Translate This Page

Friday, February 1, 2013

The Beach


Paman kedatangan stok-stok terbaru untuk tokonya. Aku membantu paman menaruh kardus besar berisi gelas-gelas plastik kecil ke dalam sebuah rak besar.

“Lee, jangan lupa kardus berisi piring plastik ini juga kau taruh dengan rapi. Biar aku yang mengeluarkan isinya,” ujar paman.
“Baiklah, paman,” jawabku.

Paman melayani petugas distribusi yang datang dengan ramah, sementara aku agak kewalahan dengan stok-stok yang baru datang ini. Ada banyak barang disini dan aku bingung yang mana yang harus kubereskan terlebih dahulu. Hmm... Bagaimana jika aku mulai dengan membereskan botol-botol kecap manis ini, lalu merapikan stok pasta gigi ke lemari, dan kemudian membereskan piring plastik ini?

“Lee, bagaimana?” tanya paman.
“Aku sedang merapikannya, paman,” jawabku.
“Hmm... Kau nampaknya tak pergi bekerja hari ini,”
“Aku ‘kan libur pada hari Jumat,”
“Kau terlalu rajin bekerja, sih. Edvard saja bosan melihatmu,”
“Ah, paman bisa saja,”
“Lee, bagaimana hubunganmu dengan Timothy?”
“Kami? Entahlah, kurasa mulai membaik,”
“Kemarin aku membelikannya mainan baru. Timmy nampak bosan di kamarnya, jadi kuminta pacarmu mengantarku mencari mainan untuk adikmu. Tiffany anak yang baik dan sopan kepada orang tua. Ia benar-benar membantuku,”
“Paman, apa itu tidak merepotkan?”
“Merepotkan apanya?”
“Membelikan Timothy mainan mahal?”
“Aish, kau ini masih saja menyebalkan! Lagipula aku memakai uangku, bukan uangmu! Kau mau kulempar dengan gayung plastik ini?!”
“Tidak! Jangan paman! Aku ‘kan hanya bertanya saja,”
“Kau ini. Awas jika kau bertanya seperti itu lagi,”
“Ya, paman...”
“Oh ya, hari ini kau tak perlu mengantar Timothy ke tempat les pianonya. Aku telah memberitahu Tiffany bahwa Timothy belum kuizinkan pergi keluar rumah. Jadi siang ini Tiffany akan datang, dan aku harap kau bisa menemani adikmu berlatih piano,”
“Hmm... Baiklah,”
“Dan juga, Timothy masih dalam keadaan yang belum benar-benar baik. Kau jangan dulu mengajaknya bepergian,”
“Apa?”
“Ya, kau tak boleh mengajaknya bepergian. Bagaimana jika luka adikmu terbuka lagi?”
“Tapi aku hari ini sebenarnya berencana mengajak Timothy pergi ke...”
“Tidak! Timmy harus beristirahat!”

Aku meringis kesal.

“Ah, setelah ini kau naik saja ke rumah. Tolong cuci baju-baju yang belum sempat kucuci subuh tadi, setelah itu kau boleh beristirahat,”
“Ah, paman ini...”

Aku segera menyelesaikan tugasku dan setelah beres, segera aku naik ke rumah, meninggalkan paman yang sedang sibuk di toko. Duduk aku di kursi piano sambil mengatur nafasku.

“Bagaimana ini? Hari ini aku libur dan ini hari yang tepat,” batinku.

Atau lebih baik aku diam-diam saja membawa Timothy pergi? Tapi percuma juga bila ia susah dibujuk...

Tapi aku harus bisa membujuknya!

----

“Rentangkan lebih lebar jemarimu. Ya, seperti itu,”

Timothy nampak kesakitan ketika ia berusaha merentangkan jemarinya lebih lebar. Di hadapannya adalah notasi ‘La Campanella’ karya Frans Liszt yang ia coba pelajari. Karya klasik itu nampak sulit, terlihat dari betapa Timothy berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa merentangkan jarinya agar lebih mudah menjangkau beberapa tuts yang letaknya terpisah cukup jauh satu sama lain.

“Nampaknya sulit,” aku berkomentar.
“Memang, tetapi adikmu begitu tekun berlatih. Jika ia rajin berlatih, jarinya akan terbiasa dengan rentang tuts yang jauh ini,” jawab Tiffany.
“Kau pernah memainkan lagu ini?”
“Pernah, tapi baru tiga kali aku memainkannya. Lagu ini terlalu riskan untukku. Kelingkingku pernah cedera ketika memainkan lagu ini,”
“Jarimu terkilir?”
“Ya, begitulah. Aku jadi tak bisa mengajar selama seminggu,”
“Jika jarimu terkilir ketika bermain piano, jadi kau tak bisa bermain selama seminggu?”
“Tidak juga. Tergantug bagaimana kondisi lukamu,”
“Kalau begitu jangan berikan Timothy lagu-lagu yang riskan,”

Aku bangkit menghampiri Tiffany dan Timothy, hendak menahan Timmy agar tak memainkan lagu-lagu yang berpotensi mencederai jemarinya. Tiffany menahanku; ia menarik lenganku.

