Translate This Page

Tuesday, July 6, 2010

I Was Looking For The Old Town But Skyscrapers Blocked My Way

Rencana jalan-jalan ke Jakarta hari ini sedikit terbilang mendadak, ditambah lagi bangun pagi disambut dengan sakit damn perut. Tapi perjalanan yang dimulai jam setengah 8 itu dilalui dengan mampir di Rest Area buat beli Soyjoy kesukaan saya dan juga kejebak macet di gerbang tol Pondok Gede (udah biasa jadi nothing's special). 

Akhirnya, mobil Kijang Innova warna silver dengan plat D1291HE berhasil nerobos kegilaan jalan raya dan meluncur ke area Mega Kuningan. Ga kaya Bandung yang masih 'ikhlas' nyisain lahan kecil buat bangunan berlantai 1 atau 2 di sebelah gedung tinggi, Jakarta tuh kayanya it's all about skyscraper everytime you look out the window. Bagus sih, karena pembangunannya ke atas bukan ke bawah (anggaplah menghemat lahan dan juga simbol kemajuan *halah*). Tapi setelah dipikir-pikir lagi bosen juga karena kiri kanan tiang-tiang langit semua.

Setelah men-drop off papa sama rekan-rekan kerjanya di kantor Departemen Agama (entah ada urusan apa, tapi denger-denger sih kayanya sebentar lagi saya diajak main ke Singapura lagi *yihaa!*), saya bingung sendiri harus kemana. Ditemani supir saya yang baik hati *tingting*, menjelajahi daerah sekitar kantor Departemen Agama yang ternyata tetanggaan sama gedung Pertamina. Tepat di depannya ada Masjid Istiqlal. Saya dengan naluri paparazzi saya yang emang udah nyiapin kamera dari awal, langsung ngambil sudut-sudut istimewa ala trigonometri buat take pictures. Semua gambar yang hari ini saya ambil sengaja di-tone ke monochrome. Sedikit menyayangkan karena saya ga bisa masuk ke bagian Masjid lebih dalam, dikarenakan cuaca juga yang panasnya alaihim that made me scream "I can't stand the heat anymore!!". Tapi yang saya liat di TV ato koran sih bagian dalam masjidnya, wuiiih keren!! Pillar-pillar penyangga ceilingnya patut diacungin jempol, dengan ketebalan yang kayanya setebel pohon Sequoia *ato apalah itu*.

Bego! Lupa setting aperture akhirnya.. blur!

Bagian depan Masjid. Salut sama architectural goal-nya


Sudah cukup puas mateng di area Istiqlal, saya cukup nyebrang jalan aja buat mampir ke salah satu cagar budaya yang udah disahkan (menurut papan informasinya). Katedral Jakarta, yang sepintas mirip Katedral Koln di Jerman. Dan sayang banget saya juga ga bisa masuk ke bagian gedung walaupun sebenernya satpamnya sih ngijinin saya (anak baik sih *haha*) karena kalo mau masuk ke dalam harus ijin dulu ke.. Siapa ya? Lupa saya, entah uskupnya ato siapa ya saya lupa atau Bapak XXX entahlah. Cukup saya ngambil gambar dari luar walaupun kurang greget!

Fasad bergaya Gothic, I like this!


Patung Kristus Raja. Di bawah patung ini, ada celah kecil untuk taro lilin. Orang-orang berdoa disana. A photo of me would show the benches for people to sit and pray.

Patung Maria di antara dua pintu masuk. Di pintu masuk sebelah kanan ada ramp buat kursi roda.

Sekali-kali boleh kan berani tampil di depan kamera :P



Sebenernya ada beberapa foto saya lagi sih, salah satunya ada yang lagi berlutut sama ada satu yang kurang enak diliat (berdiri di depan pintu Katedral tapi gayanya ga banget). Cuman jangan ditampilin disini soalnya mukanya aneh! Di tempat itu bisa berdoa. Di bawah patung Kristus Raja ada celah kecil buat taro lilin. Keliatan bekas-bekas kebakar karena api lilinnya, dan tulisan bahasa entah Belanda atau Jerman atau Latin yang sama-sama ngga jelas karena ketutupin jelaga dari lilin.

