Translate This Page

Thursday, January 12, 2012

Bermain Di Kebun Binatang

Wah, senangnya! Akhirnya kemarin ini sempat bermain ke Kebun Binatang Bandung, arena rekreasi yang terakhir kali saya kunjungi waktu saya SD. Bermodalkan nekat nerjang hujan dan niat dadakan, akhirnya tim penyelamat hewan yang beranggotakan Go, Diego Go! alias saya sendiri, Amalia Dwi Explorer, Dea Ananda, Hadi No Smoking, dan Fath Less Do More ini pergi ke kebun binatang setelah ngambil kartu FRS dan nunggu jadwal dosen PA yang ternyata belum ada. Menaiki angkot hijau legendaris Cicaheum-Ledeng, kami akhirnya sampai di kebun binatang yang rupanya nggak begitu ramai sama pengunjung. Dengan begini, si Amel bisa lebih menghayati perjumpaannya dengan kerabat sangat jauhnya (eh?)


Bermodalkan uang lima belas ribu rupiah aja, anda sudah bisa mendapatkan tiket masuk monokrom bergambar macan ini! Hebat kan? *biasa aja sih sebenernya* Tapi ya sudahlah toh macannya aja nggak protes. Nah, sampai di kebun binatang, rupanya ada banyak yang berubah, dari mulai exhibit sampai environmental design. Yang pertama kita datangi adalah kandang beruang madu. Oh, tiba-tiba saya inget Winnie The Pooh...


Rupanya waktu datang, beruang yang ada di exhibit jumlahnya sedikit. Kemanakah beruang-beruang itu pergi? Kan nggak mungkin beruangnya pergi sebentar buat main ke CiWalk. Itu fiksional sekali, ah tapi gapapa bagus juga beruang butuh hiburan juga kan? *ngomong apa saya ini*


Beres mengunjungi Pooh, saya sama teman-teman mengunjungi kandang buaya. Oh, lihatlah para buaya darat ini yang sering menipu hati para wanita, termasuk Mulan Kwok dan Maia Estianti dari Ratu (loh?). Buaya-buaya yang kelihatannya jinak padahal galak itu sedang bersantai, berjemur di pinggir kolam. Dan yang mengejutkan, di dekat tembok pembatas exhibit buaya, ada sebuah sepatu bayi yang tergeletak begitu saja!


Pertanyaan saya sama teman-teman adalah, apa yang terjadi dengan bayi ini? Apakah ada orangtuanya yang jahat lalu melempar bayi tak berdosa ini ke kandang buaya untuk dimakan? Atau bayinya yang galau lalu bunuh diri dan sendalnya nyangkut dan jatuh? Atau bayi yang dilempar orangtuanya untuk diadopsi dan diasuh oleh buaya tersebut dan berubah menjadi buaya setelah meminum ramuan Polyjuice? Ini merupakan misteri Ilahi rupanya. Ah sudahlah, akhirnya kami capcus ke kandang berikutnya. Langsung kami main-main ke area reptil, lihat kura-kura yang berlibur ala kaum jetset, komodo galau, lihat-lihat ular yang sebenarnya saya nggak suka dan nggilani ngeliatnya. Lalu pergi juga ke aviary, lihat-lihat burung yang aneh-aneh sampai warna-warni.











Dan akhirnya tibalah kami di kandang primata. Saya nggak mau banyak komentar disini. Pokoknya rasa haru melihat teman saya akhirnya bisa bertemu saudara jauhnya bercampur dengan kekaguman karena ada seorang bapak-bapak yang bisa ngomong sama monyet. Sayangnya si bapak itu nggak difoto.





Di penangkaran primata ini, banyak primata-primata yang tinggal sendirian. Kasihan, apalagi ada yang galau ingin punya teman sekandang. Seharusnya pengurus kebun binatang bisa lebih memperhatikan kondisi hewan-hewan yang ada disini. Banyak hewan-hewan yang sepertinya ditinggal mati teman sekandangnya, jadinya galau dan kesepian ala Vierra. Ada juga hewan yang galau karena kandangnya udah nggak terawat dengan baik. Kasihan pokonya. Nggak aneh makanya kenapa ada burung-burung yang bisa lepas dari kandangnya dan kabur ke alam bebas.

Setelah puas melihat primata, kami jalan-jalan ke area kandang hewan-hewan karnivora super sekali ala Mario Teguh. Rupanya, ada harimau yang sedang galau, singa yang galau, dan juga macan yang galau. Yah, kalau semua hewan pada galau, nanti siapa yang jadi macan Biskuat? (eh?)




Hewan-hewan sudah pada difoto, dan tentunya photo-session untuk makhluk Tuhan yang namanya manusia juga nggak bisa dilewatkan. Kebanyakan yang nangkring di album foto itu Dea Ananda dan Amalia Dwi Explorer.

