Translate This Page

Friday, June 11, 2010

Copied from Tessa's blog : Cross Out The Things You Have Done

What should be done when finally find out nothing else to do after copying some files and doing those damn homeworks? Looking at the notification bar on the top of Facebook page and it doesn't show anything but rigid icons? I log in to my blog and see the blogroll. Tessa had posted something interesting for me. Why is so interesting? Cuz I have nothing to do.

Copied and pasted here, you should see my answers :D
Tessa's answers > here!

Graduated High School.
Kissed someone.
Smoked cigarettes. Got so drunk you passed out.
Rode every ride at an amusement park.
Collected something really stupid.
Gone to a rock concert.
Helped someone.
Gone fishing.
Watched four movies in one night.
Gone long periods of time with out sleep.
Lied to someone.
Snorted cocaine.
Failed a class.
Smoked weed.
Dealt drugs.
Taken a college level course.
Been in a car (motorcycle) accident.
Been in a tornado.
Done hard drugs (i.e. ecstasy, heroin, crack, meth, acid).
Watched someone die.
Been to a funeral.
Burned yourself accidentally.
Ran a marathon.
Your parents got divorced.
Cried yourself to sleep.
Spent over £200 in one day.
Flown on a plane.
Cheated on someone.
Been cheated on.
Written a 10 page letter.

Gone skiing. (snowboarding)
Been sailing.
Cut yourself. {accidentally}
Had a best friend.
Lost someone you loved.

Shoplifted something.
Been to jail.
Dangerously close to being in jail.
Had detention.
Skipped school.
Got in trouble for something you didn’t do.

Stolen books from the library.
Gone to a different country.
Dropped out of school.
Been in a mental hospital.
Watched the “Harry Potter” movies.
Had an online diary.

Fired a gun.
Gambled in a casino.
Had a yard sale.
Had a lemonade stand.
Actually made money at the lemonade stand.

Been in a school play.
Been fired from a job.
Taken a lie detector test.
Swam with dolphins.
Gone to sea world.
Voted for someone on a reality TV show.
Written poetry.
Read more than 20 books a year.

Gone to Europe.
Loved someone you couldn’t have.
Wondered about your sexuality.
Used a coloring book over age 12.
Had surgery.

Had stitches.
Taken a taxi.
Seen the Washington Monument.
Had more than 5 IM’s/online conversations going at once.
Overdosed.

Had a drug or alcohol problem.
Been in a fist fight.
Suffered any form of abuse.
Had a hamster.

Petted a wild animal.
Used a credit card.
Gone surfing in California.
Did “spirit day” at school.
Dyed your hair.
Got a tattoo.
Had something pierced.
Got straight A’s.
Been on the Honor Roll.
Known someone with HIV or AIDS.
Taken pictures with a webcam.
Started a fire.
Gotten caught having a party while parents were gone away.

Monday, June 7, 2010

Tenggelam dan Hilang

Matahari semakin condong ke arah barat, dengan sudut istimewanya menciptakan efek spektakular di permukaan air laut yang berkilauan. Bayangan tubuhku di lantai kayu terlihat memanjang, seolah aku bertambah tinggi. Penipuan alami yang mengagumkan. Aku tak pernah membayangkan diriku setinggi itu, jika tinggi bayangan dan tinggi diriku dalam kenyataan adalah sama. Suara mesin yang terdengar cukup berisik walaupun aku berada jauh diatas mesin tersebut, namun menyisakan raungan dari asap tebal berwarna hitam yang dihubungkan dari mesin diesel di dek terbawah menuju pipa-pipa pembuangan dan berakhir dengan kepulan bak pukulan tinju dari cerobong asap. Ya, aku berada di atas mesin ini. Mesin yang tak lain hanya diselubungi cat berwarna putih dengan segala kemewahan yang ada di atasnya. Mesin yang mengantarkan orang dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan harapan di tempat tujuannya. Mesin yang menjadi kebanggaan dan ketakutan tersendiri bagi mereka yang fobia air. Aku tahu, sewaktu-waktu mesin ini bisa menidurkan dirinya di laut dalam sana dan akhirnya mereka yang fobia akhir bisa mati karena ketakutannya.

Aku berdiri disini. Sore ini angin laut bertiup agak kencang. Kurasa aku harus segera menyisir rambutku sesampainya di kabin. Agak dingin, dan sesekali air laut mengenai pipiku. Membayangkan usaha butiran-butiran air laut itu melawan gravitasi hingga akhirnya dapat mencapai pipiku, yang berada di ketinggian sekitar 4 atau 5 lantai dari permukaan laut. Usaha yang menakjubkan. Ditanganku, sebuah kotak musik tua tengah memainkan tonalisasi Für Elise yang sebentar lagi akan selesai. Kotak musik tua itu terlihat usang, namun begitu berkesan dan menyimpan sangat banyak kenangan. Bukan, terlalu banyak. Sehingga tak sanggup untuk kututup. Kayunya mulai longgar. Setitik cahaya dapat menembus celah diantara kayu yang longgar, memperlihatkanku cara pemukul-pemukul kecil secara mekanik memukul bilah-bilah besi kecil, mengeluarkan suara yang merdu. Sesekali aku harus memutar tuasnya lagi. Klasik dan sangat manual. Lagu itu membawaku kepada ingatanku beberapa waktu yang lalu. Kenangan yang tidak seharusnya aku ingat. Kenangan indah yang menyedihkan. Ironis.

