Postingan yang satu ini sifatnya agak 'curhat'. Entahlah, kemarin ini saya sempat mengalami lagi malam dengan introspeksi dan menangis (Thunder juga masih punya hati, hiks). Introspeksinya apa? Saya bertanya sama diri saya sendiri dan sama Tuhan, memang salah saya apa sama wanita itu sampai dia mencela dan menghujat, sekaligus menatap rendah saya seperti itu (dan FYI, dia benar-benar menatap rendah saya, dengan tatapannya secara fisik). Itu sangat menyebalkan untuk saya.
Jadi ceritanya, saya mengenal wanita ini ketika anak angkatan di jurusan saya mengadakan sebuah acara. Kebetulan saya saat itu kedapatan job sebagai pianis untuk choir angkatan, dan disitu saya bertemu wanita ini. Kenapa saya harus menceritakan rada eksplisit disini, karena saya ingin semuanya jadi transparan dan kalau wanita itu baca, saya harap dia jadikan ini bahan introspeksi, supaya sadar diri. Nah, usut punya usut, dia itu kelihatan seperti yang selalu punya ide-ide bagus dan cenderung meremehkan ide orang lain. Terbukti ketika diadakan sebuah polling, dia sama sekali nggak ikutan voting, dan justru punya pilihan sendiri yang, yah intinya begitulah. Dia merasa bahwa pilihan dia yang lebih baik. Pada kasus lain, dia sering meremehkan hal-hal lainnya. Temen saya pernah cerita, bahwa ketika dia lagi ikutan sebuah workshop tentang radio, kebetulan wanita itu juga ikutan dan kata teman saya, dia banyak mengeluh dan yah, seolah meremehkan acara itu. Menghujat dan mencela juga sering dilakukan wanita itu rupanya. Saya nggak perlu menceritakan satu-satu hujatan atau celaan dia, karena justru bikin saya semakin kesal dengan ucapannya yang seenak udel.
Saya jadi berfikir, saya, yang selama ini sangat meminimalisir kontak dengan wanita itu karena memang tidak mau dan sudah kesal, sering dipandang rendah, diremehkan, dan dicela karena kekurangan saya, memangnya salah saya apa? Kenapa dia bisa begitu mudahnya mencela, menghujat, dan meremehkan orang lain seolah dialah yang paling sempurna? Memang benar, dia itu cerdas, sampai berhasil dapat beasiswa untuk masuk ke universitas. Tetapi kecerdasan tanpa akhlak adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Patetis! Manusia yang sangat merugi adalah manusia yang memiliki kecerdasan, maupun kekayaan, tapi tidak punya hati nurani. Semuanya serasa worthless.
Dan ketika dia hanya banyak bicara, menghujat, mencela, atau mengkritik, dia cenderung tidak melakukan tindakan yang lebih signifikan untuk membuat sebuah perubahan. Cuma berani ngomong, tapi nggak ada tindakan. Jago teori, tapi pada prakteknya justru jadi bullshit. Ayo, mana buktikan kalau memang teori anda selalu benar, kenapa nggak ada bukti nyata? Kenapa seolah anda hanya bisa mengkritik tanpa mampu membuat perubahan itu sendiri?
Orang yang seperti itu, mari kita sebut semacam NATO: "No Action, Talk Only", dan orang yang banyak bicara tapi tidak ada aksi signifikan itu hasilnya..
Selamat! Semoga anda segera tersadarkan.
Translate This Page
Monday, January 23, 2012
Sunday, January 15, 2012
Shop 'Til You Drop: Cimindi Murah Meriah
Hari Minggu merupakan hari yang tepat untuk dipakai bersantai, istirahat, maupun main-main. Nah untuk mengisi Minggu ini, saya pergi ke downtown Bandung buat beli buku di Gramedia, terus makan siang dan santai sama cici dan om saya di J.Co. Kebetulan cici saya mau pergi ke tempat pacarnya, dianter sama om saya, mengakibatkan saya harus pulang sendirian seperti biasa (ditakdirkan menjadi lone ranger). Ah, sudahlah...
Tapi sebenernya bukan curhatan itu yang mau saya ceritain. Nah, ketika pulang sendiri naik angkot ke arah Cimahi, saya lewat Cimindi. Nah, setelah jembatan Cimindi (dari arah Bandung menuju Cimahi), di sisi kanan jalan ada sederetan kios-kios yang menjual celana jeans, jaket, dan pernak-pernik lainnya. Ketika lewat, saya jadi kepikiran, iseng-iseng pengen liat-liat. Karena angkot menuju Cimahi itu ada di jalur kiri, maka saya harus nyebrang dulu ke jalur kanan via jembatan penyebrangan. Setelah sampai di seberang, saya tinggal liat-liat aja items yang dijual di kios-kios tersebut. Lokasinya kurang lebih seperti screenshot dari Google Maps yang ada di bawah ini:
Deretan kios itu ada di dekat jalur putar-balik jalan Jendral Haji Amir Machmud, dan deretan kios-kios itu juga dipisahkan oleh jalan Ganda yang menuju ke sebuah kompleks perumahan. Mencari kios yang mewah, bersih, dan berkelas? Salah tempat! Deretan kios-kios tersebut letaknya di pinggir jalan, terbuka, sering kena debu dan kalau hujan pasti becek dan kadang banjir. Sesekali bisa kita liat ayam berkeliaran (padahal di pinggir jalan raya loh) dan kadang ada juga anjing lewat. Dan kios-kios yang letaknya paling barat itu dekat dengan area pembuangan sampah. Tapi tenang saja, biasanya kios-kios yang jual celana jeans, jaket, ataupun aksesoris lain letaknya di tengah-tengah dan timur deretan, jadi cukup jauh untuk mencium aroma-aroma tidak sedap dari tempat pembuangan sampah.
Kios-kios yang umumnya ukurannya kecil dan sempit itu terbilang sesak dan penuh. Yap, sesak dan penuh karena item-item yang dijual banyak sekali. Kebanyakan item-item yang dijual adalah celana jeans, dari mulai celana panjang, celana pendek, dan hot pants juga ada. Untuk pengguna motor, ada juga sarung tangan untuk motor, tas samping kecil untuk ponsel, sampai jas hujan. Dan utamanya, ada kios-kios yang menjual jaket-jaket, dari mulai jaket-jaket baru, sisa ekspor, sampai secondhand juga ada. Tapi tenang aja, jaket-jaket secondhand itu nggak sepenuhnya jelek kok. Banyak barang-barang secondhand yang ternyata masih bagus-bagus aja kualitasnya, dan ketika dipakai kayaknya nggak ada bedanya sama barang baru. Mungkin bedanya dari penampilan, agak terlihat kucel atau kotor, yang sebenernya bisa dihilangkan dengan dicuci. Dan jaket-jaket yang ditawarkan banyak jenisnya, dari mulai jaket jeans, anorak untuk jogging, sweater, hoodie, jas, vest, fleece, knit, windbreaker, varsity, sampai leather jacket! Kualitasnya pun beragam, tergantung bahan juga sih.
Nah, eksplorasi saya tadi siang bermula dari sebuah kios yang letaknya paling tengah. Disana saya sempet liat-liat berbagai jenis jaket, dan akhirnya pilihan saya jatuh ke sebuah jaket hitam, simpel, tapi cukup tebal buat menahan dingin udara Bandung di musim hujan. Ketika ditanya harganya berapa, penjualnya nawarin 95 ribu aja, dan itu masih bisa kurang. Ketika saya tanya bisa kurangnya jadi berapa, si ibu penjualnya nawarin:
"Kurangnya jadi 65 ribu saja deh."