Siapa luwaknya? Yang kanan atau yang kiri? *nahloh*



























Dan ada hal seru lainnya! Ketika naik perahu, awalnya Hadi dan Fath malas buat ikutan. Tapi, yah sekedar naik perahu dengan tiket tiga ribu aja per orang, akhirnya mereka ikut naik perahu dan keliling-keliling danau kecil. Di tengah danau, ada dua buah pulau dengan primata yang berhabitat disana. Cukup rame juga hiburan naik perahu ini, karena di UPI gak ada perahu dan keliling danau. Ketika selesai dan perahu udah kembali ke dock, si Hadi tiba-tiba lompat dari perahu dan menyebabkan perahu oleng dan hampir kebalik! Benar-benar fantastis, spektakular, bombastis, mutakhir, faktual, dan (tidak) berimbang, seperti kata Om Tukul!

Wah koleksi fotonya rupanya masih banyak, tapi pasti lama kalau di-upload semua. Itulah laporan kami dari Kebun Binatang Bandung dengan hingar bingarnya hewan disana sini. Saya Klaus Rachman, melaporkan!

Tuesday, January 10, 2012

Hidayah Nggak Bisa Dipaksakan Oleh Manusia

PS: Sebelumnya saya nggak ada maksud untuk menyinggung atau menyindir siapapun ya. Ini cuman apa yang ada di benak saya, dan saya juga sempat baca-baca dulu artikel di internet berkaitan dengan tema hidayah, jadi saya nggak sembarangan ngomong.

Tema postingan saya kali ini rada religius. Entah kenapa saya juga nggak ngerti saya bisa post something religious kayak gini. Mungkin dapat cukup banyak pencerahan dari program tutorial (ups). Tapi saya justru harus berterima kasih sama akang mentor saya, karena sama akang mentor saya justru dapet banyak cerita lewat sharing sessions. Nuhun ya, kang :D

Oke, langsung saja saya mau jelasin apa yang ingin saya jelaskan, sesuatu yang hendak disampaikan melalui sesuatu dengan cara sesuatu yang sesuatu banget (ngelantur). Jadi gini, semenjak orangtua saya pulang haji, sikap mereka jadi berubah, somehow. Perubahan itu terlihat dari sisi religius. Kalau dibandingin sama saya yang sisi religiusnya jarang nongol, pasti keteteran saya ikutin ketekunan ibadah kayak gitu. Ngeliat beberapa temen juga ada yang memang sisi religiusnya lebih bagus dibandingin yang lain, saya juga mikir lagi pasti saya keteteran kalau kayak mereka. Terkadang orangtua dan beberapa teman suka kasih motivasi supaya sisi ibadah saya bisa ditingkatkan. Tapi yang bikin saya kurang sreg adalah cara mereka. Terkadang, mereka pakai cara yang menurut saya 'memaksa'. Memang kalau untuk ibadah yang jelas-jelas wajib itu mau nggak mau kita yang harus memaksakan diri (dan saya ngerti kok kalo ibadah saya emang belum sempurna, tapi paksakan saja deh), tapi kalau untuk ibadah yang lain, ataupun ajaran-ajaran lain kan nggak bisa semudah itu diterapkan di kehidupan seseorang.

Contoh pertama gini, saya orang yang (jujur) nggak begitu sering melakukan ibadah sunnah. Puasa sunnah aja saya itu kalau lagi gak ada duit atau lagi males makan (soalnya saya inget cerita tentang Rasulullah yang karena nggak ada makanan atau apa ya, saya juga lupa, akhirnya beliau puasa sampai Maghrib), atau solat Dhuha itu biasanya kalau lagi 'bener'. Ketika saya diajak seseorang untuk melakukan ibadah sunnah, berarti saya punya dua pilihan: ya dan tidak. Terkadang, orang itu walaupun diajak tapi masih ada kecenderungan untuk bilang tidak. Tapi ada aja beberapa orang yang, harus saya akui saking religiusnya, ajakan itu berubah jadi semacam paksaan. Menurut saya secara pribadi, ibadah yang baik itu ketika kita menjalaninya tanpa ada rasa paksaan, karena dari situ muncul keikhlasan beribadah yang berbuah ketenangan dan kenyamanan ketika prosesnya. Kalau ketika kita melakukan ibadah itu sambil ngegerutu karena merasa terpaksa, saya rasa sia-sia karena gak dapet esensi ibadah tersebut. Orangtua saya kerap kali menekankan saya untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah. Awalnya mungkin mengajak, tapi lama kelamaan ajakan tersebut jadi memaksa dan akhirnya menyudutkan saya. Saya jadi berfikir lagi, kalau saya melakukan ibadah itu dan terpaksa, saya jadi kasihan sama Allah, dan tentunya sama diri saya sendiri. Saya ingin ibadah yang, tanpa dipaksa. Saya ingin beribadah karena keikhlasan saya bukan karena paksaan orang lain.