Beberapa awak kapal melihatku dengan pandangan curiga. Tepat, aku tak seharusnya berada di dek sendirian. Sempat kudengar peraturan bahwa anak-anak dilarang berpergian ke beberapa titik rawan sendirian, termasuk dek haluan ini. Entah apa yang berbahaya tapi aku tidak melihat banyak bahaya disini. Ya mungkin akan lain ceritanya jika aku disini untuk meloncat turun ke laut. Dan sialnya dengan postur tubuhku yang kecil, kurasa mereka akan mengira bahwa aku seharusnya dititipkan di tempat penitipan anak-anak selama para orangtua menghadiri perjamuan makan malam. Tapi aku disini, di dek haluan ini, sesekali menginjak lantai kayu kapal yang berbunyi cukup keras setiap kuhentakkan kakikku. Mencoba menghapusnya. Ingatan itu, luka itu, semuanya. Kenangan indah yang mengorek lukaku begitu dalam. Semakin kutarik tuasnya, semakin lukaku terkorek dengan keras. Aku tak bisa menghentikannya. Terlalu indah untuk dihentikan, namun aku pun tak bisa tinggal dalam kesakitan ini. Meringis perlahan ketika angin laut terasa begitu dingin, dan begitu lincah menembus jaket jeans berwarna hitam, dan lagi-lagi menyelinap melewati pori-pori kecil di sweat-shirt berwarna kuning bertuliskan 'Lois', kemudian melewati kaus lengan panjangku bahkan dengan sempurnanya menusuk tulangku. Dingin. Ya, dingin. Lukaku semakin terasa sakit. Mataku terhalang rambutku, sepintas terlihat seperti emo karena poninya yang menutupi mata sisi kananku. Angin laut sore ini benar-benar mengubah diriku. Gaya rambutku bisa berubah secara alami setiap kali ia menabrak setiap helai rambutku.

 "Sudah, Klaus.."
Aku sudah jauh tenggelam dalam rintihan lagu dari kotak musik itu.
 "Klaus.. Sudah selesai. Bangun."
Kurasa kali ini aku sedang terduduk, tidak lagi berdiri. Kurasakan punggungku bersandar pada sesuatu. Ya, ini pinggiran dek. Aku memang sedang terduduk lemas. Mataku tertutup, dan sesekali terdengar aku meringis pelan. Seperti ketika jarimu teriris pisau, perih seperti itulah yang terasa. Namun ini lebih daripada teriris pisau atau tertusuk jarum ketika menjahit.
 "Klaus! Dewasalah!!"
Prak!! Dia menutup kotak musiknya. Lagu itu berhenti, dan sekarang aku benar-benar terbangun.
 "Kakak?"
 "Dewasa!! Kamu ngga bisa kaya gini terus!!"

Kakak mengambil kotak musik itu dari tanganku dan aku benar-benar terkejut. Kalian harus melihat ekspresi wajahku ketika kotak kayu mungil itu terlepas dari genggamanku. Bukan seperti seseorang yang bodoh ketika dia menyadari bahwa dia membakar dompetnya sendiri, tapi lebih terlihat seperti seseorang yang seolah-olah menemui ajal di depannya. Ditengah-tengah ketakutan dan keterkejutan.
 "Balikin ka!!"
 "Ngga!! Ga akan kakak kembaliin kotak ini!!"
 "Kembaliin kak, itu punya adek!!"
 "Kotak ini cuma bikin kamu gila! Bangun dan sadar, kamu ga bisa kaya gini terus!! Kamu ga dewasa tau ga!!"
 "Please kak.. Hhkk.. Kembaliin kotak musik adek.. Hhkkk.."

Aku mulai menangis. Perlahan aku sadar, aku memang masih kecil. Itu sebabnya awak kapal itu memandangku curiga. Aku memang masih kecil.

 "Berhenti nangis."
 "Hhhkk..."
 "Ga usah sesegukan terus. Kamu ngga akan bisa mengubah semuanya yang udah terjadi. Itu takdirnya."
 "Kakak emang jahat. Ga punya hati.."
 "Kenapa? Kenapa kamu bilang kakak jahat?"
 "Karena kakak ngambil kotak itu dari tangan adek. Kakak salahkan ade kalo ade kaya gini. Kakak ga pernah ngerasain rasanya jadi adek.. Hkk.."
 "Sekarang kamu ngelukai diri kamu sendiri dengan kamu kaya gini. Kamu juga bikin cukup banyak orang khawatir karena kesedihan kamu yang secara ekstrim bikin orang lain bener-bener iba sama kamu. Mereka terus ngulurin tangan buat bantu kamu tapi kamu sendiri ga mau nerima tangan mereka! Kamu tau kamu terluka, tapi kamu malahan bikin luka kamu makin parah! Sekarang siapa yang lebih jahat?!"
 "Kakak!! Kakak jahat sama adek!"
 "Dan kamu sendiri jahat sama diri kamu sendiri! Apa itu ngga tolol?!! Kamu emang tolol dek!!"

Air mataku terhenti tiba-tiba. Tangan kiriku menerima impuls improptu sehingga secara spontan meraih dan mencengkram keras kerah baju kakakku. Kepalan tanganku sudah hampir mengenai wajahnya. Aku meringis, kemudian sedikit berteriak. Berteriak kesal dan marah. Puncak ledakannya ada di 5 jari tanganku yang kukepalkan erat-erat sepenuh tenaga.
 "Apa?!! Hajar aja hajar!! Kakak ngga takut dipukul ato dihajar sama orang tolol yang ngancurin dirinya sendiri dan nyalahin dirinya karena kesalahan yang bukan dia lakukan! Kakak bahkan ngerasa lucu kalo dihajar sama orang tolol yang masih mengharapkan sesuatu yang udah rusak bakal kembali lagi!! Sesuatu yang udah mati buat hidup lagi!!"
Cengkramanku semakin keras. Dua bocah cina ini terperangkap dalam perang dingin yang sebentar lagi berubah menjadi adu jotos. Tapi perlahan cengkramanku melemah, tangan kananku terjatuh tiba-tiba. Aku merasa diriku sangat lemas, seperti menggendong sebuah grand piano besar. Dan lagi, butiran air menetes dari mataku.