Oke, capcus ke tempat berikutnya saya pergi ke Atrium Senen. Tau gak, baju saya udah basah sama keringet dan terpaksa lah saya beli baju baru. Di Pojok Busana, saya beli satu tank yang oh waw harganya (Thanks God) enak di kantong!

Ugh!

Ohya, di persimpangan menuju Atrium Senen juga saya liat lagi billboard dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang intinya memperingatkan anak-anak muda supaya ga kejerumus sama narkoba. Dengan judul "This High or That High" dan dua gambar dari satu pemuda dengan jas lengkap. Bedanya, di gambar kiri menunjukkan si pemuda yang sukses (dalam keadaan high) karena ga pake narkoba. Di sebelah kanan, karena si pemuda pake narkoba jadinya dia high beneran alias meninggal (digambarin si pemuda ada di dalem peti mati dengan rangkaian bunga *hiyyy*). Ga saya foto billboardnya soalnya ngeliatnya juga merinding. Entah efek dari sananya atau karena cuaca, muka si pemudanya keliatan pucet banget. Saya jadi takut. Kalo yang udah pernah liat billboardnya mungkin ngerasa agak merinding juga. Makanya sebagai generasi penerus bangsa, kita ga boleh pake narkoba! Say no to drugs!

Sampe di parkiran Departemen Agama, ternyata papa udah selese rapatnya. Maka langsunglah mobil diarahkan menuju Parjis van Java. Kali ini kita ngelewatin jalan Thamrin, dan saya banyak dapet foto-foto kota Jakarta. Sebenernya saya kehilangan sisi Jakarta tua dengan segala keunikan dan keantikan bangunan-bangunannya. Saya justru cari sisi tuanya. Antik, kuno, kesan rustic dan historical. Bangunan-bangunan yang jadi saksi bisa kemajuan ibukota dan kejadian-kejadian di masa kolonial Belanda dulu. Beberapa udah alih fungsi, entah jadi kafe atau sekedar motel. Beberapa bahkan menyandang atribut 'horror'. Saya bener-bener cari sense kaya gitu. Sense yang saya rasa, Jakarta hampir kehilangan mereka (baca: Bangunan tua). Seperti halnya Bandung yang perlahan-lahan bangunan beraya kolonialnya mulai digusur jadi high rise. Kebanyakan yang saya dapet itu foto-foto skyscrapers, mall, offices, sampe high rise apartment. Saya pengen banget ke distrik kota tua Jakarta, dan naek sepeda onthel.
So the pictures below show the city buzz. Sepintas ga ada yang menarik, bahkan kalo kata saya sih Singapura sama Jakarta itu seimbang dari segi arsitektur modern bangunan dan persaingan tingginya. Tapi sebagai anak bangsa, kita harus bangga kalo Jakarta itu memberikan hasil yang cukup signifikan dalam pembangunannya.






Tugu Selamat Datang, dan shopping center yang selalu bikin saya inget sama iklannya yang dibintangi sama Sherina : "Welcome to Grand Indonesia..."

Honestly, I love this picture. That cloudy sky was so amazing (note 'Tugu Selamat Datang' and Hyatt Hotel behind)


Pernah nonton film "Nagabonar Jadi 2"? Harus inget scene di depan patung ini *ngakak*




Tapi, tak ada yang lebih menjengkelkan lagi selain macet! Menduduki urutan pertama dari penyebab kekesalan paling menjijikan sepanjang masa.




But it was a great day somehow. I enjoyed it and I wish I can have any trips for the next weeks :P Dan saya bener-bener ga sabar buat ke Singapore lagi *beberapa janji yang belum ditepati, salah satunya beli iPod! (curhat colongan). Jakarta has a lot of great monuments and historical buildings. Sayang saya ngga bisa men-discover semuanya. Mungkin besok atau lusa atau minggu depan, yeah someday! The history that makes me so curious..