Saya maen Pump it Up dari versi O.B.G (Oldies but Goodies) sampe yang paling baru, Fiesta. Saya maen dari kelas 3 SD sampe sekarang. Berarti udah lama banget, lebih dari 8 taun saya udah joget-joget di atas pad ber-step 5 biji itu. Dari mulai maen di mode Normal sampe akhirnya ngacir ke Crazy, Freestyle, dan Nightmare. Selama itu juga udah banyak lagu-lagu yang saya maenin. Beberapa saya mark sebagai favorit, tapi justru saya kehilangan beberapa lagu yang ternyata pas saya cari di Fiesta juga ngga ada. Buat informasi aja, di Pump it Up 'Fiesta' itu mencakup koleksi lagu yang paling komprehensif, dari mulai jaman jadul sampe yang paling baru.
Satu lagu yang jadi andalan saya waktu dulu masih maen di O.B.G, yang cuma saya dapet di mode Hard. Lagu ini juga jadi kesukaan temen saya waktu SD, DJ. Kita biasa sebut lagu ini 'Lagu Kereta'. Mungkin lagu ini kalo di Pump it Up Zero atau Absolute ada di mode Hard dengan range level sekitar level 6 atau 7. Mirip sedikit mirip 'Dr.M' atau 'Love is a Danger Zone 2'. Sekarang ini saya biasa main di Pump it Up Absolute, dan kadang-kadang maen di Zero. Walaupun sekarang ini lebih nyaman di Absolute gara-gara ada 'DJ Otada' dan 'Pumptris Quattro'. Lagian, Absolute kan udah pake LCD, sementara kalo Zero masih pake monitor CRT.
BanYa - An Interesting View (Seoul Train)
Lagu ini udah lama ngga saya maenin. Dan kalopun saya maenin, semoga aja ada mode Crazy-nya (songong mentang-mentang mode Hard udah bisa :P). Saya mark lagu ini sebagai favorit, setelah Another Truth dari Novasonic dan Run to You dari DJ Doc (waktu itu tapinya, sekarang saya udah agak males maenin Another Truth dan Run to You udah ga tau kemana). Pertama main lagu ini pastinya failed, lama-lama dapet nilai C dan saya ga dapet bonus game. Akhirnya setelah ngejago, dapet B dan sekali maen lagi dapet A. Waktu itu saya maen lagu ini diantara temen-temen saya dan saya yang pertama dapet A (songong). Saya suka lagu ini soalnya lagunya lucu, belum lagi BGA videonya yang kocak. Ada keretanya nyengir, mbak-mbak yang cute, sama kakek tua yang mirip sama kakek-kakek Pringles. Setelah itu, Timezone pindah dan mesin Pump it Up O.B.G ngga ada lagi. Akhirnya saya maen di Prex3, Exceed, Zero, NX, NX2, dan yang sekarang saya betah maen itu di Absolute. Di Absolute, ngga ada lagi lagu kereta itu. Saya kangen sama lagu itu :P
DJ Doc - Ok? Ok! (Beauty and The Beast)
Ada 2 lagu favorit DJ Doc, Beauty and The Beast sama Run to You. Kalo Run to You yang saya inget sih di bar-bar awal ada beberapa upper-double steps. Kalo Beauty and The Beast terkenal gara-gara beat 1/8 dari upper left dan upper right steps. BGA videonya juga keren. Mantep deh nih lagu.
DJ Doc - Run to You
BGA videonya ada gambar cewenya yang rada mirip Shizuka. Bar-bar awal lagu ini diisi sama not 1/4 upper-left-right double steps. Waktu ikutan Pump Competition for Kids, lagu ini jadi lagu wajib. Saya sama temen saya maen lagu ini di 1st stage, 2nd stage ambil lagu Another Truth, dan 3rd stage ambil lagu apa ya saya lupa. Pokonya lagu ini asik lah. Saya juga waktu itu sempet maen lagu ini di mode Hard. Tapi berhubung udah lama ga maen lagu ini kayanya bakal agak bingung sama pergerakannya.
U.P - Puyo Puyo
Setelah lancar maen Pump it Up, saya nemu lagu ini. Jadi lagu favorit saya sama sepupu saya, Fah Mi Sung. Cuman sekarang dia senengnya maen bola, katanya pengen kaya Park Ji Sung. Ah rehe nih, jadi saya sendirian maen. Ah tapi tenang saja masih ada Ebil yang doyan maen Pump. Lagunya rame, kaya lagu buat anak-anak. Udah gitu videonya juga kocak. Cowo cewe kartun abis. Kaya terbang-terbang pake payung warna-warni (lihat BGA 'Moonlight', ada cowo cewe juga terbang pake payung tapi bedanya 'Moonlight' BGAnya horror kalo ini kaya anak TK).
Cool - Man & Woman
Cool ga cuma eksis di Audition aja, ternyata di Pump it Up juga (kemudian menyusul Wondergirls, Epik High, dan Super Junior yang eksis di Pump. Terakhir liat ada Kara juga di Fiesta). Lagu ini salah satu lagu yang jadi andalan anak-anak kalo maen Pump it Up. Tapi saya ga begitu suka. Entah kenapa.
Sebenernya masih banyak lagi sih lagu-lagu lain yang saya tau lagunya kaya gitu, cover depannya gitu tapi ga tau judulnya. Tapi ya semoga aja bisa ketemu di Fiesta. Ntar kalo saya maen di Fiesta lagi semoga bisa nemu An Interesting View lagi. Amin!
Translate This Page
Wednesday, June 23, 2010
Sistem Koordinasi, Sistem Saraf dan Tulang Ekor
Di tahun kedua ini, salah satu sub-bab yang saya pelajari di pelajaran biologi mengenai sistem saraf pada manusia yang termasuk kedalam bab sistem koordinasi. Bab yang berada di urutan ke 9 dari buku paket biologi saya ini menjelaskan sangat banyak pengetahuan mengenai bagaimana organ-organ tubuh kita dapat bekerja secara selaras dan teratur. Dan di bab ini pula saya mengetahui betapa bahayanya penyakit-penyakit atau gangguan yang berkaitan dengan sistem koordinasi.
Memasuki sub-bab dari sistem koordinasi, adalah sistem saraf manusia. Sistem saraf pada manusia terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf pusat berfungsi mengatur dan mengendalikan semua aktivitas tubuh. Otak terdiri dari dua belahan (hemisfer), belahan kiri dan belahan kanan. Kedua belahan dihubungkan oleh balok otak yang berongga berisi cairan getah bening (cerebrospinal). Otak dibagi menjadi tiga daerah, yaitu otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Otak besar (cerebrum) merupakan bagian terluas dari otak berbentuk oval. Otak besar merupakan pusat seluruh aktivitas tubuh, antara lain pernafasan, kesadaran, ingatan, keinginan, kecerdasan, kepribadian, daya cipta, dan lain-lain. Otak tengah (mesenchepalon) memiliki saraf okulomotoris (yang berhubungan dengan pergerakan mata), misalnya mengangkat kelopak mata atau memutar mata. Otak kecil (cerebelum) berfungsi mengatur gerakan otot dan keseimbangan posisi tubuh. Sementara itu sumsum tulang belakang merupakan lanjutan dari medula oblongata terus ke bawah sampai tulang punggung, tepatnya ruas kedua tulang pinggang (canalis centralis vertebrae). Di dalam tulang punggung terdapat sumsum punggung dan cairan cerebrospinal, yang menyerupai cairan yang ada di otak. Sumsum tulang belakang berfungsi sebagai pusat gerak refleks, penghantar impuls dari kulit atau otot ke otak, dan membawa impuls motorik dari otak ke otot tubuh.