Contoh kedua, saya masih sering jalan-jalan keluar pakai jeans pendek. Biasanya selutut, atau paling pendek beberapa milimeter di atas lutut. Orangtua saya sering banget ingetin saya untuk pakai celana pendek. Kasus ini mungkin mirip dengan perempuan yang belum pakai kerudung. Menutup aurat memang kewajiban, tapi terkadang sebagian orang mengingatkan dengan cara yang salah. Beberapa cara justru malah jadi ofensif dan gak bisa diterima. Saya juga begitu. Ketika saya memutuskan untuk pakai jeans pendek, lalu ada orang bilang harus pakai jeans panjang dengan alasan nutupin lutut, oke saya terima pernyataan itu tapi kan yang memutuskan untuk pakai kedepannya saya sendiri. Kalau dipaksa-paksa, orang justru bakalan nggak terima. Ketika seorang perempuan memutuskan untuk pakai kerudung, pasti dia sudah membuat sebuah keputusan. Karena pakai kerudung itu nggak setengah-setengah, misalnya lepas pakai kerudung, orang lain pasti mempertanyakan konsistensinya kan? Ini kaitannya sama hidayah. Mungkin saya belum dapat hidayah yang bener-bener konsisten untuk selalu pakai celana panjang ketika pergi keluar, tapi hidayah itu kan suatu hari akan datang seiring dengan usaha kita juga. Saya juga sambil coba-coba membiasakan pakai jeans panjang kalau main keluar, walaupun kadang-kadang pakai jeans pendek. Intinya, hidayah itu gak bisa dipaksakan sama manusia.

Terakhir, saya kurang suka dengan beberapa orang yang saking religiusnya, sampai-sampai seringkali mengkritik hal-hal yang memang bersifat duniawi. Bahkan terkadang hal-hal yang kecil. Contohnya, waktu itu saya lihat ada seorang teman bilang "Selamat Tahun Baru", lalu ada seseorang yang langsung mengkritik dengan beralasan bahwa seharusnya Tahun Baru itu bla bla bla bla bla (terlalu panjang uraiannya, saya malas ngetiknya). Teman saya mendebat dia lagi dan didebat lagi. Jujur, saya jadi malas jadinya. Memang perayaan Tahun Baru itu identik dengan hura-hura dan banyak madharatnya, tapi hanya sebatas bilang "Selamat Tahun Baru" nggak berarti kehilangan semua akidah kan? Toh hanya sebatas menyelamati mereka yang memang benar-benar merayakan aja. Konteksnya kan memberi selamat, sosial juga ujung-ujungnya, dan bukan untuk yang lain. Semacam kasih selamat ulang tahun sama orang yang ulang tahun dan nggak lebih. Kasus yang mirip-mirip pernah terjadi ketika saya ulang taun. Ada yang bilang bahwa acara traktir saya ketika ulang taun itu pemborosan dan terlalu duniawi. Menurut saya itu salah. Pemborosan, memangnya gimana saya menghambur-hamburkan uangnya? Dipakai untuk beli sesuatu yang nggak penting? Tidak! Saya justru traktir teman-teman di acara ulang tahun karena ingin berbagi. Iya kan? Dengan mentraktir temen, kita kan berbagi rezeki. Lalu dengan makan bareng dan berkumpul juga mempererat silaturahmi di antara teman. Nggak salah kan? Ada yang bilang harusnya ketika ulang tahun itu jadi bahan introspeksi diri. Ada benarnya introspeksi supaya semakin tua kita bisa berubah menjadi individu yang lebih baik. Tapi nggak berarti bahwa kita harus tenggelam terlalu dalam dengan introspeksi itu juga kan? Intinya perayaan-perayaan seperti itu, menurut saya secara pribadi boleh-boleh aja dirayakan, asal dengan melihat batasan-batasan tertentu dan secara fundamental lebih banyak mendatangkan manfaat daripada madharat. Toh manusia hidup di dunia juga masih perlu hiburan. Selain buat beribadah dan bekerja, manusia di dunia juga mencari kebahagiaan. Kebahagiaan yang dicari tentu saja yang sudah memiliki batas-batas tertentu, batasan norma, dan sebagainya.