Aku berhasil berdiri, melihat ke arah lautan lepas. Degradasi warna di langit yang membuatku tercengang. Terima kasih Tuhan, aku masih sempat melihat kebesaranMu selagi aku dalam kesedihan ini. Sedikit menyamakan dengan film Titanic, dimana Rose muda yang cantik mencoba terbang. Namun sayangnya, kami tak terlihat seperti pasangan mesra tersebut di bagian paling depan haluan. Kami hanyalah kakak adik, menghadap ke sisi kanan kapal, tepat dimana saat kapal menabrak gunung es itu.
 "Kenapa harus gini ka.."
 "Kakak tau itu bukan yang kamu inginkan. Tapi dengan kamu memaksakan terus kaya gitu, kamu nyakitin diri kamu sendiri. Kepergiannya justru membuat kamu bisa bernafas kan? Kakak tau beban yang kamu angkut waktu dulu. Dan kakak juga tau banyak kenangan yang udah kamu buat kan? Kotak musik ini salah satu saksinya kan? Saksi bisu kenangan-kenangan kalian?"
 "Adek terlalu sayang sama dia kak.. Ade ngebiarin diri adek sendiri sakit."
 "Pengorbanan kamu terlalu besar. Kamu rela tersakiti, karena cinta kamu terlalu murni."
 "Sekarang semuanya udah selesai kak."
 "Yah, kalian sudah di jalan kalian masing-masing. Dek, kamu tau ga apa dia sekarang lagi mikirin kamu ato ngga? Kamu yakin dia mikirin kamu? Kamu masih yakin bahwa dia masih sayang sama kamu? Kamu belajar ngga dari pengalaman-pengalaman sebelumnya? Kesalahan-kesalahan yang dia buat, apa ngga jadi bukti buat kamu?"
 "Adek sakit kak digituin, tapi ade sendiri.."
 "Ya karena cinta ade terlalu murni buat dia. Sekarang itu udah selesai dek. Kakak ngga mau kamu terus-terusan luka kaya gini. Dek, hidup kamu masih panjang ke depan. Kakak masih pengen ngeliat kamu bahagia sama seseorang yang bisa lebih baik nanti. You should haven't been frustated like this. Your life must go on, no matter how hard it is. Kenangan itu ngga akan ilang dek karena seburuk apapun kenangan tapi ingatan kita senantiasa menyimpan kenangan-kenangan itu di memorinya. Dan kamu akan terus membuat kenangan-kenangan yang lain, yang baru, yang senantiasa bakalan ngewarnai hidup kamu. Kamu sudah cukup terkekang dengan semuanya dek. Kamu butuh kebebasan tapi kamu tetap di luka yang sama yang semakin membusuk. Waktunya kamu bangkit, pergi dan buang luka itu, lanjutkan hidup kamu. Kenangan yang kamu punya itu indah, walaupun menyakitkan. Biarkan kenangan itu dek, biarkan dia di memori kamu dek. Jangan terus kamu buka kenangan itu, karena kamu harus membuat yang baru."
 "Will you help me get up?"
 "Of course."
 "And.. why didn't you hit me back when I was to hit you on your face?"
 "Because I'm your brother. I'm elder that you, and I should have known more things than you."
 "Well.. thanks."
 "Okay Klaus, get up. Arghh.. badan kamu berat juga dek."
 "Hahaha iya. Lagi sering makan sekarang-sekarang ini."
 "Pantesan agak gemukan, hehehe. Tapi belum chubby pipinya."
 "Dasar kakak. Pasti cara bahan buat ditarik-tarik."
 "Ohya, ini kotak musiknya."
 "Eh, iya ka. Thanks.."


Sial. Tanganku terlalu licin. Aku tak bisa menjaganya. Kotak itu sempat terbuka dan memainkan melodi awal lagu Für Elise yang semakin mengecil suaranya selagi kotak itu terjun bebas ke lautan. Aku menjatuhkannya. Sejenak aku terdiam.
 "I dropped it.. I dropped it."
 "It's okay, Klaus. You've backed up your memories here, in your heart."
 "Can I restore it some time?"
 "Yeah. But, remember that you should make the new ones.."


Selamat tinggal, kotak musik tua. Kini dia terbenam bersama seluruh kenangan indah yang menyakitkan itu. Aku tak melihatnya lagi muncul dipermukaan. Berat karena isinya yang merupakan bilah-bilah besi. Massa jenis besi lebih besar daripada massa jenis air sehingga besi akan tenggelam. Itu sudah hukum alam. Aku berjalan menuju kabinku bersama kakakku. Dia menyelamatkanku hari ini. Hampir aku berfikir untuk melompat dari pesiar mewah ini, sehingga tak lama wajahku akan muncul di berita utama koran : Bocah Kecil Tewas Tenggelam Dari Kapal Pesiar. Aku takkan sebodoh itu. Aku takkan menghabisinya karena ini. Kata-kata kakakku begitu berarti. Aku takkan mengecewakan semuanya yang mencoba mengeluarkanku dari sumur tua ini. Aku akan terus melangkah. Ya, melangkah. Membuat kenangan-kenangan baru.

Luka itu telah pergi. Aku terbebas dan sembuh dari luka itu, namun aku akan merindukannya.

Saturday, June 5, 2010

Eaten By Those Thoughts

I should have realized it and known it from the start but why did I ignore that?