“Lee, biarkan! Lihat,”

Aku memperhatikan Timothy yang rupanya sedang memainkan lagu itu dari awal. Ia memainkannya pelan-pelan, dan aku begitu kagum karena ia bisa memainkannya dengan baik sampai baris ke empat.

“Timmy! Kau memainkannya dengan baik! Walaupun temponya masih sangat lambat, tapi kau memainkannya dengan baik, dan hanya sedikit nada yang keliru! Ah, aku bangga padamu!” Tiffany merangkul Timothy dan memujinya.
“Adikku akan jadi penerus Mozart,” tambahku.
“Adikmu hebat, Lee! Kau bisa bermain seperti dia?”
“Ah, jangan ditanya! Tentu saja aku tak bisa,”
“Hahahaha! Kau juga harus berlatih, Lee! Kau sebenarnya punya bakat, tetapi jarang kau latih. Sayang sekali jadinya,”
“Ya, mungkin nanti aku akan mulai berlatih lagi,”

Jam besar berdentang dua kali. Ah, sudah jam dua rupanya. Aku harus bergegas karena aku akan mengajak Timothy pergi ke suatu tempat. Setengah berlari aku naik ke kamarku, berganti baju, mengambil jaket dan kaus Timothy yang dibelikan oleh Tiffany, lalu membawanya turun. Timothy dan Tiffany terkejut denganku yang nampak terburu-buru.

“Lee, ada apa? Kau berganti baju?” tanya Tiffany.
“Ayo bergegas. Timmy, ganti bajumu,” tegasku.
“Apa? Hey, kau mau membawa adikmu kemana?” tanya Tiffany kaget.
“Aku sudah berjanji mengajaknya pergi saat itu, tapi hujan turun sehingga kami tak jadi pergi. Lebih baik sekarang saja aku mengajaknya pergi,” jawabku.
“Tapi pamanmu melarang Timothy pergi kemanapun,”
“Tapi aku tak punya waktu lagi!”
“Memangnya kau tak bisa mengajaknya pergi di akhir pekan saja?”
“Aku sudah meluangkan waktuku untuk Timothy. Kebetulan hari ini aku memang tak bekerja. Ayo, Timmy. Ganti bajumu,”

Timothy menggeleng pelan.

“Ada apa? Kenapa kau tak mau? Kumohon, selagi aku tak bekerja hari ini,” tanyaku kaget.
Bagaimana jika paman marah?
“Aku yang akan dimarahi, bukan kau. Ayolah, kumohon...”
“Lee, kau jangan mengambil resiko!” tegur Tiffany.
“Kau tak mau menolongku?”

Tiffany menatapku tak percaya.

“Kau... Kau mau membawanya kemana?”
“Ke tempat yang sudah kujanjikan padanya,”
“Kemana? Apakah tempat itu berbahaya untuknya?”
“Tidak. Ayo, Timmy. Ganti pakaianmu,”
Tak mau,”
“Kumohon! Aku berjanji setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi jika kau merasa aku mengganggumu,”
Aku tak mau pergi,”
“Kumohon, Timmy. Hanya hari ini saja,”

Timothy sempat meronta ketika aku memaksanya melepas kausnya, tetapi akhirnya ia mengalah. Aku memintanya berganti baju dan mengenakkan jaketnya. Aku sendiri heran, Timothy tak mengelak atau menghindariku. Apa mungkin Timothy sudah mau berkomunikasi lagi denganku?

“Kau sudah siap?” tanyaku. Timothy mengangguk pelan.
“Ayo, Tiffany. Kita berangkat sekarang,”
“Apa? Lee, kau ingin dimarahi habis-habisan oleh pamanmu?”
“Tak ada jalan lain. Ayolah!”
“Tapi...”
“Kau mau membantuku atau tidak?”

Tiffany nampak ragu. Ia tertunduk lesu, lalu menatapku.

“Pastikan pamanmu tak ikut memarahi adikmu karena kekeraskepalaanmu ini,”

Aku mengangguk setuju.