Pada sistem saraf tepi, sebenarnya adalah lanjutan dari neuron yang bertugas membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi pada manusia terdiri dari 31 pasang saraf spinal (saraf tulang belakang) dan 12 pasang saraf kranial (saraf kepala). Sistem saraf yang disusun oleh 31 pasang saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang merupakan campuran berbagai saraf. Sistem saraf sumsum tulang belakang berasal dari arah dorsal, sehingga sifatnya sensorik. Berdasarkan asalnya, sumsum tulang belakang dibedakan menjadi 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan 1 pasang saraf ekor.
Sepenggal kalimat yang saya ambil dari rap sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Tashiru dan Kang Ebith Beat A, kurang lebih seperti ini : "Satu bagian terluka, maka bagian yang lain ikut merasakannya". I think it also affects to the coordination system of human. Sore itu saya main Pump it Up di Game Master. Di mode Freestyle lagu Deja Vu dari Som2, saya mengakhiri beat terakhir dengan dua buah center step di kedua pad. Saya pakai kedua tangan saya buat menekan kedua step itu. Ketika jatuh (menekan pad), gaya saya terlihat seperti patung Yesus sang Penebus di Rio de Janeiro dengan kedua tangan merentang, tapi konyolnya kedua tangan terentang karena menekan center step dan saya dalam keadaan 'duduk' bukan 'berdiri'. Kaki saya menghantam lantai cukup keras dan yap, sepertinya saya melukai tulang ekor saya karena duduk di pad yang keras. Selepas bermain saya bahkan masih bisa merasakan rasa sakit itu. Saya salah, seharusnya pada bagian tulang ekor dan pinggang harus lebih dinaikkan untuk mencegah cedera. Seperti halnya dancer senior, mereka bisa menghindari cedera itu. Saya sering lupa akan hal tersebut yang akhirnya melukai diri saya sendiri. Sepulang dari sana, kepala saya terasa sangat pusing. Saya mengelus-ngelus bagian punggung bawah (atas pinggang) dan teringat akan satu hal. Saraf ekor. Saraf yang berhubungan dengan sistem saraf tepi dan pusat. Mulailah saya memikirkan sakit itu. Teringat teman saya ketika SD yang sekarang sudah ada di pangkuan-Nya. Sakit yang dideritanya berhubungan dengan sistem saraf tubuhnya karena hal sepele : temannya menarik kursinya ke belakang jadi dia terjatuh dan melukai tulang ekornya. Dia mengalami sakit yang begitu lama, entah setahun atau dua tahun sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kata-kata ibunya pun masih terngiang di telinga saya, "Jangan main-main sama tulang belakang apalagi tulang ekor".
Malam itu saya menghabiskan malam saya dengan melukis. Lukisan rumah yang terlihat seperti lukisan abstrak, dalam ketakutan, kesedihan, dan kegalauan akan sakit itu datang. Saya tetap merasa sakit di bagian itu, tulang belakang dan tulang ekor. Perlahan merambat ke kepala saya dan mata saya pun seperti tidak bisa menangkap fokus objek dengan baik. Saya mendadak sangat lelah dan beranjak ke tempat tidur. Di atas tempat tidurlah, saya semakin takut karena dihantui sakit itu yang pada akhirnya mengantarkan saya pada satu kata yang menakutkan bagi siapa saja : kematian. Bayangan-bayangan tentang teman saya itu menghantui tidur saya. Tak terasa saya menangis dalam tidur saya. Menangis karena ketakutan itu. Pelajaran biologi pada bab itu benar-benar saya camkan dan saya ketakutan karenanya. Saya tidak takut untuk bermain Pump it Up lagi karena saya menyukainya. Saya hanya takut tak bisa bermain Pump it Up lagi karena kesalahan yang saya buat. Itu saja. Dan saya takut, kejadian yang menimpa teman saya akan saya alami juga. Saya hanya bisa berdoa dan berdoa, semoga saya bisa segera sembuh dan masih menikmati nikmat hidup yang telah Dia berikan pada saya. "Dear Lord, wipe my tears and blow my pain away. Forgive me for all my sins and make a stairway to be nearer to Thee, Lord."
Saya benar-benar ketakutan.
Memasuki sub-bab dari sistem koordinasi, adalah sistem saraf manusia. Sistem saraf pada manusia terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf pusat berfungsi mengatur dan mengendalikan semua aktivitas tubuh. Otak terdiri dari dua belahan (hemisfer), belahan kiri dan belahan kanan. Kedua belahan dihubungkan oleh balok otak yang berongga berisi cairan getah bening (cerebrospinal). Otak dibagi menjadi tiga daerah, yaitu otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Otak besar (cerebrum) merupakan bagian terluas dari otak berbentuk oval. Otak besar merupakan pusat seluruh aktivitas tubuh, antara lain pernafasan, kesadaran, ingatan, keinginan, kecerdasan, kepribadian, daya cipta, dan lain-lain. Otak tengah (mesenchepalon) memiliki saraf okulomotoris (yang berhubungan dengan pergerakan mata), misalnya mengangkat kelopak mata atau memutar mata. Otak kecil (cerebelum) berfungsi mengatur gerakan otot dan keseimbangan posisi tubuh. Sementara itu sumsum tulang belakang merupakan lanjutan dari medula oblongata terus ke bawah sampai tulang punggung, tepatnya ruas kedua tulang pinggang (canalis centralis vertebrae). Di dalam tulang punggung terdapat sumsum punggung dan cairan cerebrospinal, yang menyerupai cairan yang ada di otak. Sumsum tulang belakang berfungsi sebagai pusat gerak refleks, penghantar impuls dari kulit atau otot ke otak, dan membawa impuls motorik dari otak ke otot tubuh.
Pada sistem saraf tepi, sebenarnya adalah lanjutan dari neuron yang bertugas membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Sistem saraf tepi pada manusia terdiri dari 31 pasang saraf spinal (saraf tulang belakang) dan 12 pasang saraf kranial (saraf kepala). Sistem saraf yang disusun oleh 31 pasang saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang merupakan campuran berbagai saraf. Sistem saraf sumsum tulang belakang berasal dari arah dorsal, sehingga sifatnya sensorik. Berdasarkan asalnya, sumsum tulang belakang dibedakan menjadi 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan 1 pasang saraf ekor.