Firstly, you might ignore this or think that this is kinda shit crapping the homepage. Whatever it will be, I don't care. I just write it. I didn't speak anything, my feelings did.

And hell well, I'm so glad to know you guys and yeah I can recognize you from the far (how could? does the sixth sense work on me?). Flashing back to where and when I told you that we were from different places, ideas, genres, or whatever it is. We could together make something new, better, we just could make it. Kinda break a leg. But seems like I'm being eaten by my thoughts, kinda damn hypocrite : "We're different. We won't make it."

I'm like this, and you guys are like that.

I cannot blame anyone for this. I'm just stuck here and soon I shall see that everything's gonna be alright. I've realized my position and I know that I'm just an oasis in the middle of the desert. You guys can come to me when you need, and I know that you'll keep walking to the place you're going to. I cannot wish you to stay, because I see something should be done by you guys or at least we're on different destinies. But when you need some water or fresh air, any hands to get you up from your down and shoulder to rely on, I could be that someone.

Disuruh Tidur

Baru mau bikin postingan sudah disuruh tidur.
Yasudah deh nge-postnya besok saja. Hari ini Kazu tidur dulu.
Tadi lelah keliling-keliling Pasar Baru sama ibu dan ayah, dibelikan celana jeans pendek warna hitam, dan tentunya "Kucing Dalam Karung".

Jadi bingung mau bilang apa lagi.
Yasudah selamat begadang bagi mereka yang menderita insomnia, semoga lekas tidur.
Bagi anda yang masih bekerja, semoga lekas selesai.
Yasudah dan bagi anda yang bermimpi buruk, semoga lekas bangun.

Terima kasih,
Sampai jumpa di episode berikutnya!

Kucing Dalam Karung (Trailer)

Posting dari Kazu-chan mengenai topik terbaru dan tergetek :
"Kucing Dalam Karung"

Hadiah dari Pasar Seng, kucing dalam karung! Mengeong jika karungnya ditekan. Baterai dapat diganti (menggunakan baterai jam tangan). Bentuk menarik. Gantung kunci tersedia dalam paketan. Karung berwarna putih pudar kecoklatan, dengan label "Potatoes". Tersedia dalam ukuran kecil (IDR 10.000) dan ukuran besar (IDR 35.000). Khusus ukuran besar, karung dapat bergetar hanya dengan memegang tanpa harus menekan tombol di dalam karung.

Coming soon!
Foto "Kucing Dalam Karung" versi mini dan sneak peak bersama Kazu-chan!
Ilustrasi-ilustrasi lain dari Kucing Dalam Karung.
Oleh-oleh dari Pasar Seng, Onta Berjalan.

Hanya di Kazzounding!

Thursday, June 3, 2010

Menembus Dingin, Angin Dalam Kesendirian

Sesak, kuil tua itu dipenuhi oleh cukup banyak turis yang datang berkunjung. Aku harus mengakuinya, Kyoto sangat mengagumkan. Kuil-kuil Shinto dan Buddha berdampingan bersama dalam harmoni tanpa ada pertentangan antar dua keyakinan yang pada dasarnya berbeda. Lagi, pelancong dari ras kaukasius itu semakin memadati kuil-kuil tua yang kelihatannya kesal dengan semakin banyaknya manusia yang mencoba menjajakinya. Teman-teman satu tur sekolah dan guru-guru terjebak di dalam kuil, mencoba mencari jalan keluar sambil terus berusaha mendapatkan udara segar yang bersaing dengan bau dupa dan asapnya. Aku tak begitu suka dengan bau dupa, sehingga 3 menit melihat-lihat bagian dalam bangunan kayu tersebut kurasa sudah cukup. Langit Kyoto kelabu, sesekali ada kabut tipis menghalangi pandangan sejauh kurang lebih 8 meter. Aku berjalan keluar kuil, mencoba menembus dinginnya cuaca. Entah berapa derajat Fahrenheit, tapi udara dingin berhasil menembus jaket dan kaus lengan panjangku kemudian menusuk kulit menuju tulangku yang remuk perlahan. Di tengah-tengah usahaku mendapatkan hangat tubuh agar suhu tubuh kembali optimal, aku masih bisa melihat seseorang duduk di tangga kuil. Ia melihat ke arah danau di depannya. Dari kejauhan di ujung danau ada sebuah jembatan yang menghubungkan Kyoto dengan hingar bingar megapolitan prefektur setelahnya. Matanya terlihat sayu, namun masih ada semangat dari rona wajahnya.

"Ka Bayou ngga masuk?", tanyaku sambil terus menggosok-gosokan tanganku.
"Ngga ah dek..", jawabnya sederhana. Anak yang usianya hampir seumuranku walaupun lebih tua, dengan tinggi yang lagi-lagi hampir sama dan tentunya dia yang lebih tinggi. Kakinya dihentakkan ke anak tangga, entah karena apa. Ia pasti kedinginan. Celana jeans biru tidak bisa membantunya menahan cuaca seperti ini. Jaket hitam aksen ungu tuanya juga takkan membantunya. Ia mulai membatu namun wajahnya masih menunjukkan senyum khasnya. Seseorang yang menyenangkan menurutku.
"Kenapa? Di dalem ada banyak orang loh ka."
"Ngga ah dek. Kan bau dupa. Bayou ngga suka, bikin pusing sama pasti baunya ngga hilang-hilang."
"Iya juga sih ka.."


Salah satu alasan mengapa aku pun tak mau berlama-lama di dalamnya. Untuk menghilangkan bau dupa itu memang cukup sulit. Sudah cukup pengalamanku saat kepergian Opa untuk selamanya. Di ruangan yang cukup besar itu kurasa mereka meletakkan dupa di setiap sudut rumah, di depan altar sudah pasti. Selesai upacara tersebut, aku benar-benar mandi untuk menghilangkan bau dupa yang menjelma menjadi bau tubuhku. Ditambah baunya menempel di bajuku. Bahkan parfum sekelas Giorgio Armani pun kalah dengan bau dari batangan tipis berwarna merah tersebut.

