Translate This Page

Tuesday, August 10, 2010

Hey Guys, Have a Nice Fasting Days!

I asked my brother when would fasting be started and he said that it would be started on Wednesday, August 10th. Wow, so you guys will have a first great fasting day within several hours! I'm happy to hear that and I wish that you guys will make it!

The atmosphere of Ramadhan has fulfilled the city. I played in the balcony and looked around. I saw fireworks coloring the sky. Whoa! Remember, fireworks can hurt you somehow. Avoid contact between your skin and the fire. But I love fireworks!

Have a nice fasting day, guys :)

Regards,
Kaz

Sunday, August 8, 2010

Menggeser Ibukota Ke Daerah Lain

Salah satu berita yang lagi hot, saingan sama Keong Racun (nyengir). Beritanya juga udah muncul di TV dan cukup diperdebatkan sama banyak pihak. Berita yang satu ini juga ternyata menyangkut bagaimana nasib negara kita ke depannya. Jadi bisa dibilang perlu perhatian publik juga sih..

Ibukota Indonesia, Jakarta Dipindahkan Ke Palangkaraya?

Ibukota Indonesia, Jakarta dengan kesibukannya yang super padat..


Rencananya mau dipindahkan ke Palangkaraya di Kalimantan???


Pertanyaan yang jadi judul buat topik yang akan dibicarakan. Pemindahan ibukota udah terjadi si negara-negara lain dan berhasil. Dan memang sih Indonesia dulu sempat memindahkan ibukotanya dari Jakarta ke Yogyakarta. Lantas, kalau sekarang Indonesia melakukan pemindahan ibukota lagi, prospek kedepannya bakalan gimana?
VIVAnews - Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Akbar Tandjung ikut berpendapat soal wacana pemindahan ibukota. Indonesia seharusnya memang meniru Malaysia, yang memindahkan kota pemerintahan dari Kuala Lumpur ke Putrajaya. 
Tapi, menurut Akbar Tandjung, pemindahan ibukota bukan berarti pindah antar pulau, atau keluar dari pulau Jawa. "Saya setuju dipindahkan, tapi tidak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Tidak usah keluar pulau luar Jawa," kata Akbar Tandjung ditemui VIVAnews, tadi malam.
Apalagi, kata Akbar, harus dipindahkan jauh-juah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang membutuhkan jumlah investasi dan biaya besar.

Akbar menyontohkan, untuk membangun kota baru, pastinya akan memerlukan investasi yang sangat besar. Seperti waktu zaman Soeharto yang pernah mewacanakan pemindahan ibukota ke Jonggol, Jawa Barat.

"Saya kira kita bisa memanfaatkan Jonggol untuk ibukota. Di sana saya tahu ada tanah yang luas dan cukup untuk pusat pemerintahan," tutur Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar.

Selain luas, Jonggol juga dekat dengan Jakarta. Dengan demikian, tidak perlu lagi  membangun sebuah kota baru di luar Jawa, yang tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Dikutip dari http://nasional.vivanews.com/news/read/169359-akbar--tepat-bila-ibukota-ri-di-jonggol
Nah, dari kutipan di atas yang menjelaskan bahwa pemindahan ibukota ngga perlu jauh-jauh apalagi sampai pindah pulau. Memang sih, di Pulau Jawa ini masih ada beberapa wilayah yang dari segi luas daerah ataupun infrastruktur dibilang memadai buat jadi ibukota. Tapi kutipan berita dibawah ini juga bisa jadi pro dan kontra mengenai lokasi ibukota yang baru.
6 desember 2009, Kategori : indonesia

SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet.

Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin.

Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau Sentul, niscaya orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus berlangsung.

Dikutip dari http://www.infospesial.com/news/indonesia/ibukota-indonesia-dipindah-dari-jakarta-ke-kalimantan.htm
Nah, sementara Pak SBY sendiri merasa bahwa Palangkaraya itu lokasi yang tepat. Kalau dipikir-pikir sih Kazu memang lebih setuju dengan pendapat Pak SBY. Bisa dibayangkan kalau begitu jadinya, tetep aja Jakarta bakalan lebih macet. Malahan justru bikin rugi yang kerja karena jarak jauh dan harus pulang pergi.

