Semenjak jadi anak kuliahan, porsi begadang saya jadi nambah. Selama begadang itu buat ngerjain tugas (dan tentunya FB + Tweeting), saya biasanya sambil nonton acara di TV. Baru-baru ini, saya liat sebuah iklan rokok yang durasinya cukup lama, sekitar 1 menit. Di iklan rokok itu menceritakan tentang seorang cewe, kayaknya karyawati yang sedang nyebrang terus jatuh, dan kertas-kertas kerjaannya berterbangan karena ditiup angin, sementara itu ada seorang penyebrang jalan, cowo, yang bantuin cewe itu ngumpulin kertas-kertas kerjaannya sambil nyanyi. Dan akhirnya, datang lagi seorang cewe yang lain ikut bantu sambil nyanyi sama cowo itu. Gak cukup sampe disitu, akhirnya scene pun berganti dimana ada seorang perempuan yang kesemprot sama genangan air di jalan raya ketika sebuah bis melintas, dan orang-orang di bis itu ikut nyanyi. Scene demi scene terus menyorot kejadian-kejadian yang berbeda, tapi orang-orangnya tetap nyanyi lagu yang sama. Lirik lagunya seperti ini:
Kadang hari, mendung seakan tak mau pergi
Sinar selalu kan datang lagi
Hujanlah hujan hari ini.
Membuka ragu..
Pacu langkahmu..
Bersamaku...
Jangan kau merasa sendiri (kau tak sendiri)
Gapai tanganku
Mereka kan bebaskan kita
Percayalah semua...
Kadang hari
Mendung seakan tak mau pergi
Sinar selalu kan datang lagi
Di scene akhir, di jalan dimana karyawati itu terjatuh akhirnya berkumpulah orang-orang yang menyanyikan lagu tersebut sambil berjalan ke arah kamera. Si karyawati itu akhirnya ikut nyanyi sama orang-orang tersebut dan hujan pun turun. Iklan berakhir setelah logo khas rokok tersebut muncul di layar.
Iklan rokok tersebut adalah iklan rokok A Mild, yang tagline-nya baik di televisi ataupun banner besar di jalan sering menarik perhatian. Tagline-nya singkat, tapi sangat bermakna dan terkadang agak nyindir. Saya sendiri jujur aja seneng sama iklan-iklan A Mild di televisi. Dan kalau boleh jujur, dewasa ini banyak iklan rokok yang justru cenderung menampilkan banyak inspirasi, ketimbang mempromosikan si rokok itu sendiri. Contohnya ya iklan yang saya jelasin di atas tadi. Daripada mempromosikan si produknya sendiri, iklan itu lebih cenderung menginspirasi orang-orang dan menarik perhatian orang-orang lewat jingle-nya yang singkat tapi asik buat didengar itu. Kalau secara sederhana sih, bisa aja dikatakan bahwa iklan itu gak nyambung, karena yang dijual adalah rokok tapi ceritanya beda, nggak to-the-point misalnya. Tapi justru karena konsepnya yang unik itulah, saya rasa rokok tersebut jadi laku. Terlebih lagi, A Mild memang brand yang nggak hanya menjual rokok, tapi juga ikut jadi penyelenggara beberapa event yang memang worth to attend. Konser-konser musik, sampe liga olahraga, saya rasa saya udah cukup sering melihat event-event semacam itu diselenggarakan sama A Mild (tanpa mengandung unsur promosi loh!).
Lagu itu masih terngiang-ngiang di benak saya. Aransemen yang simpel, tapi karena liriknya yang nggak neko-neko dan bermakna itulah yang bikin saya tertarik. Lagu penyemangat yang dimainkan di sepanjang iklan berlangsung, cocok sama konsep video iklannya. Terlepas dari produk yang dijual, saya mencoba objektif untuk melihat bahwa terkadang, produk semacam rokok, yang menurut peraturan iklannya hanya boleh disiarkan di malam hari, justru bisa memberikan kita sebuah inspirasi berharga bahwa setiap kali mendung datang, sinar akan selalu datang lagi.
Kadang hari mendung seakan tak mau pergi, sinar kan selalu datang lagi...
Translate This Page
Showing posts with label inspiring. Show all posts
Showing posts with label inspiring. Show all posts
Friday, February 10, 2012
Tuesday, September 14, 2010
I Hate When People Start To Be Racist
Kemaren ini gue mampir sejenak ke downtown Kuningan. Commercial area-nya commonly terdiri dari ruko-ruko yang dari dulu banget emang udah ditata serapi itu, cuman ya pedagang-pedagang kaki limanya aja yang malahan ngotorin daerah itu. And guess what, rute jalan commercial areanya itu berbentuk I! Gimana nggak, mulai dari pertigaan jalan Aruji Kartawinata (Jakarta) sampe ke alun-alun rutenya berbentuk huruf I. Lha wong sampe di ujung alun-alun langsung jalur balik lagi ke start awal (puter balik). Nah, di salah satu ruko-ruko itu, gue mampir sebentar ke sebuah toko.
Di toko itu, mama ngobrol sama yang punya toko (dan kemungkinan masih ada sodara walopun jauh). Yang jaganya kebetulan istrinya soalnya sang mpunya, opa Xu Chen has passed away (may God bless you, sir). Kata mama, dulu opa Xu Chen itu sinshe langganan kakek gue. Kalo sakit, biasanya kakek beli obat-obat racikan Cina dan opa Xu Chen itulah yang ngeraciknya. Sekarang opa udah meninggal jadi toko di-handle sama istrinya. Mama sama oma Xu Chen ngobrol cukup lama. Kebetulan si mama juga beli sendal jepit (oh gee) dan waktu transaksi gue yang bilang thanks pake bahasa Cina.
Gak disangka, si oma justru seneng waktu tau gue (ceritanya) bisa bahasa Cina. Dan dari situlah dimulai obrolan panjang yang berakhir dengan Wali Songo (loh?).
"Oma.."
"Apa?"
"Xie xie zai jian!"
"Oh, iya iya. Bagus ya ini bisa bahasa Cina juga ternyata", kata si oma sambil ngacak-ngacak rambut gue. Oh my new hairdo!
"Iya. Ini juga katanya pengen les lagi bahasa Cina", si mama nambahin (padahal mama yang pelit buat urusan gue les bahasa).
"Bagus itu. Anak muda jaman sekarang tuh harus banyak belajar. Kalau belajar bahasa jangan cuman satu aja, tapi harus banyak."
"Iya. Biar bisa bersaing. Lagian aku juga pengen banget belajar lagi bahasa Cina supaya kalo kerja gampang."
