Translate This Page

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Friday, January 24, 2014

Coffee, and cloudy Seoul sky

I hate to say this but I'm not feeling well today that I could not go to the campus *sighs* Lying on bed, listening to music, eating porridge, and re-reading magazines seemed so boring so I decided to do something else. I watched "The Playlist" on [V]Channel and suddenly thought of making my own playlist. It is rainy season here in Indonesia and the weather is somewhat cold. Rain comes down every day. Sky overcasts. People tend to stay home and get themselves warmed. So yeah, basically I've got inspiration for my playlist, with the hope to be played on the next "The Playlist"

I created a playlist titled "Coffee and Cloudy Seoul Sky", consisting of seven Korean tunes from various genre. Basically the songs are down-tempo tunes. Not so fast, yet not so slow (possibly in the range between Andante and Allegretto). These are the songs I would simply love to listen while enjoying a cup of cappuccino at a cozy coffee shop in a rainy day. You'd probably love to listen to these tunes as well. So why don't we check the playlist out? 


2NE1
Missing You (그리워해요)


At the first time I listened to this song, I thought it would be something upbeat; something that would make people dance (just like "Do You Love Me" or "I'm The Best"). After finished listening to the song, I concluded that "Missing You" is something unique. It is a down-tempo song, arranged in such a way that the chorus part could really give something different, something so melancholic. Accompanied by piano riffs and guitar rhythm, this sad love song is something Blackjacks must have in their playlist. Else, the music video offers melancholic scenes and, to my surprise, CL's naked part (this is actually my big brother's favorite scene). 



Park Bom & Lee Hi
All I Want For Christmas Is You


I admit getting myself teary when listening to this song for the first time. YG, collaborated with Samsung released this single and its music video on last Christmas. I could say I was one of the first viewers of the video. Back then I was home alone at Christmas. My family went on a Christmas holiday trip and unfortunately I could not join for I got to finish my mini-research before the deadline. I listened to this song on Christmas morning and I got myself teary (damned that mini-research project!). Yeah, all I want for Christmas was.. gathering with my family. 

"All I Want For Christmas Is You" is a slow rock tune, exposing the duo's singing skills. In somewhat slow rock arrangement, ornamented with piano riffs and smooth flute melody (you might hear flute melodies throughout the song), this is a really melancholic, sad Christmas carol. I guess this is my favorite version of "All I Want For Christmas Is You", followed by Michael Bublé's version. 


PS: the video cover scared me a lot back then. I thought YG made a horror movie


Big Bang
Blue


This is Big Bang's cooling-down tune that I love the most. The arrangement showcases arpeggio by piano, acoustic guitar strum, packaged in downtempo beats. The music video is another thing I like from this song (and how I wish to ride the wooden rollercoaster seen in the video). 



G-Dragon
That XX (그 XX)


I was staying in my class during lunchtime in a rainy noon. A friend of mine played this song through her phone and the acoustic guitar arrangement immediately captivated me. "That XX" is basically a vocal-guitar performance, played in D major and composed in (mostly) major seventh and minor seventh chords. The chords add soothing feeling, despite of the lyric. Does anyone know what XX refers to? He he

That XX, with XX refers to (I should have not written this actually) 새끼, means bastard in Korean. It is simply a way to censor that cuss word. 



Epik High (featuring Younha)
Umbrella (우산)


I always put this song in my rain-and-coffee stereotype playlists. I don't know but this song and rainy days really fit, so whenever it starts to rain while I'm listening to music on my iPod, I immediately play this song and enjoy the rain. It is a down-tempo, hip-hop music, ornamented with piano riffs and composed in I-III-vi-iv chord progression. I admit loving Younha's voice in this song. Her voice is somewhat soothing, calming. 

Back then I was in a car, on my way to Ngee Ann City in the famous Orchard Road. I looked out of the window, seeing Singapore under the rain while listening to this song. People walking under their umbrellas, running to nearby buildings and bus stops, raindrop drenching in every single leaves. I don't know why but really, the song suits the situation. 



Untouchable (featuring Jinsung from Monday Kiz)
Merry Go Round


This song features melancholic piano melodies, slow strings section, arranged in downtempo hip-hop beats. The chorus part is sung by Jinsung. It is the part where people could find the ballad side of this song. The bridge part connecting to the last chorus boasts its semi-glissando piano melody which brings the song to its climax. Jinsung's voice is awesome, and of course, the rap parts are awesome as well. 



Girls' Generation
Time Machine


"Time Machine" is actually sung in Japanese. However, I will still include the song to the playlist, for Girls' Generation is a Korean girlband. The music video showcases each members in different places and situations, crying, and eventually 'moving on'. I like Sooyoung's scenes; she's waiting for a phone call and eventually she is seen talking in phone with someone at the end of the music video. And YoonA's scenes! Oh gosh, she is running in (that looks like) a wedding dress in a snowy day. 


Thursday, May 17, 2012

Sunny Has Changed

Setelah lama tidak nge-post hal-hal yang berbau KPop, saya sekarang malah mau ngomentarin penampilan Sunny SNSD. Bukan mau ngomentarin penampilan di panggung, tapi maksud saya adalah appearance-nya. Dan tenang aja, bukan komentar yang buruk dari saya. Malah saya ngeliat perubahan-perubahan yang terjadi sama Sunny sebagai metamorfosis yang menakjubkan! *wow*

Awalnya sih ngeliat Sunny itu sebagai sosok yang imut, aegyo sih istilahnya. Apalagi liat penampilannya di MV "Oh!", Sunny keliatan cute dan enerjik. Kalau dibilang kayak anak-anak sih... nggak juga, tapi memang dia keliatannya ya, aegyo! Bahkan di album Korea saya, beberapa foto Sunny waktu rambutnya belum di-dye jadi blond, dia masih keliatan aegyo.



Setelah Sunny nge-dye rambutnya jadi blond, saya juga masih ngeliat image dia yang aegyo. Dan beruntungnya namanya Sunny karena yang saya sering liat (atau mungkin naturally) ekspresi wajahnya itu sering senyum (murah senyum), jadi cocok sama namanya.


Atau kalau mau liat lebih jelas sih nonton MV "Visual Dream". Disana Sunny banyak dapet vocal part dan yang jelas lebih keliatan aegyo-ness nya *hahaha*

Tapi waktu SNSD meluncurkan album "The Boys" dan saya liat MV-nya, penampilan Sunny banyak berubah. She had her hair cut and she looks different on the MV! Saya malah awalnya hampir gak ngenalin Sunny (her smile is the key). Dengan potongan rambut pendek dan outfit yang menurut saya nggak terlalu seksi, buat saya image Sunny berubah dari seorang Sunny yang aegyo jadi seorang Sunny yang feminin, bahkan glamorous! Saya coba cari foto-fotonya di nate dan dapet beberapa foto terbarunya. And somehow, she still looks cute! Jadi, image Sunny sekarang gak cuman cute, tapi juga feminin, dan glamorous (menurut saya). 





Oh ya, dengan tatanan rambutnya yang pendek, Sunny juga bisa looks sporty! Dari beberapa gambar yang saya dapet, Sunny keliatan sporty. Terutama kalau dia udah pakai jaket dan hoodie yang nutupin rambutnya.