Dan sekarang, apa gunanya pemindahan ibukota itu? Sebenernya sih pandangan Kazu secara pribadi melihat masalah utamanya adalah populasi penduduk yang udah ngelonjak drastis. Bisa kita liat padatnya dari panjangnya kemacetan yang ada di Jakarta. Atau yah.. Udah keliatan dengan jelas banyaknya penduduk di Jakarta dengan banyaknya rumah-rumah yang dibangun ngga teratur dan tingkat keinginan yang tinggi terhadap tempat tinggal di Jakarta. Kondisi kota dengan populasi yang supercrowded seperti ini membuat Jakarta kurang kondusif buat dijadikan ibukota lagi. Urbanisasi besar-besaran di Jakarta turut menambah sumpek dan padatnya kota Jakarta. Belum lagi orang-orang tajir di Jakarta yang udah punya mobil satu pengen nambah jadi dua, jadi tiga, sampe di garasinya sendiri aja macet. Jalanan kota Jakarta udah macet dengan banyaknya kendaraan bermotor yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah. Transportasi umum seperti Transjakarta atau perencanaan pembangunan monorel kayanya ngga signifikan buat ngelawan kemacetan yang ada di Jakarta. Bahkan dikutip dari MetroTVnews.com, katanya Jakarta bakalan lumpuh total taun 2014! Ckckck, padet banget. Ngga mungkin sebuah ibukota bisa berjalan di daerah yang lumpuh. Dan ngga mungkin juga Presiden harus terus-terusan kejebak macet setiap mau rapat atau mau pergi ke suatu daerah? Dan satu lagi yang perlu diperhatikan, letak Jakarta secara geografis sangat dekat dengan laut. Ini sebenernya bagus dari segi pelayaran atau perdagangan, mengingat jaman dulu itu kota-kota di tepi pantai jadi pusat perdagangan dan Jakarta sudah berhasil membuktikannya di jaman penjajahan dulu.


Bahkan Jakarta sendiri kabarnya sedikit demi sedikit 'tenggelam' dan cerita seperti Belanda bukannya ngga mungkin bakal terjadi. Beberapa lokasi di Jakarta bahkan letaknya lebih rendah dari permukaan laut dan menyebabkan ketika selesai banjir, si air susah buat surut atau kembali ke laut. Banyak banget penyebab banjir di Jakarta. Semisal masalah sampah. Jakarta harus punya tempat buat mendaur ulang sampah-sampah supaya ngga numpuk lagi di sungai-sungai. Bukan ditimbun lagi tapi di daur ulang. Pembakaran sampah kota malahan bikin udara jadi kotor. Sampah yang numpuk di sungai itu malahan bikin mampet saluran air dan akhirnya jadi ngeluap ke permukaan. Masalah lainnya adalah kurangnya area resapan air di Jakarta. Kayanya Jakarta udah bisa disebut 'Asphalt Forest'. Dimana-mana sekarang yang bisa diliat ya aspal. Kalopun ada tanah malahan kurang subur. Tanah yang jadi media resapan air terbaik justru di-block sama aspal, beton, gedung-gedung perkantoran, perumahan, apartmen, dan lain-lain. Memang sih keliatannya bagus, menunjukkan kemajuan kota Jakarta yang Metropolitan itu. Tapi kan efek lainnya bung.. Karena ngga ada media resapan air, akhirnya si air bingung mau lari kemana. Waktu hujan, justru air tambah banyak dan semakin bingung buat lari kemana. Akhirnya molekul-molekul H2O itu pada setuju buat tetep nangkring di atas aspal sampe akhirnya kebawa aliran ke sungai atau ke laut. Dan itulah yang bikin banjir di Jakarta.