"Ya. Bagus itu. Sekarang ini kan persaingan udah ketat sekali. Orang kalau cuma mendalami satu bidang aja nggak bagus sebenernya. Kalau orang bisa mendalami lebih dari satu bahasa, kalo saya sih yakin orang itu bisa sukses. Apalagi kan bahasa Cina itu yang pakai banyak sekali ya milyaran. Cina itu kan nanti mau jadi bahasa Internasional jadi kalo udah bisa menguasai bahasa Cina ya saya yakin kamu tuh bisa sukses. Apalagi kamu ini masa depannya kan masih bagus, jadi harus terus banyak belajar."
"Iya nih, dari dulu emang pengen banget belajar.."
"Bagus itu. Harus mau belajar. Kan sebenernya orang-orang Tiongkok itu ke Indonesia bukan untuk menjajah, nggak kaya Belanda atau Inggris. Orang Cina itu ke Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengembangan pertanian sebenarnya. Makanya kan kita sekarang kenal ada yang namanya tauge, tahu, bihun, itu kan sebenarnya istilah Hokkien. Makanya saya dulu nyesel waktu jaman orde baru itu kan, kenapa sampai Indonesia itu anti sama Chinese ya? Padahal kalau mau terbuka kan kita bisa lebih banyak berbagi ilmu kan? Malahan justru kita itu dianggap jelek. Waktu itu saya ngomong bahasa Cina justru diliatin dan dicibir orang. Saya pikir kenapa harus malu? Makanya saya tetep bicara bahasa Cina. Jadi kenapa harus tertutup? Malahan menurut saya justru ikuti yang bagus-bagusnya. Misalnya waktu itu orang Cina bagus di bidang ekonominya, ikuti padahal semisal cara-cara atau tipsnya. Ya, yang jelek-jeleknya jangan diikuti."
"Oh.. Iya iya."
"Dan Islam juga masuk Indonesia, tau tidak salah satunya karena siapa?"
"Hmm.. Cheng Ho ya?"
"Ya. Haji Cheng Ho itu datang ke Indonesia bukan untuk menjajah. Justru malahan menyebarkan agama Islam. Makanya kan di Wali Songo itu ada 9 orang, 7 orangnya itu berketurunan Cina."
"Wah?", jujur gue baru tau kenyataan itu. 7 orangnya berketurunan Cina?
"Iya. 7 orangnya itu berketurunan Cina. Cheng Ho sendiri kan Islam. Belum tau ya?"
"Tau sih..", gue pernah liat liputannya di TV waktu itu tentang Cheng Ho.
"Jadi orang Cina ke Indonesia itu bukan untuk menjajah. Makanya kenapa waktu itu harus menutup diri? Jadi sekarang anak-anak harus banyak belajar dan jangan menutup diri. Kalau seperti dulu menutup diri menurut saya justru jadi terbelakang. Kalau sekarang nggak menutup diri, kedepannya saya yakin ini anak pasti sukses."
"Iya. Makasih oma", kata gue sambil senyum-senyum kecil.
Gue jadi kepikiran terus omongan oma Xu Chen tadi. Iya ya, kalo aja waktu jaman Soeharto orang-orang pada nggak anti Cina. Emang sih, ambil sisi positifnya aja, jangan negatifnya. Gue sih nyadar diri dan ngerasain emang ada beberapa pandangan yang beda ke beberapa kerabat gue yang Chinese, bahkan ke gue sendiri. Gue inget waktu dulu, gue biasa maen sama cici gue. Gue kelas 1 SMP dan dia kelas 3 SMP. Kalo di jalan gue ketemu sama temen gue, biasa gue sama mereka say hi. Tapi kalo pas gue lagi bareng cici gue, kenapa pandangan mereka jadi berbeda? Gue tau beda pandangannya dan itu yang bikin gue ngerasa nggak nyaman.
Gue juga sempet makan siang di restoran sama Ko Izi dan seorang temen (nama disamarkan). Di pojokan restoran, ada sekelompok orang, Chinese yang udah ngebook meja-meja buat mereka. Sambil ngobrol, mereka secara nggak langsung ngeramein restoran. Temen gue itu nyeletuk,
"Aing geuleuh da ka barudak Cina kitu.."
Gue ngerti karena memang keberadaan mereka sedikit 'mendominasi', tapi nggak usah segitunya. Gak liat apa di depannya ada 'orang Cina juga?! Berarti selama makan tadi gue dianggep sama kaya ayam yang dia makan dong :'(
Gue juga inget waktu gue SMP kelas dua kalo gak salah. Salah seorang guru gue Mr.blablabla ngobrol sama gue tentang rumah gue. Guru gue terus jadi ngomongin Setra Duta gitu. What's wrong with my residence?
"Itu ya komplek Setra Duta. Dulu mah gak seluas itu, sekarang udah luas banget."
"Kan ekspansi pak.."
"Tapi sampe ngegusur rumah-rumah warga sekitarnya."
"Padahal mah ya pak kalo mau mah warganya jangan mau terima. Jadi pas minta dibeli tanahnya tuh harusnya mah nolak. Da hari gini cari tanah buat bikin rumah teh susah, sekalinya dapet eh mahal", komentar gue. Emang sih ekspansinya cukup menyeramkan, dimana komplek gede itu perlahan-lahan bisa ngegusur perumahan warga asli. Gue jadi sedih juga merhatiinnya.
"Iya. Tapi da mau gimana lagi kayanya mah dipaksa terus. Bener-bener nya Cina teh jahat."
What?! What did he say? Cina jahat? Do you mean, we are cruel, don't ya? Maksudnya anak kecil gak berdosa dan tak bersalah berwajah baby (sooner 'y' diganti pake 'i') face ini dibilang jahat? #liatliatcermin #ngurutdada Teganya... :'(
Emang sih ekspansi semagic alaihim itu emang terbilang 'jahat', tapi kan nggak usah senancep itu ngomongnya. Gue tau terkadang beberapa dari kita emang ada lah yang begitu (katakanlah rese, rehe, ato belagu), but not at all! Cici gue bukan orang jahat, oma Xu Chen juga baik, om Sionghin juga ramah ke tetangga-tetangga yang laen, Ko Osi walopun udah kuliah tapi gak malu maen sama bocah kayak gue, dan gue juga gak jahat (boong), terus kenapa kita dicap kaya gitu? Kalo kita dibilang jahat karena satu ato dua hal, terus apa bedanya dengan kita yang sempet dibikin gusar di kerusuhan pas jaman Soeharto dulu? Mungkin beberapa dari kita (ingat, beberapa) terkadang act exaggeratedly, katakanlah rese pelit belagu. Beberapa dari kita juga terlalu mendominasi di satu atau beberapa hal. Itu negatifnya, tapi kan nggak bisa kita selalu pegang teguh hal-hal negatifnya. Coba flashback ke kerusuhan di jaman Soeharto dulu. Waktu toko-toko orang Cina pada dibakar, terus perempuan-perempuan pada disekap, diperkosa terus dibakar di sebuah gedung perbelanjaan sama orang-orang yang jahat, sekarang mana yang lebih jahat?