----

Perjalanan menuju tempat yang kumaksud memakan waktu agak lama. Timothy sampai tertidur di dalam bis. Ia bersandar pada Tiffany. Aku melirik Tiffany yang nampak terkejut karena Timothy tertidur pulas bersandar ke sisi kanannya.

“Berat?” tanyaku.
“Tidak. Tak apa-apa, Lee. Hanya saja posisinya bersandar padaku membuatku agak kurang nyaman,” jawabnya.
“Dorong ia ke arahku agar ia bersandar padaku,”
“Tak usah, Lee. Kasihan adikmu, ia pasti kelelahan,”

Bis akhirnya tiba di perhentian, namun Timothy masih belum bangun. Aku akhirnya menggendongnya keluar bis. Tiffany nampak masih bingung dengan tujuan kami.

“Lee, kau akan membawa kita kemana?” tanyanya.
“Kau lihat saja nanti. Sekarang ayo kita membeli tiket MRT,” jawabku.

Aku bergegas menuju tempat pembelian tiket MRT untuk membeli tiga tiket untuk kami. Tiffany nampak masih bingung tapi aku tak peduli, selama ia masih terus mengikutiku. Kami masuk ke dalam kereta dan kereta dengan cepat membawa kami ke sebuah pulau yang berjarak tak jauh dari pulau Singapura. Tiffany mulai sadar kemana aku akan membawa mereka. Ia menatapku bingung.

“Lee, kau akan membawa kami ke Universal Studio?” tanyanya.
“Tidak,” jawabku.
“Lantas?”
“Kau lihat saja nanti,”
“Lee, kau jangan seperti ini! Kau tahu, sekarang paman Richard pasti marah padamu karena mengetahui kau membawa adikmu pergi tanpa seizinnya!”
“Ponselku sudah kumatikan,”
“Bagaimana jika ia menghubungiku?”
“Paman tak tahu nomor ponselmu,”
“Lalu ponsel adikmu?”
“Sengaja kutinggalkan di atas piano,”
“Lee! Kau ini keterlaluan!”
“Kau mau membantuku atau tidak? Kau tak tahu rencanaku, ‘kan?”
“Tapi bukan begini caranya!”

Monorel telah berhenti dan aku bergegas keluar dari monorel, berjalan menggendong adikku sampai tempat yang kumaksud. Tiffany mengikutiku di belakang tanpa tahu apa maksudku sebenarnya. Ia terdengar menggerutu dan mengomeliku, tapi aku acuhkan saja agar ia tahu sendiri maksudku membawa adikku kemari.

“Lee, kau mendengarkanku atau tidak?!”
“Aku mendengarmu,”
“Lalu jawab pertanyaanku!”
“Kau akan mendapatkan jawabanmu nanti,”
“Kau ini menyebalkan! Sekarang aku mengerti betapa keras kepala dan egoisnya kau!”
“Tiffany, kau akan tahu maksud dari apa yang kulakukan ini nanti,”
“Tapi kau berbuat seenaknya seperti ini, membawa adikmu yang masih sakit pergi, dan melanggar larangan pamanmu!”
“Kau sendiri memangnya tak pernah melanggar peraturan sekolah ketika kau masih bersekolah dulu?”

Aku menghentikan langkahku lalu berbalik. Tiffany menatapku tajam. Kali ini matanya tak tersenyum padaku.

“Kenapa kau jadi bertanya seperti itu?”
“Kau pernah ‘kan melanggar peraturan ketika kau bersekolah dulu? Katakan padaku kau pernah kabur dari sekolah bersama Luna dan teman-temanmu untuk berbelanja di mal lalu pulang hampir tengah malam,”
“Bagaimana kau tahu itu?”
“Luna banyak bercerita tentangmu. Sekarang, apa bedanya kau dengan aku? Kita sama-sama pernah melanggar aturan,”
“Tapi itu dulu, Lee. Sekarang aku bukan anak kecil lagi,”
“Aku juga bukan anak kecil lagi sekarang, dan aku sadar aku melakukan hal ini. Kau tahu, sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Aku tak melakukan ini begitu saja. Aku harus menepati janjiku pada adikku,”
“Tapi...”
“Kau akan mengerti maksudku nanti,”

Tiffany akhirnya terdiam. Aku melanjutkan langkahku dan Tiffany mengikutiku. Semakin dekat aku dengan tempat yang kutuju, semakin keras terdengar suara deburan itu, dan desir angin yang menyejukkan. Kini di depanku adalah lautan lepas, dengan deburan ombak dan angin yang berhembus lembut membelai wajahku.

“Pantai Tanjong? Kau mau apa disini?” tanya Tiffany.
“Mempertemukan adikku dengan hal yang ia rindukan,” jawabku.

