Translate This Page

Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Friday, February 1, 2013

The Beach


Paman kedatangan stok-stok terbaru untuk tokonya. Aku membantu paman menaruh kardus besar berisi gelas-gelas plastik kecil ke dalam sebuah rak besar.

“Lee, jangan lupa kardus berisi piring plastik ini juga kau taruh dengan rapi. Biar aku yang mengeluarkan isinya,” ujar paman.
“Baiklah, paman,” jawabku.

Paman melayani petugas distribusi yang datang dengan ramah, sementara aku agak kewalahan dengan stok-stok yang baru datang ini. Ada banyak barang disini dan aku bingung yang mana yang harus kubereskan terlebih dahulu. Hmm... Bagaimana jika aku mulai dengan membereskan botol-botol kecap manis ini, lalu merapikan stok pasta gigi ke lemari, dan kemudian membereskan piring plastik ini?

“Lee, bagaimana?” tanya paman.
“Aku sedang merapikannya, paman,” jawabku.
“Hmm... Kau nampaknya tak pergi bekerja hari ini,”
“Aku ‘kan libur pada hari Jumat,”
“Kau terlalu rajin bekerja, sih. Edvard saja bosan melihatmu,”
“Ah, paman bisa saja,”
“Lee, bagaimana hubunganmu dengan Timothy?”
“Kami? Entahlah, kurasa mulai membaik,”
“Kemarin aku membelikannya mainan baru. Timmy nampak bosan di kamarnya, jadi kuminta pacarmu mengantarku mencari mainan untuk adikmu. Tiffany anak yang baik dan sopan kepada orang tua. Ia benar-benar membantuku,”
“Paman, apa itu tidak merepotkan?”
“Merepotkan apanya?”
“Membelikan Timothy mainan mahal?”
“Aish, kau ini masih saja menyebalkan! Lagipula aku memakai uangku, bukan uangmu! Kau mau kulempar dengan gayung plastik ini?!”
“Tidak! Jangan paman! Aku ‘kan hanya bertanya saja,”
“Kau ini. Awas jika kau bertanya seperti itu lagi,”
“Ya, paman...”
“Oh ya, hari ini kau tak perlu mengantar Timothy ke tempat les pianonya. Aku telah memberitahu Tiffany bahwa Timothy belum kuizinkan pergi keluar rumah. Jadi siang ini Tiffany akan datang, dan aku harap kau bisa menemani adikmu berlatih piano,”
“Hmm... Baiklah,”
“Dan juga, Timothy masih dalam keadaan yang belum benar-benar baik. Kau jangan dulu mengajaknya bepergian,”
“Apa?”
“Ya, kau tak boleh mengajaknya bepergian. Bagaimana jika luka adikmu terbuka lagi?”
“Tapi aku hari ini sebenarnya berencana mengajak Timothy pergi ke...”
“Tidak! Timmy harus beristirahat!”

Aku meringis kesal.

“Ah, setelah ini kau naik saja ke rumah. Tolong cuci baju-baju yang belum sempat kucuci subuh tadi, setelah itu kau boleh beristirahat,”
“Ah, paman ini...”

Aku segera menyelesaikan tugasku dan setelah beres, segera aku naik ke rumah, meninggalkan paman yang sedang sibuk di toko. Duduk aku di kursi piano sambil mengatur nafasku.

“Bagaimana ini? Hari ini aku libur dan ini hari yang tepat,” batinku.

Atau lebih baik aku diam-diam saja membawa Timothy pergi? Tapi percuma juga bila ia susah dibujuk...

Tapi aku harus bisa membujuknya!

----

“Rentangkan lebih lebar jemarimu. Ya, seperti itu,”

Timothy nampak kesakitan ketika ia berusaha merentangkan jemarinya lebih lebar. Di hadapannya adalah notasi ‘La Campanella’ karya Frans Liszt yang ia coba pelajari. Karya klasik itu nampak sulit, terlihat dari betapa Timothy berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa merentangkan jarinya agar lebih mudah menjangkau beberapa tuts yang letaknya terpisah cukup jauh satu sama lain.

“Nampaknya sulit,” aku berkomentar.
“Memang, tetapi adikmu begitu tekun berlatih. Jika ia rajin berlatih, jarinya akan terbiasa dengan rentang tuts yang jauh ini,” jawab Tiffany.
“Kau pernah memainkan lagu ini?”
“Pernah, tapi baru tiga kali aku memainkannya. Lagu ini terlalu riskan untukku. Kelingkingku pernah cedera ketika memainkan lagu ini,”
“Jarimu terkilir?”
“Ya, begitulah. Aku jadi tak bisa mengajar selama seminggu,”
“Jika jarimu terkilir ketika bermain piano, jadi kau tak bisa bermain selama seminggu?”
“Tidak juga. Tergantug bagaimana kondisi lukamu,”
“Kalau begitu jangan berikan Timothy lagu-lagu yang riskan,”

Aku bangkit menghampiri Tiffany dan Timothy, hendak menahan Timmy agar tak memainkan lagu-lagu yang berpotensi mencederai jemarinya. Tiffany menahanku; ia menarik lenganku.

“Lee, biarkan! Lihat,”

Aku memperhatikan Timothy yang rupanya sedang memainkan lagu itu dari awal. Ia memainkannya pelan-pelan, dan aku begitu kagum karena ia bisa memainkannya dengan baik sampai baris ke empat.

“Timmy! Kau memainkannya dengan baik! Walaupun temponya masih sangat lambat, tapi kau memainkannya dengan baik, dan hanya sedikit nada yang keliru! Ah, aku bangga padamu!” Tiffany merangkul Timothy dan memujinya.
“Adikku akan jadi penerus Mozart,” tambahku.
“Adikmu hebat, Lee! Kau bisa bermain seperti dia?”
“Ah, jangan ditanya! Tentu saja aku tak bisa,”
“Hahahaha! Kau juga harus berlatih, Lee! Kau sebenarnya punya bakat, tetapi jarang kau latih. Sayang sekali jadinya,”
“Ya, mungkin nanti aku akan mulai berlatih lagi,”

Jam besar berdentang dua kali. Ah, sudah jam dua rupanya. Aku harus bergegas karena aku akan mengajak Timothy pergi ke suatu tempat. Setengah berlari aku naik ke kamarku, berganti baju, mengambil jaket dan kaus Timothy yang dibelikan oleh Tiffany, lalu membawanya turun. Timothy dan Tiffany terkejut denganku yang nampak terburu-buru.