Terkadang orang ngeliat dari satu sisinya doang, dan sisi itulah yang ngedominasi prasangka mereka. Gue berada di tengah-tengah karena dua darah yang mengalir di diri gue dan gue bisa ngerti perasaan mereka. Gue ngerti kenapa mereka begitu menutup diri dari Cina ato sentimen dan gue ngerti kenapa Cina terkadang juga sentimen sama mereka. Tapi, bukankah lebih baik kalo dua-duanya justru bisa hidup saling berdampingan?
Gue pikir gue juga gak harus menutup diri ato malu buat mengakui kalo gue ada darah Cina, dan kalo mereka bilang "Lo bukan Cina!", so what?
Di toko itu, mama ngobrol sama yang punya toko (dan kemungkinan masih ada sodara walopun jauh). Yang jaganya kebetulan istrinya soalnya sang mpunya, opa Xu Chen has passed away (may God bless you, sir). Kata mama, dulu opa Xu Chen itu sinshe langganan kakek gue. Kalo sakit, biasanya kakek beli obat-obat racikan Cina dan opa Xu Chen itulah yang ngeraciknya. Sekarang opa udah meninggal jadi toko di-handle sama istrinya. Mama sama oma Xu Chen ngobrol cukup lama. Kebetulan si mama juga beli sendal jepit (oh gee) dan waktu transaksi gue yang bilang thanks pake bahasa Cina.
Gak disangka, si oma justru seneng waktu tau gue (ceritanya) bisa bahasa Cina. Dan dari situlah dimulai obrolan panjang yang berakhir dengan Wali Songo (loh?).
"Oma.."
"Apa?"
"Xie xie zai jian!"
"Oh, iya iya. Bagus ya ini bisa bahasa Cina juga ternyata", kata si oma sambil ngacak-ngacak rambut gue. Oh my new hairdo!
"Iya. Ini juga katanya pengen les lagi bahasa Cina", si mama nambahin (padahal mama yang pelit buat urusan gue les bahasa).
"Bagus itu. Anak muda jaman sekarang tuh harus banyak belajar. Kalau belajar bahasa jangan cuman satu aja, tapi harus banyak."
"Iya. Biar bisa bersaing. Lagian aku juga pengen banget belajar lagi bahasa Cina supaya kalo kerja gampang."
"Ya. Bagus itu. Sekarang ini kan persaingan udah ketat sekali. Orang kalau cuma mendalami satu bidang aja nggak bagus sebenernya. Kalau orang bisa mendalami lebih dari satu bahasa, kalo saya sih yakin orang itu bisa sukses. Apalagi kan bahasa Cina itu yang pakai banyak sekali ya milyaran. Cina itu kan nanti mau jadi bahasa Internasional jadi kalo udah bisa menguasai bahasa Cina ya saya yakin kamu tuh bisa sukses. Apalagi kamu ini masa depannya kan masih bagus, jadi harus terus banyak belajar."
"Iya nih, dari dulu emang pengen banget belajar.."
"Bagus itu. Harus mau belajar. Kan sebenernya orang-orang Tiongkok itu ke Indonesia bukan untuk menjajah, nggak kaya Belanda atau Inggris. Orang Cina itu ke Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengembangan pertanian sebenarnya. Makanya kan kita sekarang kenal ada yang namanya tauge, tahu, bihun, itu kan sebenarnya istilah Hokkien. Makanya saya dulu nyesel waktu jaman orde baru itu kan, kenapa sampai Indonesia itu anti sama Chinese ya? Padahal kalau mau terbuka kan kita bisa lebih banyak berbagi ilmu kan? Malahan justru kita itu dianggap jelek. Waktu itu saya ngomong bahasa Cina justru diliatin dan dicibir orang. Saya pikir kenapa harus malu? Makanya saya tetep bicara bahasa Cina. Jadi kenapa harus tertutup? Malahan menurut saya justru ikuti yang bagus-bagusnya. Misalnya waktu itu orang Cina bagus di bidang ekonominya, ikuti padahal semisal cara-cara atau tipsnya. Ya, yang jelek-jeleknya jangan diikuti."
"Oh.. Iya iya."
"Dan Islam juga masuk Indonesia, tau tidak salah satunya karena siapa?"
"Hmm.. Cheng Ho ya?"
"Ya. Haji Cheng Ho itu datang ke Indonesia bukan untuk menjajah. Justru malahan menyebarkan agama Islam. Makanya kan di Wali Songo itu ada 9 orang, 7 orangnya itu berketurunan Cina."
"Wah?", jujur gue baru tau kenyataan itu. 7 orangnya berketurunan Cina?
"Iya. 7 orangnya itu berketurunan Cina. Cheng Ho sendiri kan Islam. Belum tau ya?"
"Tau sih..", gue pernah liat liputannya di TV waktu itu tentang Cheng Ho.
"Jadi orang Cina ke Indonesia itu bukan untuk menjajah. Makanya kenapa waktu itu harus menutup diri? Jadi sekarang anak-anak harus banyak belajar dan jangan menutup diri. Kalau seperti dulu menutup diri menurut saya justru jadi terbelakang. Kalau sekarang nggak menutup diri, kedepannya saya yakin ini anak pasti sukses."
"Iya. Makasih oma", kata gue sambil senyum-senyum kecil.
Gue jadi kepikiran terus omongan oma Xu Chen tadi. Iya ya, kalo aja waktu jaman Soeharto orang-orang pada nggak anti Cina. Emang sih, ambil sisi positifnya aja, jangan negatifnya. Gue sih nyadar diri dan ngerasain emang ada beberapa pandangan yang beda ke beberapa kerabat gue yang Chinese, bahkan ke gue sendiri. Gue inget waktu dulu, gue biasa maen sama cici gue. Gue kelas 1 SMP dan dia kelas 3 SMP. Kalo di jalan gue ketemu sama temen gue, biasa gue sama mereka say hi. Tapi kalo pas gue lagi bareng cici gue, kenapa pandangan mereka jadi berbeda? Gue tau beda pandangannya dan itu yang bikin gue ngerasa nggak nyaman.