Sepenggal kalimat yang saya ambil dari rap sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Tashiru dan Kang Ebith Beat A, kurang lebih seperti ini : "Satu bagian terluka, maka bagian yang lain ikut merasakannya". I think it also affects to the coordination system of human. Sore itu saya main Pump it Up di Game Master. Di mode Freestyle lagu Deja Vu dari Som2, saya mengakhiri beat terakhir dengan dua buah center step di kedua pad. Saya pakai kedua tangan saya buat menekan kedua step itu. Ketika jatuh (menekan pad), gaya saya terlihat seperti patung Yesus sang Penebus di Rio de Janeiro dengan kedua tangan merentang, tapi konyolnya kedua tangan terentang karena menekan center step dan saya dalam keadaan 'duduk' bukan 'berdiri'. Kaki saya menghantam lantai cukup keras dan yap, sepertinya saya melukai tulang ekor saya karena duduk di pad yang keras. Selepas bermain saya bahkan masih bisa merasakan rasa sakit itu. Saya salah, seharusnya pada bagian tulang ekor dan pinggang harus lebih dinaikkan untuk mencegah cedera. Seperti halnya dancer senior, mereka bisa menghindari cedera itu. Saya sering lupa akan hal tersebut yang akhirnya melukai diri saya sendiri. Sepulang dari sana, kepala saya terasa sangat pusing. Saya mengelus-ngelus bagian punggung bawah (atas pinggang) dan teringat akan satu hal. Saraf ekor. Saraf yang berhubungan dengan sistem saraf tepi dan pusat. Mulailah saya memikirkan sakit itu. Teringat teman saya ketika SD yang sekarang sudah ada di pangkuan-Nya. Sakit yang dideritanya berhubungan dengan sistem saraf tubuhnya karena hal sepele : temannya menarik kursinya ke belakang jadi dia terjatuh dan melukai tulang ekornya. Dia mengalami sakit yang begitu lama, entah setahun atau dua tahun sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kata-kata ibunya pun masih terngiang di telinga saya, "Jangan main-main sama tulang belakang apalagi tulang ekor".
Malam itu saya menghabiskan malam saya dengan melukis. Lukisan rumah yang terlihat seperti lukisan abstrak, dalam ketakutan, kesedihan, dan kegalauan akan sakit itu datang. Saya tetap merasa sakit di bagian itu, tulang belakang dan tulang ekor. Perlahan merambat ke kepala saya dan mata saya pun seperti tidak bisa menangkap fokus objek dengan baik. Saya mendadak sangat lelah dan beranjak ke tempat tidur. Di atas tempat tidurlah, saya semakin takut karena dihantui sakit itu yang pada akhirnya mengantarkan saya pada satu kata yang menakutkan bagi siapa saja : kematian. Bayangan-bayangan tentang teman saya itu menghantui tidur saya. Tak terasa saya menangis dalam tidur saya. Menangis karena ketakutan itu. Pelajaran biologi pada bab itu benar-benar saya camkan dan saya ketakutan karenanya. Saya tidak takut untuk bermain Pump it Up lagi karena saya menyukainya. Saya hanya takut tak bisa bermain Pump it Up lagi karena kesalahan yang saya buat. Itu saja. Dan saya takut, kejadian yang menimpa teman saya akan saya alami juga. Saya hanya bisa berdoa dan berdoa, semoga saya bisa segera sembuh dan masih menikmati nikmat hidup yang telah Dia berikan pada saya. "Dear Lord, wipe my tears and blow my pain away. Forgive me for all my sins and make a stairway to be nearer to Thee, Lord."
Saya benar-benar ketakutan.
Saturday, June 19, 2010
Not In The Way I'm Exactly
I'm not on my way, I guess I should turn back and see what has been left. So, where have I been into for so long? I'm not getting drunk but I'm driving myself into the wrong way. Seems like I should look back into my map and re-plan my trip.
Turning back to the way I was, when I was in really really the way I was. I had all my weaknesses and my excesses. I wasn't really happy, but at least I was in the way I was which made me comfort. I had no forces, and wasn't forced. I had troubles but I had also my happiness. I saw the both of good things and bad things. I used to stay up until 11 o' clock in the nighttime, wasted my time by editing some pictures, drawing something, crying for something miserable, laughing crazily so pee on bed, doing my damn homeworks, listening to my playlist and at last, doing nothing. The situation wasn't at the best state, but I used to be like that in the situation such a boring life. And I felt no bad of that. I didn't give damn at all.
Things started changing when I had my new life, when everything and everyone changed as I changed myself. I was the bookworm one, the geeky one, a 15 years old boy into classical music, violin, piano, jazz, and Pump it Up. I woke up in the morning and prepared everything for my school. I followed the school rules and became a shit ruled by the rules. I was a nice kid, and obeyed almost everything they said. I preferred to give in and let them win that shit. I slept for approximately 7 hours every night, spent my time for studying or listening to the music or reflecting myself. I prayed so the nightmares wouldn't haunt into my dreams.
But seems like everything has changed a lot so now I'm a 16 years old boy into electro-house (I've been into electro-house for a long time but it's more intense nowadays), flaming cocktail, nightlife, drunkard drinking a dozen glasses of Kamikaze, rascal, skipping school, and disobeying the rules. I sleep lately at 3 o' clock in the morning and I find myself half-awaken at 11 o' clock. I sometimes skip the school and just go somewhere I can belong and have some fun. I dance crazily and hurt myself when I'm hurt. I scream when someone snap me, I rap sarcastically when someone chaff me. Everything has changed, so have I.
But I don't know why. I don't feel like the 'real' Kaz as I used to be. Kazuma wasn't like that. But Kazuma enjoys to be like that. Everything's so wrong but so right. Yep, hot and cold. I think I'm not in the way I am. I didn't use to stay up for that late. I didn't use to go to nightparties or pub, or dance crazily even hurt myself when I was hurt. I don't know what's going on, what's happening in my mind. Random shits fulfills my mind and slowly I'm going to explode. I lose my character and this is not the real me. I've adapted myself into a new environment. But the result of the adaptation doesn't make me comfort. Something's wrong inside. And I don't know what's that.
I try to be myself in my new environment but still I don't feel belong. I'm on A and they're on B, unless I'm on B and follow the B. I realize that I've done something which doesn't describe me in fact. I feel so far from my Lord and I just want to confess all my sins (if I did). The 'new' Kaz isn't always good at all. Just like new technology which connects people from computer to computer. Doesn't it make people meet them easily by talking via chatbox or testimonial box or 'wall'? And it makes people miss something important : Direct (read: Live) Communication, human-to-human. Something new isn't always good at all. And I think I should turn back to where I've been and starting a new trip. Maybe to the same place somewhere I can be happy and live peacefullly, but I'll choose better way(s).
Wishes That Will Never Come True
One of the human basic attitude is never satisfied at all. And sometimes it becomes a nightmare for some people. It also affects my life. As I still consider myself as a human, I realize it and know that something must have been affecting my life.
My life is full of insane ambitions, irrational wishes and illogical expectations. The wishes, the expectations, they keep coming day by day and there start random shits in my mind, keep lingering over and over again like a volcano about to erupt and finally explode like Allegro Vivacissimo. And unfortunately most of them are irrational and illogical expectations. Seems like hoping for a fire in the deep of the blue north Atlantic where Titanic has laid upon the sea floor for more than 90 years. I don't believe that, I've been living with such of crazy wishes like them. And I can't believe that I've made it through (read: nightmares).
The confession will be told here. A large number of insane expectations has been haunting me for a long time. The first is about my family. I'm so sorry but sometimes, I wonder to choose my own family, the members, the lot, the money that will never run down to bankrupt. Just like The Sims, you create your own family, you move them into an empty lot or a new house, you buy the things, you live the life. But life isn't The Sims which enable you to control anything in your hand. God has made it, God has created it, God has planned it. And we're playing on His big drama. No one knows when will he stop from the drama. Everyone has his/her own time to play and quit. But 'The Director' makes it secret. I realize that I should live my life. I know how's that. I know this drama sometimes won't be like I want. Sometimes a protagonist doesn't have a happy scenes or beautiful scenes, instead lives the life with the sadness, sorrow, even disasters. A protagonist sometimes faces great enemies and gotta kick 'em away. That's not an easy thing to do. A protagonist sometimes faces a complicated trouble that mazes their mind. It's not easy to be a protagonist, eventhough the antagonist is also hard to be played.