“Lee, ada apa? Kau berganti baju?” tanya Tiffany.
“Ayo bergegas. Timmy, ganti bajumu,” tegasku.
“Apa? Hey, kau mau membawa adikmu kemana?” tanya Tiffany kaget.
“Aku sudah berjanji mengajaknya pergi saat itu, tapi hujan turun sehingga kami tak jadi pergi. Lebih baik sekarang saja aku mengajaknya pergi,” jawabku.
“Tapi pamanmu melarang Timothy pergi kemanapun,”
“Tapi aku tak punya waktu lagi!”
“Memangnya kau tak bisa mengajaknya pergi di akhir pekan saja?”
“Aku sudah meluangkan waktuku untuk Timothy. Kebetulan hari ini aku memang tak bekerja. Ayo, Timmy. Ganti bajumu,”

Timothy menggeleng pelan.

“Ada apa? Kenapa kau tak mau? Kumohon, selagi aku tak bekerja hari ini,” tanyaku kaget.
Bagaimana jika paman marah?
“Aku yang akan dimarahi, bukan kau. Ayolah, kumohon...”
“Lee, kau jangan mengambil resiko!” tegur Tiffany.
“Kau tak mau menolongku?”

Tiffany menatapku tak percaya.

“Kau... Kau mau membawanya kemana?”
“Ke tempat yang sudah kujanjikan padanya,”
“Kemana? Apakah tempat itu berbahaya untuknya?”
“Tidak. Ayo, Timmy. Ganti pakaianmu,”
Tak mau,”
“Kumohon! Aku berjanji setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi jika kau merasa aku mengganggumu,”
Aku tak mau pergi,”
“Kumohon, Timmy. Hanya hari ini saja,”

Timothy sempat meronta ketika aku memaksanya melepas kausnya, tetapi akhirnya ia mengalah. Aku memintanya berganti baju dan mengenakkan jaketnya. Aku sendiri heran, Timothy tak mengelak atau menghindariku. Apa mungkin Timothy sudah mau berkomunikasi lagi denganku?

“Kau sudah siap?” tanyaku. Timothy mengangguk pelan.
“Ayo, Tiffany. Kita berangkat sekarang,”
“Apa? Lee, kau ingin dimarahi habis-habisan oleh pamanmu?”
“Tak ada jalan lain. Ayolah!”
“Tapi...”
“Kau mau membantuku atau tidak?”

Tiffany nampak ragu. Ia tertunduk lesu, lalu menatapku.

“Pastikan pamanmu tak ikut memarahi adikmu karena kekeraskepalaanmu ini,”

Aku mengangguk setuju.

----

Perjalanan menuju tempat yang kumaksud memakan waktu agak lama. Timothy sampai tertidur di dalam bis. Ia bersandar pada Tiffany. Aku melirik Tiffany yang nampak terkejut karena Timothy tertidur pulas bersandar ke sisi kanannya.

“Berat?” tanyaku.
“Tidak. Tak apa-apa, Lee. Hanya saja posisinya bersandar padaku membuatku agak kurang nyaman,” jawabnya.
“Dorong ia ke arahku agar ia bersandar padaku,”
“Tak usah, Lee. Kasihan adikmu, ia pasti kelelahan,”

Bis akhirnya tiba di perhentian, namun Timothy masih belum bangun. Aku akhirnya menggendongnya keluar bis. Tiffany nampak masih bingung dengan tujuan kami.

“Lee, kau akan membawa kita kemana?” tanyanya.
“Kau lihat saja nanti. Sekarang ayo kita membeli tiket MRT,” jawabku.

Aku bergegas menuju tempat pembelian tiket MRT untuk membeli tiga tiket untuk kami. Tiffany nampak masih bingung tapi aku tak peduli, selama ia masih terus mengikutiku. Kami masuk ke dalam kereta dan kereta dengan cepat membawa kami ke sebuah pulau yang berjarak tak jauh dari pulau Singapura. Tiffany mulai sadar kemana aku akan membawa mereka. Ia menatapku bingung.

“Lee, kau akan membawa kami ke Universal Studio?” tanyanya.
“Tidak,” jawabku.
“Lantas?”
“Kau lihat saja nanti,”
“Lee, kau jangan seperti ini! Kau tahu, sekarang paman Richard pasti marah padamu karena mengetahui kau membawa adikmu pergi tanpa seizinnya!”
“Ponselku sudah kumatikan,”
“Bagaimana jika ia menghubungiku?”
“Paman tak tahu nomor ponselmu,”
“Lalu ponsel adikmu?”
“Sengaja kutinggalkan di atas piano,”
“Lee! Kau ini keterlaluan!”
“Kau mau membantuku atau tidak? Kau tak tahu rencanaku, ‘kan?”
“Tapi bukan begini caranya!”

Monorel telah berhenti dan aku bergegas keluar dari monorel, berjalan menggendong adikku sampai tempat yang kumaksud. Tiffany mengikutiku di belakang tanpa tahu apa maksudku sebenarnya. Ia terdengar menggerutu dan mengomeliku, tapi aku acuhkan saja agar ia tahu sendiri maksudku membawa adikku kemari.

“Lee, kau mendengarkanku atau tidak?!”
“Aku mendengarmu,”
“Lalu jawab pertanyaanku!”
“Kau akan mendapatkan jawabanmu nanti,”
“Kau ini menyebalkan! Sekarang aku mengerti betapa keras kepala dan egoisnya kau!”
“Tiffany, kau akan tahu maksud dari apa yang kulakukan ini nanti,”
“Tapi kau berbuat seenaknya seperti ini, membawa adikmu yang masih sakit pergi, dan melanggar larangan pamanmu!”
“Kau sendiri memangnya tak pernah melanggar peraturan sekolah ketika kau masih bersekolah dulu?”

Aku menghentikan langkahku lalu berbalik. Tiffany menatapku tajam. Kali ini matanya tak tersenyum padaku.