Kalo kita liat dari sisi efek ke masyarakatnya sendiri gimana? Di atas tadi kan Kazu sempet memaparkan sedikit dari sisi infrastruktur dan keadaan kota Jakarta itu sendiri. Dan Kazu juga baca dari beberapa referensi. Kazu inget kata guru IPS Kazu bahwa 80% uang yang ada di Indonesia itu mengalir di Jakarta saja. Artinya, sisanya sebanyak 20% dibagi-bagi ke berbagai provinsi di Indonesia. Nggak adil dong kalau negara seluas Indonesia tapi uangnya cuman muter-muter doang di tempat yang sama? Daerah yang lain ngga kebagian dong? Nah, banyaknya uang yang mengalir di Jakarta ini yang bikin orang berbondong-bondong pergi ke Jakarta buat cari uang. Semakin banyaklah penduduk di Jakarta, akhirnya berujung ke masalah kepadatan kota. Kepadatan kota Jakarta mengakibatkan banyak efek samping yang extra menyebalkan dan berbahaya. Misalnya kemacetan di jalan raya. Dari macet itu aja orang bisa jadi stres dan gampang marah-marah. Terus balik lagi ke masalah kemacetan. Karena semakin banyak orang di Jakarta akhirnya tambah banyak lagi kendaraan bermotor pribadi di Jakarta, yang asap knalpotnya berbahaya buat lingkungan sekitarnya. Bahkan katanya Jakarta termasuk salah satu kota dengan tingkat polusi paling menyedihkan di dunia. Kembali lagi ke topik banjir, orang-orang yang tinggal di Jakarta harus siap sama yang namanya banjir. Kalo yang mentalnya ngga siap sih siap-siap aja mudik ke kampungnya lagi. Ya sekuat-kuatnya orang yang udah biasa ngehadepin banjir kan tetep aja kalo dateng banjirnya malahan repot dan ujungnya stres jadi marah-marah. Dan lagi dengan banyaknya penduduk di Jakarta berarti persaingannya semakin ketat. Yang gagal bersaing bisa aja balik lagi ke daerah asalnya, atau malahan ngegelandang dan jadi pelaku kriminal. Ini dia yang bahaya. Kasian kan kalo ada turis-turis yang datang ke ibukota cuman buat jadi korban kejahatan. Bisa-bisa image ibukota jadi jelek di mata mereka.

Banyak lagi faktor-faktor lain yang secara 'terpaksa' meminta ibukota Indonesia buat dipindahin. Lagipula kan Jakarta udah maju, tinggal gantian memajukan daerah-daerah lain. Yang sudah maju biar tetep berkembang. Yang belum maju baru dimajukan. Kalo perlu, daerah-daerah itu harus saling bantu membantu (semisal dari Jakarta ngebantu pengadaan infrastruktur di daerah yang infrastrukturnya jelek), jadilah simbiosis mutualisme :D

Tapi kenapa harus Palangkaraya? Awalnya Kazu sempet ngebayangin kalo Bandung jadi ibukota Indonesia. Tapi tidaaaaakk!! Setelah membayangkan hasil akhirnya (ditambah dengan faktanya bahwa Bandung sering macet tiap weekend karena orang Jakarta yang hijrah kemudian jihad di factory outlet yang ada di Bandung), Kazu rasa Bandung jangan jadi ibukota Indonesia. Udah cukup macet. Kazu ngga mau jembatan Pasopati tambah macet >.<


Sudah cukup merasakan hebohnya macet di Jalan Sukajadi, Pasteur, jadi ngga mau lagi ditambah-tambah risih.

Palangkaraya dinilai tepat dari segi letak geografis, karena pulau Kalimantan jarang banget terdengar kena gempa (malahan ngga). Dari segi luas wilayah juga Pulau Kalimantan tuh luas banget. Dibandingin sama Pulau Jawa sih ngga ada apa-apanya. Penduduk di Kalimantan juga masih sedikit. Di Kalimantan juga luas hutannya masih lebih luas dibandingkan di pulau Jawa. Mungkin faktor-faktor inilah yang membuat Palangkaraya jadi lokasi paling bagus buat ibukota Jakarta yang baru (atau mungkin masih banyak faktor lainnya lagi).

Atau menurut kalian, lokasi yang lainnya dimana lagi?

Editing on Photoscape : Overexposed Photo

Editing foto itu selain lewat Adobe Photoshop atau Corel PHOTO-PAINT, ternyata lebih mudah lewat Photoscape (walaupun lewat Adobe atau Corel bisa bikin hasil yang lebih 'wah'). Tapi di kasus ini, Kazu mau jelasin tentang editing foto yang overexposed lewat Photoscape.

Photoscape ini aplikasi buat editing foto atau file gambar (tapi lebih tepatnya foto). Aplikasi ini bisa secara gratis di download di http://www.photoscape.org/.  Dari segi size, aplikasi ini ngga nyabet memori sebanyak Corel atau Adobe Photoshop. Tapi dari segi fasilitas, yeah.. beberapa fitur dasar bisa kita dapetin disini. Kalo dibandingin, Photoscape ini bisa Kazu bilang setara sama situs editing online Picnik.


Foto di atas jelas banget keliatan overexposurenya, dengan brightness dari objek yang terlihat sangat tinggi dibanding backgroundnya. Buat nyiasatin background yang terlalu gelap dan objek yang terlalu cerah, bisa pake menu 'Backlight'. Disini, Kazu pake setting Backlight > (+/-) 100% buat nyiasatin objek yang terlalu cerah.