Wah, kurangnya sampai 30 ribu! Menurut saya, jaketnya cukup bagus dan untuk harga 65 ribu itu nggak terlalu mahal. Akhirnya tanpa tawar menawar lagi langsung saya beli jaketnya. Satu item telah dibeli, tapi masih belum puas, akhirnya saya browse lagi ke kios-kios berikutnya. Nah di salah satu kios, saya sempet lihat ada varsity bagus dengan tulisan Seattle khas jaket-jaket varsity atau jaket baseball. Tapi ukurannya terbilang kecil buat saya dan ketika ditanya harganya berapa, si bapak penjualnya bilang 35 ribu saja. Hey, itu harga yang murah untuk barang yang langka dan bagus! Buat saya itu bagus, karena jujur saya nggak pernah lihat jaket itu di outlet manapun, dan si bapak penjualnya bilang, karena memang produknya itu termasuk barang-barang rejected, sisa ekspor, kiriman dari luar negeri dan secondhand, makanya beberapa item termasuk barang yang langka dan only-one. Ketika saya tawar harganya jadi 25 ribu, si bapak nggak setuju. Akhirnya saya gagal mendapatkan jaket itu. Tapi saya dapat jaket lain, dengan komposisi jaket yang unik dan warna yang cukup asik dilihat seharga 50 ribu saja, sudah ditawar itupun.
Nah, item-item yang saya beli dari segi penampilan nggak mengecewakan. Cukup bagus juga kualitasnya, dengan tingkat kualitas, yah antara 85% sampai 94% masih layak pakai. Kebetulan saya cuman beli 2 item aja. Contoh-contohnya ada dibawah ini:
Jaket hitam ini nyaman dipakai. Dan dalamnya juga cukup tebal jadi kalau naik motor, lumayan bisa menahan dingin. Cover dalam bagian tubuh jaket dan lengannya beda, bagian lengannya bahannya halus, kayak bahan kaus atau celana basket, sedangkan tubuh jaketnya dicover dengan bahan sejenis fleece. Desainnya sederhana, tapi masih tetep kelihatan bagus dipakai kok.
Kalau yang satu ini dapat yang branded, Osh Kosh B'Gosh. Seperti yang saya bilang, kita bisa dapat item yang bagus dan branded, asli loh, asalkan jago pilih-pilih. Bahannya bukan parasit tapi saya rasa waterproof. Ditambah jaketnya tebal dan beberapa bagian bisa dilepas pasang, seperti hoodie. Sayangnya di bagian hoodie ada fur-nya, dan saya suka geli kalau leher saya kena fur. Dan jaket yang satu ini cocoknya kalau dipake ketika camping kayaknya, soalnya lebih tebal dibandingkan jaket yang hitam.
Dan total yang saya keluarkan tadi siang buat beli dua jaket itu cukup 115 ribu rupiah aja! Ditambah jarak dari rumah yang nggak begitu jauh, bikin saya bisa sering-sering kesana. Ini bisa jadi pilihan buat yang suka belanja item-item tanpa ketentuan yang neko-neko atau desain beda dengan harga yang sangat miring. Kalau yang di Cimahi ingin ke Gedebage untuk cari jaket-jaket murah, saya rasa Cimindi juga bisa jadi referensi alternatif.
So, happy shopping! Shop 'til you drop!
Tapi sebenernya bukan curhatan itu yang mau saya ceritain. Nah, ketika pulang sendiri naik angkot ke arah Cimahi, saya lewat Cimindi. Nah, setelah jembatan Cimindi (dari arah Bandung menuju Cimahi), di sisi kanan jalan ada sederetan kios-kios yang menjual celana jeans, jaket, dan pernak-pernik lainnya. Ketika lewat, saya jadi kepikiran, iseng-iseng pengen liat-liat. Karena angkot menuju Cimahi itu ada di jalur kiri, maka saya harus nyebrang dulu ke jalur kanan via jembatan penyebrangan. Setelah sampai di seberang, saya tinggal liat-liat aja items yang dijual di kios-kios tersebut. Lokasinya kurang lebih seperti screenshot dari Google Maps yang ada di bawah ini:
Deretan kios itu ada di dekat jalur putar-balik jalan Jendral Haji Amir Machmud, dan deretan kios-kios itu juga dipisahkan oleh jalan Ganda yang menuju ke sebuah kompleks perumahan. Mencari kios yang mewah, bersih, dan berkelas? Salah tempat! Deretan kios-kios tersebut letaknya di pinggir jalan, terbuka, sering kena debu dan kalau hujan pasti becek dan kadang banjir. Sesekali bisa kita liat ayam berkeliaran (padahal di pinggir jalan raya loh) dan kadang ada juga anjing lewat. Dan kios-kios yang letaknya paling barat itu dekat dengan area pembuangan sampah. Tapi tenang saja, biasanya kios-kios yang jual celana jeans, jaket, ataupun aksesoris lain letaknya di tengah-tengah dan timur deretan, jadi cukup jauh untuk mencium aroma-aroma tidak sedap dari tempat pembuangan sampah.
Kios-kios yang umumnya ukurannya kecil dan sempit itu terbilang sesak dan penuh. Yap, sesak dan penuh karena item-item yang dijual banyak sekali. Kebanyakan item-item yang dijual adalah celana jeans, dari mulai celana panjang, celana pendek, dan hot pants juga ada. Untuk pengguna motor, ada juga sarung tangan untuk motor, tas samping kecil untuk ponsel, sampai jas hujan. Dan utamanya, ada kios-kios yang menjual jaket-jaket, dari mulai jaket-jaket baru, sisa ekspor, sampai secondhand juga ada. Tapi tenang aja, jaket-jaket secondhand itu nggak sepenuhnya jelek kok. Banyak barang-barang secondhand yang ternyata masih bagus-bagus aja kualitasnya, dan ketika dipakai kayaknya nggak ada bedanya sama barang baru. Mungkin bedanya dari penampilan, agak terlihat kucel atau kotor, yang sebenernya bisa dihilangkan dengan dicuci. Dan jaket-jaket yang ditawarkan banyak jenisnya, dari mulai jaket jeans, anorak untuk jogging, sweater, hoodie, jas, vest, fleece, knit, windbreaker, varsity, sampai leather jacket! Kualitasnya pun beragam, tergantung bahan juga sih.
Nah, eksplorasi saya tadi siang bermula dari sebuah kios yang letaknya paling tengah. Disana saya sempet liat-liat berbagai jenis jaket, dan akhirnya pilihan saya jatuh ke sebuah jaket hitam, simpel, tapi cukup tebal buat menahan dingin udara Bandung di musim hujan. Ketika ditanya harganya berapa, penjualnya nawarin 95 ribu aja, dan itu masih bisa kurang. Ketika saya tanya bisa kurangnya jadi berapa, si ibu penjualnya nawarin:
"Kurangnya jadi 65 ribu saja deh."
Wah, kurangnya sampai 30 ribu! Menurut saya, jaketnya cukup bagus dan untuk harga 65 ribu itu nggak terlalu mahal. Akhirnya tanpa tawar menawar lagi langsung saya beli jaketnya. Satu item telah dibeli, tapi masih belum puas, akhirnya saya browse lagi ke kios-kios berikutnya. Nah di salah satu kios, saya sempet lihat ada varsity bagus dengan tulisan Seattle khas jaket-jaket varsity atau jaket baseball. Tapi ukurannya terbilang kecil buat saya dan ketika ditanya harganya berapa, si bapak penjualnya bilang 35 ribu saja. Hey, itu harga yang murah untuk barang yang langka dan bagus! Buat saya itu bagus, karena jujur saya nggak pernah lihat jaket itu di outlet manapun, dan si bapak penjualnya bilang, karena memang produknya itu termasuk barang-barang rejected, sisa ekspor, kiriman dari luar negeri dan secondhand, makanya beberapa item termasuk barang yang langka dan only-one. Ketika saya tawar harganya jadi 25 ribu, si bapak nggak setuju. Akhirnya saya gagal mendapatkan jaket itu. Tapi saya dapat jaket lain, dengan komposisi jaket yang unik dan warna yang cukup asik dilihat seharga 50 ribu saja, sudah ditawar itupun.