“Kenapa kau jadi bertanya seperti itu?”
“Kau pernah ‘kan melanggar peraturan ketika kau bersekolah dulu? Katakan padaku kau pernah kabur dari sekolah bersama Luna dan teman-temanmu untuk berbelanja di mal lalu pulang hampir tengah malam,”
“Bagaimana kau tahu itu?”
“Luna banyak bercerita tentangmu. Sekarang, apa bedanya kau dengan aku? Kita sama-sama pernah melanggar aturan,”
“Tapi itu dulu, Lee. Sekarang aku bukan anak kecil lagi,”
“Aku juga bukan anak kecil lagi sekarang, dan aku sadar aku melakukan hal ini. Kau tahu, sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Aku tak melakukan ini begitu saja. Aku harus menepati janjiku pada adikku,”
“Tapi...”
“Kau akan mengerti maksudku nanti,”

Tiffany akhirnya terdiam. Aku melanjutkan langkahku dan Tiffany mengikutiku. Semakin dekat aku dengan tempat yang kutuju, semakin keras terdengar suara deburan itu, dan desir angin yang menyejukkan. Kini di depanku adalah lautan lepas, dengan deburan ombak dan angin yang berhembus lembut membelai wajahku.

“Pantai Tanjong? Kau mau apa disini?” tanya Tiffany.
“Mempertemukan adikku dengan hal yang ia rindukan,” jawabku.

Aku lalu membangunkan Timothy yang masih tidur di gendonganku. Ia menggeliat pelan sebelum membuka matanya.

“Timmy, bangunlah. Lihat,”

Timothy terbangun. Aku lalu menurunkannya. Ia berdiri di sampingku menatap laut yang ada di hadapannya. Matanya terbuka memandang ombak yang berkejaran untuk memeluk pasir putih yang terhampar.

“Timmy, kau ingat kau pernah memintaku membawamu ke laut? Malam itu aku membawamu ke atap dan menunjukkanmu pemandangan malam hari. Kau melihat laut dan kau menangis karena kau merindukan ayah dan ibu. Kau ingat, kita bersama-sama menebar abu jenazah ayah dan ibu saat itu walaupun bukan di pantai ini, di laut di hadapan kita ini. Tapi kau tahu, kurasa laut saling bersatu dan bagaimanapun juga seperti yang kau ketahui, ayah dan ibu telah bersatu dengan laut. Aku tak bisa membawa mereka kembali untukmu, jadi aku membawamu untuk bertemu mereka disini. Kau merindukan mereka, bukan?”

Mata adikku mulai berkaca-kaca. Ia melepas sepatunya lalu mulai berjalan ke tepi pantai. Ia menginjak butiran-butiran pasir putih, lalu terkena terjangan ombak kecil yang tiba ke pantai. Ia berjalan semakin ke tengah, dan ketika air laut sudah setinggi pinggangnya, ia terhenti. Aku melepas sepatuku dan menyusulnya. Aku berhenti beberapa meter darinya, membiarkannya melepas rindunya yang cukup lama ia pendam.

“Ibu... Ayah...”

Timothy memanggil ibu dan ayah. Kudengar ia lalu menangis dan terisak. Semakin lama isakannya terdengar semakin keras. Aku merasa iba pada adikku. Miris sekali mendengarnya menangis seperti ini.

“Aku merindukan kalian! Kenapa kalian tega meninggalkan kami secepat ini!”

Adikku menampar-namparkan tangannya frustasi ke permukaan air sambil tetap terisak. Lama kelamaan, Timothy justru mengungkapkan kekesalannya karena kepergian kedua orangtua kami yang terlalu cepat.

“Kenapa kalian tega melakukan ini! Kami masih membutuhkan kalian tapi kalian meninggalkan kami ketika kami membutuhkan kalian! Aku sangat kesepian tanpa kalian! Kenapa kalian biarkan aku kesepian!”

Aku tak bisa menahan diriku lagi. Segera kudekap adikku dari belakang. Air mataku akhirnya jatuh juga. Timothy berbalik lalu memelukku erat, sangat erat. Ia tenggelam dalam pelukanku dan tangisannya.

“Kenapa mereka tega melakukan ini pada kita! Kenapa! Apa mereka tak tahu betapa kita merindukan mereka!” isak Timothy.
“Aku tahu, tapi aku tak bisa berbuat apapun. Tuhan telah menakdirkan ini semua,” ujarku.
“Tapi apa salah kita! Apa dosa kita! Kenapa kita ditakdirkan seperti ini?”
“Jangan bicara seperti itu,”
“Apa Tuhan membenci kita? Kenapa Tuhan mengambil ayah dan ibu secepat ini?”
“Tidak, Timmy. Tuhan menyayangi kita,”
“Tapi kenapa, Koh! Kenapa ini terjadi,”
“Timmy... Kumohon jangan seperti ini...”

Adikku terisak semakin hebat. Aku mencoba menenangkannya tetapi aku sendiri sudah kalap dengan tangisanku. Aku mencoba menegarkan diriku, lalu berlutut sampai tubuhku setinggi tubuh adikku.

“Timmy, inilah hidup. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kita mungkin mengalami hal-hal buruk, tapi percayalah akan selalu ada hikmah dari semua kejadian,” ujarku.
“Apa Tuhan sedang menghukum kita?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Tidak. Tuhan lebih menyayangi ayah dan ibu daripada kita menyayangi mereka,”
“Tapi... Koh, aku merindukan ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka,”
“Aku juga merindukan mereka, Timmy. Aku sangat merindukan mereka. Sekarang setelah mereka pergi, hanya kau yang kumiliki. Kau juga, kau tak boleh meninggalkanku,”

Timothy memelukku lagi.

“Maafkan aku, Koh. Maafkan aku karena aku tak mau bicara padamu selama ini. Maafkan aku karena aku sempat membencimu. Aku sadar, hanya kau yang kumiliki sekarang setelah ayah dan ibu pergi,” ujarnya terbata-bata.
“Kau jangan membenciku lagi. Aku tak pernah membencimu. Terkadang kau mengesalkan dan membuatku marah, tapi aku tak pernah membencimu. Aku sangat sayang padamu karena kau satu-satunya yang ayah dan ibu titipkan padaku. Aku tak peduli dengan uang atau barang-barang yang diwariskan mereka untukku. Aku rela itu semua menjadi milikmu, asalkan aku memilikimu. Itu saja,”
“Kau juga, jangan marah padaku karena aku pernah membencimu,”
“Tidak. Tidak akan,”
“Aku akan melakukan apapun agar kau tak menaruh dendam padaku,”
“Benarkah?”
“Aku sungguh-sungguh,”

Aku terdiam sejenak.

