Translate This Page

Saturday, November 6, 2010

Klaus Ke Dokter Gigi (Part 2)

Hari Sabtu ini saya terpaksa gak ikut kelas tambahan di sekolah (hiks hiks) padahal udah mau ujian. Sialnya, kenapa masih diadakan ujian nasional? Katanya bakalan dihapuskan? Nantinya tau-tau angkatan berikutnya yang kebagian ujian nasional dihapuskan! Dan sering banget angkatan saya ini jadi percobaan (huh!).

Kembali ke topik. Setelah ijin dengan alasan ke dokter gigi, akhirnya Sabtu pagi itu saya terpaksa bangun pagi setelah semaleman insomnia (Ya Tuhan, aku ora iso turu!). Setelah mandi dan berbenah diri, akhirnya saya dianter lagi ke tempat praktek dokter Tono. Sampe disana, langsung aja saya kasihin berkas foto scan rahang saya kemaren.

  "Hmm, coba kita bikin cetakannya dulu ya!", kata dokter Tono sambil ngeloyor pergi.

Pas kembali, beliau bawa semacam cetakan apalah. Terus di cetakan itu dikasih semacam semen warna pink. Tapi pas kecium baunya kayak pasta gigi cuman gak ada rasanya. Gigi bawah sama atas saya dicetak. Pas mencetak gigi itu rasanya aneh banget. Gigi jadi kaku-kaku gitu.

  "Cetakannya udah jadi. Nah nanti ini kayaknya perlu ada satu gigi yang dicabut ya, supaya jumlah gigi atas sama bawahnya sama", kata dokter Tono ramah banget.

Tidaaaaaaaaaaaaaak!

Kesedihan belum selese sampe disana ternyata. Soalnya kata dokter, gigi saya terlalu rapat. Jadi harus dikasih semacam plastik di celah-celah giginya.

  "Pake dulu plastik ini ya. Supaya ada celah cukup untuk nanti dibehel. Jadi waktu nanti dibehel akan lebih mudah", katanya.

Semoga aja 'spasi'nya nggak gede-gede banget.

Pulangnya sih saya gak dapet begitu banyak masalah. Pas ngaca di kaca spion, gigi saya ada biru-birunya. Hahahaha lucu keliatannya. Pas makan siang juga gak ada masalah berarti. Tapi menjelang sore dan pas lagi beli DVD, barulah kerasa gigi saya ngilu-ngilu. Dan sampe sekarang masih ngilu. Haduh, tidaaaak..

Klaus Ke Dokter Gigi (Part 1)

Sore itu pas pulang sekolah, saya dikagetin dengan kata-kata bunda sama papa di ruang keluarga. Baru nyampe bukannya biarin dulu saya tenang, duduk, dan selonjoran eh langsung diajak ngomong.

  "Dek, besok jam 1 dijemput ya dari sekolah", kata bunda.
  "Ada apaan emangnya? Ada acara keluarga?"
  "Bukan. Besok kamu ke dokter gigi ya!"
  "Dokter gigi? Wew...", jarang-jarang bunda nyuruh saya ke dokter gigi.
  "Kamu nanti di-behel ya!"

Asa diulangtaunkeun..

Langsung aja deh ke ceritanya. Jadi beneran pas Rabu siang itu saya dijemput dari sekolah. Uwee Kijang Innova warna krem metalik udah nangkring di tempat parkir sekolah. Langsung aja saya lari ke mobil dan tanpa basa-basi keluar dari sekolah (dan lupa ngasihin kertas ijin keluar ke satpam). Teruslah kita berangkat ke tempat dokter gigi itu. Ternyata dokternya praktek di rumahnya. Namanya dokter Tono (bukan si Tono yang di sekolah tapinya). Orangnya baik, mirip opa (hiks hiks). Sampe disana, saya udah langsung aja disuruh duduk di kursi pasien itu terus diperiksa giginya.

Deg, deg, duar! Makasih ya Tuhan saya gak perlu dicabut gigi :D soalnya kata dokter Tono, gigi saya bisa langsung di-behel dengan susunan yang kayak gini walopun katanya saya kurang satu gigi seri di bagian gigi atas. Tapi sebelum dibehel, saya harus di-scan dulu.

Sampe di tempat scan, saya langsung daftar dan antreannya cuman saya aja (yiha!) otomatis bisa langsung di-scan tanpa nungguin pasien yang laen. And guess what, petugas yang mau memindai rahang saya itu mukanya mirip sama Ko Nyoman! Lagi dan lagi, saya nemu orang yang mukanya mirip Ko Nyoman. Akhirnya setelah di-scan, saya dapetin hasilnya. Ternyata semua orang kalo di-scan fotonya sama ya, tengkoraknya ato tulang-tulangnya :( kenapa pas di-scan hasilnya nggak apa gitu misalnya ganti muka ato apa (ngayal)..

Dear, Mr.Shameless

I want my stuffs back. I don't have anything yours anymore, but you have mine. Give it back to me!

Why Stepped Back

Replying a friend's question to me: "I think that you guys are walking away from us. We're not as close as we were before. I feel not comfort in this situation, so what should be done?"


So this is the reason:

  • Remember back when you finally chose to take part in a relationship with my elder brother. I'm not walking away from you. You guys are walking away from us, instead. You'll have your time with him, just with him. So that's your choice and I don't want to intrude.
  • I was fed up for the problems among the five of us. Each of us had different problem involving one among us. 'She' (hope you understand what 'she' refers to) won't be good to my eldest brother anymore. You have been in a relationship with my second elder brother. I'm in a cold-war with my third elder brother and my third elder-brother is supported by the eldest. The second elder-brother spends more time with you than me. I was fed up. It was enough.
  • Don't call it as family anymore. It's ruined at all.
  • I can spend my time for you guys. But unlike me, you guys don't have time for me.
Is it enough?