Jadi pada intinya, balik lagi yang namanya hidayah itu nggak bisa dipaksakan sama manusia. Hidayah itu datengnya dari Tuhan langsung, dikasih buat manusia pada waktu dan tempat yang nggak pernah bisa kita tebak. Tapi kita juga nggak bisa cuman diam aja menunggu hidayah itu datang. Kita harus berusaha, mencoba berbagai cara supaya hidayah itu cepat datang sama kita. In other words, hidayah itu dicari juga. Dan setelah hidayah datang ke hidup kita dan kita sudah konsisten dengan hidayah itu, perubahan-perubahan di kehidupan kita bisa diterapkan. Saya rasa itu yang saya mau coba sampaikan. Semoga nggak menyinggung, dan kalau ada salah-salah, harap maklum karena saya juga manusia, bukan dewa apalagi Tuhan :)

Sunday, January 8, 2012

An Apparition At My Bedroom

This very early morning, I had something terrific. Well, that really is terrifying that I still remember how minutes went so slowly and made me sick. Some of us are 'lucky' enough to see apparitions of metaphysical creatures, the creatures which the existence is hard to logically explain. And I'm probably one of those lucky people who can see apparitions, or at least have seen an apparition once in a life. How they control their fear is the key to cope with the apparitions, but some people are not good enough to control their fear, and I'm the one who cannot control my fear.

Well, here the story goes...

I woke up this morning at 4a.m. It was quite very early in the morning, even the sun hadn't risen yet. I was half-awake and I looked around my room. I didn't know what had gotten into my mind but suddenly I thought about a friend of mine who got her horror experience in her bedroom. She had seen "jumping bolster" (Indonesian should have known this term) in her bedroom, causing her not to sleep all night long. I was frightened but I had to cope with drowsiness so I tried to keep my eyes open.

Unfortunately, I slowly fell asleep and when I heard knocks on the door, I quickly opened my eyes. To my surprise, I saw something strange in the facing-side of my bed. My eyes couldn't see clearer, but my brain could predict what was happening. I suddenly remembered the story of my friend and guessed what I saw. That "jumping bolster" was right in front of me! I tried not to scream so I closed my eyes fearfully but it was so hard to close my eyes! While I prayed, I saw another apparition in the other side of my bedroom. That apparition was seen clearer, as a standing-deadman covered in white cloth. And the worse thing was, I saw two apparitions at the same time in my bedroom. I recited some prayers and closed my eyes. As I prayed that those apparition would disappear, I tried to open my eyes slowly. And, they were gone!

It was a hard dawn for me. Now I'm afraid I cannot sleep in my bedroom as usual tonight...

Monday, January 2, 2012

Dunia Yang Unyu: Bye Bye, Fever!

Hari Minggu kemarin, setelah taun baru itu saya sakit demam (hiks). Sakitnya memburuk setelah Maghrib, jam 6 sorean. Padahal siangnya saya masih sempet ngopi bareng Agis sama Ayin, dan latihan dance sama anak-anak Skywalker di BTC. Anehnya, sakitnya tiba-tiba dan saya berasa ngga dikasih notifikasi kalo mau sakit (kecuali rasa sakit kepala plus mual-mual pas pagi hari di tanggal 1 Januari itu). Akhirnya sampe hari ini pun masih sakit, walopun sekarang rasa sakitnya mulai berkurang dan kesehatannya berangsur membaik.

Kemarin malem, saya sempet menggigil dan suhu tubuh naek. Karena suhu tubuh naek, saya minta dibeliin plester kompres demam. Hari gini kompres demam secara manual kayaknya ribet ya, jadi mending cari praktis aja. Dan saya pun dibeliin Bye Bye, Fever! (hurray!). Setelah minum obat dan bersiap mau tidur, saya pake dulu plester kompres demam itu. Tapi waktu diperhatikan bungkusnya, kok ada yang aneh? Rupanya, plester yang dibeli itu yang versi mini-nya (karena ada yang ukurannya lebih gede), dan rupanya untuk bayi!


Oalah, saya dibeliin Bye Bye, Fever! versi bayi rupanya! Tapi sudahlah, daripada mubazir ga dipake, akhirnya saya templokkin deh itu plester di kening saya. Dan setelah diperhatikan lagi bungkusnya, rupanya ada ilustrasi baby unyu-unyu disitu, lagi tidur pakai plester kompres demam :3


Ilustrasi bayinya unyu banget :3 Saya mau pake jadi senyum-senyum gemas sendiri ngeliatnya. Entahlah, the world was unyu malam itu. Dan rasa unyu saya ga cukup sampe disitu karena plester kompresnya pun didesain secara unyu!