“Timmy, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”
“Aku akan berusaha melakukan apapun yang kau mau,”
“Setelah ini, kumohon kau mulailah berbicara. Aku merindukan suaramu. Aku sedih melihatmu terkadang menjadi bahan olok-olok orang lain. Kau mau ‘kan mulai bicara lagi?”

Timothy terdiam. Ia menatapku dalam.

“Asalkan kau tak menaruh dendam padaku, tak akan membenciku, dan tak akan pernah berusaha melompat lagi dari Esplanade bridge,” ujarnya. Aku mengangguk.
“Bagaimana kau tahu aku pernah hampir melompat?” tanyaku.
“Jiejie yang menceritakan semuanya. Kumohon jangan pernah terfikir untuk melompat dari jembatan itu lagi,” jawabnya.

Aku tersenyum kecil.

“Jika aku melompat dari atap, bagaimana?” godaku.
“Aku tak mau bicara lagi,” jawabnya.
“Jika aku melompat dari tempat tidur?”
“Silahkan. Lakukan saja,”
“Hmm... Atau jika aku melompat dari atas meja makan, kau masih akan bicara padaku?”
“Aku tak mau mengakuimu sebagai kakakku,”
“Kenapa?”
“Karena Leonard Yeo tak akan melakukan hal konyol seperti itu,”
“Tapi jika aku melakukan itu, bagaimana?”
“Oh, kau pasti kerasukan arwah yang lain. Aku akan memanggil orang yang mampu mengusir roh jahat,”

Aku menatap Timothy, lalu kami tertawa bersama. Kulirik Tiffany yang menonton kami dari jauh. Ia lalu berjalan ke arah kami.

“Kalian sudah berbaikan?” tanya Tiffany.
“Sudah. Timothy bahkan sudah mau bicara sekarang,” jawabku.
“Bagaimana jika aku tak mau bicara?” tanya Timothy.
“Hey, seperti itukah suaramu? Kau punya suara yang bagus, Timmy!” puji Tiffany.
“Benarkah? Tapi... Aku malu jika aku bersuara lagi. Maksudku, orang-orang lain... Mereka...”
“Mereka akan terkejut mendengarmu bicara,” potongku.
“Jika mereka berfikir bahwa selama ini aku berbohong, bagaimana?”
“Bukankah kau telah menjelaskan pada mereka yang sebenarnya sejak awal?”
“Memang. Hanya saja... Kurasa aku tak mau menjadi orang yang banyak bicara,”
“Tak apa-apa. Kau sudah mulai berbicara pun aku sudah senang,”
“Kemarin kau sempat menghinaku karena aku tak mau bicara. Kau bilang aku ini bisu,”
“Aku tak menghinamu. Aku hanya menyindirmu, mencoba mencari cara agar kau mau bicara. Buktinya sekarang kau mau bicara, ‘kan?”

Timothy tersenyum kecil.

“Lee, kapan kita akan kembali?” tanya Tiffany.
“Entahlah,” jawabku, “Aku tiba-tiba merasa nyaman berada disini,”
“Lagipula sudah lama aku tak bermain di pantai. Jiejie, selagi kita berada di pantai kenapa tak kita nikmati saja? Maksudku, kau pernah berkejaran di pantai ‘kan?” sambung Timothy.
“Maksudmu seperti ini?”

Tiffany tiba-tiba menyerang kami dengan cipratan air laut. Aku dan adikku kontan terkejut. Adikku yang sudah lebih sigap ikut menyerangku dengan cipratan air. Kurasa perang air telah dimulai. Kedua tanganku kugerakkan dengan cepat untuk menyerang balik mereka. Gelak tawa menambah keasyikan perang air di sore hari yang cerah ini. Aku bahagia bisa menikmati momen-momen berharga bersama dua orang yang kusayangi sore ini. Tapi yang lebih membahagiakan adalah, bisa berbaikan dengan adikku dan mengetahui bahwa ia akan mulai berbicara lagi. Tuhan, terima kasih.

----

Friday, December 28, 2012

Why

Tak seperti biasanya, hari ini restoran padat oleh para pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah turis-turis asing yang datang untuk berlibur di Singapura. Station penuh dengan bahan-bahan masakan. Para koki senior begitu sibuk dan serius mengolah bahan makanan menjadi masakan khas peranakan yang lezat. Rajiv pun dengan giat membuat teh tarik untuk para pelanggan.

“Lee, bisa kau bawakan pesanan ini ke meja nomor sepuluh?” ujar Razaq.
“Ah, baiklah,”

Aku membawa nampan berisi pesanan makanan ke meja nomor sepuluh. Pengunjung di meja nomor sepuluh bukanlah turis asing. Mereka warga keturunan Tionghoa sepertiku.

“Nasi ayam saus tiram untuk dua orang,” ujarku.
“Ah, akhirnya pesanan kami datang. Terima kasih, nak,”

Aku menaruh piring-piring pesanan di atas meja. Pengunjung meja nomor sepuluh nampak senang, terlebih ketika aku memberikan mereka teh herbal gratis. Kurasa mereka akan kembali lagi kesini.

“Ya, terima kasih. Silahkan datang kembali,”

Aku melirik sumber suara tersebut. Suara yang tak asing lagi bagiku. Luna, ia baru saja menyapa sekelompok pengunjung yang telah selesai makan. Ia segera membereskan meja yang telah digunakan lalu kembali ke dapur. Aku segera mengejarnya ke dapur. Kutarik tangannya dan kutahan ia sebentar.

“Hey, kau tak apa-apa?” tanyaku. Luna dengan kasar melepaskan pegangan tanganku.
“Aku tak apa-apa,” jawabnya dingin.

Luna kembali membawa pesanan berikutnya untuk para pengunjung. Ia mengacuhkanku dan ini tak biasanya terjadi. Aneh sekali. Luna biasanya senang jika aku bekerja bersama dengannya. Ia bahkan biasa mengejekku ketika kami bekerja. Kali ini tidak. Ia tak mengejekku. Ia tak nampak senang ketika aku berbicara dengannya.