That's all. That's how Sunny impresses me with her looks, and her smile. 


pics got from nate

Friday, February 10, 2012

Music Review: "Submarine" Original Soundtrack

Buat mereka yang belum tau, "Submarine" disini mengacu ke sebuah film yang diadaptasi dari novel. Dan jangan harap bahwa dari judulnya, kita bakalan nemu sebuah film yang menceritakan tentang petualangan dasar laut, menjelajahi kegelapan palung laut yang mencekam, atau semacam superhero yang melawan monster air. Salah besar! Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Oliver Tate yang jatuh cinta sama seorang anak perempuan seusianya yang bernama Jordana. Saat itu, dia harus melawan bullying yang sering menimpa dia dan akhirnya ikut nimpa Jordana karena sebuah kasus foto, ditambah lagi usaha dia menyelamatkan pernikahan kedua orangtuanya yang kelihatannya semakin buruk dengan kepindahan mantan pacar ibunya yang tinggal di sebelah rumahnya.


Untuk review filmnya sendiri, buat saya simpel aja. Karena filmnya merupakan adaptasi dari novel, jadi ada beberapa bagian yang memang rasanya lebih baik baca novelnya aja supaya lebih dapet feelingnya. Ada semacam intermezzo kecil yang cukup mengagetkan, yaitu screen hitam dengan tulisan dalam ukuran huruf yang cukup besar diikuti dengan musik pengiring yang mengejutkan, semacam musik-musik di film horror. Saya sendiri nggak ngerti itu maksudnya apa. Kalau dilihat lagi, kayaknya film itu keliatan kayak ngambil latar waktu sekitar beberapa taun silam, mungkin 70an atau 80an karena keliatannya klasik. Latar tempat yang dipake pun banyak yang bagus, semisal pantai di sore hari, dan semacamnya.

Untuk review musiknya, saya berani rekomendasikan lagu-lagu di EP ini karena aransemennya yang sederhana, tapi nggak berkesan terlalu minimalis. Mengusung genre folk, berdasarkan lirik lagu-lagu yang disajikan bisa dijadikan bahan komparasi sama lagu-lagunya Efek Rumah Kaca. Diksi yang beragam dan banyak memainkan teknik-teknik poetry seperti metafora bisa ditemukan di setiap lagunya. Alex Turner, sebagai penulis lirik bener-bener pandai dalam meracik kata-kata yang pas untuk membangun lirik sebuah lagu yang maknanya tersirat secara sederhana, begitu dalam. Kebanyakan lagu-lagunya diiringi dengan iringan folk gitar dan lantunan vokal sang vokalis yang menenangkan. Lagu-lagunya cocok buat didengerin ketika hari hujan, karena atmosfer menenangkan yang tercipta dari lagu-lagu ini.

EP ini terdiri dari 6 lagu yang semuanya ditulis oleh Alex Turner. Song list-nya sebagai berikut:
  • Stuck on the Puzzle (intro)
  • Hiding Tonight
  • Glass in the Park
  • It's Hard to Get Around the Wind
  • Stuck on the Puzzle
  • Piledriver Waltz
Suasana yang tercipta dari lagu-lagunya bener-bener menenangkan! Ya, menenangkan! Buat saya, lagu-lagu ini kalau dimainin di malam hari itu cepet bikin ngantuk, makanya saya dengerin lagu ini asiknya kalo lagi hujan siang-siang, sambil minum coklat panas dan baca buku. Lagu "Hiding Tonight" yang dimainkan di nada dasar C punya ketukan awal yang menurut saya agak membingungkan dan nada-nada mayor 7 yang mendominasi chord dengan tempo yang santai dan agak mendayu. Untuk lagu "Glass in the Park" sendiri, dengan tempo yang gak jauh beda sama lagu "Hiding Tonight" menawarkan metafora tentang gelas di taman, yang sampe sekarang saya masih nggak ngerti makna sebenernya apa. Lagu "It's Hard to Get Around the Wind" punya aransemen yang mirip dengan lagu "Marry Me" punya Train. Sementara untuk lagu-lagu lainnya, walopun nggak saya review, tapi tetep kok worth to listen.

Finally, I can say that the EP is worth to buy. Listen to the songs and feel a quiet rainy day with a glass of coffee :)

Thursday, February 9, 2012

Danbo

Sebelumnya, saya nggak tau kalo boneka berperawakan kecil itu namanya danbo. Saya cuman sering liat beberapa orang share gambar-gambar boneka kecil dari karton dengan berbagai emosi (tapi banyaknya saya liat danbo edisi galau), dan beberapa malah ngejadiin itu profile picture di Facebook atau Twitter-nya. Dan akhirnya saya cari tau tentang boneka itu.


Rupanya danbo itu merupakan singkatan dari Danboard. Danboard sendiri mengacu sama bahan baku boneka ini, yaitu kertas karton. Tapi kalo kita liat lagi, karton yang dipake rupanya tebal dan nggak kayak karton yang biasanya kita pake buat bikin poster, soalnya itu tipis. Si danbo ini sendiri bisa kita gerakkin (tentunya secara manual, kayak maen Barbie) dan juga bisa kita ubah gesturnya karena si danbo ini sendiri punya fitur yang memungkinkan bagian tubuhnya secara fleksibel bisa diubah. Ukuran danbo sendiri biasanya imut-imut, cocok buat ditaro di display kamar. Perawakannya yang imut, juga dua mata yang bulat dan mulut segitiga bikin saya jadi gemes ngeliatnya.

Penampilannya yang menarik dan unik ini menarik perhatian banyak fotografer rupanya buat menjadikan si danbo ini sebagai objek bidikannya. Dan sekarang bisa kita liat banyak beredar foto-foto danbo dalam berbagai suasana. Ada danbo yang lagi happy, sampe yang galau pun ada (seringnya saya liat yang lagi galau).

Dan beberapa hari kemarin, saya pergi ke Paris Van Java sama temen saya Tata dan Kak Fath. Waktu iseng-iseng jalan di sekitar mal, saya ngeliat ada sebuah toko yang memajang danbo ukuran gede di depannya. And it looked very cute! Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya akhirnya difoto bareng si danbo imut itu, walopun ukurannya jumbo.


Saya nggak tau harga si danbo jumbo itu berapa, tapi denger-denger sih danbo ukuran kecil aja harganya mahal (karena fitur-fiturnya bagus). Semoga aja saya bisa dapetin danbo kecil itu buat nemenin saya belajar di kamar :D

Wednesday, January 25, 2012

Music Review: Im Krapfendwald'l, Polka Français

Kali ini, saya mau mencoba me-review sebuah piece klasik karya Johann Strauss II. Johann Strauss II terkenal dengan waltz dan polka-nya yang meriah dan terkesan mewah. Salah satu polka yang paling saya suka gubahan Johann Strauss II adalah Im Krapfenwald'l atau In Krapfen's Wood.


Lagu ini sempat dibawakan oleh Vienna Philharmonic Orchestra pada Das Neujahrskonzert 2010 dengan konduktor abah George Prêtre (kalo saya sering manggil konduktor yang sudah tua dengan sebutan abah, hehehe). Dari judulnya, lagu ini menceritakan tentang sebuah area hutan Krapfen yang terkenal, terletak di sebuah desa yang indah bernama Grinzing di utara Wina, Austria. Memang, pedesaan-pedesaan di negara-negara seperti Jerman, Austria, dan Prancis itu terkenal dengan keindahan bentang alamnya. Sebuah foto yang diambil tahun 1914 menunjukkan keadaan area Krapfen pada masa itu. Di foto, terlihat ada beberapa orang sedang bersantai dan menikmati suasana alam disana.