It may seem kinda selfish thing, choosing your own family. Arrange the members and set the characteristic. Choose the physical identity and cheat the money. Build the house as big as great as fabulous as you want. And then just enjoy the rest time. I know it will never happen. But sometimes, I just want to end these all and find the new one. The new life. How to find the new one?
I don't even know how to answer that. I'm lost in my own mind, drowned in my random shits. Can't breath, like freeze. So I have no idea and lost deeper and deeper. Whereas the wishes and the dreams keep haunting me and scaring me. The envy starts growing up. I'm trapped and don't know what to do. Seems like hanging myself is the last phrase, although I know I won't do that.
Friday, June 18, 2010
Another's Soul in Your Body
"And I feel just like I'm living someone else's life. It’s like I just stepped outside
When everything was going right..." Michael Bublé - Home
When everything was going right..." Michael Bublé - Home
It was my favorite song, and also reminded me to a sad sad memory. They've passed away and left us all in this death-based world. But I'm not gonna talk about the song. Note the sentences above.
Living someone else's life, or at least you're not in the way you're exactly. Seems ironic. You're losing yourself. Where's the real 'you' exactly? And who is living in your corpse actually? Who's controlling your mind and you feel like you're comfort in the way you're recently but it shouldn't happen. You're about to follow the game rules but soon you realize that the game rule is just killing you softly and throwing you away from the game. You do what you like but you know that someone's hurt there by your actions. And you ask to yourself, "Who am I?"
I've felt the same thing. It felt like a reincarnation. After the 'death', I live in someone else's body (human, not animal). I don't feel okay with the new 'corpse' and wish that I can be the way I was. Hard to get used to be like that, just like adapting a camel to live in coniferous Siberian forest. I remembered something : "School teaches you ABC, but environment teaches you the lessons of life". And I saw the great impacts of the lessons. You're friend with a geek, slowly you're about to become a geek. You're friend with a rascal, count it day by day and see how many times you skip the school. I personally describe myself as the introvert one, although the test result told me another story. "Ambivert", yeah I dunno exactly. I described myself as a young boy sitting in a chair of a royal restaurant, enjoying the dinner with the great city view, Cabernet Sauvignon, Fish Sashlik, Salad de Roi, and Chocolate Mousse as the dessert (the description was also based from what-they-said about me). But suddenly, I was forced to describe myself as a drunkard drinking 10 glasses of draught beer, smoking hard like a coal engine, driving the car crazily and ending yourself by hitting another's car. From the educated to the jerk. You must have been crazy.
But that's it. You cannot ignore it once you feel that. Everyone must have felt the same. I've felt that and Thanks God, You've shown me the way I am exactly. So, just try to be yourself. Because you're different with them and you have your own 'trademark' that cannot be 'copied' by the others identically.
Thursday, June 17, 2010
Holiday Plan : Mid 2010, What's Your Destination?
By and by I'm gonna have my holiday. The holiday is estimated to be 2 weeks holiday. So, I gotta prepare for a long long long vacation! T-shirts, shorts, jacket, briefs, iPod, backpack, money even credit card (if necessary), Clinique Happy for Men, music magazines, novels, Sony Ericsson w580i, sneakers, Croc, pairs of socks, Folker cap, Casio Exilim S10, and what else? I guess I've mentioned all the primary items for my holiday but yet I mention one thing, and the most important thing above all.
The Destination!
Where will I go? Let's talk about this first.
I've thought about several holiday destinations. Bali, Yogyakarta, Cirebon, Singapore (and recently I heard a flood in Orchad Road wtf I couldn't get there if so!), Batam, or just stay home.
I asked Dad about our plan, but he thought that Singapore wouldn't be the destination. Well, a bit disappointed but something new just made me shocked for a while. Speechless.
My uncle from Bangkok visited us and would stay for several days (about 10 days). He saw me working on my Tablet PC, my biology thesis (wtf I haven't finished it yet for a long long time!). He approached me and saw my work.
"Biology?"
"Yep.."
"Wow, is that your homework?"
"My assignment before the holiday. Huh.."
"So when is your holiday?"
"Just by and by, maybe next week."
"Did you get any plans?"
"I dunno exactly. Staying home is kinda shit for me. Yeah, I gotta do something or go somewhere. Well, MBK (read : Mahboonkrong) seems interesting for me. I may be able to buy new stuffs and gigs. Nokia X6 seems to be cheaper there."
"Ah, it's just a common shopping center. Like Bandung Supermall or Grand Indonesia."
"But the atmosphere will be so much different."
"So why don't you join me go back to Bangkok?"
I became speechless for a while. Laughed simply and yelled,
"Why not?!! CAN I GO TO BANGKOK?!!"
I jumped happily.
Friday, June 11, 2010
Copied from Tessa's blog : Cross Out The Things You Have Done
What should be done when finally find out nothing else to do after copying some files and doing those damn homeworks? Looking at the notification bar on the top of Facebook page and it doesn't show anything but rigid icons? I log in to my blog and see the blogroll. Tessa had posted something interesting for me. Why is so interesting? Cuz I have nothing to do.
Copied and pasted here, you should see my answers :D
Tessa's answers > here!
Graduated High School.
Kissed someone.
Smoked cigarettes.Got so drunk you passed out.
Rode every ride at an amusement park.
Collected something really stupid.
Gone to a rock concert.
Helped someone.
Gone fishing.
Watched four movies in one night.
Gone long periods of time with out sleep.
Lied to someone.
Snorted cocaine.
Failed a class.
Smoked weed.
Dealt drugs.
Taken a college level course.
Been in a car (motorcycle) accident.
Been in a tornado.
Done hard drugs (i.e. ecstasy, heroin, crack, meth, acid).
Watched someone die.
Been to a funeral.
Burned yourself accidentally.
Ran a marathon.
Your parents got divorced.
Cried yourself to sleep.
Spent over £200 in one day.
Flown on a plane.
Cheated on someone.
Been cheated on.
Written a 10 page letter.
Gone skiing. (snowboarding)
Been sailing.
Cut yourself. {accidentally}
Had a best friend.
Lost someone you loved.
Shoplifted something.
Been to jail.
Dangerously close to being in jail.
Had detention.
Skipped school.
Got in trouble for something you didn’t do.
Stolen books from the library.
Gone to a different country.
Dropped out of school.
Been in a mental hospital.
Watched the “Harry Potter” movies.
Had an online diary.
Fired a gun.
Gambled in a casino.
Had a yard sale.
Had a lemonade stand.
Actually made money at the lemonade stand.
Been in a school play.
Been fired from a job.
Taken a lie detector test.
Swam with dolphins.
Gone to sea world.
Voted for someone on a reality TV show.
Written poetry.
Read more than 20 books a year.
Gone to Europe.
Loved someone you couldn’t have.
Wondered about your sexuality.
Used a coloring book over age 12.
Had surgery.
Had stitches.
Taken a taxi.
Seen the Washington Monument.
Had more than 5 IM’s/online conversations going at once.
Overdosed.
Had a drug oralcohol problem.
Been in a fist fight.
Suffered any form of abuse.
Had a hamster.
Petted a wild animal.
Used a credit card.
Gone surfing in California.