Aku jadi semakin tak mengerti dengan Luna. Setiap aku berpapasan dengannya membawa pesanan untuk pengunjung, ia tak pernah tersenyum padaku. Ketika aku memanggilnya dan memintanya membawakan sesuatu untuk pelanggan, ia hanya mengangguk. Ia tak pernah memanggilku untuk meminta bantuan, semisal membawakan sesuatu atau menanyakan apakah pesanan pengunjung telah siap atau belum. Aku jadi tak enak hati pada Luna. Apa aku telah melakukan hal yang salah padanya sampai ia marah padaku? Kulihat Luna sedang membereskan meja nomor sembilan belas. Aku menghampirinya dan berniat membantunya membawakan piring-piring dan gelas kotor.

“Biar kubantu,” ujarku.
“Tak usah. Biar aku saja,” tolaknya.
“Tidak. Kau kewalahan. Biar kubantu,” aku bersikeras.
“Aku mampu melakukan ini sendirian,”
“Tapi kau tak akan kuat membawa beban sebanyak itu. Bagaimana jika piringnya pecah?”
“Kalau piring ini pecah, yang akan mendapat teguran ‘kan aku, bukan kau!”

Aku terkejut karena Luna membentakku, walaupun volume suaranya tak keras.

“Kenapa kau membentakku?”
“Kau tak suka?”
“Bukan begitu. Aku hanya merasa bahwa kau aneh hari ini,”
“Aneh? Hah, perasaanmu saja,”
“Tidak. Ini bukan sebatas perasaanku. Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi tak ramah padaku dan Rei?”
“Sudahlah, Lee. Kembalilah bekerja,”
“Tapi Luna, kau 'kan sahabatku. Kenapa aku tak boleh tahu?”
“Bukan urusanmu. Hanya karena kau sahabatku, jadi kau pikir kau boleh mengetahui segala hal tentangku?”
“Bukan begitu maksudku,”
“Pergilah. Aku tak mau diganggu,”

Aku terkejut ketika Luna berkata seperti itu. Apa aku salah mendengar? Luna, ia tak mau kuganggu? Aku semakin yakin ada yang tak beres dengannya. Luna pasti marah padaku, dan aku tak tahu apa sebabnya. Aku jadi semakin tak enak hati. Aku mencoba mendekatinya, berharap aku masih bisa diberikan kesempatan olehnya untuk berbicara sebentar saja. Tapi kurasa Luna telah berubah. Setiap kali aku mencoba mendekatinya, ia pergi. Selau seperti itu. Ia menghindariku.

Tetapi kenapa ia menghindariku?

----

Jam kerja telah selesai. Waktunya kami para karyawan pulang.

“Luna, Rei bilang bahwa ia ingin pergi denganmu setelah restoran tutup,” ujar Razaq sembari menggantung seragam kerjanya.
“Aku tak ingin pergi kemanapun setelah pulang bekerja. Aku ingin pulang,” jawab Luna.
“Tapi ia akan datang menjemputmu,”
“Suruh saja ia pulang,”

Aku menghela nafas pelan. Terdengar suara deru motor dari luar. Ah, Rei pasti sudah tiba dan akan mengajak Luna pergi malam ini.

“Lihat, Rei sudah tiba. Ia pasti ingin mengajakmu makan malam,” ujar Rajiv.
“Ah, tahu apa kau tentang makan malam?” balas Luna sinis.
“Hey, kurasa Rei memang akan mengajakmu pergi makan malam,” jelas Rajiv.
“Aku tak lapar,”

Luna mengenakan jaketnya lalu mengambil tasnya di dalam loker. Ia mengunci lokernya lalu segera meninggalkan dapur. Sebelum ia pergi, aku berlari mengejarnya dan menahannya ketika ia tiba di ambang pintu.

“Luna, kumohon jangan pergi. Aku ingin tahu ada apa denganmu,” aku memohon.
“Lepaskan aku, Lee,” Luna menarik tangannya.
“Kau ini kenapa? Kau tak bersikap ramah padaku, padahal biasanya kau selalu riang bahkan memarahiku. Kali ini kau memarahiku, tapi bukan karena kau gemas atau kesal. Kau memarahiku karena kau...”
“Karena aku muak denganmu,”

Aku terkejut. Muak? Luna muak denganku?

“Tapi kenapa?”
“Aku tak perlu menjelaskan alasannya, Lee,”
“Kau tak bisa seperti ini! Kita bersahabat dan...”
“Hentikan omong kosongmu, Lee,”

Aku merasa terpukul. Perasaanku sakit. Apa yang kudengar tadi adalah nyata? Luna tak mungkin berkata hal seperti itu pada sahabat-sahabatnya, termasuk aku. Tapi kenapa sekarang ia mengatakan hal itu padaku? Apakah aku masih sahabatnya?

“Luna, kenapa kau mengatakan hal itu padaku?”
“Karena...”
“Karena apa? Tolong beritahu aku jika aku melakukan kesalahan padamu,”
“Kau hampir melompat dari Esplanade Bridge, ‘kan?”
“Ta, tapi...”
“Kenapa kau tak melompat saja?”
“Apa?”
“Kenapa kau tak melompat? Melompatlah. Melompat dari jembatan itu,”
“Apa kau marah karena aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku?”
“Tidak. Aku tak marah. Kau tak sadar aku memintamu untuk melompat?”
“Apa? Kau... Kau ingin aku... Mati?”

Luna terdiam. Ia lalu menghela nafas.

“Lee, cukup. Aku tak mau melihatmu lagi,”

Luna berlari keluar meninggalkanku yang berdiri kaku dengan hatiku yang terasa sangat sakit. Ia bahkan melewati Rei dan meninggalkannya begitu saja. Rei menatapku, mengangguk padaku, lalu memacu motornya untuk mengejar Luna yang telah berlari lebih dulu. Rajiv dan Razaq menghampiriku. Mereka merangkulku dan menepuk pundakku.

“Lee, sabarlah,” Rajiv menghiburku.
“Aku tahu ini pasti sulit untukmu,” sambung Razaq.
“Tapi mengenai ucapan Luna tadi, apa itu benar?” tanya Rajiv.

Aku terdiam, lalu mengangguk pelan.

“Ya, itu benar. Aku sempat terfikir untuk melompat,” ujarku.

Rajiv dan Razaq nampak sangat terkejut. Mereka nampak kecewa, namun mereka langsung merangkulku.