Komposisinya meriah, lincah dan lucu, dikasih sentuhan suara-suara burung menggunakan sebuah instrumen khusus. Waktu saya nonton konsernya, instrumen-instrumen yang dipakai buat bikin suara burung itu semacam alat berbentuk kotak dari kayu dengan katup yang bisa dibuka tutup buat menghasilkan efek suara seperti ayam kalkun (atau sejenisnya lah). Ketika dengan polka ini pertama kali, saya ketawa-ketawa karena efek suaranya yang lucu itu. Ada juga sebuah alat yang berbentuk kayak dinamo yang ditambah ujung semacam sedotan kecil untuk lubang udara yang bisa mengeluarkan efek suara kicau burung. Strauss II sedemikian rupa bisa dengan cerdik menggambarkan suasana alam di Krapfen tanpa mengabsenkan ciri khas orkestra musik klasik yang meriah dan mewah. Pada akhir lagu, tempo dimainkan lebih cepat dengan sangat meriah, dengan dentuman timpani dan snare-drum yang menambah semangat di akhir lagu.

Kalau nggak sempat lihat konsernya, bisa cek video ini:



Selamat menjelajah hutan Krapfen!

Friday, January 13, 2012

Beverage Recipe: Shirley Temple

Nah, karena saya udah pernah bagi-bagi review lagu, sekarang saya mau bagi-bagi resep minuman. Sebenernya resep ini saya liat basic-nya dari sebuah situs, tapi saya mau coba bikin beberapa catatan tambahan buat memudahkan pembuatannya. Yang mau saya share adalah resep cocktail, yaitu Shirley Temple. Nama minuman ini mirip dengan nama mantan artis cilik Amerika yang ngetop di taun 1930an (saya belum lahir yang jelas), dan sekarang pensiun setelah jadi diploma. Tapi daripada ngegosip artis yang udah pensiun, mendingan saya share aja resepnya.


Shirley Temple termasuk kedalam mocktail, atau cocktail yang disajikan tanpa kandungan alkohol. Karena jenisnya yang nggak mengandung alkohol ini, Shirley Temple cocok disajikan di acara anak-anak. Rasanya yang manis dan penampilannya yang nge-jreng bisa mengundang perhatian anak-anak.

Bahan-bahannya cukup mudah didapat, apalagi kalau ada bahan subsitut semisal bahan utamanya nggak ada. Buat bikin Shirley Temple, kita membutuhkan bahan-bahan sebagai berikut:
  • 100ml soda rasa lemon (misalnya Sprite atau 7Up)
  • 50ml sirup grenadin (sirup grenadin ini dari buah delima, warnanya merah terang)
  • Ice cubes, secukupnya
  • Ceri, untuk garnish 
 Lalu untuk langkah-langkahnya cukup sederhana, dan nggak memakan waktu cukup lama. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  • Pertama, atur potongan-potongan kubus es ke dalam gelas
  • Kemudian, tuangkan 100ml soda ke dalam gelas
  • Tuang sirup grenadin perlahan-lahan dan tidak boleh sambil diaduk. Tuangkan hati-hati dan pastikan si soda dan sirup grenadinnya nggak nge-blend, untuk membuat gradasi warna yang bagus
  • Setelah beres, hias dengan ceri di bibir gelas
Simpel kan? Nggak begitu sulit, bahkan anak-anak bisa ikut membantu bikin mocktail ini. Oh ya, saya juga punya beberapa saran sebagai catatan tambahan:
  • Kalau nggak ada sirup grenadin, bisa diganti dengan sirup lain dengan warna merah cerah, semisal sirup rasa cocopandan atau rose syrup. Tapi tentu saja rasa yang ditawarkan akan berbeda, karena pada dasarnya Shirley Temple pakai sirup grenadin. Itu sifatnya opsional.
  • Untuk rasa lemon yang lebih asli, bisa juga kita buat campuran jus lemon dengan plain soda. Campurannya kita kasih takaran 8:2 juga cukup, semisal untuk membuat larutan soda lemon 100ml, kita bisa campurkan 80ml plain soda dengan 20ml jus lemon. 
  • Shirley Temple ini rasanya asam. Ya, asam banget karena campuran utamanya soda lemon. Buat yang nggak begitu suka asam dan ingin rasa yang lebih manis, bisa tambahkan gula atau gula diabetes yang kadar gulanya rendah. 

Selamat mencoba!

Thursday, January 12, 2012

Music Review: Favorite "Best Music Arrangement JPop"

Ah, setelah kemarin-kemarin ini banyak nge-review Kpop, sekarang saya mau coba review Jpop. Saya awalnya berkutat di genre ini juga, yah kisaran lagu-lagu anime dan GST sih, sebelum akhirnya me-review Kpop. Tapi bagaimanapun juga, buat saya Jpop itu masih nggak bisa dibandingkan sama Kpop, karena beberapa perbedaan dari segi aransemen dan lirik yang menurut saya masih bisa menang kalau dibandingkan dengan Kpop. Sementara Kpop banyak mengeluarkan lagu-lagu dengan subgenre dance atau electronica, di Jpop saya masih banyak lihat dan dengar lagu-lagu yang subgenrenya rock, pop, bahkan ballad. Dan aransemen di lagu-lagu Jpop pilihan saya ini rupanya nggak main-main. Beberapa artis seperti Suemitsu & The Suemith banyak mengeksplorasi musik mereka dengan instrumen andalan mereka, yaitu piano. Contoh lainnya seperti Akeboshi, memadukan unsur alat musik tradisional Jepang dan piano ballad dengan ketukan yang nggak lazim, yaitu 5/4 dalam lagu Wind.

Nah, langsung aja saya akan me-review beberapa lagu pilihan saya. Beberapa terbilang lagu jadul sih, tapi dari segi aransemen musiknya, tetep nggak terkalahkan dan sukses bertahan di playlist lagu saya.

Suemitsu & The Suemith
Sagittarius

Lagu yang jadi soundtrack anime Nodame Cantabile ini menarik perhatian saya dengan aransemen pianonya sebagai instrumen utama, dan covernya yang bikin saya meriding sekaligus kagum. Oh, rasanya ingin punya piano dengan case transparan seperti di cover Sagittarius ini! Sagittarius diawali dengan melodi yang dibentuk dari block-chord dengan basic chord B-flat Major 7. Seiring lagu berjalan, instrumen pengiring seperti electric guitar, drum, dan string section ikut mewarnai penggambaran langit biru tua dengan taburan bintang pada lagu bertema cinta yang dibalut dalam nuansa astronomi dan aransemen rockestra ini. Pada bagian akhir lagu, ada notasi string section yang terdengar rumit dan membawa nuansa misterius. Kalau buat saya, lagu ini cocok didengerin malam hari.