Did “spirit day” at school.
Dyed your hair.
Got a tattoo.
Had something pierced.
Got straight A’s.
Been on the Honor Roll.
Known someone with HIV or AIDS.
Taken pictures with a webcam.
Started a fire.
Gotten caught having a party while parents were gone away.
Copied and pasted here, you should see my answers :D
Tessa's answers > here!
Graduated High School.
Kissed someone.
Smoked cigarettes.
Watched four movies in one night.
Snorted cocaine.
Smoked weed.
Dealt drugs.
Been in a tornado.
Done hard drugs (i.e. ecstasy, heroin, crack, meth, acid).
Watched someone die.
Your parents got divorced.
Spent over £200 in one day.
Been cheated on.
Written a 10 page letter.
Gone skiing. (snowboarding)
Been sailing.
Lost someone you loved.
Shoplifted something.
Been to jail.
Dangerously close to being in jail.
Had detention.
Got in trouble for something you didn’t do.
Stolen books from the library.
Dropped out of school.
Been in a mental hospital.
Had an online diary.
Fired a gun.
Had a yard sale.
Actually made money at the lemonade stand.
Been fired from a job.
Taken a lie detector test.
Swam with dolphins.
Voted for someone on a reality TV show.
Written poetry.
Read more than 20 books a year.
Gone to Europe.
Wondered about your sexuality.
Had surgery.
Had stitches.
Seen the Washington Monument.
Overdosed.
Had a drug or
Been in a fist fight.
Had a hamster.
Petted a wild animal.
Used a credit card.
Gone surfing in California.
Did “spirit day” at school.
Got a tattoo.
Had something pierced.
Been on the Honor Roll.
Known someone with HIV or AIDS.
Started a fire.
Gotten caught having a party while parents were gone away.
Monday, June 7, 2010
Tenggelam dan Hilang
Matahari semakin condong ke arah barat, dengan sudut istimewanya menciptakan efek spektakular di permukaan air laut yang berkilauan. Bayangan tubuhku di lantai kayu terlihat memanjang, seolah aku bertambah tinggi. Penipuan alami yang mengagumkan. Aku tak pernah membayangkan diriku setinggi itu, jika tinggi bayangan dan tinggi diriku dalam kenyataan adalah sama. Suara mesin yang terdengar cukup berisik walaupun aku berada jauh diatas mesin tersebut, namun menyisakan raungan dari asap tebal berwarna hitam yang dihubungkan dari mesin diesel di dek terbawah menuju pipa-pipa pembuangan dan berakhir dengan kepulan bak pukulan tinju dari cerobong asap. Ya, aku berada di atas mesin ini. Mesin yang tak lain hanya diselubungi cat berwarna putih dengan segala kemewahan yang ada di atasnya. Mesin yang mengantarkan orang dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan harapan di tempat tujuannya. Mesin yang menjadi kebanggaan dan ketakutan tersendiri bagi mereka yang fobia air. Aku tahu, sewaktu-waktu mesin ini bisa menidurkan dirinya di laut dalam sana dan akhirnya mereka yang fobia akhir bisa mati karena ketakutannya.
Aku berdiri disini. Sore ini angin laut bertiup agak kencang. Kurasa aku harus segera menyisir rambutku sesampainya di kabin. Agak dingin, dan sesekali air laut mengenai pipiku. Membayangkan usaha butiran-butiran air laut itu melawan gravitasi hingga akhirnya dapat mencapai pipiku, yang berada di ketinggian sekitar 4 atau 5 lantai dari permukaan laut. Usaha yang menakjubkan. Ditanganku, sebuah kotak musik tua tengah memainkan tonalisasi Für Elise yang sebentar lagi akan selesai. Kotak musik tua itu terlihat usang, namun begitu berkesan dan menyimpan sangat banyak kenangan. Bukan, terlalu banyak. Sehingga tak sanggup untuk kututup. Kayunya mulai longgar. Setitik cahaya dapat menembus celah diantara kayu yang longgar, memperlihatkanku cara pemukul-pemukul kecil secara mekanik memukul bilah-bilah besi kecil, mengeluarkan suara yang merdu. Sesekali aku harus memutar tuasnya lagi. Klasik dan sangat manual. Lagu itu membawaku kepada ingatanku beberapa waktu yang lalu. Kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Kenangan indah yang menyedihkan. Ironis.
Beberapa awak kapal melihatku dengan pandangan curiga. Tepat, aku tak seharusnya berada di dek sendirian. Sempat kudengar peraturan bahwa anak-anak dilarang berpergian ke beberapa titik rawan sendirian, termasuk dek haluan ini. Entah apa yang berbahaya tapi aku tidak melihat banyak bahaya disini. Ya mungkin akan lain ceritanya jika aku disini untuk meloncat turun ke laut. Dan sialnya dengan postur tubuhku yang kecil, kurasa mereka akan mengira bahwa aku seharusnya dititipkan di tempat penitipan anak-anak selama para orangtua menghadiri perjamuan makan malam. Tapi aku disini, di dek haluan ini, sesekali menginjak lantai kayu kapal yang berbunyi cukup keras setiap kuhentakkan kakikku. Mencoba menghapusnya. Ingatan itu, luka itu, semuanya. Kenangan indah yang mengorek lukaku begitu dalam. Semakin kutarik tuasnya, semakin lukaku terkorek dengan keras. Aku tak bisa menghentikannya. Terlalu indah untuk dihentikan, namun aku pun tak bisa tinggal dalam kesakitan ini. Meringis perlahan ketika angin laut terasa begitu dingin, dan begitu lincah menembus jaket jeans berwarna hitam, dan lagi-lagi menyelinap melewati pori-pori kecil di sweat-shirt berwarna kuning bertuliskan 'Lois', kemudian melewati kaus lengan panjangku bahkan dengan sempurnanya menusuk tulangku. Dingin. Ya, dingin. Lukaku semakin terasa sakit. Mataku terhalang rambutku, sepintas terlihat seperti emo karena poninya yang menutupi mata sisi kananku. Angin laut sore ini benar-benar mengubah diriku. Gaya rambutku bisa berubah secara alami setiap kali ia menabrak setiap helai rambutku.
"Sudah, Klaus.."
Aku sudah jauh tenggelam dalam rintihan lagu dari kotak musik itu.
"Klaus.. Sudah selesai. Bangun."
Kurasa kali ini aku sedang terduduk, tidak lagi berdiri. Kurasakan punggungku bersandar pada sesuatu. Ya, ini pinggiran dek. Aku memang sedang terduduk lemas. Mataku tertutup, dan sesekali terdengar aku meringis pelan. Seperti ketika jarimu teriris pisau, perih seperti itulah yang terasa. Namun ini lebih daripada teriris pisau atau tertusuk jarum ketika menjahit.
"Klaus! Dewasalah!!"
Prak!! Dia menutup kotak musiknya. Lagu itu berhenti, dan sekarang aku benar-benar terbangun.
"Kakak?"
"Dewasa!! Kamu ngga bisa kaya gini terus!!"
Kakak mengambil kotak musik itu dari tanganku dan aku benar-benar terkejut. Kalian harus melihat ekspresi wajahku ketika kotak kayu mungil itu terlepas dari genggamanku. Bukan seperti seseorang yang bodoh ketika dia menyadari bahwa dia membakar dompetnya sendiri, tapi lebih terlihat seperti seseorang yang seolah-olah menemui ajal di depannya. Ditengah-tengah ketakutan dan keterkejutan.