Nah, keliatan kan sekarang backgroundnya lebih cerah (dilihat dari warna-warna terang atap-atap bangunan). Tapi, tetep si objek terlihat paling cerah. Maka Kazu pilih opsi Bright, Color> Darken > Low (Gray Tone)


Masih belum memberikan hasil yang maksimal, Kazu pake lagi opsi Deepen yang ada di menu 'Bright, Color'. Kazu pilih preset Middle dengan menyertakan Gray Tone.


Setelah selesai dengan opsi Deepen, sekarang Kazu mau pindah ke opsi Colorize yang bisa dicapai melalui menu Bright, Color > Colorize. Disini, Kazu set secara manual si foto ini mau punya color tone dengan warna apa. Kazu suka sekali warna biru jadi Kazu pilih warna biru. Jangan lupa set nilai saturation sama levelnya. Previewnya keliatan di belakang.
Selanjutnya, kalau masih belum puas dengan hasil fotonya bisa diset lagi dengan langsung klik menu Bright, Color. Kemudian box seperti diatas akan muncul. Set ulang lagi nilai kedalaman warna, kecerahan, dan kontrasnya. Terus cek ulang nilai exposure (kalau fotonya overexposure lebih baik nilainya jangan lebih dari 1 supaya si objek bisa keliatan, tapi jangan juga berlebihan nanti fotonya kelihatan ngga kontras). Slider 'Gamma Bright' akan lebih berpengaruh buat menentukan nilai kontras dan kecerahannya. Dan seperti biasa di bagian paling bawah ada slider saturation. Previewnya langsung di belakang. Setelah selesai tinggal klik oke.


Sebenernya fotonya udah jadi. Tapi berhubung pengen sedikit beda, Kazu mau coba nge-swivel fotonya. Setelah mengubah sudutnya, akhirnya fotonya jadi deh..


Jadi deh :P lain kali fotonya pas lagi ngga hujan..

Tuesday, August 3, 2010

Kalifa : I LOVE IT WHEN IT'S BLUE!

I had taken several pictures of Kalifa and yeah I loved those pictures. I took one of my favorite and edited the picture on Corel PHOTO-PAINT.


The picture above was the original file from my favorite one. If you view it closely or closer, you'll see a lot of grains (noise) and it doesn't look so cool. I found a big area of noises so I decided to edit the picture.


After the picture had been loaded, I clicked 'Adjust' menu and chose 'Image Adjustment Lab' submenu. The box like shown above would appear. It had 2 pictures, the picture in the right side was the preview of the settings. I set the temperature, saturation, highlights, midtones, shadows, and else. The changes were shown above. But, it looked like the temperature of the picture was warm and actually I loved when it was blue so I made new settings of temperature.


Nah, by setting the temperature level, saturation, and other triggers I would get new-cool picture. Note two snapshots under the two main and preview pictures. I could call it 'preset'. I loved the new one so I chose the 'blue' one.

But it wasn't blue enough for me so again I had to set the tone curve.


You might try to adjust the tone by yourself by dragging the curve, adding nodes to create a curve and more. I added a node and created a curve, dragged and adjust it until I got the result I wanted. And the picture above looked a bit saturated like old-photograph :D

Noise! The picture still had an amount of noise area. I could eliminate the noise by using Smart Blur effect. I clicked on 'Effect' menu, chose 'Blur' and chose 'Smart Blur'.


Smart Blur could smartly eliminate noise appearing in the picture. But, it'd be better to not use a large amount of blur. I set it into 4 and it was enough to eliminate the noise. Okay, so then what else would I do? Yap! I got the result and..

Tadaaaaa!


Kalifa : I Love When It's Blue!

Panic at 8:17 PM

Successfully opened my eyes but I barely got up from my bed. Everything looked so hazy, that I could barely get several notification from Facebook on my tablet. Oh great, congratulation for myself, the guitarist and the vocal group for the winning of the competition we had had on the afternoon.

Finally I sat on my bed and looked around me. Realizing that no one was in the bedroom except me and the head felt so heavier, I tried to call my brother. He didn't answer me. I called him a bit louder, then louder, and much louder until I had what they used to call it a hoarse-voice. Suddenly, I couldn't breathe freely. Something must had blocked the air through into the nasal cavity. Again, the head felt much much heavier and got a superturbulence-dizziness. I screamed to call anyone and I bet they were so dumb to come towards me.