Oh, unyu sekali! :3 Plesternya bahkan didesain secara unyu untuk dikenakan oleh bayi-bayi unyu yang ada di dunia! Kalo saya yang pake sih ga akan unyu, malahan amit-amit kayanya *halah*. Di plester itu ada gambar kucing, anjing, jerapah, beruang, panda, lumba-lumba, wah pokonya anak bayi banget! Nanti malam saya mau pakai lagi itu, semoga malam ini tidurnya unyu :3

Saturday, December 31, 2011

DJMAX Technika 2: Favorite Music-Arrangement Selection

Buat para pemain DJMAX Technika 2 sepertinya sudah pada hapal dengan lagu-lagu yang ada di game tersebut. Beberapa lagu yang ada di DJMAX Technika 2 mengedepankan beberapa instrumen alat musik sebagai lead instrument-nya. Kebetulan saya seneng dengerin lagu-lagu dengan instrumen musik klasik sebagai lead-instrument-nya, dan di DJMAX Technika 2 saya nemuin beberapa lagu yang saya pilih sebagai Favorite Music-Arrangement Selection. Lagu-lagu ini juga lumayan banyak dicari music sheet-nya, biasanya untuk part violin atau piano. Sayangnya susah banget cari music sheet untuk lagu-lagu ini. Kalaupun ada biasanya langka. Saya sekarang tinggal nunggu seseorang yang akan baik hati nge-fetch nada-nadanya dan nge-post music sheet-nya. Dan dibawah ini saya kasih beberapa lagu-lagu yang saya pilih sebagai Favorite Music-Arrangement Selection:

Colours of Sorrow


Tsukasa mengemas warna-warna kesedihan dalam aransemen yang unik dan mengagumkan. Perpaduan antara orkestra simfoni dan sentuhan dramatic techno membuat atmosfer baru dalam pengekspresiannya.

Sebenarnya ada tiga versi lagu ini, yang pertama versi asli seperti yang ada di game, yang kedua adalah extended version dari lagu ini dengan perubahan nada dasar, dan versi ketiga adalah extended version dalam bahasa Jepang. Di versi game-nya, lagu ini diawali sama synth-lead (semacam sawtooth lead) dan mulai diikuti sama aransemen electronica. Di bagian verse awal, part piano cukup mendominasi walaupun sepintas hanya bersifat alegori aja. Tapi improvisasinya cukup bagus. Sementara di extended version-nya, lagu ini diawali dengan intro oleh piano dan string section. Di extended version, kita bisa lebih ngerasain suasana symphonic-electro daripada game version-nya. Buat saya, lagu ini semacam symphonic-pop yang dipadu sama nuansa electronica. Asik buat didengerin dan loops-nya bikin lagu ini addicted buat didengerin, hehehe :P

Oblivion


Lagu ini sepertinya cukup diincar para musisi alat musik gesek, terutama viola walaupun pakai violin juga bisa sebenernya. Di lagu ini melodi viola mendominasi bagian intro dan chorus. Mengusung genre dramatic trance, lagu ini menggambarkan sebuah pelupaan yang dikemas dengan aransemen trance bertempo sedang. Melodi viola mendramatisasi pelupaan yang kemungkinan berakhir dengan kesedihan, yang mungkin dimaksudkan oleh lagu ini. Pada bagian verse-nya, synth-lead berperan jadi melodi lagu ini. Mungkin denger lagu ini bisa mengingatkan kita sama anime-anime semacam Sailor Moon atau Wedding Peach.

PDM


Sampe sekarang saya masih nggak tau apa arti PDM yang jadi titel lagu ini. Trish mengemas ulang lagu ini dengan aransemen acid jazz, dengan loops dan multipad yang ngasih sentuhan R&B. Bermain dengan tempo allegro (sekitar 120), karakter vokal si vokalis cewe yang manis dan diseling dengan rap part ngingetin saya sama lagu-lagunya Jay-Z atau R&B kayak Beyonce. Setelah chorus, ada beberapa bar yang diisi dengan melodi overdriven guitar dan selanjutnya diisi sama improvisasi piano di oktaf antara 5 sampai 6. Bentuk chord lagu ini mirip sama lagunya 3rd Coast, "Astral Plane". Di bagian chorus, ada multipad yang jadi notasi yang cukup rame di game Technika pada level 5 (normal) dan 6 (hard).

Heart of Witch


Lagu yang sarat dengan orkestrasi sforzando dan iringan piano bertempo cukup cepat (mungkin temponya Vivace) ini dipadukan dengan aransemen trance yang membuat nuansa dramatis. Notasi piano dan violin yang dibentuk dari not-not 1/16 banyak muncul di lagu ini. Pokonya buat yang mau coba nge-fetch nada-nadanya kayaknya agak kesusahan soalnya cukup banyak variasi yang berbeda-beda baik untuk part piano maupun part violin.

Piano Concerto No.1


Ada juga classical remix di Technika yang aransemennya lumayan asik buat ajep-ajep. Walaupun aransemennya bersifat remix, tapi tetep nggak menghilangkan classical taste dari lagu ini. Part pianonya dibuat sedikit berbeda walaupun nggak mengubah keseluruhan notasi pianonya. Sayangnya, lagu yang digubah oleh Pyotr Ilych Tchaikovsky ini gak tersedia dalam extended version. Salah satu aransemen perbandingannya adalah versinya Maksim Mrvica, dengan judul lagu yang sama.