"Balikin ka!!"
"Ngga!! Ga akan kakak kembaliin kotak ini!!"
"Kembaliin kak, itu punya adek!!"
"Kotak ini cuma bikin kamu gila! Bangun dan sadar, kamu ga bisa kaya gini terus!! Kamu ga dewasa tau ga!!"
"Please kak.. Hhkk.. Kembaliin kotak musik adek.. Hhkkk.."
Aku mulai menangis. Perlahan aku sadar, aku memang masih kecil. Itu sebabnya awak kapal itu memandangku curiga. Aku memang masih kecil.
"Berhenti nangis."
"Hhhkk..."
"Ga usah sesegukan terus. Kamu ngga akan bisa mengubah semuanya yang udah terjadi. Itu takdirnya."
"Kakak emang jahat. Ga punya hati.."
"Kenapa? Kenapa kamu bilang kakak jahat?"
"Karena kakak ngambil kotak itu dari tangan adek. Kakak salahkan ade kalo ade kaya gini. Kakak ga pernah ngerasain rasanya jadi adek.. Hkk.."
"Sekarang kamu ngelukai diri kamu sendiri dengan kamu kaya gini. Kamu juga bikin cukup banyak orang khawatir karena kesedihan kamu yang secara ekstrim bikin orang lain bener-bener iba sama kamu. Mereka terus ngulurin tangan buat bantu kamu tapi kamu sendiri ga mau nerima tangan mereka! Kamu tau kamu terluka, tapi kamu malahan bikin luka kamu makin parah! Sekarang siapa yang lebih jahat?!"
"Kakak!! Kakak jahat sama adek!"
"Dan kamu sendiri jahat sama diri kamu sendiri! Apa itu ngga tolol?!! Kamu emang tolol dek!!"
Air mataku terhenti tiba-tiba. Tangan kiriku menerima impuls improptu sehingga secara spontan meraih dan mencengkram keras kerah baju kakakku. Kepalan tanganku sudah hampir mengenai wajahnya. Aku meringis, kemudian sedikit berteriak. Berteriak kesal dan marah. Puncak ledakannya ada di 5 jari tanganku yang kukepalkan erat-erat sepenuh tenaga.
"Apa?!! Hajar aja hajar!! Kakak ngga takut dipukul ato dihajar sama orang tolol yang ngancurin dirinya sendiri dan nyalahin dirinya karena kesalahan yang bukan dia lakukan! Kakak bahkan ngerasa lucu kalo dihajar sama orang tolol yang masih mengharapkan sesuatu yang udah rusak bakal kembali lagi!! Sesuatu yang udah mati buat hidup lagi!!"
Cengkramanku semakin keras. Dua bocah cina ini terperangkap dalam perang dingin yang sebentar lagi berubah menjadi adu jotos. Tapi perlahan cengkramanku melemah, tangan kananku terjatuh tiba-tiba. Aku merasa diriku sangat lemas, seperti menggendong sebuah grand piano besar. Dan lagi, butiran air menetes dari mataku.
Aku berhasil berdiri, melihat ke arah lautan lepas. Degradasi warna di langit yang membuatku tercengang. Terima kasih Tuhan, aku masih sempat melihat kebesaranMu selagi aku dalam kesedihan ini. Sedikit menyamakan dengan film Titanic, dimana Rose muda yang cantik mencoba terbang. Namun sayangnya, kami tak terlihat seperti pasangan mesra tersebut di bagian paling depan haluan. Kami hanyalah kakak adik, menghadap ke sisi kanan kapal, tepat dimana saat kapal menabrak gunung es itu.
"Kenapa harus gini ka.."
"Kakak tau itu bukan yang kamu inginkan. Tapi dengan kamu memaksakan terus kaya gitu, kamu nyakitin diri kamu sendiri. Kepergiannya justru membuat kamu bisa bernafas kan? Kakak tau beban yang kamu angkut waktu dulu. Dan kakak juga tau banyak kenangan yang udah kamu buat kan? Kotak musik ini salah satu saksinya kan? Saksi bisu kenangan-kenangan kalian?"
"Adek terlalu sayang sama dia kak.. Ade ngebiarin diri adek sendiri sakit."
"Pengorbanan kamu terlalu besar. Kamu rela tersakiti, karena cinta kamu terlalu murni."
"Sekarang semuanya udah selesai kak."
"Yah, kalian sudah di jalan kalian masing-masing. Dek, kamu tau ga apa dia sekarang lagi mikirin kamu ato ngga? Kamu yakin dia mikirin kamu? Kamu masih yakin bahwa dia masih sayang sama kamu? Kamu belajar ngga dari pengalaman-pengalaman sebelumnya? Kesalahan-kesalahan yang dia buat, apa ngga jadi bukti buat kamu?"
"Adek sakit kak digituin, tapi ade sendiri.."
"Ya karena cinta ade terlalu murni buat dia. Sekarang itu udah selesai dek. Kakak ngga mau kamu terus-terusan luka kaya gini. Dek, hidup kamu masih panjang ke depan. Kakak masih pengen ngeliat kamu bahagia sama seseorang yang bisa lebih baik nanti. You should haven't been frustated like this. Your life must go on, no matter how hard it is. Kenangan itu ngga akan ilang dek karena seburuk apapun kenangan tapi ingatan kita senantiasa menyimpan kenangan-kenangan itu di memorinya. Dan kamu akan terus membuat kenangan-kenangan yang lain, yang baru, yang senantiasa bakalan ngewarnai hidup kamu. Kamu sudah cukup terkekang dengan semuanya dek. Kamu butuh kebebasan tapi kamu tetap di luka yang sama yang semakin membusuk. Waktunya kamu bangkit, pergi dan buang luka itu, lanjutkan hidup kamu. Kenangan yang kamu punya itu indah, walaupun menyakitkan. Biarkan kenangan itu dek, biarkan dia di memori kamu dek. Jangan terus kamu buka kenangan itu, karena kamu harus membuat yang baru."
"Will you help me get up?"
"Of course."
"And.. why didn't you hit me back when I was to hit you on your face?"
"Because I'm your brother. I'm elder that you, and I should have known more things than you."
"Well.. thanks."
"Okay Klaus, get up. Arghh.. badan kamu berat juga dek."
"Hahaha iya. Lagi sering makan sekarang-sekarang ini."
"Pantesan agak gemukan, hehehe. Tapi belum chubby pipinya."
"Dasar kakak. Pasti cara bahan buat ditarik-tarik."
"Ohya, ini kotak musiknya."
"Eh, iya ka. Thanks.."
Sial. Tanganku terlalu licin. Aku tak bisa menjaganya. Kotak itu sempat terbuka dan memainkan melodi awal lagu Für Elise yang semakin mengecil suaranya selagi kotak itu terjun bebas ke lautan. Aku menjatuhkannya. Sejenak aku terdiam.
"I dropped it.. I dropped it."
"It's okay, Klaus. You've backed up your memories here, in your heart."
"Can I restore it some time?"
"Yeah. But, remember that you should make the new ones.."