Nah, item-item yang saya beli dari segi penampilan nggak mengecewakan. Cukup bagus juga kualitasnya, dengan tingkat kualitas, yah antara 85% sampai 94% masih layak pakai. Kebetulan saya cuman beli 2 item aja. Contoh-contohnya ada dibawah ini:
Jaket hitam ini nyaman dipakai. Dan dalamnya juga cukup tebal jadi kalau naik motor, lumayan bisa menahan dingin. Cover dalam bagian tubuh jaket dan lengannya beda, bagian lengannya bahannya halus, kayak bahan kaus atau celana basket, sedangkan tubuh jaketnya dicover dengan bahan sejenis fleece. Desainnya sederhana, tapi masih tetep kelihatan bagus dipakai kok.
Kalau yang satu ini dapat yang branded, Osh Kosh B'Gosh. Seperti yang saya bilang, kita bisa dapat item yang bagus dan branded, asli loh, asalkan jago pilih-pilih. Bahannya bukan parasit tapi saya rasa waterproof. Ditambah jaketnya tebal dan beberapa bagian bisa dilepas pasang, seperti hoodie. Sayangnya di bagian hoodie ada fur-nya, dan saya suka geli kalau leher saya kena fur. Dan jaket yang satu ini cocoknya kalau dipake ketika camping kayaknya, soalnya lebih tebal dibandingkan jaket yang hitam.
Dan total yang saya keluarkan tadi siang buat beli dua jaket itu cukup 115 ribu rupiah aja! Ditambah jarak dari rumah yang nggak begitu jauh, bikin saya bisa sering-sering kesana. Ini bisa jadi pilihan buat yang suka belanja item-item tanpa ketentuan yang neko-neko atau desain beda dengan harga yang sangat miring. Kalau yang di Cimahi ingin ke Gedebage untuk cari jaket-jaket murah, saya rasa Cimindi juga bisa jadi referensi alternatif.
So, happy shopping! Shop 'til you drop!
Keyword :
inspiration,
referrence,
shopping
Saturday, January 14, 2012
Dimana Keadilan?
Saya sekarang lagi ingin mengungkapkan kekesalan saya terhadap beberapa kasus yang berhubungan dengan kemanusiaan, terlebih dalam urusan keadilan. Entah apa yang terjadi di negara ini, tapi semakin lama banyak orang yang semakin keliatan ketidakberperikemanusiaannya.
Kasus pertama yang pengen saya bicarakan tentang anak kecil yang dipenjara gara-gara mencuri sendal jepit. Dalam kasus ini, memang banyak banget faktor-faktor yang bisa ditelaah. Kalau kita mau menghakimi si anak, mungkin memang benar kalau si anak melakukan tindak pencurian, yang harusnya nggak boleh. Tapi kalau kita bisa menangani kasus ini secara fundamental dan nggak kekanak-kanakan yang asal main lapor dan hakim begitu saja, anak tersebut bisa kan dikasih tau dengan baik, dinasehati supaya nggak mencuri lagi. Pada kenyataannya, si anak justru diancam hukuman penjara karena pencurian itu. Si empunya sendal rupanya seorang briptu, yang ketika tau si anak mencuri sendal, langsung memarahi dan memukuli si anak pakai benda tumpul, dan tentu saja membawa kasus itu ke persidangan. Menurut berita juga, katanya si briptu tersebut memukuli si anak bersama seorang briptu lain. Tapi katanya sih kedua briptu itu justru dijatuhi hukuman penjara karena penganiayaan kepada si anak tersebut. Dan karena rasa kepeduliaan terhadap ketidakadlian yang menimpa anak tersebut, digalanglah gerakan "Kirim 1000 Sendal Untuk Kapolri".
Buat saya secara pribadi, kedua polisi tersebut harusnya dipecat dari kepolisian. Saya rasa, polisi harusnya bisa bersikap lebih bijaksana dan dewasa ya dalam menghadapi sebuah kasus. Yang dihadapi dalam kasus bukan cuman kasusnya, tapi pelakunya juga. Semisal ada anak TK yang mencuri sendal, terus masa anak TK tersebut mau dijatuhkan hukuman penjara? Mau jadi apa anak itu nanti? Kenapa nggak pakai metode lain untuk menyelesaikan masalah itu? Si anak bisa dikasih nasehat dan diingatkan supaya nggak mencuri, atau kalau mau laporkan aja sama orangtuanya supaya orangtuanya yang kasih hukuman buat si anak. Dan hakimnya yang memutuskan hukuman untuk si anak juga, apakah mikir atau nggak sih? Masa anak yang harusnya di usia segitu mencari ilmu malah dimasukkan ke penjara, yang kita nggak tau nasibnya akan kayak gimana di penjara. Hakim harusnya sadar bahwa tanggung jawabnya besar, karena ia akan mempertanggungjawabkan keputusannya itu, nggak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Di dunia mungkin dia bisa mengelak, tapi di akhirat nanti ketika hari pembalasan, apa yang mau dia katakan sebagai alasan?
Kasus berikutnya tentang DPR yang mau renovasi toilet sebesar 2 milyar. Apa nggak kegedean tuh biayanya? Memang toiletnya banyak, tapi kan kalau mau renovasi nggak usah semewah itu juga. Anggota-anggota DPR mungkin berhak untuk mendapatkan renovasi untuk toilet, tapi anggarannya juga harus logis aja. Dan kalau mereka mau melihat ke daerah-daerah perumahan kumuh dimana sanitasinya sangat buruk, mereka harusnya bersyukur dengan keadaan yang udah mereka dapat sekarang. Masih syukur mereka masih bisa buang air di toilet, dengan sanitasi yang masih layak. Bayangkan mereka yang nggak mampu, yang buat buang air aja harus di pinggiran sungai, yang airnya siapa tau terkontaminasi, lalu akhirnya mereka terserang penyakit. Dan kabar berikutnya katanya anggota-anggota DPR minta renovasi fasilitas lain (seinget saya ruang banggar atau apalah) yang katanya memakan biaya sebesar 20 milyar. Sudah minta satu, minta lagi yang lain. Bisa nggak sih mereka nggak egois? Bisa nggak mereka mencoba lihat realita yang terjadi di masyarakat daripada mikirin euforia sendiri? Uang sebesar 20 milyar itu, kenapa nggak disumbangkan buat kepentingan masyarakat, semisal pembangunan sekolah yang rusak, atau toilet umum, atau infrastruktur negara kayak jalan raya, dan sebagainya? Bukankah masyarakat memilih anggota-anggota DPR untuk membela masyarakat? Kenapa mereka yang dikasih amanah malah berkhianat? Kenapa mereka lebih mementingkan kemewahan buat mereka sendiri daripada kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat?
Kembali ke kasus pertama, kenapa dalam penegakan hukum, ketidakadilan banyak terjadi di masyarakat biasa? Satu kasus yang bikin saya kesal adalah, ketika seorang nenek yang sampai diseret ke pengadilan hanya karena mengambil buah yang jatuh, karena si empunya merasa si nenek itu mencuri, lalu kasus sendal jepit juga. Kenapa aparat penegak hukum justru bersikap terlalu ketat dan akhirnya jadi nggak rasional untuk kasus-kasus yang diangkat dari masyarakat biasa, tapi kasus-kasus yang berkaitan sama pejabat-pejabat atau penguasa justru mereka kendor? Mereka seolah membiarkan orang-orang atas bersikap seenaknya dan melakukan kebatilan seenak jidat, tapi kalau rakyat biasa harus tunduk sama hukum setunduk-tunduknya, sampai lehernya patah. Buat saya, aparat-aparat penegak hukum belum sukses menjalankan misi dan amanah yang mereka emban. Penguasa-penguasa juga pada zalim sama rakyat, dan biar Tuhan aja yang melaknat mereka.