Gue juga sempet makan siang di restoran sama Ko Izi dan seorang temen (nama disamarkan). Di pojokan restoran, ada sekelompok orang, Chinese yang udah ngebook meja-meja buat mereka. Sambil ngobrol, mereka secara nggak langsung ngeramein restoran. Temen gue itu nyeletuk,
"Aing geuleuh da ka barudak Cina kitu.."
Gue ngerti karena memang keberadaan mereka sedikit 'mendominasi', tapi nggak usah segitunya. Gak liat apa di depannya ada 'orang Cina juga?! Berarti selama makan tadi gue dianggep sama kaya ayam yang dia makan dong :'(
Gue juga inget waktu gue SMP kelas dua kalo gak salah. Salah seorang guru gue Mr.blablabla ngobrol sama gue tentang rumah gue. Guru gue terus jadi ngomongin Setra Duta gitu. What's wrong with my residence?
"Itu ya komplek Setra Duta. Dulu mah gak seluas itu, sekarang udah luas banget."
"Kan ekspansi pak.."
"Tapi sampe ngegusur rumah-rumah warga sekitarnya."
"Padahal mah ya pak kalo mau mah warganya jangan mau terima. Jadi pas minta dibeli tanahnya tuh harusnya mah nolak. Da hari gini cari tanah buat bikin rumah teh susah, sekalinya dapet eh mahal", komentar gue. Emang sih ekspansinya cukup menyeramkan, dimana komplek gede itu perlahan-lahan bisa ngegusur perumahan warga asli. Gue jadi sedih juga merhatiinnya.
"Iya. Tapi da mau gimana lagi kayanya mah dipaksa terus. Bener-bener nya Cina teh jahat."
What?! What did he say? Cina jahat? Do you mean, we are cruel, don't ya? Maksudnya anak kecil gak berdosa dan tak bersalah berwajah baby (sooner 'y' diganti pake 'i') face ini dibilang jahat? #liatliatcermin #ngurutdada Teganya... :'(
Emang sih ekspansi semagic alaihim itu emang terbilang 'jahat', tapi kan nggak usah senancep itu ngomongnya. Gue tau terkadang beberapa dari kita emang ada lah yang begitu (katakanlah rese, rehe, ato belagu), but not at all! Cici gue bukan orang jahat, oma Xu Chen juga baik, om Sionghin juga ramah ke tetangga-tetangga yang laen, Ko Osi walopun udah kuliah tapi gak malu maen sama bocah kayak gue, dan gue juga gak jahat (boong), terus kenapa kita dicap kaya gitu? Kalo kita dibilang jahat karena satu ato dua hal, terus apa bedanya dengan kita yang sempet dibikin gusar di kerusuhan pas jaman Soeharto dulu? Mungkin beberapa dari kita (ingat, beberapa) terkadang act exaggeratedly, katakanlah rese pelit belagu. Beberapa dari kita juga terlalu mendominasi di satu atau beberapa hal. Itu negatifnya, tapi kan nggak bisa kita selalu pegang teguh hal-hal negatifnya. Coba flashback ke kerusuhan di jaman Soeharto dulu. Waktu toko-toko orang Cina pada dibakar, terus perempuan-perempuan pada disekap, diperkosa terus dibakar di sebuah gedung perbelanjaan sama orang-orang yang jahat, sekarang mana yang lebih jahat?
Terkadang orang ngeliat dari satu sisinya doang, dan sisi itulah yang ngedominasi prasangka mereka. Gue berada di tengah-tengah karena dua darah yang mengalir di diri gue dan gue bisa ngerti perasaan mereka. Gue ngerti kenapa mereka begitu menutup diri dari Cina ato sentimen dan gue ngerti kenapa Cina terkadang juga sentimen sama mereka. Tapi, bukankah lebih baik kalo dua-duanya justru bisa hidup saling berdampingan?
Gue pikir gue juga gak harus menutup diri ato malu buat mengakui kalo gue ada darah Cina, dan kalo mereka bilang "Lo bukan Cina!", so what?
Keyword :
inspiration,
inspiring,
life,
sharing
Saturday, August 14, 2010
Bona dan Rong Rong
Ga ada yang begitu istimewa dengan dua tokoh komik ini
Tapi apa ya yang bikin Kazu sampe sekarang suka sama Bona dan Rong Rong?
Entahlah. Keduanya terlihat lucu, menarik, dan menggemaskan. Bona gajah kecil yang punya belalai sepanjang selang mobil pemadam kebakaran. Sementara Rong Rong si kucing yang selalu pake collar warna biru di lehernya dan wajahnya yang cutie. Tokoh komik klasik ini udah setia muncul di majalah Bobo dari jaman sepupu Kazu kecil sampe sekarang dia udah nikah. Komik kecil yang ada di halaman terakhir majalan Bobo ini selalu jadi perhatian Kazu. Karena ide-idenya dan imajinasi luar biasanya.
Tapi ada satu hal lagi:
Mereka berbeda tapi mereka bersatu
Bona itu kan gajah, dan dari segi size lebih gede daripada kucing. Sementara itu Rong Rong kan kucing dan karnivora, sizenya jelas-jelas lebih kecil dari Bona. Tapi mereka bisa akur. Jarang banget ada cerita tentang Bona dan Rong Rong yang musuhan.
Seandainya manusia juga bisa kaya gitu, menghargai perbedaan yang ada..
Keyword :
inspiration,
inspiring,
life,
sharing
Saturday, July 31, 2010
The Unlucky Lucky
Salah satu hasil penggalian harta karun di folder kerjaan si papa adalah file mp3: Britney Spears - Lucky. Jadul banget! Tapi kalo didenger lagi lagunya ngga akan kerasa jadul soalnya Kazu suka lagunya. Beatnya asik, dan videonya juga rame. Ngga salah kalo Britney Spears disebut sebagai ratunya lagu pop. Penggalan lirik dari chorus-nya kaya gini :
"She's so lucky, she's a star
But she cry, cry, cries in her lonely heart, thinking.."
Mungkin ada yang inget sama lagunya. Yeah, melanglang buana lagi ke tahun 2000 atau sekitarnya lah. Tapi yang bikin Kazu berkesan adalah inti liriknya.
"She is so lucky, but why does she cry?
If there's nothing missing in her life
Why do tears come at night?"
Diceritakan bahwa si Britney mau bercerita tentang seorang gadis bernama Lucky, yakni seorang bintang Holywood harus selalu siap dengan full-smile di depan publik dan juga bangun pagi-pagi buat makeup. Penggalan lirik di atas kurang lebih memiliki arti, kalau ngga ada yang hilang dari hidupnya (Lucky), lantas kenapa terus menerus ada air mata setiap malam?