La Campanella: Nu Rave


La Campanella: Nu Rave adalah salah satu classical remix lain di game Technika. Dengan genre rave, karya klasik La Campanella diubah jadi aransemen trance dengan irama yang cukup menggebu. La Campanella menyuguhkan permainan piano dimana pada partitur aslinya, tangan kanan diminta untuk loncat-loncat oktaf dengan interval 1 sampai 2 oktaf, yang kalau dihitung perpindahannya maksimal bisa sampai 30an sentimeter. Di tengah-tengah lagu ada bagian yang diisi dengan choir dan string section. Synth-lead juga ikut mengisi beberapa bagian di lagu ini sebagai pengiring melodi utamanya. Dan bagian akhir lagu ini ditutup dengan permainan piano yang bikin saya inget sama konser-konser klasik.

Proposed, Flower, Wolf (Part 2)



Lagu yang satu ini bikin saya inget sama soundtrack game semacam Stronghold Crushader, atau lagu-lagu dari game online kayak Rising Force dan game semacamnya. Mengusung genre violin trance, lagu ini mengedepankan melodi-melodi violin yang dominan pada intro lagu. Aransemen trance yang dipadu dengan orkestrasi membuat kesan epic di lagu ini, semacam lagu-lagu perjuangan game-game perang atau anime-anime dengan pertarungan kayak InuYasha dengan Seshomaru, misalnya. Lagu ini juga punya progress yang menarik, dimana awal lagu disuguhkan aransemen yang tajam dengan tempo yang agak cepat. Setelah itu ada arpeggio dari harpa yang menjembatani aransemen lagu yang lebih lambat dan lebih simfonik. Setelah itu, barulah masuk ke klimaks lagu yang diakhiri dengan dentingan piano yang simpel namun terkesan agak 'gantung'. Overall, lagu ini bagus buat ngisi soundtrack film-film atau game-game berbau perang.

Voyage


Voyage adalah lagu dengan aransemen broken beat, yang mana iringan perkusi (drum) sebagai pemberi beat terdengar uneven dan seolah kepotong-potong beat-nya. Karakter vokal si cewe yang sebenernya udah nggak asing kita denger (mirip karakter-karakter vokal penyanyi lagu-lagu soundtrack anime), dikasih latar belakang musik dengan melodi flute pada bagian bridge menuju chorus akhir, ditambah iringan electronic piano dan gitar bikin lagu ini catchy. Saya seneng dengan part flute-nya karena melodi flute yang cepat dan lincah, diiringi sama broken beat justru jatohnya malah agak nge-jazz. 

Sin


Ini salah satu lagu yang melodinya cukup bikin keblinger di game Technika, terutama buat yang baru atau belum pernah maenin lagu ini sebelumnya. Main di tempo cepat (presto), lagu ini menawarkan melodi piano sederhana yang dibalut dalam aransemen khas drum 'n bass. Sejujurnya lagu ini riweuh sendiri dengan aransemen perkusi dan basnya itu, kalau dibandingkan dengan pengiring melodis kayak synth-pad, synth-loop, strings section, dan piano sebagai melodinya. Di awal lagu, kita bisa dengerin bentuk melodi ketukan 1/8 dari pipe organ. Melodi pipe organ itu mirip dengan melodinya "Toccata and Fugue" karya Johann Sebastian Bach. 

Sweet Shining Shooting Star


Mengusung judul yang chic, lagu ini cukup menarik perhatian saya karena 'genjrengan' clean guitar-nya yang walopun samar-samar terdengar tapi ngasih suasana disko jadul taun 80an. Dengan genre acid house, lagu ini menyuguhkan lirik tentang perasaan suka terhadap seseorang tapi si cewe itu malu mengungkapkannya. Liriknya juga mencantumkan istilah-istilah sains kayak solar dan vision yang menggambarkan kesan cosmic love. Disko sederhana ini dikemas dalam tempo yang cukup cepat, tapi tetep bisa bikin sensasi ajep-ajep disko jadul selama 1 menit 35 detik.


Itu tadi adalah beberapa lagu pilihan saya yang dipilih karena aransemennya yang unik, serta dominasi instrumen yang menarik. Beberapa lagu sedang saya coba aransemen sendiri dengan piano. Mungkin kedepannya saya mau coba nge-fetch nada-nadanya dan dibikin music sheet-nya buat di-share ke temen-temen semua. I think they're worth to listen to :]

Friday, December 16, 2011

Tukang Cap Yang Nge-'Cap'

PS: Saya nggak masalah untuk menceritakan kasus ini di ruang publik kayak blog dan Facebook. Saya nggak akan malu kalau disorot dan dilihat sebagai korban di kasus ini, karena harapan saya orang yang bersangkutan bisa merubah sikapnya jadi lebih baik kedepannya. Itung-itung bahan introspeksi.