"Kak Bayou lagi bosen ya?"
"Ngga. Lagi asik aja sendirian di luar."
"Kok sendirian? Biasanya sama yang lain. Oh, kakak kan di dalem ya..", aku sedikit bingung karena tidak biasanya dia agak renggang dengan kakakku.
"Ya biarin aja dek, dia kan lagi ikutan tur. Kalo Bayou ngga mau ikutan ah cape. Disini aja jadinya ngeliat-liat pemandangan."
"Apanya yang diliat ka? Sakura belum mekar."
"Ya gapapa. Emangnya harus selalu mekar ya?"
"Tapi kan dingin ka. Masuk ke bis aja yuk ka.."
"Ngga ah. Bayou mau tetep disini aja. Ade aja ke bis duluan, nanti kaka susul sambil bawa takoyaki. Kamu mau kan, dek?"
"Hmm.. Kita beli barengan aja yuk kak. Masih ada beberapa sen nih."


Vendor takoyaki itu berada tak jauh dari kuil. Bahkan dari sini aku masih bisa melihat bis rombongan kami. Sebuah bangku kayu berwarna coklat kehitaman menjadi tempat kami beristirahat sejenak sambil menggigit setiap bagian dari makhluk bertentakel itu.
"Enak ya ka.."
"Iya. Apalagi sepi kaya gini."
"Ade ngga ngerti, ga biasanya Ka Bayou suka sendirian."
"Hmm.. Ada saatnya kamu menyendiri. Kamu ga bisa selalu ada di dalam hingar bingarnya kesibukan atau kesenangan kamu. Terkadang kamu dapat ketenangan jiwa dan kesenangan tersendiri saat kamu sendiri kaya gini."
"Maksudnya?"
"Secara ngga sadar, saat kamu sendiri di tempat kaya gini kamu akan dapetin ketenangan di jiwa kamu. Berfikir juga jadi lebih baik karena otak kita lebih jernih. Kuil ini, menyatu sama alam di sekitarnya. Berhasil membuat atmosfer mengagumkan, khususnya secara pribadi buat Bayou malahan jadi pengalaman spiritual tersendiri. Di tangga kuil tadi, Bayou masih bisa introspeksi diri dan berfikir tentang banyak hal. Bayou juga menyadari banyak hal-hal kecil yang sering dianggap remeh ternyata benar-benar punya pengaruh besar ke hidup Bayou. Di kesendirian juga Bayou menyadari akan pentingnya cinta, sahabat, dan keluarga. Bayou merasa lebih tenang dan lebih sehat di tempat seperti ini. Kebisingan dari mesin-mesin mobil, motor, polusi, cuma bikin Bayou sakit. Tapi disini, walaupun dingin tapi bikin Bayou merasa benar-benar hidup dan memang inilah hidup yang sebenarnya. Klaus, apa yang disebut hidup tidak selalu ketika kamu merasa sangat senang dengan semua kesenangan yang dibuat manusia. Kamu akan benar-benar hidup saat kamu menyatu dengan alam. Saat dingin menusuk tulang kamu, jangan anggap itu sebagai ancaman. Dingin mencoba mendekatkan diri dengan kamu dan saat kamu berhasil beradaptasi dengannya, kamu semakin dekat dengan alam. Alam membuat kamu mengintrospeksi diri kamu, memperlihatkan kesalahan-kesalahan atau sisi negatif yang harus diperbaiki. Alam juga yang membuat kamu mengerti akan kebesaran Tuhan. Bayangkan, apa ade bisa mikir tentang kebesaran Tuhan kalau di tempat yang ribut seperti itu? Atau ketika ada sangat banyak orang? Ya mungkin kamu bisa, tapi tak akan pernah diresapi dan dihayati. Saat kamu sendiri dan hanya bersama alam, di saat itulah kamu menyadari betapa indahnya keajaiban Tuhan."


Aku terdiam dan memaknai kata-kata Kak Bayou. Sebuah paragraf yang cukup panjang mengalir lancar dari mulutnya. Sebuah hal yang tak pernah kukira dari mulut seorang Kak Bayou, orang yang kukenal sebagai seorang yang lincah dan atletik. Kata-katanya terlalu bijak, sehingga aku tenggelam ke dalam pemaknaannya. Penjual takoyaki itu tidak mengerti dengan bahasa yang kami gunakan, sehingga ia kembali menyalakan pemantik apinya dan merokok dalam-dalam. Asap rokok segera hilang ketika perlahan butir-butir air turun dari langit. Hujan. Semakin lama semakin deras. Kami berlari ke arah bis, dan dari arah tangga kuil teman-teman dan guru-guru kami pun berlarian menuju bis. Hujan datang keroyokan, membuat kami ketakutan karena kalah jumlah. Setelah mencari tempat duduk, aku memilih duduk di sebelah Kak Bayou yang ternyata masih menikmati keindahan alam di luar.

"Hujan. Saat hujan, kamu tau ngga de bahwa dunia ini berubah?"
"Maksudnya?"
"Saat hujan, akan ada sesuatu yang berbeda di dunia ini. Kamu bakal tau kalau kamu udah bisa menyatu dengan alam. Bisa satu hati dengan alam. Kalau dilihat dari atas sana mungkin bisa terlihat bedanya."