Aku lalu membangunkan Timothy yang masih tidur di gendonganku. Ia menggeliat pelan sebelum membuka matanya.

“Timmy, bangunlah. Lihat,”

Timothy terbangun. Aku lalu menurunkannya. Ia berdiri di sampingku menatap laut yang ada di hadapannya. Matanya terbuka memandang ombak yang berkejaran untuk memeluk pasir putih yang terhampar.

“Timmy, kau ingat kau pernah memintaku membawamu ke laut? Malam itu aku membawamu ke atap dan menunjukkanmu pemandangan malam hari. Kau melihat laut dan kau menangis karena kau merindukan ayah dan ibu. Kau ingat, kita bersama-sama menebar abu jenazah ayah dan ibu saat itu walaupun bukan di pantai ini, di laut di hadapan kita ini. Tapi kau tahu, kurasa laut saling bersatu dan bagaimanapun juga seperti yang kau ketahui, ayah dan ibu telah bersatu dengan laut. Aku tak bisa membawa mereka kembali untukmu, jadi aku membawamu untuk bertemu mereka disini. Kau merindukan mereka, bukan?”

Mata adikku mulai berkaca-kaca. Ia melepas sepatunya lalu mulai berjalan ke tepi pantai. Ia menginjak butiran-butiran pasir putih, lalu terkena terjangan ombak kecil yang tiba ke pantai. Ia berjalan semakin ke tengah, dan ketika air laut sudah setinggi pinggangnya, ia terhenti. Aku melepas sepatuku dan menyusulnya. Aku berhenti beberapa meter darinya, membiarkannya melepas rindunya yang cukup lama ia pendam.

“Ibu... Ayah...”

Timothy memanggil ibu dan ayah. Kudengar ia lalu menangis dan terisak. Semakin lama isakannya terdengar semakin keras. Aku merasa iba pada adikku. Miris sekali mendengarnya menangis seperti ini.

“Aku merindukan kalian! Kenapa kalian tega meninggalkan kami secepat ini!”

Adikku menampar-namparkan tangannya frustasi ke permukaan air sambil tetap terisak. Lama kelamaan, Timothy justru mengungkapkan kekesalannya karena kepergian kedua orangtua kami yang terlalu cepat.

“Kenapa kalian tega melakukan ini! Kami masih membutuhkan kalian tapi kalian meninggalkan kami ketika kami membutuhkan kalian! Aku sangat kesepian tanpa kalian! Kenapa kalian biarkan aku kesepian!”

Aku tak bisa menahan diriku lagi. Segera kudekap adikku dari belakang. Air mataku akhirnya jatuh juga. Timothy berbalik lalu memelukku erat, sangat erat. Ia tenggelam dalam pelukanku dan tangisannya.

“Kenapa mereka tega melakukan ini pada kita! Kenapa! Apa mereka tak tahu betapa kita merindukan mereka!” isak Timothy.
“Aku tahu, tapi aku tak bisa berbuat apapun. Tuhan telah menakdirkan ini semua,” ujarku.
“Tapi apa salah kita! Apa dosa kita! Kenapa kita ditakdirkan seperti ini?”
“Jangan bicara seperti itu,”
“Apa Tuhan membenci kita? Kenapa Tuhan mengambil ayah dan ibu secepat ini?”
“Tidak, Timmy. Tuhan menyayangi kita,”
“Tapi kenapa, Koh! Kenapa ini terjadi,”
“Timmy... Kumohon jangan seperti ini...”

Adikku terisak semakin hebat. Aku mencoba menenangkannya tetapi aku sendiri sudah kalap dengan tangisanku. Aku mencoba menegarkan diriku, lalu berlutut sampai tubuhku setinggi tubuh adikku.

“Timmy, inilah hidup. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita mungkin mengalami hal-hal buruk, tapi percayalah akan selalu ada hikmah dari semua kejadian,” ujarku.
“Apa Tuhan sedang menghukum kita?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Tidak. Tuhan lebih menyayangi ayah dan ibu daripada kita menyayangi mereka,”
“Tapi... Koh, aku merindukan ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka,”
“Aku juga merindukan mereka, Timmy. Aku sangat merindukan mereka. Sekarang setelah mereka pergi, hanya kau yang kumiliki. Kau juga, kau tak boleh meninggalkanku,”

Timothy memelukku lagi.