Kasus ini bikin saya bener-bener murka terhadap petugas cap program tutorial yang diadakan mingguan di kampus saya. Mungkin kalo sikap petugasnya nggak kayak 'gitu' sih saya bakal lebih enjoy dengan program tersebut walopun sedih karena weekend saya kesita terus *hiks, nangis*. Kasus ini terjadi beberapa hari yang lalu.

Siang itu, saya dapet kabar kalo akan ada program tutorial tambahan buat nutupin kekosongan absensi tutorial. Yap, tutorial *katanya* jadi salah satu persyaratan untuk kelulusan sebuah mata kuliah umum (walopun saya masih nggak ngerti pengaruhnya di sebelah mana, atau mungkin di sebelah sana? *nunjuk Squidward*). Walhasil, mau nggak mau saya harus memenuhi persyaratan itu walopun disinyalir persyaratannya masih ada yang kurang sedikit lagi untuk mencapai kelulusan itu. Nah, karena saya kebetulan dapet make-up class (kelas pergantian, bukan kelas belajar makeup wajah ya), maka saya telat dateng ke program tutorial tersebut. Tapi yang namanya usaha ya, kenapa nggak sih? Seusai make-up class tersebut saya langsung buru-buru dateng ke program tutorial tersebut.

Sampe di depan pintu utama aula, saya harus berhadapan dulu dengan petugas cap. Yap, cap yang bakalan kita dapet sebagai tanda presensi di setiap program tutorial. Disana saya diinterogasi dan ditanya-tanya sedetil mungkin kayak ukiran Jepara. Akhirnya, setelah dapat ijin masuk, saya minta cap. Tapi si petugas (yang selanjutnya kita sebut bapak X yang sebenarnya mahasiswa, hanya saja wajahnya keliatan tua jadi kayak om-om, eh, bapak-bapak) itu cuman nyuruh saya taruh kartu presensi saya di atas meja tempat biasa petugas ngecap kartu presensi.

"Taro aja kartunya di atas meja."

Baiklah kalau begitu. Saya taruh kartu saya di atas meja dan mengikuti sisa program yang masih berlanjut selama 30 menit. Setengah jam yang terasa lama karena saya datangnya telat, jadi nggak ngerti topik yang dibicarakannya apa. Dan akhirnya setelah acara selesai, saya balik lagi ke meja pengecapan, and to my surprise, saya belum dapet cap presensi! Saya yang kaget dan merasa tertipu karena rupanya si bapak X petugas cap itu menghilang dari peredaran! Akhirnya saya catch seorang panitia tutorial. Kali ini, keliatan bahwa panitia ini masih mahasiswa, alias tidak muka tua. Saya protes sama kakak tersebut sedetil-detilnya.

"Kak, saya mau minta cap. Tadi saya udah dateng kesini tapi nggak dapet cap. Kata petugas cap yang tadi jaga, saya disuruh taro kartu saya di atas meja. Sekarang pas mau pulang saya cek ternyata belum dapet." protes saya.
"Ah, masa nggak dapet? Tadi dateng jam berapa?" tanya si panitia tersebut nggak percaya.
"Jam 5. Saya kan datengnya telat, tadi ada make-up class dulu soalnya. Terus kata petugasnya saya boleh masuk. Pas saya mau minta cap, katanya kartunya ditaro aja di atas meja. Sekarang udah selesai acaranya, saya nggak dapet cap malahan." jelas saya.
"Tapi kan saya sepanjang tutorial tadi nggak disini (di area meja pengecapan), jadi saya nggak punya bukti" kata si panitia tersebut bersikeras dengan ekspresi wajah minta dicambuk.
"Nggak bisa gitu juga tapi, kak! Saya udah cape-cape bela-belain dateng pulang kuliah kesini, dan ternyata masih bisa ikutan program tutorial. Eh, tapi waktu mau minta cap malah ga dapet!" tegas saya.

Nggak lama, dateng seseorang yang juga minta cap. Kasus dia sama rupanya kayak saya, hanya saja waktu dia dateng, bapak X itu nggak ada. Jadi si pintu aula kosong dan dia langsung masuk. Ya intinya, saya sama dia sama-sama belum dapet cap.

"Maaf, tapi kan kamu waktu dateng nggak ada petugasnya, jadi kamu nggak punya bukti." kata si panitia itu ke anak tersebut.

Saya dan anak tersebut terus ngasih penjelasan sejelas-jelasnya dan melawan argumen si panitia tutorial tersebut yang *menurut saya dan anak tersebut* kebanyakan bacot. Rupanya si anak tersebut udah mulai emosi. Karena ngeliat saya juga mukanya udah bete dan kesal, si anak tersebut akhirnya memberanikan diri ngelawan.