Selamat tinggal, kotak musik tua. Kini dia terbenam bersama seluruh kenangan indah yang menyakitkan itu. Aku tak melihatnya lagi muncul dipermukaan. Berat karena isinya yang merupakan bilah-bilah besi. Massa jenis besi lebih besar daripada massa jenis air sehingga besi akan tenggelam. Itu sudah hukum alam. Aku berjalan menuju kabinku bersama kakakku. Dia menyelamatkanku hari ini. Hampir aku berfikir untuk melompat dari pesiar mewah ini, sehingga tak lama wajahku akan muncul di berita utama koran : Bocah Kecil Tewas Tenggelam Dari Kapal Pesiar. Aku takkan sebodoh itu. Aku takkan menghabisinya karena ini. Kata-kata kakakku begitu berarti. Aku takkan mengecewakan semuanya yang mencoba mengeluarkanku dari sumur tua ini. Aku akan terus melangkah. Ya, melangkah. Membuat kenangan-kenangan baru.
Luka itu telah pergi. Aku terbebas dan sembuh dari luka itu, namun aku akan merindukannya.
Aku berdiri disini. Sore ini angin laut bertiup agak kencang. Kurasa aku harus segera menyisir rambutku sesampainya di kabin. Agak dingin, dan sesekali air laut mengenai pipiku. Membayangkan usaha butiran-butiran air laut itu melawan gravitasi hingga akhirnya dapat mencapai pipiku, yang berada di ketinggian sekitar 4 atau 5 lantai dari permukaan laut. Usaha yang menakjubkan. Ditanganku, sebuah kotak musik tua tengah memainkan tonalisasi Für Elise yang sebentar lagi akan selesai. Kotak musik tua itu terlihat usang, namun begitu berkesan dan menyimpan sangat banyak kenangan. Bukan, terlalu banyak. Sehingga tak sanggup untuk kututup. Kayunya mulai longgar. Setitik cahaya dapat menembus celah diantara kayu yang longgar, memperlihatkanku cara pemukul-pemukul kecil secara mekanik memukul bilah-bilah besi kecil, mengeluarkan suara yang merdu. Sesekali aku harus memutar tuasnya lagi. Klasik dan sangat manual. Lagu itu membawaku kepada ingatanku beberapa waktu yang lalu. Kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Kenangan indah yang menyedihkan. Ironis.
Beberapa awak kapal melihatku dengan pandangan curiga. Tepat, aku tak seharusnya berada di dek sendirian. Sempat kudengar peraturan bahwa anak-anak dilarang berpergian ke beberapa titik rawan sendirian, termasuk dek haluan ini. Entah apa yang berbahaya tapi aku tidak melihat banyak bahaya disini. Ya mungkin akan lain ceritanya jika aku disini untuk meloncat turun ke laut. Dan sialnya dengan postur tubuhku yang kecil, kurasa mereka akan mengira bahwa aku seharusnya dititipkan di tempat penitipan anak-anak selama para orangtua menghadiri perjamuan makan malam. Tapi aku disini, di dek haluan ini, sesekali menginjak lantai kayu kapal yang berbunyi cukup keras setiap kuhentakkan kakikku. Mencoba menghapusnya. Ingatan itu, luka itu, semuanya. Kenangan indah yang mengorek lukaku begitu dalam. Semakin kutarik tuasnya, semakin lukaku terkorek dengan keras. Aku tak bisa menghentikannya. Terlalu indah untuk dihentikan, namun aku pun tak bisa tinggal dalam kesakitan ini. Meringis perlahan ketika angin laut terasa begitu dingin, dan begitu lincah menembus jaket jeans berwarna hitam, dan lagi-lagi menyelinap melewati pori-pori kecil di sweat-shirt berwarna kuning bertuliskan 'Lois', kemudian melewati kaus lengan panjangku bahkan dengan sempurnanya menusuk tulangku. Dingin. Ya, dingin. Lukaku semakin terasa sakit. Mataku terhalang rambutku, sepintas terlihat seperti emo karena poninya yang menutupi mata sisi kananku. Angin laut sore ini benar-benar mengubah diriku. Gaya rambutku bisa berubah secara alami setiap kali ia menabrak setiap helai rambutku.
"Sudah, Klaus.."
Aku sudah jauh tenggelam dalam rintihan lagu dari kotak musik itu.
"Klaus.. Sudah selesai. Bangun."
Kurasa kali ini aku sedang terduduk, tidak lagi berdiri. Kurasakan punggungku bersandar pada sesuatu. Ya, ini pinggiran dek. Aku memang sedang terduduk lemas. Mataku tertutup, dan sesekali terdengar aku meringis pelan. Seperti ketika jarimu teriris pisau, perih seperti itulah yang terasa. Namun ini lebih daripada teriris pisau atau tertusuk jarum ketika menjahit.
"Klaus! Dewasalah!!"
Prak!! Dia menutup kotak musiknya. Lagu itu berhenti, dan sekarang aku benar-benar terbangun.
"Kakak?"
"Dewasa!! Kamu ngga bisa kaya gini terus!!"
Kakak mengambil kotak musik itu dari tanganku dan aku benar-benar terkejut. Kalian harus melihat ekspresi wajahku ketika kotak kayu mungil itu terlepas dari genggamanku. Bukan seperti seseorang yang bodoh ketika dia menyadari bahwa dia membakar dompetnya sendiri, tapi lebih terlihat seperti seseorang yang seolah-olah menemui ajal di depannya. Ditengah-tengah ketakutan dan keterkejutan.
"Balikin ka!!"
"Ngga!! Ga akan kakak kembaliin kotak ini!!"
"Kembaliin kak, itu punya adek!!"
"Kotak ini cuma bikin kamu gila! Bangun dan sadar, kamu ga bisa kaya gini terus!! Kamu ga dewasa tau ga!!"
"Please kak.. Hhkk.. Kembaliin kotak musik adek.. Hhkkk.."
Aku mulai menangis. Perlahan aku sadar, aku memang masih kecil. Itu sebabnya awak kapal itu memandangku curiga. Aku memang masih kecil.
"Berhenti nangis."
"Hhhkk..."
"Ga usah sesegukan terus. Kamu ngga akan bisa mengubah semuanya yang udah terjadi. Itu takdirnya."
"Kakak emang jahat. Ga punya hati.."
"Kenapa? Kenapa kamu bilang kakak jahat?"
"Karena kakak ngambil kotak itu dari tangan adek. Kakak salahkan ade kalo ade kaya gini. Kakak ga pernah ngerasain rasanya jadi adek.. Hkk.."
"Sekarang kamu ngelukai diri kamu sendiri dengan kamu kaya gini. Kamu juga bikin cukup banyak orang khawatir karena kesedihan kamu yang secara ekstrim bikin orang lain bener-bener iba sama kamu. Mereka terus ngulurin tangan buat bantu kamu tapi kamu sendiri ga mau nerima tangan mereka! Kamu tau kamu terluka, tapi kamu malahan bikin luka kamu makin parah! Sekarang siapa yang lebih jahat?!"
"Kakak!! Kakak jahat sama adek!"
"Dan kamu sendiri jahat sama diri kamu sendiri! Apa itu ngga tolol?!! Kamu emang tolol dek!!"
Air mataku terhenti tiba-tiba. Tangan kiriku menerima impuls improptu sehingga secara spontan meraih dan mencengkram keras kerah baju kakakku. Kepalan tanganku sudah hampir mengenai wajahnya. Aku meringis, kemudian sedikit berteriak. Berteriak kesal dan marah. Puncak ledakannya ada di 5 jari tanganku yang kukepalkan erat-erat sepenuh tenaga.