Allegro Cantabile


Lagu yang bermain di tempo riang ini didominasi oleh piano, yang diiringi oleh aransemen rock yang meriah. Chord dasar lagu ini berubah-ubah, seiring pergerakan lagu ke bagian lagu berikutnya. Di intro dan verse awal, lagu ini main di chord C major, lalu pindah ke A major, lalu pindah lagi ke C-sharp major. Sebenernya kalau denger lagu ini terlalu sering, bawaannya jadi capek, karena aransemennya yang meriah, riang, lincah, seolah nggak ada istirahatnya.

Sonatine


Masih merupakan bagian soundtrack dari anime Nodame Cantabile, lagu yang satu ini lebih menonjolkan rasa musik klasik dari notasi piano, terutama pada bagian intro. Kesannya seperti piece sonatina klasik, dengan melodi piano yang dibentuk dari not-not 1/16. Tempo yang nggak begitu cepat dan nggak hingar bingar kayak Allegro Cantabile, membuat lagu ini lebih 'adem' buat didengerin. Aransemennya masih berbau rock walaupun nggak begitu banyak distorsi terdengar.

Angela Aki
Surrender


Perempuan berdarah Jepang-Amerika-Italia ini pertama kali menarik perhatian saya dengan lagunya yang berjudul Sakurairo (サクラ色), yang waktu itu MV-nya ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta. Selain itu, penampilannya yang sederhana, dan sesekali terlihat tomboy jadi point of interest-nya Angela. Dari situ saya mulai dengar lagu-lagunya Angela Aki. Salah satu yang paling bikin saya kagum adalah lagu "Surrender" ini. Lagu dengan genre orchestral pop ini bikin saya terpukau dengan permainan piano Angela, yang diiringi oleh iringan orkestra yang powerful dan megah. Lagu yang bermain di chord dasar C major dan tempo yang nggak begitu cepat ini (antara Allegretto atau Animato) menyuguhkan musik piano yang progresif, dipadupadankan dengan karakter vokal Angela yang khas dan orkestrasi mewah. Liriknya yang ditulis dalam bahasa Inggris juga penuh dengan makna. Lagu ini juga berhasil jadi lagu pengiring tidur buat saya.

Sakurairo (サクラ色)


Pop ballad yang satu ini dikemas dalam tempo sedang dan aransemen piano ballad, mirip-mirip sama lagu-lagunya Kiroro. Sebagai piano ballad, tentu saja piano masih menjadi instrumen utama di lagu ini, yang dikasih sentuhan manis string section dan bass yang bikin hati deg-degan (loh?). MV-nya yang menjadi alasan kenapa saya kagum sama Angela ini berlokasi di sebuah kamar apartemen, dimana Angela bermain piano disana dan bunga-bunga sakura berjatuhan di sekitar tempat ia bermain piano. Buat saya MV-nya romantis.

Knockin' On Heaven's Door


Dan salah satu lagu kesukaan saya pun dibawakan oleh Angela Aki dengan aransemen yang baru dan berbeda. "Knockin' On Heaven's Door" merupakan sebuah lagu yang menceritakan pesan terakhir seorang deputy (semacam petugas polisi atau mungkin Sheriff) yang sekarat dan sedih karena nggak bisa meneruskan pekerjaannya lagi. Angela di albumnya yang berjudul "ANSWER" menyanyikan lagu ini dalam versi bahasa Jepang, dengan aransemen yang sederhana tapi tetep asyik didengar. Saya rasa ini lagu yang wajib didengar sama penyuka lagu-lagu Angela Aki.

Black Glasses


Berbeda dengan lagu-lagu yang saya review sebelumnya, lagu Angela yang satu ini sifatnya lebih riang dan lucu. Dengan aransemen yang mirip aransemen pop taun 70an, Angela Aki menceritakan tentang kacamata hitamnya. Tempo yang sedang tapi beat yang lincah jadi kunci di lagu ini.

Akeboshi - Wind


Soundtrack anime Naruto yang satu ini rupanya masih jadi favorit para pemain piano karena aransemen pianonya yang unik dan nggak lazim. Secara keseluruhan aja, lagu ini main dengan ketukan 5/4, ketukan yang bahkan nggak semua orang sudah merasa familiar. Lagu ini memadukan aransemen piano, dengan alat musik tiup (semacam flute), gitar dan string section. Gak jarang banyak orang ketika mau main piano lagu ini jadi agak pusing dengan ketukannya yang cukup tricky ini. Tapi overall, lagu ini menyajikan gambaran petualangan Naruto dan teman-temannya, menembus kegelapan hutan Jepang. Yah, cocok lah sama anime-nya.


Yui Aragaki - Akai Ito (赤い糸)


Lagu "Akai Ito" versi Yui Aragaki lebih saya sukai sebenernya dibandingkan versi band aslinya, Kobukuro. Di versi yang satu ini, lagu Akai Ito lebih terdengar atraktif dengan aransemen yang lebih 'hebring' dibandingkan versi aslinya. Instrumen utamanya folk guitar dan piano, ditambah sentuhan string section yang bikin nuansa orchestral pop. Sedikit distorsi ngasih kesan tegas di lagu ini (pada bagian chorus, bisa diperhatikan baik-baik ada distorsi dari gitar). Pertama kali saya denger lagu ini ketika Nuning, temen les piano saya kasih denger saya lagu ini. Dia bilang, dia suka sama aransemen pianonya, dan ternyata memang benar, aransemen untuk pianonya memang enak didengar. Pada bagian verse kedua setelah chorus pertama, ornamen pianonya terdengar sederhana, tapi lincah dan alegorik. Sebagai perbandingan, boleh deh didenger juga lagu "Akai Ito" versi Kobukuro.

Kiroro
Ano Goro (あの頃)


Duo pianist-vocalist Jepang ini menampilkan power ballad di lagu "Ano Goro". Lagu ini dimulai tanpa intro, jadi pada permulaan lagu, langsung masuk block-chord piano dan vokal yang menyanyikan verse awal lagu. Nuansa power ballad terdengar dari distorsi gitar yang bisa didengar sepanjang lagu berjalan. Tempo sedang, dengan aransemen yang nggak terkesan mellow tapi tetep bisa dapetin feel ballad-nya bikin saya suka sama lagu ini.

Mirai He (未来へ)


Piano pop jadul ini masih enak aja buat didengerin. Aransemen yang sederhana, dengan piano, folk guitar, drum, dan sedikit nuansa orkestra bisa didapetin di lagu ini. Lagu ini menceritakan tentang seorang ibu dan anaknya yang berjalan menapaki detik demi detik sambil melihat nilai-nilai kehidupan.

Mika Nakashima - Love Addict


Lagu ini dikemas dalam aransemen big-band, orchestral jazz yang mewah. Karakter vokal Mika yang manis dan catchy, dipadukan dengan iringan big band dan orkestra menjadikan lagu ini terkesan classy. Lagu dengan durasi yang cukup panjang ini cocok didengerin di malam hari, ketika berkendara dengan mobil pribadi di kota. Nuansa jazz akan menemani perjalanan kita melewati jalanan kota.