“Lee, kenapa kau berfikir seperti itu?” tanya Razaq khawatir.
“Kau tahu, karena perbuatanmu kau bisa dipenjara!” sambung Rajiv.
“Sudahlah, kawan-kawan. Aku tak mau mengingat hal itu lagi. Aku tahu saat itu aku sedang tak punya pilihan jadi aku berfikir untuk menghabisi hidupku saja,” jelasku.
“Jangan bodoh! Kau masih punya kami!” tegas Rajiv.
“Jangan pernah kau terfikir untuk mengakhiri hidupmu, Lee,” tambah Razaq.

Aku mengangguk pelan. Aku tak mengira bahwa Luna akan mengetahui tentang hal itu, rencana bunuh diriku. Terlebih, aku tak mengira bahwa Luna akan bersikap seperti ini. Ia berubah sangat drastis. Mungkin hampir seratus delapan puluh derajat dari sikapnya dulu. Perasaanku sakit ketika berkata bahwa ia lebih menginginkan aku untuk melompat. Apa salahku padanya? Selama ini aku mencoba bersikap baik padanya, dan bahkan seharusnya aku yang marah padanya untuk setiap omelan, larangan, atau pukulan yang ia layangkan padaku, walaupun hanya bercanda.

Luna, ada apa denganmu sebenarnya?

Sunday, December 2, 2012

Don't Go

Tiba di rumah, perlahan kubuka pintu menuju garasi di samping toko paman Richard. Lampu garasi masih menyala. Pasti tadi paman buru-buru pergi ke rumah sakit. Aku berbalik dan kulihat Rei berdiri menatapku bingung.

“Lee, kau tak apa-apa?” tanyanya. Aku mengangguk pelan.
“Masuklah. Aku akan segera mengunci pintunya,” jawabku.

Rei masuk, lalu segera kukunci pintu. Kami lalu menaiki tangga untuk masuk ke rumah. Kulihat ruang keluarga nampak berantakan. Ada pecahan cangkir kopi di lantai, dengan koran yang halamannya berserakan di atas meja kopi. Kurasa paman sedang membaca koran ketika mendengar berita itu dan ia panik, sehingga ia tak sengaja menjatuhkan cangkir kopinya. Di asbak ada dua puntung rokok yang telah menghitam. Jam besar di sudut ruangan menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Seandainya aku bisa memutar ulang waktu, tapi itu pasti tak akan mungkin.

“Lee, kau beristirahatlah. Segera naik ke kamarmu. Biar aku yang membereskan kekacauan disini,” ujar Rei.
“Tapi...”
“Sudahlah, tenang saja. Nanti aku akan tidur di ruang keluarga di lantai dua sambil menonton televisi. Kau naik ke kamarmu saja. Hmm... Nampaknya paman Richard yang menjatuhkan cangkir kopinya. Sayang sekali padahal cangkirnya bagus,” potong Rei.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak. Biar aku saja yang membereskan,”
“Kau harus beristirahat. Lee, kau nampak lelah dan terpukul. Aku tahu bagaimana perasaanmu. Apa yang kau rasakan sama seperti ketika aku kehilangan ayahku. Mungkin bedanya, Timothy berhasil diselamatkan sementara ayahku... Ya, kau tahu ayahku sekarang sedang tidur di pangkuan Tuhan. Berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini hanya akan membuatmu semakin sakit. Kau harus beristirahat. Kau mengerti?”

Aku mengangguk pelan lalu pergi ke kamarku di lantai dua. Tiba di kamarku, segera kututup pintu kamarku, kukunci, dan kusandarkan tubuhku ke pintu kamarku. Air mataku meleleh lagi. Lututku lemas. Perlahan aku menjatuhkan tubuhku dan duduk bersandar di pintu. Rasanya sakit sekali mengetahui orang yang kusayangi, adikku, sekarang terbaring lemah di rumah sakit. Kondisinya yang sangat kritis membuatku dibayang-bayangi ketakutan antara hidup dan matinya. Aku tahu Timothy anak yang kuat, tapi bagaimanapun ia tetap adik kecilku. Bagaimana jika ia tak kuat menahan sakit itu? Bagaimana jika ia menyerah? Atau, bagaimana jika ia sudah terlanjur membenciku dan lebih memilih untuk bersama ibu dan ayah daripada kembali bersamaku? Berapa lama aku akan kuat hidup tanpa orang-orang yang kusayangi? Berapa banyak lagi orang-orang yang harus kulihat pergi dengan mata kepalaku sendiri? Masih bisakah aku tegar ketika akhirnya aku yang harus menebar abu jenazah adikku di laut?

Di bawah tempat tidur, kulihat sebuah boks berwarna hitam. Aku merangkak ke dekat tempat tidur dan tanganku merogoh boks tersebut. Rupanya itu adalah boks sepatu basket Timothy. Boks itu kosong, hanya ada secarik kertas yang sudah kumal. Aku membentangkan kertas tersebut dan membaca tulisannya.

“Jangan beritahu Lee tentang sepatu ini. Dia memang menyebalkan. - Paman Richard,”

Aku tersenyum sendiri membaca tulisan tersebut. Kumasukkan kembali kertas itu ke dalam boks sepatu Timothy dan kumasukkan lagi boks tersebut ke bawah tempat tidur. Aku terdiam sejenak. Kurasa selama ini aku sudah begitu egois dan keras kepala. Keegoisan dan kekeraskepalaanku membuat Timothy akhirnya menjadi korbannya. Aku hanya tak ingin memberatkan siapapun, tetapi mungkin caraku salah selama ini. Aku menghela nafas dan mulai menyesali apa yang selama ini kulakukan. Seandainya aku tak seperti itu sejak dulu, tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Timothy pasti selama ini memendam rasa kesal padaku.

Tanganku mencengkram erat tempat tidurku dan aku berusaha bangun. Kulihat sekeliling kamarku. Meja belajar Timothy nampak berantakan. Lampu belajarnya masih menyala, menerangi daerah sekitarnya. Aku berjalan menuju meja belajarnya. Kulihat buku tugas Timothy berada di atas meja belajarnya. Kubuka halaman demi halaman buku tugasnya. Timothy anak yang rajin. Nilai-nilainya tak pernah buruk. Di salah satu tugas matematikanya, ia mendapat nilai delapan puluh enam. Kulihat hasil pekerjaannya. Terdapat beberapa nomor soal yang ditandai salah. Aku tersenyum sambil terisak melihat jawaban-jawaban yang salah itu.