Secara ngga langsung, Britney Spears menceritakan tentang bagaimana kehidupan beberapa artis di balik panggung atau layar. Britney seolah menyindir artis-artis entah Holywood atau apapun yang pada dasarnya memang 'kehilangan' sesuatu dari hidupnya. Kazu juga pernah baca sebuah artikel yang bercerita tentang kehidupan artis-artis di Amerika sana (Holywood). Seorang artis bercerita bagaimana kehidupan mereka yang serba glamor dengan uang yang seolah ngga ada habisnya itu pada akhirnya berakhir dengan tangisan di malam hari. Mereka punya uang, dan bisa dapatkan yang mereka mau. Tapi kenapa tetap mereka selalu nangis di tengah malam? Apalagi yang kurang?
Ngga cuman artis yang merasakan, tapi sebagian orang-orang sibuk dan sukses juga sepertinya pernah merasakannya. Saat mereka benar-benar sibuk dan di puncak kesuksesan mereka, terkadang mereka kehilangan sentuhan keluarga dan sahabat yang udah lama ngga mereka dapatkan lagi. Kazu sadari sekali bahwa hal semacam ini pasti terjadi. Sebagaimanapun terkenalnya artis, ataupun dandanannya baik yang garang maupun mewah, pasti pernah merasakan yang seperti ini. Anggaplah seperti seorang artis yang tinggal di kondominium mewah di pusat kota punya semua yang dia inginkan, tapi karena kesibukkan, belum lagi harus selalu tepat waktu dan tampil oke di depan banyak orang, akhirnya mereka jadi depresi dan menangis di malam hari. Kesibukkannya di depan publik membuatnya jarang berkomunikasi dengan orangtuanya atau sahabatnya (karena buat telpon-telponan aja kaya dikejar anjing berhubung si protokol udah nyuruh ini itu ini itu). Dan tahukah kalau sebenarnya tidak semua artis suka dengan penampilannya yang menurut kita oke itu. Sebagian dari mereka justru merasa lebih nyaman dengan pakaian yang lebih sederhana. Kalau Kazu sendiri memang suka dengan Taylor Swift karena dari segi penampilan, Taylor adalah orang yang humble dan ngga neko-neko. Beberapa dari mereka terpaksa menjadi 'bukan' diri mereka yang sebenarnya di balik makeup dan kostum-kostum itu. Mereka terpaksa bergaul dengan orang-orang yang memang membuat mereka sukses, tapi secara tidak langsung menekan mereka dan menghalangi mereka dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ngga jarang, banyak juga artis yang gagal dalam menjalin hubungannya karena kesibukkannya yang bikin mereka susah buat komunikasi. Artis-artis di Indonesia terlihat lebih bebas buat komunikasi, sementara di luar sana bahkan beberapa artis kalau mau berkomunikasi lewat perantara orang ke-tiga (semisal buat posting sesuatu di Twitter aja harus dari managernya). Jadi yang dimaksud 'missing' dari lagu Britney tadi itu adalah keluarga, sahabat, dan mungkin saja cinta. Sedikit terdengar exaggerated, tapi itulah yang Kazu baca. Mereka bahkan pengen kembali jadi diri mereka yang dulu, dengan sahabat dan keluarganya. Mereka kaya dari segi materi, tapi kehilangan harta terbesar mereka (keluarga dan sahabat).
Maka, Kazu bisa bilang bersyukur kepada Tuhan karena dengan achievement yang Kazu dapet sekarang ini tidak lantas menjadi batas antara Kazu dengan keluarga atau sahabat. Kazu memang tidak se-terkenal artis-artis lain, bahkan memang bukan seorang artis ato bintang Holywood. Tapi Kazu punya harta yang mungkin beberapa dari mereka selalu inginkan, sentuhan keluarga dan sahabat. Itulah harta terbesar bagi semua orang. Uang yang didapat tidak akan menjadikan semuanya bahagia. Akan lebih bahagia dan beruntungnya orang-orang yang bisa berbagi harta materinya dengan orang-orang yang mereka sayang..
Saturday, July 17, 2010
Ketika Piano Menangis Karena Dirinya Tak Pernah Disentuh Tuannya...
Kazu ingat sebuah cerita tentang piano, yang Kazu rasa Kazu juga pernah mengalaminya. Sebuah cerita yang pada akhirnya bahagia setelah perjuangan dan air mata yang melandanya. Entahlah, sedikit banyak cerita itu menggambarkan betapa Kazu ingin sekali memiliki benda besar dengan barisan tuts hitam dan putih yang duduk berdampingan secara harmonis. Cerita yang mengingatkan Kazu untuk selalu menjaga apa yang sama-sama (Kazu dan tokoh cerita itu) diimpikan dan akhirnya terwujud..
"Aku berumur kurang lebih 5 tahun ketika melihat iklan tentang piano di koran pagi itu. Iklan itu tidak begitu menarik karena aku sudah punya pianoku sendiri. Aku di usia itu tidak begitu peduli dengan piano yang kumiliki, hingga akhirnya piano itu berakhir di tempat pembuangan sampah karena ulahku sendiri.
Suatu siang, aku melihat sebuah iklan di koran tentang piano. Harganya pada saat itu masih terjangkau. Aku berharap bisa memilikinya dengan alih-alih "yang baru yang bagus". Sayangnya kedua orangtuaku tak membelikannya. Mungkin takut hal yang sama akan terjadi. Aku pun tak terlalu memikirkannya, karena entah kenapa saat itu piano bukan sebuah hal penting untukku.
Beberapa tahun kemudian, mulai muncul ketertarikanku terhadap piano setelah orangtuaku mengajakku ke sebuah resital piano. Melihat kakak itu memamerkan keahliannya menggerakan ke-sepuluh jarinya diatas deretan tuts hitam putih, spontan jari-jariku terasa gatal. Sesampainya di rumah aku mencari pianoku dan menyadarinya bahwa aku yang membuatnya terlantar di tempat sampah. Entah seperti apa nasibnya sekarang, dan aku sedikit kecewa membayangkan bagaimana mesin-mesin itu merobek kayunya yang hitam dan deretan tuts hitam putih itu kemudian tak lebih dari sekedar batangan kayu yang entah nasibnya jatuh ke pembakaran atau di-recycle.