Duh, sebenarnya saya masih ingin share dan review lebih banyak lagu lagi, tapi karena keterbatasan waktu juga jadi saya cuman bisa share segini. Kedepannya semoga saya bisa share lebih banyak lagu-lagu lain dengan aransemen yang lebih menarik dan unik. Semoga referensinya bermanfaat :D

Saturday, December 31, 2011

DJMAX Technika 2: Favorite Music-Arrangement Selection

Buat para pemain DJMAX Technika 2 sepertinya sudah pada hapal dengan lagu-lagu yang ada di game tersebut. Beberapa lagu yang ada di DJMAX Technika 2 mengedepankan beberapa instrumen alat musik sebagai lead instrument-nya. Kebetulan saya seneng dengerin lagu-lagu dengan instrumen musik klasik sebagai lead-instrument-nya, dan di DJMAX Technika 2 saya nemuin beberapa lagu yang saya pilih sebagai Favorite Music-Arrangement Selection. Lagu-lagu ini juga lumayan banyak dicari music sheet-nya, biasanya untuk part violin atau piano. Sayangnya susah banget cari music sheet untuk lagu-lagu ini. Kalaupun ada biasanya langka. Saya sekarang tinggal nunggu seseorang yang akan baik hati nge-fetch nada-nadanya dan nge-post music sheet-nya. Dan dibawah ini saya kasih beberapa lagu-lagu yang saya pilih sebagai Favorite Music-Arrangement Selection:

Colours of Sorrow


Tsukasa mengemas warna-warna kesedihan dalam aransemen yang unik dan mengagumkan. Perpaduan antara orkestra simfoni dan sentuhan dramatic techno membuat atmosfer baru dalam pengekspresiannya.

Sebenarnya ada tiga versi lagu ini, yang pertama versi asli seperti yang ada di game, yang kedua adalah extended version dari lagu ini dengan perubahan nada dasar, dan versi ketiga adalah extended version dalam bahasa Jepang. Di versi game-nya, lagu ini diawali sama synth-lead (semacam sawtooth lead) dan mulai diikuti sama aransemen electronica. Di bagian verse awal, part piano cukup mendominasi walaupun sepintas hanya bersifat alegori aja. Tapi improvisasinya cukup bagus. Sementara di extended version-nya, lagu ini diawali dengan intro oleh piano dan string section. Di extended version, kita bisa lebih ngerasain suasana symphonic-electro daripada game version-nya. Buat saya, lagu ini semacam symphonic-pop yang dipadu sama nuansa electronica. Asik buat didengerin dan loops-nya bikin lagu ini addicted buat didengerin, hehehe :P

Oblivion


Lagu ini sepertinya cukup diincar para musisi alat musik gesek, terutama viola walaupun pakai violin juga bisa sebenernya. Di lagu ini melodi viola mendominasi bagian intro dan chorus. Mengusung genre dramatic trance, lagu ini menggambarkan sebuah pelupaan yang dikemas dengan aransemen trance bertempo sedang. Melodi viola mendramatisasi pelupaan yang kemungkinan berakhir dengan kesedihan, yang mungkin dimaksudkan oleh lagu ini. Pada bagian verse-nya, synth-lead berperan jadi melodi lagu ini. Mungkin denger lagu ini bisa mengingatkan kita sama anime-anime semacam Sailor Moon atau Wedding Peach.

PDM


Sampe sekarang saya masih nggak tau apa arti PDM yang jadi titel lagu ini. Trish mengemas ulang lagu ini dengan aransemen acid jazz, dengan loops dan multipad yang ngasih sentuhan R&B. Bermain dengan tempo allegro (sekitar 120), karakter vokal si vokalis cewe yang manis dan diseling dengan rap part ngingetin saya sama lagu-lagunya Jay-Z atau R&B kayak Beyonce. Setelah chorus, ada beberapa bar yang diisi dengan melodi overdriven guitar dan selanjutnya diisi sama improvisasi piano di oktaf antara 5 sampai 6. Bentuk chord lagu ini mirip sama lagunya 3rd Coast, "Astral Plane". Di bagian chorus, ada multipad yang jadi notasi yang cukup rame di game Technika pada level 5 (normal) dan 6 (hard).

Heart of Witch


Lagu yang sarat dengan orkestrasi sforzando dan iringan piano bertempo cukup cepat (mungkin temponya Vivace) ini dipadukan dengan aransemen trance yang membuat nuansa dramatis. Notasi piano dan violin yang dibentuk dari not-not 1/16 banyak muncul di lagu ini. Pokonya buat yang mau coba nge-fetch nada-nadanya kayaknya agak kesusahan soalnya cukup banyak variasi yang berbeda-beda baik untuk part piano maupun part violin.

Piano Concerto No.1


Ada juga classical remix di Technika yang aransemennya lumayan asik buat ajep-ajep. Walaupun aransemennya bersifat remix, tapi tetep nggak menghilangkan classical taste dari lagu ini. Part pianonya dibuat sedikit berbeda walaupun nggak mengubah keseluruhan notasi pianonya. Sayangnya, lagu yang digubah oleh Pyotr Ilych Tchaikovsky ini gak tersedia dalam extended version. Salah satu aransemen perbandingannya adalah versinya Maksim Mrvica, dengan judul lagu yang sama.

La Campanella: Nu Rave


La Campanella: Nu Rave adalah salah satu classical remix lain di game Technika. Dengan genre rave, karya klasik La Campanella diubah jadi aransemen trance dengan irama yang cukup menggebu. La Campanella menyuguhkan permainan piano dimana pada partitur aslinya, tangan kanan diminta untuk loncat-loncat oktaf dengan interval 1 sampai 2 oktaf, yang kalau dihitung perpindahannya maksimal bisa sampai 30an sentimeter. Di tengah-tengah lagu ada bagian yang diisi dengan choir dan string section. Synth-lead juga ikut mengisi beberapa bagian di lagu ini sebagai pengiring melodi utamanya. Dan bagian akhir lagu ini ditutup dengan permainan piano yang bikin saya inget sama konser-konser klasik.

Proposed, Flower, Wolf (Part 2)



Lagu yang satu ini bikin saya inget sama soundtrack game semacam Stronghold Crushader, atau lagu-lagu dari game online kayak Rising Force dan game semacamnya. Mengusung genre violin trance, lagu ini mengedepankan melodi-melodi violin yang dominan pada intro lagu. Aransemen trance yang dipadu dengan orkestrasi membuat kesan epic di lagu ini, semacam lagu-lagu perjuangan game-game perang atau anime-anime dengan pertarungan kayak InuYasha dengan Seshomaru, misalnya. Lagu ini juga punya progress yang menarik, dimana awal lagu disuguhkan aransemen yang tajam dengan tempo yang agak cepat. Setelah itu ada arpeggio dari harpa yang menjembatani aransemen lagu yang lebih lambat dan lebih simfonik. Setelah itu, barulah masuk ke klimaks lagu yang diakhiri dengan dentingan piano yang simpel namun terkesan agak 'gantung'. Overall, lagu ini bagus buat ngisi soundtrack film-film atau game-game berbau perang.

Voyage


Voyage adalah lagu dengan aransemen broken beat, yang mana iringan perkusi (drum) sebagai pemberi beat terdengar uneven dan seolah kepotong-potong beat-nya. Karakter vokal si cewe yang sebenernya udah nggak asing kita denger (mirip karakter-karakter vokal penyanyi lagu-lagu soundtrack anime), dikasih latar belakang musik dengan melodi flute pada bagian bridge menuju chorus akhir, ditambah iringan electronic piano dan gitar bikin lagu ini catchy. Saya seneng dengan part flute-nya karena melodi flute yang cepat dan lincah, diiringi sama broken beat justru jatohnya malah agak nge-jazz. 

