalam bahasa Indonesia, salah satu partikel-partikel atau bisa disebut dengan awalan dan akhiran yang cukup terkenal ialah ke-x-an, dimana x merupakan variabel yang bisa diganti dengan kata sifat atau kata benda. Kali ini, saya mau coba memberi semacam bahan renungan (astaga) atau apalah. Sesuatu yang sepertinya hendak kita pikirkan, karena melalui partikel awalan dan akhiran ini kita bisa menyadari sesuatu.

Bunda mengingatkan saya tentang satu hal,
"Segala sesuatu yang ke-an itu biasanya bersifat negatif. Umumnya negatif. Karena ke-an itu menunjukkan sesuatu yang berlebih.."
Yap! Berlebihan. Sesuatu yang berlebihan biasanya bersifat negatif. Entahlah mungkin dari pandangan beberapa orang berbeda-beda karena masing-masing punya argumentasi sendiri. Tapi dibawah ini saya mau coba jelaskan beberapa alasan yang menurut saya kata sifat yang diikuti oleh awalan ke- dan akhiran -an itu seringnya berefek negatif :

Ke-baik-an : Dalam konteks ini sifatnya kata kerja. Terlalu baik. Memang baik sih tapi kalo kita terlalu baik sama orang, apa kita mau terus-terusan 'dipekerjakan' atau 'selalu mengalah' demi orang lain? Lantas dimana kita bisa meminta hak-hak kita?

Ke-jahat-an : Sudah jelas lah. Terlalu jahat ya negatif.

Ke-kaya-an : Terlalu kaya. Terlalu kaya itu ga baik juga menurut saya. Jadi incaran para maling (aduh bahasanya 'maling'...), susah buat ngatur hartanya, malahan jadi suka foya-foya, dan yang terakhir harta sebanyak itu ga akan bisa dibawa mati.

Ke-miskin-an : Ini apalagi. Kalo miskin ya.. Ngerti lah. Terlalu miskin ya apalagi.

Ke-bagus-an : Bagus dong kalo misalnya sesuatu itu bagus. Tapi terlalu bagus juga jelek. Mau tahu apa? Kita tidak sadar dan terlalu termanjakan karena kita ngga melihat sisi kekurangan dari satu hal. Itu menyebabkan seseorang mendekatkan dirinya menuju sesuatu yang bisa disebut arogansi.

Ke-jelek-an : Udah pada ngerti lah..

Ke-manis-an : Manis itu enak. Iya lah, kalo kue ngga manis ya rasanya apa dong? Tapi kalo kemanisan ato terlalu manis? Kasian orang yang kena diabetes dong. Apalagi kalo pakenya gula murni bukan pemanis buatan.

Ke-asin-an : Bunda sering ngejek si mbak kalo masak sayur terus keasinan, "Asin banget mbak.. Mau nikah ya. Hhehehe.." dan tentu aja di lidah rasanya jadi aneh. Saya ngga begitu tahan garam soalnya.

Ke-cantik-an : Cantik itu bagus, indah, buat sebagian orang kecantikan itu karya seni alamiah (taraaa!), tapi terlalu cantik juga ga bagus juga. Kenapa? Sekarang gini deh, kalo orang itu terlalu cantik dan banyak orang yang muji dia, balik lagi orang itu mendekati apa yang disebut dengan arogansi.

Ke-cakep-an : Sama kasusnya kaya kecantikan, cuman kalo cowo biasanya jadi lebih cengos ato belaga.

Ke-pintar-an : Terlalu pinter bagus juga sih. Tapi beberapa efeknya selain bisa mendekatkan diri pada arogansi juga membuat orang-orang disekitarnya yang punya kepandaian lebih rendah jadi kebingungan. Kadang-kadang ide-ide gilanya bikin orang lain kaget, jadi bingung harus ngapain. Kasian yang lain pada kerimpungan ngga jelas sama ide-ide jeniusnya.

Ke-bodoh-an : Yang ini lebih kasian. Terlalu bodo ya jelek banget lah. Agak pinter sedikit jadi ngga akan dikibulin sama orang lain.

Ke-polos-an : Kalo terlalu polos gampang ditipu orang lain. Bisa juga jadi bawahan orang lain kalo kaya gini.

Ke-bangga-an : Yang ini deket banget sama arogansi. Ga baik terlalu bangga akan sesuatu yang kita miliki (ingat, Tuhan bisa mengambil apa saja dari kita kapanpun dimanapun).