Ayah membelikanku sebuah keyboard ketika aku memasuki usia 10 tahun, dimana ayah dan bunda pada akhirnya melihat bakatku yang sesungguhnya. Aku pun akhirnya sadar bahwa musiklah teman baikku. Suatu malam aku menangis mengingat betapa jahatnya aku menyakiti piano teman masa kecilku dulu. Sempat aku melihat piano yang mirip dengan piano milikku di rumah seorang teman, dan berharap bisa membawanya pulang. Aku sangat merindukan suaranya.
Memasuki tahun pertama di primary high school, aku pun bertemu dengan guru piano pertamaku. Dari sanalah aku mulai mengenal piano yang sebenarnya, bukan sekedar suara dari speaker keyboard. Aku mulai mengenal kegunaan setiap pedal dan mengerti mekanisme kerjanya sehingga menghasilkan bunyi-bunyi yang indah. Keinginanku terhadap piano semakin memuncak ketika aku mendengar ulang sebuah kaset musik klasik yang pernah kubeli saat aku masih di SD.
Ide mengenai piano semakin bertambah dan sepertinya berada di urutan pertama wishlist-ku bulan Desember itu. Aku semakin menginginkan kehadirannya ada di rumah. Semakin aku menginginkannya, semakin aku sadar bahwa keadaan yang membuatnya tak bisa bersamaku. Aku menangis dan berharap orangtuaku bisa membelikannya untukku. Sebenarnya, keinginan ini sudah ada ketika aku berusia 10 tahun, dimana pada akhirnya ayahku membelikanku sebuah keyboard sebagai pengganti piano. Tapi tetap, piano itu tak tergantikan dan yang ada di benakku hanyalah piano. Tangisanku semakin menjadi ketika suatu hari aku menyadari bahwa sebuah kejadian sempat memaksaku untuk melupakan segala sesuatu tentang piano.
Musik klasik merasuk di pikiran berbulan-bulan kemudian. Aku pun mengikuti sebuah kelas piano dan mendapati jiwaku sangat tenang bersamanya. Aku bahkan rela tinggal di kelas tersebut hanya untuk bermain piano. Aku sangat senang jika ayah membawaku ke fakultas musik di universitas tempatnya mengajar dan bekerja. Aku selalu ingin bermain piano kapanpun dan dimanapun aku menemukan piano. Entah itu piano rusak atau piano bagus, jari-jari ini sangat gatal untuk menyentuhnya. Doaku setiap malam kepada Tuhan untuk bisa memberiku hadiah besar itu. Dan sembari aku berdoa, aku terus berusaha mencari informasi apapun tentang piano dan semakin berlatih musik klasik dengan tekun. Aku sadar, kekuranganku ini tak boleh jadi penghalang. Bagaimanapun juga, apapun yang aku lakukan dengan keyboardku adalah salah satu jalan agar aku bisa mendapatkan piano yang aku inginkan. Dan pada akhirnya, keinginan terbesarku adalah menjadi pianis konser yang bermain dengan orkestra ternama.
Suatu sore, ayahku menelponku tiba-tiba. Aku kaget karena sore itu sedang hujan dan ayahku memintaku menyusulnya untuk bertemu di sebuah shopping center. Sesampainya disana, aku terkejut karena ayah dan ibuku justru membawaku ke sebuah toko musik. Dan yang lebih terkejut adalah ketika ayahku menyuruhku mencoba seluruh piano yang ada disana lalu memilihnya untuk dibawa pulang! Terima kasih pada Tuhan dan kedua orangtuaku kupanjatkan ketika kusadari bahwa mimpi ini akhirnya menjadi nyata, mimpi yang selalu menghantuiku selama bertahun-tahun dan aku tak menyangka akan secepat ini benda raksasa itu akan hadir di tengah-tengah kehangatan keluargaku.
Raksasa hitam itu duduk tenang di kediamannya di ruang keluarga. Sekarang dan setiap hari, alunan lagu-lagu terdengar dan bergema di langit-langit rumah. Partitur musik klasik mulai berserakan dimanapun, dan gema dari suara piano itu sudah terdengar familiar sekarang. Aku, tak akan menyia-nyiakannya setelah aku memimpikannya. Aku tak akan sampai mengulang kejadian yang sama. Impianku untuk mendapatkan piano lain yang lebih besar memang sempat terbersit, namun apapun yang terjadi benda ini akan selalu mewarnai hari-hariku. Jiwaku menyatu dengannya dan tak akan kubiarkan apapun menjauhiku darinya. Piano adalah sahabat terbaikku, dan sampai kapanpun akan selalu tetap menjadi yang terbaik.."
Kazu inget dulu Kazu ingin banget punya piano sampe akhirnya papa belikan Kazu sebuah piano. Tapi Kazu bersyukur karena, apa yang dilakukan oleh tokoh cerita tersebut sudah Kazu lakukan. Kazu tak menyia-nyiakan keberadaannya dan piano itu adalah teman terbaik Kazu. Kazu ingat pernah menangis karena sangat menginginkannya, dan mencari banyak berita tentang piano-piano. Sebuah piano menjadi pilihan Kazu dan Kazu rasa itulah pilihan yang terbaik. Piano itu masih ada sampai sekarang dan menemani Kazu berlatih Sonata yang sampe sekarang belum kelar-kelar :(
Di cerita lain, terkadang merasa menyesal ketika akhirnya memiliki sesuatu yang sering dibiarkan atau sepelekan (anggaplah semacam hit-and-run driver atau by-pass). Sudah menyimpannya bertahun-tahun dan membiarkannya dengan segala macam keadaan yang menerpanya. Sementara di luar sana, ada beberapa orang yang berharap bisa memilikinya. Terlalu sedih untuk melepasnya, tapi terlalu apatis untuk menyentuhnya.