Sin


Ini salah satu lagu yang melodinya cukup bikin keblinger di game Technika, terutama buat yang baru atau belum pernah maenin lagu ini sebelumnya. Main di tempo cepat (presto), lagu ini menawarkan melodi piano sederhana yang dibalut dalam aransemen khas drum 'n bass. Sejujurnya lagu ini riweuh sendiri dengan aransemen perkusi dan basnya itu, kalau dibandingkan dengan pengiring melodis kayak synth-pad, synth-loop, strings section, dan piano sebagai melodinya. Di awal lagu, kita bisa dengerin bentuk melodi ketukan 1/8 dari pipe organ. Melodi pipe organ itu mirip dengan melodinya "Toccata and Fugue" karya Johann Sebastian Bach. 

Sweet Shining Shooting Star


Mengusung judul yang chic, lagu ini cukup menarik perhatian saya karena 'genjrengan' clean guitar-nya yang walopun samar-samar terdengar tapi ngasih suasana disko jadul taun 80an. Dengan genre acid house, lagu ini menyuguhkan lirik tentang perasaan suka terhadap seseorang tapi si cewe itu malu mengungkapkannya. Liriknya juga mencantumkan istilah-istilah sains kayak solar dan vision yang menggambarkan kesan cosmic love. Disko sederhana ini dikemas dalam tempo yang cukup cepat, tapi tetep bisa bikin sensasi ajep-ajep disko jadul selama 1 menit 35 detik.


Itu tadi adalah beberapa lagu pilihan saya yang dipilih karena aransemennya yang unik, serta dominasi instrumen yang menarik. Beberapa lagu sedang saya coba aransemen sendiri dengan piano. Mungkin kedepannya saya mau coba nge-fetch nada-nadanya dan dibikin music sheet-nya buat di-share ke temen-temen semua. I think they're worth to listen to :]

Tuesday, December 6, 2011

When Public Restroom Comes To Necessity...

Public restroom is one of vital facilities that must be built in public buildings, such as office tower, shopping mall, restaurant, game arcade, and else. Why public restroom is a must? Have you ever imagined when there's not any public restroom in your city mall? Or when people don't find toilets in your school. They will take longer time to home, just for peeing. Or at least, the disgusting one is peeing at the fountain of your city mall *yucks!*

But public restroom should have several requirements that provide proper quality. I've had some experiences about public restroom, the good ones and the terrific ones! Why do I mention it terrific? Because sometimes, public restroom is even worse than your house's storage! But actually, I'm not about to talk about the public restroom itself. I'm going to tell you about my experience in using public restroom service. These points are what comes into my mind:
  • The sanitary of public restroom now comes to necessity. However, people will not use the public toilet when the toilet overflows. Or at least, the last user doesn't flush it. That's very disgusting. Some people pee but they don't flush the toilet. You don't deserve urine, guys! So better check the toilet first before you pee.
  • Make sure that the water tank is full! At least, it provides you enough tissue to cleanup. In Indonesia, toilets are mostly of typical wet toilet, in which the floor will be wet when someone uses it. So make sure that there's enough water to cleanup. When there's not adequate water, then how will you flush the toilet?
But what has happened to me, well, just take a look at these points:
  • One day, I immediately used the toilet. I didn't check the water tank and unfortunately the tank ran out of water! I was very shocked. How could I flush the toilet and cleanup? Fortunately, I brought tissues for cleanup. Since that day, I always check the water first.
  • It was an amusement park, where thousands people visit it every day. I needed to go to the restroom and I found one there. The sanitary was very horrible. There was a cigarette butt on the toilet, and the last person using it must haven't flushed it. Yucks! It was so disgusting.
  • The last one would be kind of awkward and scary. My friends and I were visiting a shopping arcade in downtown. I needed to go to the restroom so I immediately ran to the nearby restroom. There are two toilet cubicles there, and the rest are standing urinals. I found an empty cubicle but the water overflowed from the next cubicle. Finding it quite disgusting, I moved to standing urinal and peed there. Somebody came out from a cubicle and used a standing urinal in my opposite. When I washed my hand, that guy sighed in lust. I knew what he was doing. He kept saying "F*ck! F*ck!" while sighing loudly and passionately. Another guy came out from the same cubicle, and I didn't need another second to conclude that both the guys are gays and quickly ran from the restroom! I must have been idiot, entering the wrong restroom!
The last experience happened in a shopping arcade in Bandung downtown. I cannot mention it explicitly, due to reputation matters. I just hope you guys will be much careful in using public facilities like restroom.

Tuesday, November 22, 2011

Music Review: 3rd Coast - Altered Surface

Setelah sebelumnya saya sempet me-review Kpop dengan subgenre K-Pop/Dance, sekarang saya me-review group yang bermain di genre Electronic/R&B. Kalau dipikir-pikir lagi, agak susah juga mencari Korean R&B yang asik karena sangat banyaknya girlband dan boyband Korea yang gencar promo sana sini sampe international promo juga. Dan beruntung sekali saya nemu 3rd Coast, yang awalnya cuman saya tau ngisi game soundtrack DJMAX Technika.


Altered Surface adalah mini-album yang dirilis 3rd Coast pada pertengahan taun 2010. Udah cukup lama juga album ini beredar walopun eksistensinya harus saingan sama girlband/boyband Kpop. Dengan mengusung genre Electronic/R&B, 3rd Coast menyisipkan 5 lagu yang cukup nyaman di telinga.

Lantunan vocal dari so fly (Han So Hyun/한소현) yang memberikan nuansa 'soul' di setiap lagunya dibalut sama aransemen house-jazz dan juga ditambah rap dari Kwon Sung Min membuat lagu-lagu di album ini cukup menenangkan walaupun genrenya electronica. Semacam lounge-jazz atau acid-jazz. Mereka banyak pake 7th chords di lagu-lagu mereka yang ngasih nuansa jazzy.

Tracklist:
  • Astral Planet. Lagu ini jadi lagu wajib yang harus didenger di album ini. Nuansa Acid-Jazz sangat kental di lagu ini, ditambah tempo moderato cocok buat mendinginkan suasana. Alur chord yang sama dimainkan terus menerus, tapi jatohnya nggak membosankan. Sebagai perbandingan bisa denger lagunya Trish yang judulnya PDM, hanya temponya lebih cepat. Lagu seperti ini cocok dimainkan di lounge hotel atau coffee shop.
  • Love Solstice. Tempo yang agak cepat dengan aransemen house tetep nggak menghilangkan kesan jazzy di lagu ini. Dengan 7th chords, nuansa soothing tetep bisa ketangkap. Ada beberapa bar di awal lagu dengan breakbeats yang ngasih spirit di lagu ini.
  • On & On. Awalnya mungkin pendengar mengira bahwa lagu ini diaransemen unplugged, karena hanya akustik gitar yang menemani alunan sang vokalis. Tapi begitu chorus pertama selesai, aransemen Classic Hip-Hop/R&B mulai mengiringi vokal sampe akhir lagu. Di tengah lagu, pada bagian rap coba denger baik-baik ada dentingan akustik gitar sebagai ornamen lagu ini.
  • Reason. Lagu ini diawali dengan progress chord piano dan accompaniment khas R&B. Tempo lagu ini cepat dan aransemen drum di chorus justru bikin semangat. Dan uniknya, setelah chorus aransemen drum-nya langsung berubah. Di bagian interlude itu kayak ngasih nafas buat istirahat sejenak, sebelum akhirnya masuk lagi ke verse dengan aransemen drum yang spirited lagi.
  • Reason Remix (Eaeon From Mot). Remix version dari lagu Reason. Disini genre-nya malah jadi agak nge-breakbeats terutama di bagian verse awal. Nggak ada perubahan dari segi tempo dan progress chord.
Secara keseluruhan, 3rd Coast ingin mencoba membuat nuansa tenang ala lounge hotel atau kafe-kafe dengan cara mereka sendiri. Aransemen house-jazz ternyata cukup ampuh buat menghidupkan suasananya tanpa terkesan terlalu electro seperti musik techno atau trance. Buat yang sering kejebak macet di jalanan, atau seneng ngopi di kafe, lagu-lagu dari album ini cocok buat menemani kalian ^_^