"Apa?!! Hajar aja hajar!! Kakak ngga takut dipukul ato dihajar sama orang tolol yang ngancurin dirinya sendiri dan nyalahin dirinya karena kesalahan yang bukan dia lakukan! Kakak bahkan ngerasa lucu kalo dihajar sama orang tolol yang masih mengharapkan sesuatu yang udah rusak bakal kembali lagi!! Sesuatu yang udah mati buat hidup lagi!!"
Cengkramanku semakin keras. Dua bocah cina ini terperangkap dalam perang dingin yang sebentar lagi berubah menjadi adu jotos. Tapi perlahan cengkramanku melemah, tangan kananku terjatuh tiba-tiba. Aku merasa diriku sangat lemas, seperti menggendong sebuah grand piano besar. Dan lagi, butiran air menetes dari mataku.
Aku berhasil berdiri, melihat ke arah lautan lepas. Degradasi warna di langit yang membuatku tercengang. Terima kasih Tuhan, aku masih sempat melihat kebesaranMu selagi aku dalam kesedihan ini. Sedikit menyamakan dengan film Titanic, dimana Rose muda yang cantik mencoba terbang. Namun sayangnya, kami tak terlihat seperti pasangan mesra tersebut di bagian paling depan haluan. Kami hanyalah kakak adik, menghadap ke sisi kanan kapal, tepat dimana saat kapal menabrak gunung es itu.
"Kenapa harus gini ka.."
"Kakak tau itu bukan yang kamu inginkan. Tapi dengan kamu memaksakan terus kaya gitu, kamu nyakitin diri kamu sendiri. Kepergiannya justru membuat kamu bisa bernafas kan? Kakak tau beban yang kamu angkut waktu dulu. Dan kakak juga tau banyak kenangan yang udah kamu buat kan? Kotak musik ini salah satu saksinya kan? Saksi bisu kenangan-kenangan kalian?"
"Adek terlalu sayang sama dia kak.. Ade ngebiarin diri adek sendiri sakit."
"Pengorbanan kamu terlalu besar. Kamu rela tersakiti, karena cinta kamu terlalu murni."
"Sekarang semuanya udah selesai kak."
"Yah, kalian sudah di jalan kalian masing-masing. Dek, kamu tau ga apa dia sekarang lagi mikirin kamu ato ngga? Kamu yakin dia mikirin kamu? Kamu masih yakin bahwa dia masih sayang sama kamu? Kamu belajar ngga dari pengalaman-pengalaman sebelumnya? Kesalahan-kesalahan yang dia buat, apa ngga jadi bukti buat kamu?"
"Adek sakit kak digituin, tapi ade sendiri.."
"Ya karena cinta ade terlalu murni buat dia. Sekarang itu udah selesai dek. Kakak ngga mau kamu terus-terusan luka kaya gini. Dek, hidup kamu masih panjang ke depan. Kakak masih pengen ngeliat kamu bahagia sama seseorang yang bisa lebih baik nanti. You should haven't been frustated like this. Your life must go on, no matter how hard it is. Kenangan itu ngga akan ilang dek karena seburuk apapun kenangan tapi ingatan kita senantiasa menyimpan kenangan-kenangan itu di memorinya. Dan kamu akan terus membuat kenangan-kenangan yang lain, yang baru, yang senantiasa bakalan ngewarnai hidup kamu. Kamu sudah cukup terkekang dengan semuanya dek. Kamu butuh kebebasan tapi kamu tetap di luka yang sama yang semakin membusuk. Waktunya kamu bangkit, pergi dan buang luka itu, lanjutkan hidup kamu. Kenangan yang kamu punya itu indah, walaupun menyakitkan. Biarkan kenangan itu dek, biarkan dia di memori kamu dek. Jangan terus kamu buka kenangan itu, karena kamu harus membuat yang baru."
"Will you help me get up?"
"Of course."
"And.. why didn't you hit me back when I was to hit you on your face?"
"Because I'm your brother. I'm elder that you, and I should have known more things than you."
"Well.. thanks."
"Okay Klaus, get up. Arghh.. badan kamu berat juga dek."
"Hahaha iya. Lagi sering makan sekarang-sekarang ini."
"Pantesan agak gemukan, hehehe. Tapi belum chubby pipinya."
"Dasar kakak. Pasti cara bahan buat ditarik-tarik."
"Ohya, ini kotak musiknya."
"Eh, iya ka. Thanks.."
Sial. Tanganku terlalu licin. Aku tak bisa menjaganya. Kotak itu sempat terbuka dan memainkan melodi awal lagu Für Elise yang semakin mengecil suaranya selagi kotak itu terjun bebas ke lautan. Aku menjatuhkannya. Sejenak aku terdiam.
"I dropped it.. I dropped it."
"It's okay, Klaus. You've backed up your memories here, in your heart."
"Can I restore it some time?"
"Yeah. But, remember that you should make the new ones.."
Selamat tinggal, kotak musik tua. Kini dia terbenam bersama seluruh kenangan indah yang menyakitkan itu. Aku tak melihatnya lagi muncul dipermukaan. Berat karena isinya yang merupakan bilah-bilah besi. Massa jenis besi lebih besar daripada massa jenis air sehingga besi akan tenggelam. Itu sudah hukum alam. Aku berjalan menuju kabinku bersama kakakku. Dia menyelamatkanku hari ini. Hampir aku berfikir untuk melompat dari pesiar mewah ini, sehingga tak lama wajahku akan muncul di berita utama koran : Bocah Kecil Tewas Tenggelam Dari Kapal Pesiar. Aku takkan sebodoh itu. Aku takkan menghabisinya karena ini. Kata-kata kakakku begitu berarti. Aku takkan mengecewakan semuanya yang mencoba mengeluarkanku dari sumur tua ini. Aku akan terus melangkah. Ya, melangkah. Membuat kenangan-kenangan baru.
Luka itu telah pergi. Aku terbebas dan sembuh dari luka itu, namun aku akan merindukannya.
Saturday, June 5, 2010
Eaten By Those Thoughts
I should have realized it and known it from the start but why did I ignore that?
Firstly, you might ignore this or think that this is kinda shit crapping the homepage. Whatever it will be, I don't care. I just write it. I didn't speak anything, my feelings did.
And hell well, I'm so glad to know you guys and yeah I can recognize you from the far (how could? does the sixth sense work on me?). Flashing back to where and when I told you that we were from different places, ideas, genres, or whatever it is. We could together make something new, better, we just could make it. Kinda break a leg. But seems like I'm being eaten by my thoughts, kinda damn hypocrite : "We're different. We won't make it."
I'm like this, and you guys are like that.
Disuruh Tidur
Baru mau bikin postingan sudah disuruh tidur.
Yasudah deh nge-postnya besok saja. Hari ini Kazu tidur dulu.
Tadi lelah keliling-keliling Pasar Baru sama ibu dan ayah, dibelikan celana jeans pendek warna hitam, dan tentunya "Kucing Dalam Karung".
Jadi bingung mau bilang apa lagi.
Yasudah selamat begadang bagi mereka yang menderita insomnia, semoga lekas tidur.
Yasudah selamat begadang bagi mereka yang menderita insomnia, semoga lekas tidur.
Bagi anda yang masih bekerja, semoga lekas selesai.
Yasudah dan bagi anda yang bermimpi buruk, semoga lekas bangun.
Terima kasih,
Sampai jumpa di episode berikutnya!
Subscribe to:
Posts (Atom)