“Bodoh. Sinus dari dua ratus tujuh puluh saja tak tahu. Seharusnya minus satu,”

Kututup buku tugasnya dan kutaruh kembali di atas meja belajarnya. Di atas meja belajarnya juga terdapat beberapa lembar uang yang tadi ia berikan dan kaus Nike berwarna biru laut tua yang sempat menjadi bahan pertengkaran kami tadi sore. Tanganku gemetaran mengambil kaus tersebut. Kuremas kaus tersebut dan aku semakin terisak. Kutengadahkan kepalaku agar air mataku tak turun, tapi itu tak berhasil.

“Timothy...”

Tangisku meledak lagi. Aku jatuh berlutut. Di atas meja belajarnya, aku terisak hebat. Tanganku terus memeluk kaus milik Timothy itu. Berulang kali aku memanggilnya, dan semakin aku takut kehilangan adikku. Aku pasti nampak sangat menyedihkan sekarang. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Tapi adikku bukanlah sebuah mainan. Ia adalah seorang yang sangat aku sayangi, jadi perasaan kehilangan itu pasti akan jauh lebih menusuk. Memoriku memutar ulang kejadian tadi sore dan juga memutar semua momen-momen indah yang aku dan adikku lakukan. Bermain piano bersama sambil bernyanyi, berolahraga pagi, bermain basket, menikmati es krim potong di taman bersama, menghabiskan ramen, berjalan-jalan, bersama paman merayakan ulangtahunnya yang ke-empat belas, sungguh demi apapun aku tak ingin kehilangan adikku. Aku akan lakukan apapun asalkan adikku mau memaafkanku. Aku akan lakukan apapun untuk membuat Timothy kembali tersenyum, bahkan agar ia bisa kembali bicara seperti dulu. Aku akan lakukan apapun asalkan adikku masih bisa hidup. Aku tak ingin ia pergi. Aku tak ingin kehilangan adikku. Sungguh, aku tak ingin itu terjadi.

“Timothy... Jangan pergi,”

----

Monday, November 26, 2012

Morning Attack

“Kenakan helm dengan benar, Timothy!”

Paman Richard menegur adikku. Kubetulkan helm yang dikenakan adikku. Nampaknya tali pengencangnya longgar sehingga dagunya tak bisa terlindungi oleh pelindung dagu. Sekali tarik tali pengencangnya dan... ya, kepala Timothy terlindungi sekarang.

“Paman, kami berangkat dulu,” ujarku.
“Hati-hati, Lee. Jangan mengebut!” pesan paman.

Kulaju motorku dengan kecepatan sedang. Keluar dari Amoy Street, kupacu motorku di jalan yang lebih besar. Pagi ini nampak lebih lengang dari biasanya. Tak banyak hiruk pikuk kendaraan roda empat yang biasa memenuhi jalan ini.

“Jalanan pagi ini sepi juga. Benar, ‘kan?” ujarku. Timothy menepuk pundakku.
“Ada apa?” tanyaku.

Aku melirik ke arah spion kanan. Adikku mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju. Aku tertawa kecil melihat tingkah adikku.

“Ah, kau ini. Salah sendiri tak mau bicara, jadi sulit ‘kan berbincang-bincang seperti ini,”

Adikku memukul bagian belakang helmku. Pukulannya terasa ke kepalaku. Aku terkejut, tapi aku lantas tertawa karena aku tahu itu pasti balasan dari Timothy untuk perkataanku.

“Hahahaha! Cukup, Timmy. Jangan pukul lagi helmnya,”

Kulirik lagi spion kanan motor ini. Timothy nampak senang melihat-lihat suasana Singapura pagi ini. Langit pagi yang nampak mendung tetapi masih cerah, ditambah lagi suasana lalu lintas yang tak padat membuat perjalanan dari rumah menuju sekolah terasa cukup nyaman. Kusadari tangannya sedari tadi tak bisa diam memainkan ponselnya. Timothy bisa jatuh terjungkal jika sewaktu-waktu aku harus melakukan pengereman mendadak.

“Timmy, masukkan ponselmu ke saku jaketmu dan berpeganganlah,” ujarku, “Kau bisa jatuh terjungkal ketika aku melakukan pengereman mendadak jika kau tak berpegangan,”

Timothy nampak memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ah, ia rupanya patuh juga pada ucapanku, tapi tangannya tetap tak berpegangan pada sisi pegangan di jok belakang motor. Aish, anak ini...

“Timmy, kau bisa jatuh. Berpeganganlah atau betulkan posisi dudukmu. Atau, majulah sedikit ke dekatku dan pegang sisi pinggangku,” ujarku.

Timothy duduk lebih maju ke dekatku dan ia malah memegang perutku, bukan pinggangku. Kontan saja aku kaget dan kegelian.

“Timmy! Lepaskan! Maksudku genggam sisi badanku, tapi jangan benar-benar seperti memelukku. Genggam saja jaketnya atau genggam kedua saku jaketku di tiap sisinya,” jelasku.

Timothy terdengar tertawa kecil. Aku ikut tertawa juga mendengar tawanya. Ah, adikku ini. Nampaknya ia memang ingin bercanda denganku. Tapi, bercanda seperti itu ketika aku sedang menyetir bukanlah hal yang tepat. Bisa saja konsentrasiku pecah dan motor ini oleng karena aku merasa kegelian di bagian sisi perutku.

“Kapan-kapan kau kuajari cara mengendarai motor. Kau mau?” tanyaku.

Aku tak tahu jawaban Timothy apa karena aku tak melirik lagi spion kananku. Di hadapanku ada persimpangan dan lampu lalu lintas berubah menjadi merah. Beruntunglah aku mendapat barisan terdepan. Segera kuhentikan motorku dan menoleh ke belakang. Timothy tersenyum jahil padaku.