Thursday, November 17, 2011

Korean Ballads Selection

Hmm.. Kali ini saya mau share ballad-ballad Korea pilihan saya. Subgenre yang satu ini cocok didengerin di suasana-suasana kayak ketika lagi hujan, atau setelah hujan, atau sore-sore pas matahari lagi anget-angetnya (loh). Korean ballad emang terkenal buat aransemennya yang manis dan melankolis. Kalo dibandingin sama ballad-ballad dari US atau UK, Korean ballad selalu punya ciri khas yang nandain bahwa "ini loh Korean ballad" (terlepas dari perbedaan bahasa tentunya *jangan ditanya lagi*).

Berikut saya mau kasih beberapa lagu pilihan saya. Beberapa diambil dari soundtrack drama atau film. Here is the list:

Jung Yong Hwa - Because I Miss You... (그리워서...)


Dari album soundtrack "Heartstring", lagu ini punya beberapa versi. Tapi yang paling saya suka itu ballad versionnya. Buat band versionnya, sebenernya cukup enak juga buat didengerin cuman ballad versionnya bikin makna lagu ini lebih dapet *bahasa gue...*. Lagu ini main di ketukan 6/8, dan string section cukup mendominasi lagu-lagu ini terutama sebagai ornamen pemanis. Petikan gitarnya really compliments sama alunan piano. Cocok didengerin kalau sore-sore, waktu matahari nggak terik.


Kara - Lonely


Aransemen awalnya terkesan R&B, walopun perbedaan kedengeran di chorus-nya. Lagu ini diawali sama intro yang sederhana tapi manis dari alunan vibraphone. Ketika masuk verse awal, iringan gitar mulai kerasa. Di bagian chorus, bisa diperhatikan walking bass-nya ikut ngasih beat di lagu ini. Di lagu yang main di nada dasar awal F-sharp ini, Kara mencoba menceritakan tentang kesepian seseorang tanpa terkesan lenje-lenje. Lagu ini cocok didengerin kalau malem-malem, terutama menuju tengah malem. Buat saya, lagu ini cocok buat nemenin tidur.


Im Jae Beom - Love (사랑) & Park Gyuri - Only Look At You (그대만 봐요)


Kedua lagu itu diambil dari soundtrack drama City Hunter yang dibintangi sama Lee Min Ho. Kedua lagu tersebut punya perbedaan yang jauh. Di lagu Love, karakter vokal Im Jae Beom yang serak-serak powerful nge-blend sama aransemennya yang mirip slow rock, tapi masih tetep bernuansa ballad. Lagu dengan intro sangat singkat (bahkan menurut saya nggak ada intronya) ini diawali dengan petikan gitar dan vokal. Progress mulai kerasa ketika di bridge menuju chorus, mulai ada ornamen dari string section. Temponya yang santai bikin lagu ini cocok didengerin ketika malem-malem. Versi lain lagu ini ada piano version dan guitar version. Tapi kedua versi itu nggak ada vokalnya, alias instrumental aja.

Sementara buat lagu Only Look At You, Gyuri nunjukkin kemampuan ngambil nada-nada tinggi di chorusnya. Ballad yang basic instrumentnya piano sama gitar ini ngasih nuansa soothing di sore hari. String section bikin lagu ini juga terkesan syahdu, dan di bagian chorus string section-nya semakin mendominasi. Nggak ada bagian buat drum yang ikut ngiringin lagu ini, bahkan kalo ada sedikit banget (semisal cymbal). Katakanlah lagu ini sebagai orchestral ballad.


Joo Sang Wook - I Miss You (그대가 그립습니다)


Diambil dari special original soundtracknya "The Great Queen Seon Deok", ballad yang satu ini bikin saya penasaran karena berbulan-bulan saya nggak dapet title dan penyanyinya. Untunglah seorang temen asal Korea, Jung Jinwoo bantu saya dapetin informasi lagunya. Ballad yang satu ini diawali dengan intro alunan piano. Masuk ke verse awal, cuman ada vokal dan petikan gitar aja, sementara piano jadi ornamen pemanisnya. Begitu masuk bridge menuju chorus, lagu ini nge-show off semua instrumennya dan masih tetep ada string section, seperti yang biasa mengisi lagu-lagu ballad Korea. Karakter vokal Sang Wook juga terdengar manis dengan power yang nggak berlebihan. Kebanyakan nada-nada tinggi diambil pake falsetto. Cocok didengerin baik sore hari ataupun nemenin tidur atau belajar di malem hari.


SG Wannabe - Arirang


Lagu yang diadaptasi dari Korean folk song ini memadukan unsur-unsur musik tradisional Korea ke dalam sebuah ballad. Di intro kita bakalan disuguhin sama perkusi dari instrumen semacam Taiko atau gendang yang segede alaihim itu. Lalu mulai masuk instrumen-instrumen lainnya dan ada Korean vox juga. Di sepanjang lagu yang bertema cinta ini bisa kita denger ornamen-ornamen manis dari instrumen kayak gayageum, ajaeng, piri, dan sebagainya. Di chorus akhir juga Korean vox muncul lagi ketika lagu ini masuk overtune ke F major.

Diambil dari album The Sentimental Chords, SG Wannabe disini memperlihatkan bahwa Gugak atau musik tradisional Korea bisa berpadu sama Yangak atau western music (anggaplah musik modern), dan bikin sebuah performance yang menakjubkan.


Lee Hae Ri - The Person I Love (사랑하는 사람아)


Ini lagu yang sering saya dengerin akhir-akhir ini, karena musiknya dan sebuah personal matter *sensor*. Diambil dari soundtrack drama Poseidon dimana hyung saya Siwon ikut membintangi drama tersebut (digebukin massa), ballad yang satu ini dikemas tanpa string section. Sedikit terkesan slow rock juga, tapi masih belum cukup nge-rock buat dianggap sebagai genre rock. Basic instrumennya piano dan gitar, dan dibawakan dengan aransemen yang nggak ribet. Bentuk chordnya udah nggak begitu asing sepertinya, dengan bentuk chord di bagian chorus mirip dengan Canon (cuman setelah kembali ke C major, di lagu ini chordnya pindah ke D major baru ke G). Cocok didengerin pas sore-sore, apalagi pas matahari lagi anget-angetnya dan lagi jalan kaki pulang habis ngampus..