I forced myself to go downstairs and there was damn no one in the downstairs. My maid seemed to be so busy in the kitchen. I didn't see my brother and I shouldn't ask where were my parents. They weren't home. Ough, I wished I could transport myself. I wasn't sure whether I would go downstairs safely or not. The staircases seemed to be steeper than the ones I used to step on. It wasn't something funny when I walked and held on the railings tightly. I might fall and even kill myself. My voice didn't sound so clear, it was a hoarse-voice. I kept calling my maid or anyone else please just bring me some pills! I barely saw anything clearly, everything seemed so hazy. Just on the 3rd last staircase, I felt something dropped from my nose. Was that a drop of snot?! Pah, so much disgusting. But, that wasn't that disgusting. That was much more surprising. I looked closer and I saw it a red drop. That wasn't a snot, and damn I was nosebleeding.

No one at home, my maid lately brought me medical box. I found some pills but I had to stop the nosebleeding first. I looked at the clock, it was 8:17 PM. My brother wasn't home yet and I needed help. That was simply a nightmare for me..

Vector Isn't Only Available in Physics Class!

Buat yang sering bikin gambar di komputer atau edit foto atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan grafis di komputer, pasti setidaknya kenal dengan beberapa ekstensi file sebagai format untuk menyimpan file gambar tersebut. Semisal, kita udah ngga asing sama yang namanya file *.doc atau *.xls; ekstensi file ter-famous buat dokumen hasil olahan Microsoft Word atau Microsoft Excel (tapi karena sekarang udah pakai Microsoft Office 2007, maka biasanya di akhir setiap ekstensi ditambah huruf 'x', semisal *.docx). Nah, begitu juga dengan file gambar maka setiap file punya ekstensi tersendiri. Dan, beberapa ekstensi punya kelebihan plus kekurangannya. Semisal ekstensi paling umum buat file foto, baik dari kamera digital atau 'nyolong' dari internet biasanya *.jpeg atau *.jpg. Kalau buat animasi, si file biasanya berekstensi *.gif atau kalau pake Flash player ekstensinya biasanya *.fla.

Tapi yang mau dijelaskan sekarang ini, pertama adalah tentang Bitmap. Yang suka gambar di Paintbrush atau Paint (Start Menu > Accessories > Paint) kemungkinan besar kenal banget sama ekstensi file yang satu ini. Tapi ternyata bitmap itu punya definisi yang lain. Bitmap itu adalah representasi dari gambar yang tersusun dari susunan titik-titik. Jadi, si gambar dengan format Bitmap (*.bmp) itu tersusun dari puluhan, ratusan, ribuan, sampe jutaan titik-titik, bergabung membentuk sebuah gambar. Atau kita bisa bayangin kaca patri yang ada di masjid atau gereja, membentuk sebuah gambar atau lukisan. Pada awalnya, kan si pembuat kaca patri itu harus membentuk lukisan itu dari kepingan-kepingan kecil sampai akhirnya jadi sebuah lukisan. Atau mirip sama pecahan beling yang setiap potongan kecilnya disusun sampe akhirnya jadi gelas lagi (males banget nyusunnya). Nilai buat setiap titik itu diawali sama satu bit data untuk gambar hitam putih, sementara buat gambar berwarna nilainya bisa lebih dari satu (2, 4, 8, 16, 32 bit). Ukuran sebenarnya buat n-bit (2n warna) bitmap dalam byte (satuan ukuran file) bisa dihitung :


Ukuran file gambar bitmap (file size)


Sedangkan tinggi dan lebar gambar dihitung dalam pixel.

File dengan ekstensi bitmap (*.bmp) sendiri punya filesize yang menurut saya lumayan besar. Dibandingkan dengan saudaranya yang sebasis tapi sama seperti JPG, GIF, TIFF, PNG, gambar BMP punya filesize yang ternyata ukurannya segede alaihim. Semisal, ada lukisan berformat BMP dengan ukuran 1024x768, berwarna, punya filesize 20 MB (seperti wallpaper Titanic di laptop saya dulu), ternyata ketika dibandingkan dengan lukisan yang sama tapi sudah di export ke format JPG, filesizenya bisa jadi sekitar 500 KB atau 1 MB aja! Berarti pada intinya, format ini memakan cukup banyak memori. Kerapatan titik-titik di gambar disebut resolusi. Kalau kita buat file baru di Adobe Photoshop (misalnya), kita bakal dikasih pilihan buat menentukan berapa resolusi gambar yang mau kita buat (dalam keadaan default si Photoshop biasanya kasih nilai 72 pixel/inch (atau sekitar 28,5 pixel/cm). Sedangkan 'width' dan 'height' itu menunjukkan tinggi dan lebar gambarnya (dalam pixel). Untuk ukuran gambar sebesar atau standar wallpaper komputer non-widescreen, biasanya cukup dengan ukuran 1024x768 pixel.