Ke-pede-an : Ngerti lah.. Terlalu pede bisa gawat. Over-confident bisa bikin orang mukanya tambah tebel. Tapi bagusnya, ga usah pake bedak juga mukanya udah tebel. Lebih hemat lah ga usah beli kosmetik.

Ke-malu-an : Bukannya jorok. Ini konteksnya kata sifat. Terlalu malu itu jelek. Cobalah lebih membuka diri sama orang lain. Sapa tau aja bisa eksis kan kedepannya jadi artis (ato penyanyi?).

Ke-gila-an : Yang ini harus cepat-cepat dibawa ke rumah sakit jiwa kayanya. Ato seengganya di terapi biar rada waras.

Ke-ribut-an : Beberapa orang suka mendengarkan sesuatu (biasanya musik) yang keras-keras kaya hardcore ato underground. Tapi beberapa yang lain ngga. Terlalu ribut juga bisa mengganggu yang lain.

Ke-lembut-an : Terlalu lembut juga ga bagus. Musik-musik lembut emang enak didengar, tapi dalam waktu yang pas. Serasa bodoh buat saya kayanya kalo lagi sleepy-time di sekolah denger lagu-lagu klasik tempo Adagio. Sekolah bisa jadi hotel kalo gitu sih.

Ke-keras-an : Terlalu keras tuh ga baik. Kalo anda dikerasin sama orang lain suka ngga? Ngga kan? Makanya jangan terlalu keras.

Ke-rapih-an : Rapih itu bagus. Terlalu rapih juga bisa membuat anda terlihat kaku di mata orang. Terlihat sebagai karakter yang kaku, disiplin, sangat tegas. Kalau ada sedikit garis-garis kusut kan kelihatannya disiplin tapi masih bisa terbuka.

Ke-kusut-an : Kucel bin kumel ngga bagus lah! Masa mau ke undangan kaya gitu? Lebih rapih lah sikit.. Kan terlihat okay.

Masih banyak lagi sih contoh-contoh yang lain. Tapi kalau dilihat ternyata memang lebih ke arah negatif kalau buat saya sih. Yah ada sisi positifnya, tapi ya.. tetep aja gimana pun juga yang berlebihan itu ngga baik. Air kalo berlebihan bisa luber ato banjir. Api kalo berlebihan bisa kebakaran. Panas kalo berlebihan bisa bikin gerah. Dingin kalo berlebihan bisa bikin beku. Jadi, apapun yang kita nikmati kalau bisa jangan terlalu berlebihan. Bukankah Tuhan ngga suka dengan segala sesuatu yang berlebihan? Iya kan?

SMS Pending dan Hadiah Langsung Koneksi Lemot!

Haduh, kali ini memang cuaca juga salah satu faktor yang cukup ambil bagian di kasus ini. Koneksi lemot! Ah, kasusnya terlalu klasik karena terlalu sering dan orang-orang udah mulai bosen termasuk saya yang dari tadi dalam hati ngutuk-ngutuk ISP sama cellular operator yang bikin tangan gatel pengen nonjok.

Hujan! Petir! Whadefak! Sebenernya harus disyukuri sih soalnya kalo ga hujan juga ntar panas ato kegerahan (manusia tuh ya emang dilematis, kalo panas minta ujan eh kalo ujan minta panas). Lagian hujan juga emang hadiah dari Tuhan buat semua makhluknya. Tapi kalo kebanyakan kan ribet juga. Misalnya ujan bikin koneksi jadi jelek, apalagi buat internet!

Aaargh! SMS pending terus. Harus ngirim sampe berkali-kali. Mending ada yang nyampe, taunya ngga ada yang nyampe. Dan baru delivered pas udah beberapa jam kemudian! Bangke!! Kualitasnya dong! Jangan cuman ngembor-ngemborin terus bonus ato harga murah ini itu ini itu. Saya sih ngga begitu kepengaruh sama iklan di tivi. Soalnya baca di majalah Pulsa juga katanya semurah-murahnya ato gratisan yang dikasih sama operator tetep aja ada biaya 'bocor' yang harus kita bayar. Halah, gratisan ini itu ini itu.. Gratis sih iya tapi pendingnya najooong!