Choi Si Young - The Prayer (기도해)


Awalnya, saya ngerasa rancu dengan lagu ini karena saya kira Choi Si Young nyanyiin lagi lagu The Prayer yang jadi soundtrack Autumn In My Heart: Endless Love, dan ternyata beda! Ballad ini diiringi sama piano, string section, dan gitar dengan tempo yang santai tapi nggak bikin pendengarnya geregetan karena kelambatan. Di bagian chorus kedua juga bisa kita dengerin ada penyanyi-penyanyi latar yang ikut nyumbangin suaranya di lagu ini. Cocok didengerin di malem hari, terutama buat di mobil.


T-Ara - Lies (거짓말) [Slow/Ballad Version]


Berbeda dengan sodara kembar tapi bedanya, di versi ini lagu ini dibawain dengan aransemen Ballad bernuansa R&B. Modern ballad ini banyak pake synthesizer sebagai instrumennya. Dan ada synth-string section di bagian chorusnya. Lagu ini juga dibawain dengan tempo yang lebih lambat dari dance versionnya. Dan satu lagu, konsep MV-nya beda banget sama konsep MV sodara kembarnya! Kalau di dance versionnya, MVnya bercerita tentang Yoo Seung Ho yang jadi playboy dan dianggap berbohong, MV buat versi ini horror karena menggambarkan cerita tentang hantu dan sebuah pembalasan dendam.


Orange Caramel - Love Does Not Wait (사랑을 미룰 순 없나요)

  

Dari album pertamanya, lagu ini menyuguhkan sensasi semi-R&B dengan nada-nada yang manis dan cukup melankolis tanpa terkesan terlalu 'lembek'. Alunan piano di nada dasar C major ngedominasi lagu ini. Mungkin sebagai perbandingan bisa dengerin lagunya Utada Hikaru yang berjudul Come Back To Me.


T-Ara - Cry Cry (Ballad Version)


Diambil dari album terbaru T-Ara, lagu Cry Cry membawa suasana ballad tahun 90an. Dimana nada-nada minor dan alunan melodi piano yang terdengar elegan mewarnai bagian-bagian lagu ini. Dengan tempo Andante, pembawaan lagu ini nggak terkesan begitu menyedihkan kayak judulnya. Melodi manis dari GalaxyEP ngebuka lagu ini. String section juga masih terdengar di beberapa bagian lagu, terutama chorus. Tapi buat yang nggak suka tempo selambat ini, lagu ini kayaknya kurang cocok dan mungkin terkesan agak 'lebay'.


IU - The Story Only I Didn't Know (나만 몰랐던 이야기)


Lagu dengan MV yang menceritakan tentang seorang gadis yang menderita gangguan kejiwaan karena kehilangan kekasihnya ini cukup menyayat hati, dengan karakter vokal IU dan aransemen musik serta orkestrasi yang menambah unsur pathetic di lagu ini. Diawali dengan intro oleh musicbox dan piano, lagu ini udah menggambarkan kesan tentang kesedihan atas kehilangan seseorang yang dicintai. Begitu masuk chorus pertama, string section dengan aransemen sedemikian rupa cukup menyayat hati. Lagu ini punya dua versi: versi ballad dan vocal-piano version. Cuman saya lebih suka versi aslinya karena orkestrasinya yang justru bikin maksud dari lagu ini lebih tersampaikan secara jelas.


J.ae - Can't Tell You The End (끝을 말할 순 없어도 featuring G.O of MBLAQ)


Diambil dari album Sentimental, disini J.ae menyanyikan lagu ini dengan G.O dari MBLAQ. Karakter vokal keduanya nge-blend dan pas mantap sama aransemen R&B/Jazz-nya. Lagu ini diawali dengan intro singkat electric piano dari C major, yang ternyata akhirnya di chorus lagu ini main di chord E-flat. Nggak ada string section di lagu ini, justru kesan jazzy yang keluar. Alunan electric piano bener-bener bikin suasana cozy di lagu ini. Cocok buat didengerin sambil minum teh atau kopi ketika hujan.


Kim Hyung Sup - I Love You (사랑해요)


Lagu yang diambil dari drama Korea yang sempet ngetop di taun 2004 (sekitar lah) ini saya pilih sebagai pilihan ballad karena aransemennya yang cukup simpel dan easy listening. String section disini diganti sama cello yang kehadirannya bisa kita denger baik-baik di chorus kedua. Lagu ini juga mengedepankan petikan-petikan gitar yang memikat, dengan karakter vokal sang penyanyi yang ballad banget. Guitar-ballad ini cocok didengerin malem-malem, buat nemenin belajar sambil begadang, ato sekedar membantu meninabobokan kita.


Taeyeon - If


Leader girlband "SNSD" ini ikut menyumbangkan suaranya sebagai soundtrack sebuah drama Korea, Hong Gil Dong. Orchestral ballad ini didominasi sama alunan piano yang ngiringin Taeyeon nyanyi. Di awal-awal, suara harpa juga nge-blend sama piano sebagai intro. Pada bagian chorus pertama, string section nggak begitu ngedominasi, hanya sekedar simple-blocking, tapi begitu masuk ke chorus kedua, mulai kerasa progress string sectionnya. Yang saya suka dari lagu ini adalah walking bass di chorus pertama, ketika perpindahan dari chord F-sharp minor ke C-sharp minor. Dan saya menyayangkan ketidakadaannya official instrumental version dari lagu ini.


Tiffany - Ring (반지)


Salah satu member girlband "SNSD", Tiffany juga ikut nyumbangin suaranya sebagai soundtrack sebuah short-movie berjudul Haru: An Unforgettable Day in Korea. Film berdurasi 30 menit yang dibuat dalam rangka promosi dari Korea Tourism ini menawarkan lagu-lagu menarik sebagai soundtracknya. Saya pilih lagu Ring sebagai pilihan ballad saya. Lagu ini diawali dengan intro piano yang nggak ribet tapi cukup membawa kita ke lagunya. Di bridge sebelum masuk chorus, mulai masuk string section dan perkusi. Dan buat saya, lagu ini justru lebih nge-show off string sectionnya. Terbukti di beberapa bagian, string section ini justru yang bikin lagu ini 'dapet banget'. Tempo yang santai, karakter Tiffany yang pembawaannya juga menenangkan, dan aransemen ringan, lagu ini cocok didengerin waktu sore-sore.


Park Jiyeon - Little By Little / More (점점)

Selain ikutan main di film Jungle Fish 2, Jiyeon juga ikut ngisi soundtracknya. Lagu berjudul Little By Little ini muncul di bagian akhir film dan ikut mengiringi di bagian kredit. Intro lagu dimulai dengan alunan piano, yang progress chordnya mundur dari minor ke major. Piano-ballad ini juga diiringi sama petikan acoustic guitar dan string section yang ikut memaniskan suasana.


Sebenernya masih banyak lagi referensi Korean ballad dari saya. Tapi berhubung saya masih harus seleksi-seleksi lagi lagu-lagunya, jadi kalau ada kesempatan nanti saya coba bikin postingan seperti ini edisi kedua. Semoga referensi dari saya bisa berguna :)

Enjoy the music!