Tapi, file bitmap punya satu kekurangan yang menurut saya sendiri juga jelek. File ini kalo udah mentok di size-nya, pada saat dilakukan resize = pembesaran ukuran gambar maka hasilnya bakalan pecah. Kalau di resize = pengecilan ukuran gambar sih ngga begitu keliatan pecahnya, kecuali ya gambarnya itu keliatan kaya 'keteken-teken'. 

Ilustrasi di atas menunjukkan perbedaan antara gambar Bitmap dengan gambar vektor. Bitmap, pada saat dilakukan pembesaran sebesar 7x maka hasilnya langsung pecah. Sementara waktu dilakukan pembesaran sebesar 7x ke gambar vektor maka hasilnya masih tetap cemerlang seperti aslinya! Wow, nampak elok dan seronok!




Di atas itu salah satu program pengolahan gambar dengan format bitmap. Semisal Adobe Photoshop, Corel PHOTO-Paint, dan yang paling sederhana adalah Paint.


Lantas, apa bedanya dengan grafis vektor? Sepintas seperti inget dengan pelajaran fisika dimana kita mungkin pernah belajar tentang vektor. Nah, vektor di konteks ini kurang lebih berdefinisi sebagai penggunaan prinsip dasar geometri seperti titik, bentuk, garis, lengkung, dan poligon yang berbasis pada perhitungan matematika untuk menampilkan gambar di grafis komputer. Cara kerja vektor ini sebenernya lebih simpel walopun tetep mengikut sertakan kehadiran rumus matematika (yasalaaam). Beda dengan bitmap yang menggunakan atau menyetor pixel-pixel dalam membuat sebuah gambar, vektor justru menggunakan dan menyimpan garis, bentuk, dan warna yang membuat lukisan tersebut menjadi rumus atau fungsi matematika. Program yang bisa mengeksekusi file grafis vektor ini menggunakan rumus-rumus matematika itu buat mengkonstruksi si gambar tersebut. Membuat gambar dengan kualitas terbaik yang sesuai dengan resolusi layar yang diberikan.

Si rumus-rumus matematika itu menjelaskan titik atau bentuk atau garis yang membuat lukisan itu harus diletakkan untuk memberikan hasil gambar yang terbaik ketika si gambar ditampilkan. Berarti, pada saat dilakukan pembesaran secara kasarnya rumus-rumus matematika itu tinggal buat rasionya antara ukuran awal dengan ukuran yang baru, lalu rasio itu dikalikan dengan nilai-nilai yang ada di rumus matematika tersebut (semisal ada sebuah bola dengan diameter 14 cm, maka buat memperbesar ukuran bola sebesar 3x tinggal mengkali tiga ukuran diameternya sehingga akan didapat sebuah bola yang sama dengan ukuran 3x lebih besar dari aslinya). Tapi ngga berarti bahwa grafis vektor ngga punya kekurangan. Walaupun si grafis vektor bisa memproduksi gambar dengan skala yang bisa diubah-ubah menjadi ukuran atau detail apapun, tapi grafis vektor ini terbatas dari segi resolusi yang ada di display. Ketika kita mencetak foto dengan grafis vektor, maka akan terlihat lebih tajam dan resolusi outputnya akan lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang nongol di layar, tapi baik hasil soft copy maupun hard copy bisa menggunakan satu data yang sama.


Format untuk file grafis vektor umumnya adalah SVG, GXL atau VML. Pengolahannya bisa dilakukan di Adobe Illustrator, Adobe Fireworks, Corel DRAW, dan lain-lain.


Tapi pada dasarnya, kedua jenis grafis di atas saling membutuhkan dan bersifat komplementer. Semisal kita membuat gambar awal di Corel DRAW lalu bisa kita edit di Corel PHOTO-PAINT. Dan pada akhirnya kebutuhan jugalah yang jadi faktor utama kita memilih format dari gambar tersebut.


But personally I prefer vector graphic one than bitmap images, even though I used to use bitmap formats in saving pictures :)

Sunday, August 1, 2010

Ternyata 'Roulette' Tidak Hanya Berlaku Untuk Judi Saja


Kazu kira istilah 'Roulette' cuma berlaku di judi aja, tapi ternyata di kehidupan nyata juga bisa terjadi. Seperti halnya yang terjadi antara Kazu dengan koko-koko Kazu dan temennya.

