Translate This Page

Monday, January 23, 2012

Talk Less, Do More

Postingan yang satu ini sifatnya agak 'curhat'. Entahlah, kemarin ini saya sempat mengalami lagi malam dengan introspeksi dan menangis (Thunder juga masih punya hati, hiks). Introspeksinya apa? Saya bertanya sama diri saya sendiri dan sama Tuhan, memang salah saya apa sama wanita itu sampai dia mencela dan menghujat, sekaligus menatap rendah saya seperti itu (dan FYI, dia benar-benar menatap rendah saya, dengan tatapannya secara fisik). Itu sangat menyebalkan untuk saya.

Jadi ceritanya, saya mengenal wanita ini ketika anak angkatan di jurusan saya mengadakan sebuah acara. Kebetulan saya saat itu kedapatan job sebagai pianis untuk choir angkatan, dan disitu saya bertemu wanita ini. Kenapa saya harus menceritakan rada eksplisit disini, karena saya ingin semuanya jadi transparan dan kalau wanita itu baca, saya harap dia jadikan ini bahan introspeksi, supaya sadar diri. Nah, usut punya usut, dia itu kelihatan seperti yang selalu punya ide-ide bagus dan cenderung meremehkan ide orang lain. Terbukti ketika diadakan sebuah polling, dia sama sekali nggak ikutan voting, dan justru punya pilihan sendiri yang, yah intinya begitulah. Dia merasa bahwa pilihan dia yang lebih baik. Pada kasus lain, dia sering meremehkan hal-hal lainnya. Temen saya pernah cerita, bahwa ketika dia lagi ikutan sebuah workshop tentang radio, kebetulan wanita itu juga ikutan dan kata teman saya, dia banyak mengeluh dan yah, seolah meremehkan acara itu. Menghujat dan mencela juga sering dilakukan wanita itu rupanya. Saya nggak perlu menceritakan satu-satu hujatan atau celaan dia, karena justru bikin saya semakin kesal dengan ucapannya yang seenak udel.

Saya jadi berfikir, saya, yang selama ini sangat meminimalisir kontak dengan wanita itu karena memang tidak mau dan sudah kesal, sering dipandang rendah, diremehkan, dan dicela karena kekurangan saya, memangnya salah saya apa? Kenapa dia bisa begitu mudahnya mencela, menghujat, dan meremehkan orang lain seolah dialah yang paling sempurna? Memang benar, dia itu cerdas, sampai berhasil dapat beasiswa untuk masuk ke universitas. Tetapi kecerdasan tanpa akhlak adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Patetis! Manusia yang sangat merugi adalah manusia yang memiliki kecerdasan, maupun kekayaan, tapi tidak punya hati nurani. Semuanya serasa worthless.

Dan ketika dia hanya banyak bicara, menghujat, mencela, atau mengkritik, dia cenderung tidak melakukan tindakan yang lebih signifikan untuk membuat sebuah perubahan. Cuma berani ngomong, tapi nggak ada tindakan. Jago teori, tapi pada prakteknya justru jadi bullshit. Ayo, mana buktikan kalau memang teori anda selalu benar, kenapa nggak ada bukti nyata? Kenapa seolah anda hanya bisa mengkritik tanpa mampu membuat perubahan itu sendiri?

Orang yang seperti itu, mari kita sebut semacam NATO: "No Action, Talk Only", dan orang yang banyak bicara tapi tidak ada aksi signifikan itu hasilnya..


Selamat! Semoga anda segera tersadarkan.