"Gini ya mas, bukannya maksud apa-apa, tapi mas ini mau ulur-ulur waktu atau apa? Mas nggak percaya sama kita? Kita udah beneran dateng kesini, dan nggak bohong! Kita ini nunggu kepastian kapan mas mau kasih cap buat kita!" bentak anak tersebut.
"Sama saya juga! Kapan saya dapet capnya? Saya mau balik!" bentak saya nggak kalah galak.

Si panitia tersebut mulai kebingungan. Akhirnya dia minta ijin buat ngomong ke para petinggi program tutorial. Sekembalinya, saya kira dia udah bisa ngasih cap, dan ternyata..

"Kalian harus ketemu sama petugasnya. Coba yang mana petugasnya?" tanyanya.

Saus tar-tar! Lobster! Tiram! Saya udah kehabisan kata-kata buat ngelawannya. Akhirnya karena emang saya yang sempat ngomong sama petugas capnya, saya beranikan diri bertaruh sama panitia tersebut.

"Pokonya orangnya pake jaket item! Saya nggak kenal itu siapa tapi bapak-bapak itu pokonya pake jaket item dan brewokan." jelas saya.

Si panitia kayaknya sudah terpojokkan dan udah nggak bisa gimana-gimana lagi. Akhirnya dia minta saya dan seseorang yang sama-sama memperjuangkan haknya itu buat ketemu sama petugas cap, si bapak X. Kami berhasil ketemu si bapak X itu dan si panitia songong itu ngejelasin maksud kami ketemu dia. Bukannya dapet pembelaan atau penyelesaian masalah, justru si bapak X itu bikin tangan saya gatel pengen tonjok mukanya yang minta dibunuh itu.

"Apaan sih kalian ini?! Masa belum dapet cap?! Kalian itu jangan suka main-main coba?!!" bentaknya.

Iblis! Saya dibentak orang itu padahal awalnya niat saya (dan anak yang belum dapet cap itu) baik, mau menjelaskan dengan kepala dingin permasalahan cap ini. Mungkin dia ngerasa kalo dia bisa bentak saya dan anak tersebut, dan ngata-ngatain kita main-main dan nggak becus. Tapi bukan Klaus namanya kalau nggak ngebentak balik. Saya yang akhirnya kalap akhirnya bentak balik dia.

"Saya nggak main-main!! Anda yang bilang barusan sama saya waktu saya mau minta cap! Anda yang bilang kartu saya suruh taro di atas meja! Sekarang acaranya udah selesai tapi saya belum dapet capnya! Mana capnya?! Mana?! Anda yang tadi ngomong sendiri sama saya! Saya, yang tadi datengnya telat dan anda yang kasih ijin masuk ke aula! Sekarang saya minta capnya! Saya mau pulang!!"

Si bapak X itu keliatannya kaget karena saya bentak balik. Berasa ngeliat ubur-ubur raksasa. Akhirnya si bapak itu bilang sesuatu sama petugas panitia yang songong.

"Ya udah, kasih capnya ke satu orang ini!"

Hahaha, belum tau dia berhadapan sama siapa..

Singkat cerita, saya dapet capnya walaupun si panitia songong itu sambil ngomel-ngomel. Omelan dia terus saya bales dan saya ladenin karena saya nggak mau kalah. Saya seneng bikin kedua orang itu, bapak X dan panitia songong itu terpojokkan. Mereka pantes diperlakukan seperti itu setelah seenaknya nuduh saya bohong, bahkan sampe dikata-katain main-main. Emangnya mereka punya hak apa men-judge saya seperti itu? Ketika si panitia tutorial itu bilang bahwa saya nggak punya bukti bahwa saya dateng ke tutorial, dia juga nggak punya bukti kalau saya ngebohong atau main-main. Dan setelah denger cerita dari temen-temen saya, ternyata memang beberapa panitianya harus agak 'dikasarin'. Memang nggak boleh sih sebenernya, dengan alasan etika. Tapi saya rasa, ketika kita bersikap kasar karena diperlakukan tidak adil, saya rasa itu sebuah pengecualian. Saya sampai cerita sama mentor saya tentang hal ini, dan syukurlah mentor saya kasih respon positif dan kasih saya semangat buat ikhlas (mentorku heroku! Kang Sandi, you're hero!).

Kepada petugas cap, dan juga panitia tutorial, saya minta tolong sikapnya diubah. Jangan seenaknya nuduh orang bohong, apalagi sampai ngata-ngatain main-main. Kalau tutorial ini dimaksudkan untuk memperbaiki diri dan menjadi media pengembangan diri, dari panitianya sendiri tolong ubah dulu sikapnya. Saya sampe sekarang masih sakit hati dengan perlakuan seperti itu, dan saya harap kejadian kayak itu nggak akan terjadi lagi. Kasian adik tingkat saya nanti kalau ngalamin hal yang sama kayak yang saya alami.