Jadi ceritanya begini, Ko Shady itu sering pinjem jaket Kazu. Ko Shady waktu itu pinjem jaket punya Nyoman, jaket Gummo yang ukurannya kalau dipake Kazu bisa jadi long-dress. Tapi Kazu inget, dia pinjem sweater Kazu yang Astroboy makanya Kazu pinjem jaketnya Nyoman yang ada di Ko Shady yang udah kaya handuk bayi itu. Pertukaran bisa dijelaskan dengan rumus sebagai berikut :


Got it? Okay, bisa dilanjutkan. Akhirnya, karena satu hal Kazu terpaksa meninggalkan jaket Ko Agil yang Kazu pinjem di rumah Ko Izi. Setelah itu, berarti jaket Kazu ada di rumah Ko Izi. Lalu, Kazu main ke rumah Ko Izi dan pinjem satu jaketnya. Berarti fair karena jadi tukeran jaket (win win solution dong?). Eh, pas kapan giliran Ko Izi ninggalin satu jaketnya di rumah Kazu dan dia pinjem satu jaket Kazu, jaket Skaters warna hitam dengan alasan, "Biar kaya Jin Kazama!"
Rumusnya jadi kaya gini sekarang :


Gambar di atas menunjukkan bahwa Kazu ninggalin satu jaket di Ko Izi dan Ko Izi pinjem satu jaket dari Kazu, sementara Kazu pinjem satu jaket dari Ko Izi dan Ko Izi ninggalin satu jaket di Kazu. (Keep concentrating!)

Setelah itu, datanglah Ko Vicky. Dan Kazu pinjem satu jaket dari Ko Vicky, sementara dia pinjem satu varsity dari Kazu.


Di bagan di atas menunjukkan adanya hubungan simbiosis mutualisme antara Kazu dengan Ko Vicky. Tapi kejadian berikutnya akan menjadi lebih memusingkan. Ternyata, entah bagaimana ceritanya jaket Ouvalresearch biru Kazu bisa jadi ada di tangan Ko Vicky, dan varsity jadi ada di tangan Ko Shady. Dan yang lebih bikin pusing, Ko Izi meminjamkan satu jaket ke Ko Vicky.


Ko Vicky dapat satu jaket dari Ko Izi dan Ko Shady bertukar dengan Ko Vicky. Lalu kemudian karena satu dua tiga dan banyak hal, tiba-tiba jaket Ouvalresearch Kazu yang ada di Ko Vicky jadi ada di tangan Ko Izi dan dibawa ke Jepang! Sementara jaket Skaters Kazu ada di tangan Ko Shady. Sementara varsity kembali ke tangan Ko Vicky.


Tapi pada akhirnya jadi Kazu punya 3 jaket di tempat yang berbeda di 3 orang yang berbeda, Nyoman ada 1 jaket di Kazu, dan pada intinya semuanya jadi ngacak! Muter-muter aja itu perputaran perpinjaman jaket sampe Kazu sendiri bingung pada ada dimana aja. Mirip piring Roulette di meja judi, muterrrrrrr!!

Wasting Time In Front Of Drawing Pad And Piano On A Monotonous Sunny Day Sunday

My elder brother, Shady just went somewhere. Yeah, he's such a busy person going anywhere taking his backpack bringing heavy stuffs (I bet he brings his skateboard or a TNT?). And yeah, here I am, being left at home by him. My elder brother, Chis must be so busy that I cannot play with him. Bintang isn't online yet and I have no one to be chatted with! Gee, I wanna go downtown!

Dad just came home from Surabaya and he brought a lot of things. But I don't care about that, and what I care about is to go downtown and buy a cup of Double Chocolate Cream Chips Frappuccino blended from Starbucks. I need something to quench this great thirst! Mineral water does work well, but something sweety and choc may work better. Recently I got message from my cousin, telling that she would have a sudden psychology-test and it meant that the plan of hanging out together would be ruined! O Gosh!!

And yeah I just got a new message again from her, telling that she would go downtown with me and the other cousins of mine. But she would have her test first. Oh great, it means that I have to wait for her first. But, how long the test will take?

Mom and Dad doesn't have any plans to go downtown and it sucks! I've been home for these 3 weeks and I need some refreshments! I wanna dance! That's it!

Ough, what a ruined Sunny Day Sunday.. It sucks..