Kazu denger cerita tentang temen yang punya segala fasilitas (yang beberapanya adalah impian Kazu). Salah satunya adalah sebuah piano. Kazu dari dulu sampe sekarang kalo denger ada piano dirusakin atau dibiarin sampe rusak berkarat ato bahkan yang kasus paling gatel waktu tau ada sebuah baby grand piano 'Steinway & Sons' dari jaman Belanda yang dibiarin sama pihak .................. sampe kayunya lepas! Menyakitkan! Ga bisa dimaafkan! Kazu aja ngedenger satu tuts bunyinya udah ga nge-tune pasti langsung kelabakan! Oh, maaf balik lagi ke ceritanya. Diceritakan bahwa si anak itu (bukan cerita tapi emang bener) ikut kelas piano klasik, sama kaya Kazu. Dan *hehehe* tuh anak junior Kazu ternyata (tapi belagunya minta ampun). Dan yang disesali oleh Kazu dan guru piano Kazu adalah, apa yang dia punya (piano) justru ga dimanfaatin bahkan dibiarin gitu aja. Kabarnya sih tuh anak hobinya maen terus, sementara tugas piano ga dilatih. Gimana guru Kazu ngga gatel? Kalo dibandingin sama perjuangan dia yang memang dulu ga punya piano sampe-sampe harus tinggal di kampus buat bisa latihan piano dan perjuangannya bisa dapetin piano kayanya kontras banget. Kazu pikir, kenapa ngga tuh anak kasih aja pianonya ke orang yang emang pengen dan berniat banget buat latihan piano dibandingin dibiarin gitu aja? Maen pianonya aja masih ga bener toh? Pernah mendengar tangisan sebuah piano? Mungkin kedengerannya aneh, gila, gak mungkin atau gak waras. Tapi Kazu merasakannya walaupun ngga secara fisik piano itu menangis. Kazu cuman ninggalin dia beberapa hari, tapi tangisan yang Kazu dengar itu ternyata dari hati Kazu sendiri. Piano itu seolah ninggalin SMS di hati Kazu yang akhirnya dibaca pada malam harinya, waktu Kazu ikutan kemah alam dengan sekolah.
"Aku merindukan tuanku yang selalu menyentuh jajaran tuts hitam-putihku. Aku merindukan saat-saat tuanku memainkan sebuah lagu lama, kemudian datanglah teman-temannya ikut bernyanyi. Tuanku sekarang entah pergi kemana, dan harus berapa lama aku harus sendiri?"
Refleks, Kazu merasakan hal yang sama
"Kangen piano. Kalo aja bisa dibawa kesini.. Cuman 2 hari sih ga pegang piano, tapi rasanya ada yang hilang. Ngga ngeliat penampakannya aja bikin gereget. Gimana ya keadaannya di rumah? Ngga rusak kan dimaenin ga bener sama orang lain?"
Setelah satu hati, pasti ada hubungan batin. Walaupun dia cuma benda mati!
Kazu juga sempet inget biola Kazu yang dibiarin selama setaun, lalu akhirnya Kazu sadar bahwa itu biola ga bisa dibiarin gitu aja. Kazu mulai ikut kelas biola dan terus latihan biola sampe akhirnya bisa. Kazu sadar bahwa Kazu yang minta buat beli biola dan Kazu yang harus bisa memanfaatkannya dengan baik.
Kazu sadar, bahwa apa yang kita minta maka kita harus ambil konsekuensinya. Begitupun alat musik. Saat kita sudah satu hati dengan sebuah alat musik, maka alat musik itupun akan menggunakan 'hati'-nya untuk berhubungan dengan hati kita memainkan sebuah lagu yang dimainkan dari hati.
Thursday, July 15, 2010
"Cuman di KTP doang kok.." Isn't A Good Sentence
Sore itu Kazu ke ruang keluarga di lantai 2 dan ngeliat ke arah TV. Si 'ceuceu' lagi nonton TV. Sore-sore gitu masih aja ada sinetron, entahlah TV jaman sekarang aneh-aneh aja (bukan TVnya, tapi acaranya). Penasaran sama apa yang ditonton, Kazu coba ngedeket.
Senakal-nakalnya Kazu, jujur Kazu terus mencoba buat melakukan apa yang Tuhan suruh dan kabur dari apa yang Tuhan larang (walaupun semua manusia pasti punya dosa atau kesalahan, baca: manusiawi). Terkadang Kazu ngerasa sangat sinful dan terus berharap bisa hapus semua dosa-dosa (walopun susah karena yang namanya dosa itu kaya papan tulis, dihapus terus ditulisin lagi). Menjauhi apa yang Tuhan larang juga susah. Dan Kazu sempet berfikir, "Ya Tuhan, apa saya pantes disebut hamba?". Dengerin lagu-lagu rohani ato ikut pupujian di mesjid Gumil tuh kayanya sama aja bohong kalo terus aja larangannya diterobos, mirip si Ko Shady yang sempet ngacir walopun traffic lights udah nunjukkin lampu merah.
Bukannya sok alim ato sok religius tiba-tiba karena Kazu sendiri sadar, yeah kadang bablas lah yang namanya ibadah (God, forgive me please). Kadang ngerasa sirik sama koko (baca: kaka) yang teguh pendirian (baca: istiqomah). Dia tuh bener-bener yang namanya ibadah ga boleh dilupain. Kalo kita jalan-jalan, pasti koko minta waktu sebentar kalo emang udah waktunya (ditandai dengan pendengaran super sensitif dia terhadap suara azan). Jadi Kazu bener-bener harus jadiin koko sebagai panutan (yeah I know, Ko Chis is kinda source of super annoyance). Kazu juga salut sama beberapa temen Kazu yang terbilang #bangorunited tapi ternyata pada rajin ibadah, yang umat Kristiani rajin ke gereja, yang umat Muslim pada jadi anak masjid. Walopun mereka itu pada bangor! Percaya ato ngga, naek motor kebut-kebutan, ada juga yang sangar, eh tapi ternyata hatinya hanya mereka serahkan sepenuhnya kepada pengabdian dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa semata! Gosh, memang yang namanya orang ga bisa dinilai dari luarnya doang!
(Hampir) setiap satnite, Kazu pergi ke kafe atau sekedar main ke mall. Kalau di kafe, yang namanya rokok ato alkohol udah biasa. Bukannya mau menjelek-jelekan atau gimana, tapi Kazu tahu bahwa di agama Islam yang namanya mengkonsumsi alkohol itu dilarang (hukumnya haram) tapi memang masih ada beberapa orang yang melanggarnya. Bukannya mau sok alim atau lagi-lagi merasa diri lebih baik, tapi kalau memang itu larangannya kenapa dilanggar? Cerita lain, ada yang menganggap agama itu kuno. Buat mereka, hidup ya hidup sementara agama itu urusan yang lain. Paham yang kaya gini disebut sekularisme. Buat mereka, selama jantung mereka masih deg-degan dan nafas mereka masih bisa hah-heh-hoh ya it's time for having fun as much as you can. Hidup mereka kayanya diisi sama yang namanya dapetin duit (cari uang), nikah, punya anak, menjalani kehidupan, having fun, makan, minum, duet eksresi dan sekresi, sampe akhirnya berujung dibawah batu nisan. Tapi ternyata, kalo diliat di KTP ternyata di form agama mereka tuh ada agamanya, bukan atheis ato animisme sampe dinamisme. Loh, kalo mereka punya Tuhan terus selama ini mereka anggap Tuhan mereka apa? Tiap dijalan lewat ke Masjid ato tempat ibadah lainnya dibablas aja, malahan mentok di Embassy ato Mansion. Sampe malem clubbing dan besok paginya ngelewatin kebaktian pagi. Pas diingetin cuman bilang 'oh' udah gitu lagi-lagi having fun, belanja di mall sampe belanjaannya bikin lift overload. Besoknya kerja terus udah dapet duit having fun lagi. Itu nyata dan memang ada orang yang seperti itu, dan Kazu tanpa maksud buat ngehina atau ngejelek-jelekin tapi memang begitulah kenyataannya. Tuhan tidak lagi menempati urutan pertama, coba bayangkan betapa sedihnya Tuhan kalo Tuhan itu introvert melankolis. Tapi Tuhan itu berkuasa penuh atas semuanya, dia ngga akan nangis tersedu-sedu apalagi sampe bikin notes curhatan di Facebook atau blog.