Dimana keadilan di negara ini?
Kasus pertama yang pengen saya bicarakan tentang anak kecil yang dipenjara gara-gara mencuri sendal jepit. Dalam kasus ini, memang banyak banget faktor-faktor yang bisa ditelaah. Kalau kita mau menghakimi si anak, mungkin memang benar kalau si anak melakukan tindak pencurian, yang harusnya nggak boleh. Tapi kalau kita bisa menangani kasus ini secara fundamental dan nggak kekanak-kanakan yang asal main lapor dan hakim begitu saja, anak tersebut bisa kan dikasih tau dengan baik, dinasehati supaya nggak mencuri lagi. Pada kenyataannya, si anak justru diancam hukuman penjara karena pencurian itu. Si empunya sendal rupanya seorang briptu, yang ketika tau si anak mencuri sendal, langsung memarahi dan memukuli si anak pakai benda tumpul, dan tentu saja membawa kasus itu ke persidangan. Menurut berita juga, katanya si briptu tersebut memukuli si anak bersama seorang briptu lain. Tapi katanya sih kedua briptu itu justru dijatuhi hukuman penjara karena penganiayaan kepada si anak tersebut. Dan karena rasa kepeduliaan terhadap ketidakadlian yang menimpa anak tersebut, digalanglah gerakan "Kirim 1000 Sendal Untuk Kapolri".
Buat saya secara pribadi, kedua polisi tersebut harusnya dipecat dari kepolisian. Saya rasa, polisi harusnya bisa bersikap lebih bijaksana dan dewasa ya dalam menghadapi sebuah kasus. Yang dihadapi dalam kasus bukan cuman kasusnya, tapi pelakunya juga. Semisal ada anak TK yang mencuri sendal, terus masa anak TK tersebut mau dijatuhkan hukuman penjara? Mau jadi apa anak itu nanti? Kenapa nggak pakai metode lain untuk menyelesaikan masalah itu? Si anak bisa dikasih nasehat dan diingatkan supaya nggak mencuri, atau kalau mau laporkan aja sama orangtuanya supaya orangtuanya yang kasih hukuman buat si anak. Dan hakimnya yang memutuskan hukuman untuk si anak juga, apakah mikir atau nggak sih? Masa anak yang harusnya di usia segitu mencari ilmu malah dimasukkan ke penjara, yang kita nggak tau nasibnya akan kayak gimana di penjara. Hakim harusnya sadar bahwa tanggung jawabnya besar, karena ia akan mempertanggungjawabkan keputusannya itu, nggak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Di dunia mungkin dia bisa mengelak, tapi di akhirat nanti ketika hari pembalasan, apa yang mau dia katakan sebagai alasan?
Kasus berikutnya tentang DPR yang mau renovasi toilet sebesar 2 milyar. Apa nggak kegedean tuh biayanya? Memang toiletnya banyak, tapi kan kalau mau renovasi nggak usah semewah itu juga. Anggota-anggota DPR mungkin berhak untuk mendapatkan renovasi untuk toilet, tapi anggarannya juga harus logis aja. Dan kalau mereka mau melihat ke daerah-daerah perumahan kumuh dimana sanitasinya sangat buruk, mereka harusnya bersyukur dengan keadaan yang udah mereka dapat sekarang. Masih syukur mereka masih bisa buang air di toilet, dengan sanitasi yang masih layak. Bayangkan mereka yang nggak mampu, yang buat buang air aja harus di pinggiran sungai, yang airnya siapa tau terkontaminasi, lalu akhirnya mereka terserang penyakit. Dan kabar berikutnya katanya anggota-anggota DPR minta renovasi fasilitas lain (seinget saya ruang banggar atau apalah) yang katanya memakan biaya sebesar 20 milyar. Sudah minta satu, minta lagi yang lain. Bisa nggak sih mereka nggak egois? Bisa nggak mereka mencoba lihat realita yang terjadi di masyarakat daripada mikirin euforia sendiri? Uang sebesar 20 milyar itu, kenapa nggak disumbangkan buat kepentingan masyarakat, semisal pembangunan sekolah yang rusak, atau toilet umum, atau infrastruktur negara kayak jalan raya, dan sebagainya? Bukankah masyarakat memilih anggota-anggota DPR untuk membela masyarakat? Kenapa mereka yang dikasih amanah malah berkhianat? Kenapa mereka lebih mementingkan kemewahan buat mereka sendiri daripada kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat?
Kembali ke kasus pertama, kenapa dalam penegakan hukum, ketidakadilan banyak terjadi di masyarakat biasa? Satu kasus yang bikin saya kesal adalah, ketika seorang nenek yang sampai diseret ke pengadilan hanya karena mengambil buah yang jatuh, karena si empunya merasa si nenek itu mencuri, lalu kasus sendal jepit juga. Kenapa aparat penegak hukum justru bersikap terlalu ketat dan akhirnya jadi nggak rasional untuk kasus-kasus yang diangkat dari masyarakat biasa, tapi kasus-kasus yang berkaitan sama pejabat-pejabat atau penguasa justru mereka kendor? Mereka seolah membiarkan orang-orang atas bersikap seenaknya dan melakukan kebatilan seenak jidat, tapi kalau rakyat biasa harus tunduk sama hukum setunduk-tunduknya, sampai lehernya patah. Buat saya, aparat-aparat penegak hukum belum sukses menjalankan misi dan amanah yang mereka emban. Penguasa-penguasa juga pada zalim sama rakyat, dan biar Tuhan aja yang melaknat mereka.
Dimana keadilan di negara ini?
Friday, January 13, 2012
Beverage Recipe: Shirley Temple
Nah, karena saya udah pernah bagi-bagi review lagu, sekarang saya mau bagi-bagi resep minuman. Sebenernya resep ini saya liat basic-nya dari sebuah situs, tapi saya mau coba bikin beberapa catatan tambahan buat memudahkan pembuatannya. Yang mau saya share adalah resep cocktail, yaitu Shirley Temple. Nama minuman ini mirip dengan nama mantan artis cilik Amerika yang ngetop di taun 1930an (saya belum lahir yang jelas), dan sekarang pensiun setelah jadi diploma. Tapi daripada ngegosip artis yang udah pensiun, mendingan saya share aja resepnya.
Shirley Temple termasuk kedalam mocktail, atau cocktail yang disajikan tanpa kandungan alkohol. Karena jenisnya yang nggak mengandung alkohol ini, Shirley Temple cocok disajikan di acara anak-anak. Rasanya yang manis dan penampilannya yang nge-jreng bisa mengundang perhatian anak-anak.
Bahan-bahannya cukup mudah didapat, apalagi kalau ada bahan subsitut semisal bahan utamanya nggak ada. Buat bikin Shirley Temple, kita membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut:
Selamat mencoba!
Shirley Temple termasuk kedalam mocktail, atau cocktail yang disajikan tanpa kandungan alkohol. Karena jenisnya yang nggak mengandung alkohol ini, Shirley Temple cocok disajikan di acara anak-anak. Rasanya yang manis dan penampilannya yang nge-jreng bisa mengundang perhatian anak-anak.