“Maafkan aku, Koh. Maafkan aku karena aku tak mau bicara padamu selama ini. Maafkan aku karena aku sempat membencimu. Aku sadar, hanya kau yang kumiliki sekarang setelah ayah dan ibu pergi,” ujarnya terbata-bata.
“Kau jangan membenciku lagi. Aku tak pernah membencimu. Terkadang kau mengesalkan dan membuatku marah, tapi aku tak pernah membencimu. Aku sangat sayang padamu karena kau satu-satunya yang ayah dan ibu titipkan padaku. Aku tak peduli dengan uang atau barang-barang yang diwariskan mereka untukku. Aku rela itu semua menjadi milikmu, asalkan aku memilikimu. Itu saja,”
“Kau juga, jangan marah padaku karena aku pernah membencimu,”
“Tidak. Tidak akan,”
“Aku akan melakukan apapun agar kau tak menaruh dendam padaku,”
“Benarkah?”
“Aku sungguh-sungguh,”

Aku terdiam sejenak.

“Timmy, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”
“Aku akan berusaha melakukan apapun yang kau mau,”
“Setelah ini, kumohon kau mulailah berbicara. Aku merindukan suaramu. Aku sedih melihatmu terkadang menjadi bahan olok-olok orang lain. Kau mau ‘kan mulai bicara lagi?”

Timothy terdiam. Ia menatapku dalam.

“Asalkan kau tak menaruh dendam padaku, tak akan membenciku, dan tak akan pernah berusaha melompat lagi dari Esplanade bridge,” ujarnya. Aku mengangguk.
“Bagaimana kau tahu aku pernah hampir melompat?” tanyaku.
“Jiejie yang menceritakan semuanya. Kumohon jangan pernah terfikir untuk melompat dari jembatan itu lagi,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil.

“Jika aku melompat dari atap, bagaimana?” godaku.
“Aku tak mau bicara lagi,” jawabnya.
“Jika aku melompat dari tempat tidur?”
“Silahkan. Lakukan saja,”
“Hmm... Atau jika aku melompat dari atas meja makan, kau masih akan bicara padaku?”
“Aku tak mau mengakuimu sebagai kakakku,”
“Kenapa?”
“Karena Leonard Yeo tak akan melakukan hal konyol seperti itu,”
“Tapi jika aku melakukan itu, bagaimana?”
“Oh, kau pasti kerasukan arwah yang lain. Aku akan memanggil orang yang mampu mengusir roh jahat,”

Aku menatap Timothy, lalu kami tertawa bersama. Kulirik Tiffany yang menonton kami dari jauh. Ia lalu berjalan ke arah kami.

“Kalian sudah berbaikan?” tanya Tiffany.
“Sudah. Timothy bahkan sudah mau bicara sekarang,” jawabku.
“Bagaimana jika aku tak mau bicara?” tanya Timothy.
“Hey, seperti itukah suaramu? Kau punya suara yang bagus, Timmy!” puji Tiffany.
“Benarkah? Tapi... Aku malu jika aku bersuara lagi. Maksudku, orang-orang lain... Mereka...”
“Mereka akan terkejut mendengarmu bicara,” potongku.
“Jika mereka berfikir bahwa selama ini aku berbohong, bagaimana?”
“Bukankah kau telah menjelaskan pada mereka yang sebenarnya sejak awal?”
“Memang. Hanya saja... Kurasa aku tak mau menjadi orang yang banyak bicara,”
“Tak apa-apa. Kau sudah mulai berbicara pun aku sudah senang,”
“Kemarin kau sempat menghinaku karena aku tak mau bicara. Kau bilang aku ini bisu,”
“Aku tak menghinamu. Aku hanya menyindirmu, mencoba mencari cara agar kau mau bicara. Buktinya sekarang kau mau bicara, ‘kan?”

Timothy tersenyum kecil.

“Lee, kapan kita akan kembali?” tanya Tiffany.
“Entahlah,” jawabku, “Aku tiba-tiba merasa nyaman berada disini,”
“Lagipula sudah lama aku tak bermain di pantai. Jiejie, selagi kita berada di pantai kenapa tak kita nikmati saja? Maksudku, kau pernah berkejaran di pantai ‘kan?” sambung Timothy.
“Maksudmu seperti ini?”

Tiffany tiba-tiba menyerang kami dengan cipratan air laut. Aku dan adikku kontan terkejut. Adikku yang sudah lebih sigap ikut menyerangku dengan cipratan air. Kurasa perang air telah dimulai. Kedua tanganku kugerakkan dengan cepat untuk menyerang balik mereka. Gelak tawa menambah keasyikan perang air di sore hari yang cerah ini. Aku bahagia bisa menikmati momen-momen berharga bersama dua orang yang kusayangi sore ini. Tapi yang lebih membahagiakan adalah, bisa berbaikan dengan adikku dan mengetahui bahwa ia akan mulai berbicara lagi. Tuhan, terima kasih.

----