Aku berada dalam pemaknaan dan kebingungan tersendiri karena kata-katanya. Bis mulai melaju, ke arah jembatan menuju hingar bingar perkotaan. Hujan turun cukup deras. Daun-daun pohon elm berguguran karena berat rintik hujan yang ditanggungnya. Di kaca, butiran-butiran hujan membentuk sungai, bertemu di satu titik dan turun ke bawah. Aku mulai mendapati diriku dalam suhu tubuh yang tepat, sehingga bisa melakukan berbagai pergerakan. Cuaca di dalam bis lebih hangat dibandingkan cuaca di luar. Jendela mulai tertutupi uap air. Aku menuliskan namaku di jendela. Dari kejauhan terlihat kuil tua tadi. Berdiri kaku dengan balutan warna coklat tua kemerahan. Gerbang kuil seolah menyambut pengunjung dengan payung-payung aneka warna. Cukup lelah, aku mengatur sandaran kursi. Kak Bayou kelihatannya tertidur. Aku pun mendapatkan posisi ternyaman dan mulai menutup mataku dalam campuran hingar bingar anak-anak dan suara air hujan di atap bis. Aku merasakannya. Air hujan itu menerpa wajahku halus.

Pasir Hangat Menerpa Telapak Perih

Pukul 3 sore merupakan waktu yang tepat untuk meluangkan sejenak waktu di bawah rimbunnya pohon kelapa sambil menikmati deburan ombak diikuti dengan suara gemercik dari anak ombak yang menerjang pasir basah kecoklatan. Sementara yang lain mencoba bermain air agak ke tengah, saya menikmati sejuknya angin laut sore itu, di atas sebuah kursi pantai dan ditemani dengan alunan lagu-lagu yang dengan tepat saya pilih dalam playlist berjudul "Sea, Serenity and Sunset". Sengaja saya tidak memakai kacamata hitam karena tidak mau dunia yang telah Tuhan ciptakan ini hanya sebatas layar monokrom oleh sepotong kaca kecil berwarna kehitaman yang ditempelkan dengan kuat pada sebuah frame berwarna hitam dari bahan stainless steel. Musik terus mengalun, menit demi menit terus berputar. "Beyond The Sea" telah sampai pada waktunya ia harus dimainkan, dan irama alto saxophone terdengar manis di telinga. Sedikit beradu keras dengan gemuruh ombak, namun masih bisa terdengar dengan jelas melodi-melodi di nada dasar C mayor tersebut.

Angin laut kembali berhembus, dan terus berhembus. Terasa halus di wajah dan menyegarkan. Saya bosan berlama-lama membangkai di atas kursi pantai kayu itu. Mulailah berjalan sepanjang pantai dan menginjak partikel-partikel pasir kecil yang terasa hangat di telapak kaki. Sesekali saya menginjak pecahan kerang yang cukup menusuk, tapi tidak sampai melukai saya. Berjalan lebih mendekati arah air, perlahan dan halus anak ombak mencoba menerjang kaki saya membuat saya runtuh ke pasir. Saya cukup kuat untuk berdiri tapi tidak sanggup menahan untuk tidak semakin bermain-main dengan ombak. Saya duduk di pasir dan mulai merasakan air membasahi lutut saya, kemudian terasa masuk ke dalam celana. Basah dari mulai pinggang. Matahari bersinar cerah, tapi tidak panas. Saya semakin bergairah untuk lebih menikmati sore ini. Bau air laut yang asin masuk ke hidung, dan saya pun semakin berjalan ke arah lautan biru. Berdiri menerjang ombak, yang bukan anak ombak lagi. Angin mencoba menguak rambut yang telah ditata dengan rapi.

Suasana yang menyentuh hati, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Betapa keindahan yang telah Tuhan berikan tak bisa dibandingkan dengan apapun. Sinar yang terpancar hangat, desiran anak ombak halus, pasir hangat sehalus kapas. Apalagi yang bisa saya katakan? Sejauh mata memandang, hanyalah lautan biru tua tanpa batas. Langit biru cerah, awan Cirrus putih, burung-burung camar, musik yang mengalun, dan sebungkus biskuit coklat ditambah dengan segelas teh limun dingin. Beberapa anak kecil berlarian, entah apa yang mereka kejar. Ada banyak layang-layang mencoba berpacu melawan gravitasi di langit sana, semakin mereka mencoba bebas, semakin benangnya menarik kembali mereka. Para peselancar menontonkan keahlian mereka menari diatas ombak, lekukan-lekukannya seperti legato yang mengikat not-not agar tidak lepas. Di sebelah sana ada banyak sekali orang yang mungkin sama-sama sedang menikmati mahakarya Tuhan ini. Beberapa turis asal negara-negara barat terlihat menyolok dengan bikini mereka. Setelah lelah bermain dengan air, saya kembali ke pinggir, naik ke kursi pantai dan menikmati lagu-lagu selanjutnya.

Matahari semakin turun, langit seperti di set menuju pengaturan warna magenta yang lebih tinggi, degradasi warna alami yang pastinya akan membutuhkan puluhan juta ton cat dan jutaan manusia untuk membuat lukisan sebesar itu. Siluet kapal-kapal nelayan mulai terlihat. Sinar matahari menyorot wajah bak spotlight. Angin lagi berhebus halus. Teh limun dingin sekarang telah habis, menyisakan sepotong limun di bibir gelas yang terlihat kaku. Es di dalamnya perlahan mencair. Saya pun kembali tertidur.