Bahan-bahannya cukup mudah didapat, apalagi kalau ada bahan subsitut semisal bahan utamanya nggak ada. Buat bikin Shirley Temple, kita membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut:
- 100ml soda rasa lemon (misalnya Sprite atau 7Up)
- 50ml sirup grenadin (sirup grenadin ini dari buah delima, warnanya merah terang)
- Ice cubes, secukupnya
- Ceri, untuk garnish
- Pertama, atur potongan-potongan kubus es ke dalam gelas
- Kemudian, tuangkan 100ml soda ke dalam gelas
- Tuang sirup grenadin perlahan-lahan dan tidak boleh sambil diaduk. Tuangkan hati-hati dan pastikan si soda dan sirup grenadinnya nggak nge-blend, untuk membuat gradasi warna yang bagus
- Setelah beres, hias dengan ceri di bibir gelas
- Kalau nggak ada sirup grenadin, bisa diganti dengan sirup lain dengan warna merah cerah, semisal sirup rasa cocopandan atau rose syrup. Tapi tentu saja rasa yang ditawarkan akan berbeda, karena pada dasarnya Shirley Temple pakai sirup grenadin. Itu sifatnya opsional.
- Untuk rasa lemon yang lebih asli, bisa juga kita buat campuran jus lemon dengan plain soda. Campurannya kita kasih takaran 8:2 juga cukup, semisal untuk membuat larutan soda lemon 100ml, kita bisa campurkan 80ml plain soda dengan 20ml jus lemon.
- Shirley Temple ini rasanya asam. Ya, asam banget karena campuran utamanya soda lemon. Buat yang nggak begitu suka asam dan ingin rasa yang lebih manis, bisa tambahkan gula atau gula diabetes yang kadar gulanya rendah.
Selamat mencoba!
Keyword :
cocktail,
recipe,
review,
shirley temple
Thursday, January 12, 2012
Music Review: Favorite "Best Music Arrangement JPop"
Ah, setelah kemarin-kemarin ini banyak nge-review Kpop, sekarang saya mau coba review Jpop. Saya awalnya berkutat di genre ini juga, yah kisaran lagu-lagu anime dan GST sih, sebelum akhirnya me-review Kpop. Tapi bagaimanapun juga, buat saya Jpop itu masih nggak bisa dibandingkan sama Kpop, karena beberapa perbedaan dari segi aransemen dan lirik yang menurut saya masih bisa menang kalau dibandingkan dengan Kpop. Sementara Kpop banyak mengeluarkan lagu-lagu dengan subgenre dance atau electronica, di Jpop saya masih banyak lihat dan dengar lagu-lagu yang subgenrenya rock, pop, bahkan ballad. Dan aransemen di lagu-lagu Jpop pilihan saya ini rupanya nggak main-main. Beberapa artis seperti Suemitsu & The Suemith banyak mengeksplorasi musik mereka dengan instrumen andalan mereka, yaitu piano. Contoh lainnya seperti Akeboshi, memadukan unsur alat musik tradisional Jepang dan piano ballad dengan ketukan yang nggak lazim, yaitu 5/4 dalam lagu Wind.
Nah, langsung aja saya akan me-review beberapa lagu pilihan saya. Beberapa terbilang lagu jadul sih, tapi dari segi aransemen musiknya, tetep nggak terkalahkan dan sukses bertahan di playlist lagu saya.
Suemitsu & The Suemith
Sagittarius
Lagu yang jadi soundtrack anime Nodame Cantabile ini menarik perhatian saya dengan aransemen pianonya sebagai instrumen utama, dan covernya yang bikin saya meriding sekaligus kagum. Oh, rasanya ingin punya piano dengan case transparan seperti di cover Sagittarius ini! Sagittarius diawali dengan melodi yang dibentuk dari block-chord dengan basic chord B-flat Major 7. Seiring lagu berjalan, instrumen pengiring seperti electric guitar, drum, dan string section ikut mewarnai penggambaran langit biru tua dengan taburan bintang pada lagu bertema cinta yang dibalut dalam nuansa astronomi dan aransemen rockestra ini. Pada bagian akhir lagu, ada notasi string section yang terdengar rumit dan membawa nuansa misterius. Kalau buat saya, lagu ini cocok didengerin malam hari.
Allegro Cantabile
Lagu yang bermain di tempo riang ini didominasi oleh piano, yang diiringi oleh aransemen rock yang meriah. Chord dasar lagu ini berubah-ubah, seiring pergerakan lagu ke bagian lagu berikutnya. Di intro dan verse awal, lagu ini main di chord C major, lalu pindah ke A major, lalu pindah lagi ke C-sharp major. Sebenernya kalau denger lagu ini terlalu sering, bawaannya jadi capek, karena aransemennya yang meriah, riang, lincah, seolah nggak ada istirahatnya.
Sonatine
Masih merupakan bagian soundtrack dari anime Nodame Cantabile, lagu yang satu ini lebih menonjolkan rasa musik klasik dari notasi piano, terutama pada bagian intro. Kesannya seperti piece sonatina klasik, dengan melodi piano yang dibentuk dari not-not 1/16. Tempo yang nggak begitu cepat dan nggak hingar bingar kayak Allegro Cantabile, membuat lagu ini lebih 'adem' buat didengerin. Aransemennya masih berbau rock walaupun nggak begitu banyak distorsi terdengar.
Angela Aki
Surrender
Perempuan berdarah Jepang-Amerika-Italia ini pertama kali menarik perhatian saya dengan lagunya yang berjudul Sakurairo (サクラ色), yang waktu itu MV-nya ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta. Selain itu, penampilannya yang sederhana, dan sesekali terlihat tomboy jadi point of interest-nya Angela. Dari situ saya mulai dengar lagu-lagunya Angela Aki. Salah satu yang paling bikin saya kagum adalah lagu "Surrender" ini. Lagu dengan genre orchestral pop ini bikin saya terpukau dengan permainan piano Angela, yang diiringi oleh iringan orkestra yang powerful dan megah. Lagu yang bermain di chord dasar C major dan tempo yang nggak begitu cepat ini (antara Allegretto atau Animato) menyuguhkan musik piano yang progresif, dipadupadankan dengan karakter vokal Angela yang khas dan orkestrasi mewah. Liriknya yang ditulis dalam bahasa Inggris juga penuh dengan makna. Lagu ini juga berhasil jadi lagu pengiring tidur buat saya.
Sakurairo (サクラ色)
Pop ballad yang satu ini dikemas dalam tempo sedang dan aransemen piano ballad, mirip-mirip sama lagu-lagunya Kiroro. Sebagai piano ballad, tentu saja piano masih menjadi instrumen utama di lagu ini, yang dikasih sentuhan manis string section dan bass yang bikin hati deg-degan (loh?). MV-nya yang menjadi alasan kenapa saya kagum sama Angela ini berlokasi di sebuah kamar apartemen, dimana Angela bermain piano disana dan bunga-bunga sakura berjatuhan di sekitar tempat ia bermain piano. Buat saya MV-nya romantis.
Knockin' On Heaven's Door
Dan salah satu lagu kesukaan saya pun dibawakan oleh Angela Aki dengan aransemen yang baru dan berbeda. "Knockin' On Heaven's Door" merupakan sebuah lagu yang menceritakan pesan terakhir seorang deputy (semacam petugas polisi atau mungkin Sheriff) yang sekarat dan sedih karena nggak bisa meneruskan pekerjaannya lagi. Angela di albumnya yang berjudul "ANSWER" menyanyikan lagu ini dalam versi bahasa Jepang, dengan aransemen yang sederhana tapi tetep asyik didengar. Saya rasa ini lagu yang wajib didengar sama penyuka lagu-lagu Angela Aki.