Eh, penderitaan si saya belum berakhir. Dan mungkin juga penderitaan yang sama dengan yang beberapa dari kalian rasakan. Saya lagi internetan. Eh, taunya ngaruh juga! Twitter ga bisa dibuka (malahan ngelagg tai banget), Facebook juga harus di refresh berulang kali, maen game ga nge-load sampe tabnya di close, terus Tweetdeck error ga bisa posting status, mau bikin postingan di blog gagal. Yang sembuh cuman torrent aja yang lagi download electro-club. Tuh tanda loading masih muter-muter di tab Twitter sama Facebook. Pengen ditendang sumpahnya tuh modem asuuuu!!!

Halah,, kapan ya koneksi di Indonesia bisa lebih baik?
Seengganya ngga ada ngelagg ato lemot kaya gini lah kalo internetan. Urusan speed bisa bertahap.

Saturday, May 22, 2010

So Shameless

Lyric and Arrangement by Kazuma Dewanto Ivanov
Using piano, played on D major

I wonder how you keep hanging up on me
I wonder why you keep acting like that shit
So then I try to make you realize
That you're shitty shameless!

Thick face, ears of deaf, can you hear me?
Blind eyes, helplessly, are you still there?
So then I try to make you realize
That you're shitty shameless!

I give you my hand when you need me
I give you my money when you ask me
But soon I realize that you just
Betray me and you're backstabber, o damn!

Reffrain :
Shameless, shameless, you're Mr.Shameless
The eyes can't see and ears can't hear voices
Pathetic, pathetic, you're Mr.Pathetic
What can I say more than "To Hell With Ya?!", hahahaha!

Thick face, ears of deaf, can you hear me?
Blind eyes, helplessly, are you still there?
So then I try to make you realize
That you're shitty shameless!

I give you my hand when you need me
I give you my money when you ask me
But soon I realize that you just
Betray me and you're backstabber, o damn!
 
Reffrain :
Shameless, shameless, you're Mr.Shameless
The eyes can't see and ears can't hear voices
Pathetic, pathetic, you're Mr.Pathetic
What can I say more than "To Hell With Ya?!", hahahaha!

Bridge :
You think you're kinda perky with those fucking acts?
You just make shame of yourself, dude
And what can you do as I see all of the facts
You stab my back and leave me dying sick

Reffrain :
Shameless, shameless, you're Mr.Shameless
The eyes can't see and ears can't hear voices
Pathetic, pathetic, you're Mr.Pathetic
What can I say more than "To Hell With Ya?!", hahahaha!
2x
Gotta burn your face, dude! Hahahahaha!

Tuesday, May 18, 2010

Glamorous Prisoner Alike

I don't care. No matter how beautiful it is made from the glass, diamond, shitty gold, silver. No matter how many things it has within, how many stuffs it has within. Once it's called prison, so yeah it is. You might remember the story about a hummingbird in a cage. The owner decorated the cage with gold, ornaments, put a swing, water-glass, and little comfy pillows into the cage. That little hummingbird might enjoy the 'facilities', but he didn't get his freedom. So, no matter how luxurious it was, the bird wouldn't sing or hum. The owner asked that little pity hummingbird to hum and sing. He (a bit) forced the bird to sing whereas that little bird was so tired. Everytime the bird looked out the window and saw his friends humming chirping singing happily on the branch, he tried to get out of the cage. It made him basically depressed so he wouldn't sing. If the owner kept doing it to him, he could die miserably.

Or remember about the luxurious prisoners? They might be corruptor or millionaire, had earned a lot of money. So once they sentenced to be jailed, they could pay for extra facilities for their jails. How come! 42 inch LCD television, mini-bar, comfy couch, king-size bed, air conditioner, tablet PC, coffee-maker, even private bathroom inside a jail? Were they building a hotel room or what? Hahahaha, I know one thing and I'm totally sure. They weren't ready for the jail so they tried to 'move' their houses to the prison. Deep inside their heart should've said like this, "However, this is a 3x4 metres square jail where I can't breathe the fresh air. Air conditioner might be able to set the temperature as cool as we wish. But it couldn't give the real fresh air like the one outside there. They don't set me free".

Get the pressures from them, threatened, given (read : forced) so many dumpy tasks to do, so quickly I become quite rascal. I always try to get out and runaway, eventhough runaway won't solve the problem. At least, I just want to breathe the fresh air. I just want to sing happily like the hummingbirds singing on the branch of apple tree. I don't care whether its service is great. I know that what's written in the leaflet is different with the fact. For this long, my parents pay for my sadness. Because I don't get anything. I get the sadness and threats. Unnoticed, left alone, and I don't belong.

Dear God.. I wonder how long I can survive there..