Monoton, Mematung, dan Membusuk

Melangkah ke jajaran batu-batu yang disusun sedemikian rupa, membuat sebuah pola klasik antara warna kelabu dan merah terakota yang mulai pudar seiring ban-ban dan tapak sepatu meingjaknya. Tersusun menjadi sebuah jalan yang cukup lebar, mengarah ke sebuah komplek bangunan-bangunan yang terlihat kusam. Daun-daun kering tertarik gravitasi, tak bisa melepaskan diri dari jeratnya, mengotori jalan tersebut. Dari kejauhan tampak beberapa tubuh, bercengkrama membuat kegaduhan. Suara-suara yang terdengar sama setiap harinya, wajah-wajah yang sama, dan tentunya apa yang disebut dengan "human beings" yang sama pula setiap harinya.

Menelusup lebih jauh, menapaki anak tangga yang lantainya mulai retak. Retakan-retakan yang terlihat ironis, ketika melewati masa-masa keemasannya. Dinding dengan beberapa retakan bekas gempa tektonik dan noda kusam dari debu, ikut mewakili bekas-bekas jamannya. Beberapa lukisan hasil tangan-tangan terampil menunjukkan kemegahan yang terjadi beberapa tahun silam karena orang-orang hebat yang ada. Namun sekarang mereka pergi, menyisakan lukisan-lukisan dan sedikit graffiti kampung sebagai kenang-kenangannya. Di akhir tuntunan tangga terdapat lobby kecil, sangat kecil dengan ukuran 2 x 2 meter. Menghubungkan koridor yang ada di sisi kanannya, tangga yang menuju ke dunia berikutnya, maupun surga bagi para penderita diare ataupun mereka yang tak kuat melepaskan hajatnya. Bau yang sama berasal tempat dari ujung anak tangga di setiap lantai. Melihat ke arah kanan, koridor tua dan mengerikan memisahkan dua buah ruangan yang cukup besar. Koridor gelap, terkadang lampu neon itu berkedip-kedip manja. Kedipan yang menakutkan selepas matahari turun ke peristirahatannya. Tubuh lemas dengan langkah gontai setiap kali menapaki tangga yang sama, memasuki koridor yang sama dan ruangan yang sama walaupun hanya beberapa hari dalam seminggu. Ya, sepertinya 5 hari dalam seminggu mengalami deja vu yang sialnya akan terus dialami sampai masanya selesai.

Di lantai terbawah gedung, jika ditelanjangi secara horizontal akan terlihat seperti labirin kecil. Dibawah setiap tangga utama, terdapat tangga yang mengarah ke mezzanine. Sumpek dan sesak, di ruangan kecil yang berukuran mungkin hanya 2 x 4 meter. Memasuki pintu kaca yang berderit setiap terbuka, ada sebuah ruangan yang cukup besar. Bisa jadi titik pusat di lantai terbawah. Di tengah-tengahnya ada pintu yang menghubungkan ke koridor yang lebih pendek, namun terdapat banyak pintu. Salah membuka pintu semoga tidak masuk ke lubang buaya. Di ujung koridor ada pintu menuju udara bebas. Lagi-lagi berderit setiap dibuka. Suara deritan bak jeritan anak kecil yang disiksa orangtuanya.

Dibalik semua perincian bangunan, bagaimana dengan penghuninya? Entahlah, mereka sama tak berubah.
Tak ada yang berubah. Hitam dan putih. Kursi yang sama, debu yang sama.
Wajah menyebalkan dan bualan hasil copy-paste oleh manusia itu sendiri.

Monoton, persis layar TV tahun 50an.

Memang Tidak Tahu

Hidup memang bukan DVD player ataupun iPod yang bisa me-rewind segala jenis film ataupun musik yang ada di dalamnya. Oleh karenanya ketika kita merasa kehilangan suatu bagian dari film atau lagu tersebut, kita akan sangat merindukannya. Bahkan mencari lagi supaya kepingan hilang itu bisa kembali dinikmati.

Mungkin satu tahun setelah aku dan kakakku memilih jalur yang berbeda. Dia mengarah ke pusat kota, sementara aku mengarah ke bagian barat kota. Kehidupan kami berbeda, sangat berbeda terutama dari mulai pukul 7 sampai pukul 5 sore. Jalan pulang yang kami tempuh berbeda, dan tidak ada lagi kaki-kaki yang sangat kukenal melangkah di depan bahkan tepat di sebelahku.

Aku sengaja memilih pulang dengan berjalan kaki. Memang terbilang cukup jauh jarak dari sekolah dengan rumahku. Apalagi kalau dengan berjalan kaki, sudah cukup olahraga hari itu. Sore itu matahari tidak bersinar dengan terik, namun cerah. Segelas minuman dingin di tanganku cukup melegakkan tenggorokan yang perih, walaupun tak bisa dipungkiri kedua kakiku dan tubuh minta dipijit Shiatsu karena letihnya. Sampai di gerbang komplek, aku tak cukup puas. Sebenarnya rumahku tak jauh dari gerbang komplek. Ya, aku bisa melihat pos dari rumahku sebenarnya. Namun karena jarak dari satu rumah ke rumah lainnya yang cukup panjang dan bukan karena taman pemisah atau kavling kosong sebagai pemisah namun betapa besarnya rumah-rumah yang ada, terpaksa aku anggap jarak dari satu rumah ke rumah berikutnya seperti melewati 3 buah minimarket. Waktu yang tepat untuk berjalan-jalan sejenak memang. Beberapa anak kecil bermain sepeda, ada beberapa pasangan muda yang berbagi kasih dan cerita. Dua ekor Terrier kecil digendong oleh pemiliknya sambil berjalan sore, sementara anak kecil disebelahnya yang kurasa adiknya memegang kokoh PSP sambil menekan tombol-tombolnya. Entah permainan apa itu, tapi si adik terlihat sangat serius. Kurasa satu level yang ia tamatkan telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia di kota Bandung ini. Aku agak sebal ketika mulai melewati patung di bundaran tersebut. Terkadang beberapa pengendara motor yang egois berputar-putar disana atau menonjolkan kemampuannya bermain kecepatan. Raungan motor terdengar menyebalkan, bahkan lebih buruk dari Tenor Saxophone yang rusak. Semoga saja "Membran Timpani"-ku tidak apa-apa.