Black Glasses
Berbeda dengan lagu-lagu yang saya review sebelumnya, lagu Angela yang satu ini sifatnya lebih riang dan lucu. Dengan aransemen yang mirip aransemen pop taun 70an, Angela Aki menceritakan tentang kacamata hitamnya. Tempo yang sedang tapi beat yang lincah jadi kunci di lagu ini.
Akeboshi - Wind
Soundtrack anime Naruto yang satu ini rupanya masih jadi favorit para pemain piano karena aransemen pianonya yang unik dan nggak lazim. Secara keseluruhan aja, lagu ini main dengan ketukan 5/4, ketukan yang bahkan nggak semua orang sudah merasa familiar. Lagu ini memadukan aransemen piano, dengan alat musik tiup (semacam flute), gitar dan string section. Gak jarang banyak orang ketika mau main piano lagu ini jadi agak pusing dengan ketukannya yang cukup tricky ini. Tapi overall, lagu ini menyajikan gambaran petualangan Naruto dan teman-temannya, menembus kegelapan hutan Jepang. Yah, cocok lah sama anime-nya.
Yui Aragaki - Akai Ito (赤い糸)
Lagu "Akai Ito" versi Yui Aragaki lebih saya sukai sebenernya dibandingkan versi band aslinya, Kobukuro. Di versi yang satu ini, lagu Akai Ito lebih terdengar atraktif dengan aransemen yang lebih 'hebring' dibandingkan versi aslinya. Instrumen utamanya folk guitar dan piano, ditambah sentuhan string section yang bikin nuansa orchestral pop. Sedikit distorsi ngasih kesan tegas di lagu ini (pada bagian chorus, bisa diperhatikan baik-baik ada distorsi dari gitar). Pertama kali saya denger lagu ini ketika Nuning, temen les piano saya kasih denger saya lagu ini. Dia bilang, dia suka sama aransemen pianonya, dan ternyata memang benar, aransemen untuk pianonya memang enak didengar. Pada bagian verse kedua setelah chorus pertama, ornamen pianonya terdengar sederhana, tapi lincah dan alegorik. Sebagai perbandingan, boleh deh didenger juga lagu "Akai Ito" versi Kobukuro.
Kiroro
Ano Goro (あの頃)
Duo pianist-vocalist Jepang ini menampilkan power ballad di lagu "Ano Goro". Lagu ini dimulai tanpa intro, jadi pada permulaan lagu, langsung masuk block-chord piano dan vokal yang menyanyikan verse awal lagu. Nuansa power ballad terdengar dari distorsi gitar yang bisa didengar sepanjang lagu berjalan. Tempo sedang, dengan aransemen yang nggak terkesan mellow tapi tetep bisa dapetin feel ballad-nya bikin saya suka sama lagu ini.
Mirai He (未来へ)
Piano pop jadul ini masih enak aja buat didengerin. Aransemen yang sederhana, dengan piano, folk guitar, drum, dan sedikit nuansa orkestra bisa didapetin di lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang seorang ibu dan anaknya yang berjalan menapaki detik demi detik sambil melihat nilai-nilai kehidupan.
Mika Nakashima - Love Addict
Lagu ini dikemas dalam aransemen big-band, orchestral jazz yang mewah. Karakter vokal Mika yang manis dan catchy, dipadukan dengan iringan big band dan orkestra menjadikan lagu ini terkesan classy. Lagu dengan durasi yang cukup panjang ini cocok didengerin di malam hari, ketika berkendara dengan mobil pribadi di kota. Nuansa jazz akan menemani perjalanan kita melewati jalanan kota.
Duh, sebenarnya saya masih ingin share dan review lebih banyak lagu lagi, tapi karena keterbatasan waktu juga jadi saya cuman bisa share segini. Kedepannya semoga saya bisa share lebih banyak lagu-lagu lain dengan aransemen yang lebih menarik dan unik. Semoga referensinya bermanfaat :D
Nah, langsung aja saya akan me-review beberapa lagu pilihan saya. Beberapa terbilang lagu jadul sih, tapi dari segi aransemen musiknya, tetep nggak terkalahkan dan sukses bertahan di playlist lagu saya.
Suemitsu & The Suemith
Sagittarius
Lagu yang jadi soundtrack anime Nodame Cantabile ini menarik perhatian saya dengan aransemen pianonya sebagai instrumen utama, dan covernya yang bikin saya meriding sekaligus kagum. Oh, rasanya ingin punya piano dengan case transparan seperti di cover Sagittarius ini! Sagittarius diawali dengan melodi yang dibentuk dari block-chord dengan basic chord B-flat Major 7. Seiring lagu berjalan, instrumen pengiring seperti electric guitar, drum, dan string section ikut mewarnai penggambaran langit biru tua dengan taburan bintang pada lagu bertema cinta yang dibalut dalam nuansa astronomi dan aransemen rockestra ini. Pada bagian akhir lagu, ada notasi string section yang terdengar rumit dan membawa nuansa misterius. Kalau buat saya, lagu ini cocok didengerin malam hari.
Allegro Cantabile
Lagu yang bermain di tempo riang ini didominasi oleh piano, yang diiringi oleh aransemen rock yang meriah. Chord dasar lagu ini berubah-ubah, seiring pergerakan lagu ke bagian lagu berikutnya. Di intro dan verse awal, lagu ini main di chord C major, lalu pindah ke A major, lalu pindah lagi ke C-sharp major. Sebenernya kalau denger lagu ini terlalu sering, bawaannya jadi capek, karena aransemennya yang meriah, riang, lincah, seolah nggak ada istirahatnya.
Sonatine
Masih merupakan bagian soundtrack dari anime Nodame Cantabile, lagu yang satu ini lebih menonjolkan rasa musik klasik dari notasi piano, terutama pada bagian intro. Kesannya seperti piece sonatina klasik, dengan melodi piano yang dibentuk dari not-not 1/16. Tempo yang nggak begitu cepat dan nggak hingar bingar kayak Allegro Cantabile, membuat lagu ini lebih 'adem' buat didengerin. Aransemennya masih berbau rock walaupun nggak begitu banyak distorsi terdengar.
Angela Aki
Surrender
Perempuan berdarah Jepang-Amerika-Italia ini pertama kali menarik perhatian saya dengan lagunya yang berjudul Sakurairo (サクラ色), yang waktu itu MV-nya ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta. Selain itu, penampilannya yang sederhana, dan sesekali terlihat tomboy jadi point of interest-nya Angela. Dari situ saya mulai dengar lagu-lagunya Angela Aki. Salah satu yang paling bikin saya kagum adalah lagu "Surrender" ini. Lagu dengan genre orchestral pop ini bikin saya terpukau dengan permainan piano Angela, yang diiringi oleh iringan orkestra yang powerful dan megah. Lagu yang bermain di chord dasar C major dan tempo yang nggak begitu cepat ini (antara Allegretto atau Animato) menyuguhkan musik piano yang progresif, dipadupadankan dengan karakter vokal Angela yang khas dan orkestrasi mewah. Liriknya yang ditulis dalam bahasa Inggris juga penuh dengan makna. Lagu ini juga berhasil jadi lagu pengiring tidur buat saya.
Sakurairo (サクラ色)
Pop ballad yang satu ini dikemas dalam tempo sedang dan aransemen piano ballad, mirip-mirip sama lagu-lagunya Kiroro. Sebagai piano ballad, tentu saja piano masih menjadi instrumen utama di lagu ini, yang dikasih sentuhan manis string section dan bass yang bikin hati deg-degan (loh?). MV-nya yang menjadi alasan kenapa saya kagum sama Angela ini berlokasi di sebuah kamar apartemen, dimana Angela bermain piano disana dan bunga-bunga sakura berjatuhan di sekitar tempat ia bermain piano. Buat saya MV-nya romantis.