Jadi, kalau memang di KTP itu ada agamanya kenapa tidak dibuktikan? And I keep praying that Lord will always be with me, in my side and in my heart. Jangan sampai Kazu termasuk ke dalam golongan sekuler dan semoga Kazu selalu ingat sama keberadaan-Nya. Amin!
Acara apaan sih? Sinetron lagi ya?"Sedikit 'nyerempet' juga tuh judul film kalo ngeliat situasi human beings sekarang ini. Sadar ngga sadar, kita semua lagi diarahkan menuju paham sekularisme. Ngga peduli mau agamanya apa etnisnya apa, coba deh fikirkan lagi baik-baik. Terasa ngga sih semakin kesini, form 'Agama' yang ada di KTP secara ngga langsung cuman jadi atribut doang? Malahan bisa disebut atribut 'Alegori' karena Indonesia terdiri dari beragam ras dan agama.
Bukan, film gitu."
Film apaan?"
Ga tau. Tentang 'Islam KTP' gitu kalo judulnya sih."
Senakal-nakalnya Kazu, jujur Kazu terus mencoba buat melakukan apa yang Tuhan suruh dan kabur dari apa yang Tuhan larang (walaupun semua manusia pasti punya dosa atau kesalahan, baca: manusiawi). Terkadang Kazu ngerasa sangat sinful dan terus berharap bisa hapus semua dosa-dosa (walopun susah karena yang namanya dosa itu kaya papan tulis, dihapus terus ditulisin lagi). Menjauhi apa yang Tuhan larang juga susah. Dan Kazu sempet berfikir, "Ya Tuhan, apa saya pantes disebut hamba?". Dengerin lagu-lagu rohani ato ikut pupujian di mesjid Gumil tuh kayanya sama aja bohong kalo terus aja larangannya diterobos, mirip si Ko Shady yang sempet ngacir walopun traffic lights udah nunjukkin lampu merah.
Bukannya sok alim ato sok religius tiba-tiba karena Kazu sendiri sadar, yeah kadang bablas lah yang namanya ibadah (God, forgive me please). Kadang ngerasa sirik sama koko (baca: kaka) yang teguh pendirian (baca: istiqomah). Dia tuh bener-bener yang namanya ibadah ga boleh dilupain. Kalo kita jalan-jalan, pasti koko minta waktu sebentar kalo emang udah waktunya (ditandai dengan pendengaran super sensitif dia terhadap suara azan). Jadi Kazu bener-bener harus jadiin koko sebagai panutan (yeah I know, Ko Chis is kinda source of super annoyance). Kazu juga salut sama beberapa temen Kazu yang terbilang #bangorunited tapi ternyata pada rajin ibadah, yang umat Kristiani rajin ke gereja, yang umat Muslim pada jadi anak masjid. Walopun mereka itu pada bangor! Percaya ato ngga, naek motor kebut-kebutan, ada juga yang sangar, eh tapi ternyata hatinya hanya mereka serahkan sepenuhnya kepada pengabdian dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa semata! Gosh, memang yang namanya orang ga bisa dinilai dari luarnya doang!
(Hampir) setiap satnite, Kazu pergi ke kafe atau sekedar main ke mall. Kalau di kafe, yang namanya rokok ato alkohol udah biasa. Bukannya mau menjelek-jelekan atau gimana, tapi Kazu tahu bahwa di agama Islam yang namanya mengkonsumsi alkohol itu dilarang (hukumnya haram) tapi memang masih ada beberapa orang yang melanggarnya. Bukannya mau sok alim atau lagi-lagi merasa diri lebih baik, tapi kalau memang itu larangannya kenapa dilanggar? Cerita lain, ada yang menganggap agama itu kuno. Buat mereka, hidup ya hidup sementara agama itu urusan yang lain. Paham yang kaya gini disebut sekularisme. Buat mereka, selama jantung mereka masih deg-degan dan nafas mereka masih bisa hah-heh-hoh ya it's time for having fun as much as you can. Hidup mereka kayanya diisi sama yang namanya dapetin duit (cari uang), nikah, punya anak, menjalani kehidupan, having fun, makan, minum, duet eksresi dan sekresi, sampe akhirnya berujung dibawah batu nisan. Tapi ternyata, kalo diliat di KTP ternyata di form agama mereka tuh ada agamanya, bukan atheis ato animisme sampe dinamisme. Loh, kalo mereka punya Tuhan terus selama ini mereka anggap Tuhan mereka apa? Tiap dijalan lewat ke Masjid ato tempat ibadah lainnya dibablas aja, malahan mentok di Embassy ato Mansion. Sampe malem clubbing dan besok paginya ngelewatin kebaktian pagi. Pas diingetin cuman bilang 'oh' udah gitu lagi-lagi having fun, belanja di mall sampe belanjaannya bikin lift overload. Besoknya kerja terus udah dapet duit having fun lagi. Itu nyata dan memang ada orang yang seperti itu, dan Kazu tanpa maksud buat ngehina atau ngejelek-jelekin tapi memang begitulah kenyataannya. Tuhan tidak lagi menempati urutan pertama, coba bayangkan betapa sedihnya Tuhan kalo Tuhan itu introvert melankolis. Tapi Tuhan itu berkuasa penuh atas semuanya, dia ngga akan nangis tersedu-sedu apalagi sampe bikin notes curhatan di Facebook atau blog.
Jadi, kalau memang di KTP itu ada agamanya kenapa tidak dibuktikan? And I keep praying that Lord will always be with me, in my side and in my heart. Jangan sampai Kazu termasuk ke dalam golongan sekuler dan semoga Kazu selalu ingat sama keberadaan-Nya. Amin!
Subscribe to:
Posts (Atom)