“Jangan lakukan hal itu lagi. Geli rasanya. Kau ingin kukelitiki juga nanti ketika kau sudah pulang, hah?” tegurku. Timothy tertawa.
“Tak mau. Lagipula tadi kau yang suruh aku memegang pinggangmu,” jawab Timothy.
“Pinggang, bukan perut. Lagipula kau malah memelukku dan selain geli, aku juga jadi sesak. Ikat pinggangku nampaknya terlalu kencang kuatur,”

Satu buah motor lalu ikut mengantri di belakang motor kami. Di sampingku ada sebuah mobil sedan berwarna merah mengkilat yang mengingatkanku dengan mobil yang serupa yang selalu diparkir di samping tembok belakang restoran tuan Edvard. Mobil yang bagus. Butuh berapa tahun kira-kira agar aku bisa membelinya sendiri? Sedang asyik melamun, helmku dipukul lagi dari belakang. Aku menoleh ke arah spion dan kulihat Timothy nampak pucat. Aku langsung menoleh ke belakang dan Timothy begitu ketakutan.

“Timmy? Ada apa?” tanyaku kaget.
“Lee, kau mencariku?”
“Steve?!”

Mobil merah di sampingku melaju, dan diikuti oleh Steve di belakangnya. Dan ketika ia melewati kami, sesuatu yang sangat cepat terjadi. Entah bagaimana tapi tiba-tiba terdengar pekikan Timothy dan kurasakan sebuah benda tajam dengan cepat menyayat betis kananku. Aku memekik kaget. Motor besar yang dikendarai Steve lalu melaju begitu saja dengan cepat. Rasa perih di betisku begitu membabi buta. Kupejamkan mataku menahan rasa sakit. Astaga, apa yang ia lakukan?

“Timmy, kau tak apa-apa?” tanyaku khawatir.

Aku lalu menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan adikku. Wajahnya nampak menahan sakit. Di belakangku mulai ada antrian kendaraan yang mulai mengklaksoniku. Segera kupacu motorku melewati persimpangan tersebut sambil dengan hati-hati mencari apotek terdekat.

“Timothy, jika kau melihat apotek segera beritahu aku,” ujarku.

Sambil terus menahan sakit, aku terus memacu motorku. Sial, Steve pasti tadi mengeluarkan benda tajam untuk dengan sengaja melukai kami. Entah apapun itu bendanya, kurasa luka di betisku cukup dalam. Atau bisa jadi ia dengan sengaja hendak benar-benar memutuskan betisku. Bajingan.

Koh,” bisik Timothy.
“Ya? Apa kau melihatnya?” tanyaku.

Tangan Timothy menunjuk ke sebuah apotek di sisi kiri jalan besar ini. Aku segera menepikan motorku dan memarkir motorku. Kumatikan mesin motor dan turun dari motor. Ah, sial! Sakit sekali rasanya ketika kaki kananku memijak jalan. Celana jeansku terkoyak di bagian betis dan di bagian yang sobek itu nampak basah oleh cairan berwarna merah gelap pekat. Aku mengangkat celana jeansku dan kulihat luka sayatan di betisku cukup dalam. Kupegang luka itu dan aku meringis keras karena rasa perih yang kurasa.

“Sialan. Bajingan itu,” umpatku.

Aku lalu memeriksa adikku. Luka yang sama didapat adikku di betis kanannya, hanya saja tak sedalam luka yang kudapat. Darahnya mengalir dari luka sayatan di betisnya, dan mengotori kaus kaki putihnya serta meninggalkan bercak di sepatu basketnya.

“Sangat sakitkah?” tanyaku. Timothy mengangguk.

Aku lalu membawa adikku masuk ke dalam apotek. Apoteker wanita yang bertugas disana terkejut melihatku dan Timothy yang berdarah di bagian betis. Tanpa pikir panjang ia langsung mencari apa yang kami butuhkan, lalu menghampiri kami dengan gulungan-gulungan perban dan obat antiseptik.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya apoteker tersebut.
“Ceritanya sangat panjang. Sekarang, kumohon tolong kami. Bisakah ini semua selesai sebelum jam delapan? Kami bergegas menuju sekolah. Adikku tak boleh terlambat masuk sekolah,” tepisku.
“Ah, baiklah kalau begitu,”

Apoteker tersebut dengan gesit mengobati luka di betis Timothy. Timothy nampak kesakitan dan meringis ketika apoteker tersebut membalut betisnya dengan perban. Aku mengobati sendiri luka di betisku karena tak mau membuang-buang waktu lagi. Timothy tak boleh sampai terlambat ke sekolah. Aku tahu betisnya terluka, tapi bagaimanapun juga Timothy masih kuat untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Ia tak boleh sampai bolos.

----

Tiba juga akhirnya kami setelah perjalanan yang memakan waktu lama karena insiden yang tak pernah kami harapkan itu. Kuparkir motorku di tempat parkir yang ada. Setelah turun dari motor, aku membantu Timothy turun dari motor dan kupapah ia sampai atrium sekolah.

Sudah, sampai disini saja,
“Kau yakin kau tak apa-apa?” tanyaku ragu. Timothy mengangguk.
“Tenang saja. Kelasku tak jauh. Kakak pulang saja. Aku akan baik-baik saja,”
“Tapi, kau masih terpincang-pincang. Aku khawatir jika lukanya memang dalam dan kau malah tak bisa berjalan,”
“Jangan khawatir, Koh. Aku akan baik-baik saja. Lagipula aku akan bertemu teman-temanku. Mereka akan menolongku,”

Aku menatap Timothy khawatir, tapi bagaimanapun juga aku harus melatihnya agar mandiri. Toh ia sendiri yang bilang bahwa ia akan baik-baik saja. Setelah pamit, Timothy berjalan terpincang-pincang masuk ke dalam sekolah. Dari jauh kupantau ia. Kulihat beberapa anak menghampirinya. Mereka menanyainya dengan banyak pertanyaan.

“Timothy, kau baik-baik saja?”
“Kakimu kenapa?”
“Lihat, ada noda darah di kaus kaki dan sepatumu!”
“Timothy, apa yang terjadi?”

Aku menghela nafas lega. Ah, syukurlah kalau begitu. Teman-teman Timothy begitu perhatian dan membantu Timothy berjalan. Kukira awalnya Timothy tak punya teman karena ia tak mau bicara, tapi nyatanya temannya cukup banyak. Aku tak seharusnya meragukannya seperti itu. Aku tak perlu terlalu mengkhawatirkan Timothy dan sekarang aku harus kembali pulang untuk bersiap-siap. Ya, aku harus pergi bekerja.

----