Knockin' On Heaven's Door
Dan salah satu lagu kesukaan saya pun dibawakan oleh Angela Aki dengan aransemen yang baru dan berbeda. "Knockin' On Heaven's Door" merupakan sebuah lagu yang menceritakan pesan terakhir seorang deputy (semacam petugas polisi atau mungkin Sheriff) yang sekarat dan sedih karena nggak bisa meneruskan pekerjaannya lagi. Angela di albumnya yang berjudul "ANSWER" menyanyikan lagu ini dalam versi bahasa Jepang, dengan aransemen yang sederhana tapi tetep asyik didengar. Saya rasa ini lagu yang wajib didengar sama penyuka lagu-lagu Angela Aki.
Black Glasses
Berbeda dengan lagu-lagu yang saya review sebelumnya, lagu Angela yang satu ini sifatnya lebih riang dan lucu. Dengan aransemen yang mirip aransemen pop taun 70an, Angela Aki menceritakan tentang kacamata hitamnya. Tempo yang sedang tapi beat yang lincah jadi kunci di lagu ini.
Akeboshi - Wind
Soundtrack anime Naruto yang satu ini rupanya masih jadi favorit para pemain piano karena aransemen pianonya yang unik dan nggak lazim. Secara keseluruhan aja, lagu ini main dengan ketukan 5/4, ketukan yang bahkan nggak semua orang sudah merasa familiar. Lagu ini memadukan aransemen piano, dengan alat musik tiup (semacam flute), gitar dan string section. Gak jarang banyak orang ketika mau main piano lagu ini jadi agak pusing dengan ketukannya yang cukup tricky ini. Tapi overall, lagu ini menyajikan gambaran petualangan Naruto dan teman-temannya, menembus kegelapan hutan Jepang. Yah, cocok lah sama anime-nya.
Yui Aragaki - Akai Ito (赤い糸)
Lagu "Akai Ito" versi Yui Aragaki lebih saya sukai sebenernya dibandingkan versi band aslinya, Kobukuro. Di versi yang satu ini, lagu Akai Ito lebih terdengar atraktif dengan aransemen yang lebih 'hebring' dibandingkan versi aslinya. Instrumen utamanya folk guitar dan piano, ditambah sentuhan string section yang bikin nuansa orchestral pop. Sedikit distorsi ngasih kesan tegas di lagu ini (pada bagian chorus, bisa diperhatikan baik-baik ada distorsi dari gitar). Pertama kali saya denger lagu ini ketika Nuning, temen les piano saya kasih denger saya lagu ini. Dia bilang, dia suka sama aransemen pianonya, dan ternyata memang benar, aransemen untuk pianonya memang enak didengar. Pada bagian verse kedua setelah chorus pertama, ornamen pianonya terdengar sederhana, tapi lincah dan alegorik. Sebagai perbandingan, boleh deh didenger juga lagu "Akai Ito" versi Kobukuro.
Kiroro
Ano Goro (あの頃)
Duo pianist-vocalist Jepang ini menampilkan power ballad di lagu "Ano Goro". Lagu ini dimulai tanpa intro, jadi pada permulaan lagu, langsung masuk block-chord piano dan vokal yang menyanyikan verse awal lagu. Nuansa power ballad terdengar dari distorsi gitar yang bisa didengar sepanjang lagu berjalan. Tempo sedang, dengan aransemen yang nggak terkesan mellow tapi tetep bisa dapetin feel ballad-nya bikin saya suka sama lagu ini.
Mirai He (未来へ)
Piano pop jadul ini masih enak aja buat didengerin. Aransemen yang sederhana, dengan piano, folk guitar, drum, dan sedikit nuansa orkestra bisa didapetin di lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang seorang ibu dan anaknya yang berjalan menapaki detik demi detik sambil melihat nilai-nilai kehidupan.
Mika Nakashima - Love Addict
Lagu ini dikemas dalam aransemen big-band, orchestral jazz yang mewah. Karakter vokal Mika yang manis dan catchy, dipadukan dengan iringan big band dan orkestra menjadikan lagu ini terkesan classy. Lagu dengan durasi yang cukup panjang ini cocok didengerin di malam hari, ketika berkendara dengan mobil pribadi di kota. Nuansa jazz akan menemani perjalanan kita melewati jalanan kota.
Duh, sebenarnya saya masih ingin share dan review lebih banyak lagu lagi, tapi karena keterbatasan waktu juga jadi saya cuman bisa share segini. Kedepannya semoga saya bisa share lebih banyak lagu-lagu lain dengan aransemen yang lebih menarik dan unik. Semoga referensinya bermanfaat :D
Bermain Di Kebun Binatang
Wah, senangnya! Akhirnya kemarin ini sempat bermain ke Kebun Binatang Bandung, arena rekreasi yang terakhir kali saya kunjungi waktu saya SD. Bermodalkan nekat nerjang hujan dan niat dadakan, akhirnya tim penyelamat hewan yang beranggotakan Go, Diego Go! alias saya sendiri, Amalia Dwi Explorer, Dea Ananda, Hadi No Smoking, dan Fath Less Do More ini pergi ke kebun binatang setelah ngambil kartu FRS dan nunggu jadwal dosen PA yang ternyata belum ada. Menaiki angkot hijau legendaris Cicaheum-Ledeng, kami akhirnya sampai di kebun binatang yang rupanya nggak begitu ramai sama pengunjung. Dengan begini, si Amel bisa lebih menghayati perjumpaannya dengan kerabat sangat jauhnya (eh?)
Bermodalkan uang lima belas ribu rupiah aja, anda sudah bisa mendapatkan tiket masuk monokrom bergambar macan ini! Hebat kan? *biasa aja sih sebenernya* Tapi ya sudahlah toh macannya aja nggak protes. Nah, sampai di kebun binatang, rupanya ada banyak yang berubah, dari mulai exhibit sampai environmental design. Yang pertama kita datangi adalah kandang beruang madu. Oh, tiba-tiba saya inget Winnie The Pooh...
Rupanya waktu datang, beruang yang ada di exhibit jumlahnya sedikit. Kemanakah beruang-beruang itu pergi? Kan nggak mungkin beruangnya pergi sebentar buat main ke CiWalk. Itu fiksional sekali, ah tapi gapapa bagus juga beruang butuh hiburan juga kan? *ngomong apa saya ini*
Beres mengunjungi Pooh, saya sama teman-teman mengunjungi kandang buaya. Oh, lihatlah para buaya darat ini yang sering menipu hati para wanita, termasuk Mulan Kwok dan Maia Estianti dari Ratu (loh?). Buaya-buaya yang kelihatannya jinak padahal galak itu sedang bersantai, berjemur di pinggir kolam. Dan yang mengejutkan, di dekat tembok pembatas exhibit buaya, ada sebuah sepatu bayi yang tergeletak begitu saja!
Pertanyaan saya sama teman-teman adalah, apa yang terjadi dengan bayi ini? Apakah ada orangtuanya yang jahat lalu melempar bayi tak berdosa ini ke kandang buaya untuk dimakan? Atau bayinya yang galau lalu bunuh diri dan sendalnya nyangkut dan jatuh? Atau bayi yang dilempar orangtuanya untuk diadopsi dan diasuh oleh buaya tersebut dan berubah menjadi buaya setelah meminum ramuan Polyjuice? Ini merupakan misteri Ilahi rupanya. Ah sudahlah, akhirnya kami capcus ke kandang berikutnya. Langsung kami main-main ke area reptil, lihat kura-kura yang berlibur ala kaum jetset, komodo galau, lihat-lihat ular yang sebenarnya saya nggak suka dan nggilani ngeliatnya. Lalu pergi juga ke aviary, lihat-lihat burung yang aneh-aneh sampai warna-warni.