Sampai di depan rumah dan langsung melangkah ke beranda depan. Tidak ada yang berbeda. Seperti biasa, mobil tidak ada di carport. Ayah masih di kantor. Dari jauh aku masih bisa melihat kolam dengan air kebiru-biruan. Aku ingin berenang. Beberapa ekor kucing berlarian di atas rumput hijau. Ingin kubawa masuk ke rumah namun kurasa bunda tak akan membiarkan lebih banyak kucing lagi merusak bagian dalam rumah. Bel kutekan dan segera pintu terbuka.

Memasuki ruang tamu, beberapa foto terpajang. Pengaturan vertical blind dan pencahayaan yang tepat memberikan efek sepia yang natural. Aku masuk lebih dalam, ke sebuah ruangan yang besar. Aku meletakan tasku yang berat seolah-olah berisi batuan hasil lava yang membeku di atas kursi piano. Iseng, aku menekan satu tuts di oktaf terendah. Pianonya menggerutu. Aku tertawa kecil. Melangkah masuk lebih dalam ke ruang keluarga. Tak ada orang. Sepi. Ruang makan pun tak lebih daripada tempat menyimpan kursi dan meja makan saja. Buah-buahan sebagai pengganti bunga. Karena melihat sangat sedikit tanda-tanda pergerakan dinamis di lantai bawah, aku pun menyusuri anak tangga, berjalan agak cepat dan membuka pintu kamar sedikit tergesa-gesa, melangkah masuk ke kamar dan membantingkan tubuh ke atas kasur.

Selepas melepas seragam dan mengenakan pakaian yang lain, aku melangkah turun. Bunda di ruang keluarga, dengan bukunya dan secangkir teh limun hangat. Ayah kelihatan baru pulang dari kantornya dan tepat di anak tangga terakhir aku hampir bertubrukan dengan kakakku yang baru tiba pulang sekolah, seperti kejadian kapal Olympic dan Hawke.
"Ade.. Jalannya hati-hati dong."
"Maaf. Ga sengaja."
"Gapapa. Gimana sekolahnya?"
"Cape.", kalimat terakhir sengaja dilontarkan dengan volume yang agak keras agar bunda dan ayah bisa mendengar.
"Kamu ini, yaudah ntar ngobrol-ngobrol sama kakak kalo kakak udah ganti baju ya dek.."

Kakakku menghilang dibalik pintu kayu bercat warna putih. Ia bahkan tidak menyisakan bayangannya.

Aku pun pergi ke ruang keluarga. Ayah sekarang ada disana juga dengan bunda. Seperti biasa ayah yang sibuk tidak akan begitu peduli dengan kegiatan-kegiatanku.
"Gimana di sekolah dek?"
"Ga rame. Cape pa."
"Oh.."

Ayah, 'Oh' bukanlah jawaban yang aku ingin dengar. Bunda masih berkutat dengan bacaannya dengan secangkir teh yang setengah habis.
"Bunda.. Ade capek di sekolah."
"Jalani aja, nanti juga betah."
"Ih, dengerin cerita ade coba! Ayolah, ade cape. Bunda sama ayah harus tau."
"Ya ikutin aja. Gitu aja kok repot dek."
"Papa ngga bisa ngerasain sih gimana rasanya!"
"Dek, dengerin papa. Coba aja dulu dijalani. Kamu coba ikhlas, coba jangan terlalu banyak fikir ini itu ini itu. Biarin aja. Omongan orang yang negatif jangan didengarkan. Kalau kamu pusing ya minum obat saja. Ohya, ayah malam ini ada makan malam sama rekan-rekan ayah. Kamu mau ikut, Klaus?"


Aku yang sudah kehilangan emosi pergi dari ruang keluarga. Ayah dan bunda sedikit terkejut namun segera sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku ambil tasku di atas kursi piano. Satu bagian tasku menyambar tiang penopang lid piano, bergeser dan miring akhirnya terjatuh. Lidnya menutup dengan keras, membuat piano mengamuk. Ayah, bunda, dan aku pun kaget. Tapi aku tak mau melihat ke belakang. Aku terlalu kesal. Tak pernah didengarkan. Dan memang tak mau mendengarkan.

Memang, memang tidak tahu keadaannya.

Saturday, May 29, 2010

Great Wishes in Each Gift!

Wow, one of those special gifts for my birthday was a blue box (I could make it as a time capsule) containing so many swan-shaped origami papers. My friends gave me on this afternoon, when we were enjoying tea-time at Pizza Hut. They were colorful and there was also my favorite color, blue.

The rule said to open each paper and read the message inside. Whoaaa! My sister said the box contained about 39 swans from different friends! Oh God, bet how long I could open it one-by-one and read the messages LOL

It wasn't a long time to find a message from 'her', my super-duper-huckleberry-pie sister. The message was something.. I guess I should know it by myself LOL (in other word : lovely secret). Then I couldn't open it one-by-one cuz it would take longer time. So I continued opening the papers in my bedroom as soon as I came home.

Whoaaa! Some messages from unpredictable persons! Thanks you guys have made me aware that this life should have been enjoyed. Well I was used to thought from one point of view only and I was used to see the negative side. You guys just made me open my mind. Other papers said something inspiring. Other papers were come from the old friends LOL

I couldn't mention the friends who wrote those papers. Some of them were unnamed and I was so curious. But thanks buddy. At all!