Dan akhirnya tibalah kami di kandang primata. Saya nggak mau banyak komentar disini. Pokoknya rasa haru melihat teman saya akhirnya bisa bertemu saudara jauhnya bercampur dengan kekaguman karena ada seorang bapak-bapak yang bisa ngomong sama monyet. Sayangnya si bapak itu nggak difoto.
Di penangkaran primata ini, banyak primata-primata yang tinggal sendirian. Kasihan, apalagi ada yang galau ingin punya teman sekandang. Seharusnya pengurus kebun binatang bisa lebih memperhatikan kondisi hewan-hewan yang ada disini. Banyak hewan-hewan yang sepertinya ditinggal mati teman sekandangnya, jadinya galau dan kesepian ala Vierra. Ada juga hewan yang galau karena kandangnya udah nggak terawat dengan baik. Kasihan pokonya. Nggak aneh makanya kenapa ada burung-burung yang bisa lepas dari kandangnya dan kabur ke alam bebas.
Setelah puas melihat primata, kami jalan-jalan ke area kandang hewan-hewan karnivora super sekali ala Mario Teguh. Rupanya, ada harimau yang sedang galau, singa yang galau, dan juga macan yang galau. Yah, kalau semua hewan pada galau, nanti siapa yang jadi macan Biskuat? (eh?)
Hewan-hewan sudah pada difoto, dan tentunya photo-session untuk makhluk Tuhan yang namanya manusia juga nggak bisa dilewatkan. Kebanyakan yang nangkring di album foto itu Dea Ananda dan Amalia Dwi Explorer.
Dan ada hal seru lainnya! Ketika naik perahu, awalnya Hadi dan Fath malas buat ikutan. Tapi, yah sekedar naik perahu dengan tiket tiga ribu aja per orang, akhirnya mereka ikut naik perahu dan keliling-keliling danau kecil. Di tengah danau, ada dua buah pulau dengan primata yang berhabitat disana. Cukup rame juga hiburan naik perahu ini, karena di UPI gak ada perahu dan keliling danau. Ketika selesai dan perahu udah kembali ke dock, si Hadi tiba-tiba lompat dari perahu dan menyebabkan perahu oleng dan hampir kebalik! Benar-benar fantastis, spektakular, bombastis, mutakhir, faktual, dan (tidak) berimbang, seperti kata Om Tukul!
Wah koleksi fotonya rupanya masih banyak, tapi pasti lama kalau di-upload semua. Itulah laporan kami dari Kebun Binatang Bandung dengan hingar bingarnya hewan disana sini. Saya Klaus Rachman, melaporkan!
Bermodalkan uang lima belas ribu rupiah aja, anda sudah bisa mendapatkan tiket masuk monokrom bergambar macan ini! Hebat kan? *biasa aja sih sebenernya* Tapi ya sudahlah toh macannya aja nggak protes. Nah, sampai di kebun binatang, rupanya ada banyak yang berubah, dari mulai exhibit sampai environmental design. Yang pertama kita datangi adalah kandang beruang madu. Oh, tiba-tiba saya inget Winnie The Pooh...
Rupanya waktu datang, beruang yang ada di exhibit jumlahnya sedikit. Kemanakah beruang-beruang itu pergi? Kan nggak mungkin beruangnya pergi sebentar buat main ke CiWalk. Itu fiksional sekali, ah tapi gapapa bagus juga beruang butuh hiburan juga kan? *ngomong apa saya ini*
Beres mengunjungi Pooh, saya sama teman-teman mengunjungi kandang buaya. Oh, lihatlah para buaya darat ini yang sering menipu hati para wanita, termasuk Mulan Kwok dan Maia Estianti dari Ratu (loh?). Buaya-buaya yang kelihatannya jinak padahal galak itu sedang bersantai, berjemur di pinggir kolam. Dan yang mengejutkan, di dekat tembok pembatas exhibit buaya, ada sebuah sepatu bayi yang tergeletak begitu saja!
Pertanyaan saya sama teman-teman adalah, apa yang terjadi dengan bayi ini? Apakah ada orangtuanya yang jahat lalu melempar bayi tak berdosa ini ke kandang buaya untuk dimakan? Atau bayinya yang galau lalu bunuh diri dan sendalnya nyangkut dan jatuh? Atau bayi yang dilempar orangtuanya untuk diadopsi dan diasuh oleh buaya tersebut dan berubah menjadi buaya setelah meminum ramuan Polyjuice? Ini merupakan misteri Ilahi rupanya. Ah sudahlah, akhirnya kami capcus ke kandang berikutnya. Langsung kami main-main ke area reptil, lihat kura-kura yang berlibur ala kaum jetset, komodo galau, lihat-lihat ular yang sebenarnya saya nggak suka dan nggilani ngeliatnya. Lalu pergi juga ke aviary, lihat-lihat burung yang aneh-aneh sampai warna-warni.
Dan akhirnya tibalah kami di kandang primata. Saya nggak mau banyak komentar disini. Pokoknya rasa haru melihat teman saya akhirnya bisa bertemu saudara jauhnya bercampur dengan kekaguman karena ada seorang bapak-bapak yang bisa ngomong sama monyet. Sayangnya si bapak itu nggak difoto.
Di penangkaran primata ini, banyak primata-primata yang tinggal sendirian. Kasihan, apalagi ada yang galau ingin punya teman sekandang. Seharusnya pengurus kebun binatang bisa lebih memperhatikan kondisi hewan-hewan yang ada disini. Banyak hewan-hewan yang sepertinya ditinggal mati teman sekandangnya, jadinya galau dan kesepian ala Vierra. Ada juga hewan yang galau karena kandangnya udah nggak terawat dengan baik. Kasihan pokonya. Nggak aneh makanya kenapa ada burung-burung yang bisa lepas dari kandangnya dan kabur ke alam bebas.
Setelah puas melihat primata, kami jalan-jalan ke area kandang hewan-hewan karnivora super sekali ala Mario Teguh. Rupanya, ada harimau yang sedang galau, singa yang galau, dan juga macan yang galau. Yah, kalau semua hewan pada galau, nanti siapa yang jadi macan Biskuat? (eh?)
Hewan-hewan sudah pada difoto, dan tentunya photo-session untuk makhluk Tuhan yang namanya manusia juga nggak bisa dilewatkan. Kebanyakan yang nangkring di album foto itu Dea Ananda dan Amalia Dwi Explorer.
![]() |
| Siapa luwaknya? Yang kanan atau yang kiri? *nahloh* |
Dan ada hal seru lainnya! Ketika naik perahu, awalnya Hadi dan Fath malas buat ikutan. Tapi, yah sekedar naik perahu dengan tiket tiga ribu aja per orang, akhirnya mereka ikut naik perahu dan keliling-keliling danau kecil. Di tengah danau, ada dua buah pulau dengan primata yang berhabitat disana. Cukup rame juga hiburan naik perahu ini, karena di UPI gak ada perahu dan keliling danau. Ketika selesai dan perahu udah kembali ke dock, si Hadi tiba-tiba lompat dari perahu dan menyebabkan perahu oleng dan hampir kebalik! Benar-benar fantastis, spektakular, bombastis, mutakhir, faktual, dan (tidak) berimbang, seperti kata Om Tukul!
Wah koleksi fotonya rupanya masih banyak, tapi pasti lama kalau di-upload semua. Itulah laporan kami dari Kebun Binatang Bandung dengan hingar bingarnya hewan disana sini. Saya Klaus Rachman, melaporkan!
Subscribe to:
Posts (Atom)





























