Tiga Kilogram Yang Mematikan : Si Imut Bawa Maut

"Meledak lagi?"
"Iya.."
"Dimana?"
"Ngga tau tuh, tapi yang jelas lagi-lagi yang 3 kilo.."
Entah apa yang sebenernya terjadi tapi Kazu bingung karena pamaeh-nya (yang bikin mati ato sial) selalu si tiga kilogram. Lihat lagi di berita, lagi-lagi si tiga kilogram. Di koran, di radio, buset deh si tiga kilogram eksis banget. Eksis sebagai biang keladi pembunuhan sih. Padahal kalo dipikir-pikir, dari segi bentuk, size, sama warna si tiga kilogram itu menurut Kazu adalah sesuatu yang cutey..


Tabung gas (gas canister), ternyata tiga kilogram justru bawa malapetaka. Si imut bawa maut, mungil-mungil begini juga bisa ngebunuh orang (selain dengan dilemparkan ke kepala orang yang bersangkutan). Liat aja dari bodinya, chibi tapi chubby! Menggemaskan, cocok untuk mainan bayi usia 1-3 tahun (gile aje bayi maenannya kaya beginian). Sempet nyengir denger obrolan antara Madamme Irma dengan salah seorang temen Kazu tentang tabung gas yang meledak.
"Ada lagi ya katanya di TV tabung gas yang meledak?", tanya madam dengan mata berbinar-binar *halah*
"Iya, meledak lagi..", jawab temen Kazu.

"Tapi yang 3 kilogram kan?"
"Iya.. Da emang seringnya yang tiga kilogram.."
"Oh, kalo yang dua belas kilogram ga meledak kan?"
"Ngga kok."
"Bagus deh, soalnya aku di rumah pake yang 12 kilogram..", katanya lega.
Kazu nyengir ngedenger komentar madamme Irma. Thanks God, Kazu di rumah pakai tabung gas yang 12 kilogram yang katanya paling jarang kena isu meledak. Tapi kalo dipikir-pikir, pabrik tabung gasnya kan pasti sama aja. Maksudnya, baik tabung isi 12 kilogram atau 3 kilogram pasti di produksi di tempat yang sama. Lantas kenapa nasibnya bisa berbeda? Apa karena si tiga kilogram itu produk baru, dengan size yang lebih kecil jadi sering 'ditindas' dan jadi korban dengan meledakkan dirinya sendiri seperti jihad? (halah lebay!)

Pihak pembuat tabung gas LPG menurut Kazu seharusnya bisa lebih teliti dalam memproduksi tabung gas ukuran tiga kilogram skala besar. Anggaplah sekali produksi ada 100 tabung gas, dan kalau yang rusak itu 2/4 dari total hasil produksi berarti 50 tabung gas itu bener-bener berpotensi meledak dan bocor (walaupun pada akhirnya semua tabung gas juga bisa bocor, somehow). Dan yang lebih ironis ternyata udah eksis beredar tabung-tabung gas yang non-SNI alias ngga sesuai dengan standar nasional Indonesia (baru-baru ini banget Kazu tau what does SNI stand for *katrok*). Loh, tabung 'racun' gitu kok asal diedarkan sih? Apa inspeksinya kurang ketat ya? Kalo perlu sini saya aja yang inspeksi *sok iye*

Ditambah lagi kurangnya sosialisasi tentang penggunaan tabung gas yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan kepada masyarakat juga jadi faktor penyebab terjadinya 'mercon' maut. Terutama masyarakat di daerah pedesaan atau daerah yang a bit isolated dari hingar bingar Facebook, Twitter, IMB, Take Me Out, sampe Sinta Jojo Keong Racun. Buat mereka, asal nyolok aja dan asal nyala: langsung masak. Padahal, ngga bisa asal nyolok aja tuh regulator. Si selang juga harus di cek apa ada kebocoran atau ngga, dan juga pengecekan regulator apa udah basi ato belum. Kalo selangnya ato regulatornya udah basi bulukan melewati expiration date, masa masih mau dipake. Apalagi kalo kompornya yang udah lawas, mendingan makan di warteg aja sekalian daripada meleduk.

Tapi yang lebih ironis adalah kasus refill gas ke tabung gas secara ilegal! Pengisian gas ke dalam tabung gas itu seharusnya dilakukan oleh pihak yang berwenang, bukan dilakukan sama anak SMP ato SMA. Contoh kasus udah ada dan korbannya adalah anak seusia Kazu (semoga tenang di alam sana dan jangan balik lagi ke dunia nyata ya, takut orang pada ketakutan). Bayangkan betapa bahayanya pengisian ulang yang dilakukan. Memang sih apapun nekat dilakukan demi uang ato keuntungan, tapi ngga gitu caranya! Pengisian ulang kaya gitu justru bawa malapetaka, lebih berbahaya dari pada melakukan pengisian pulsa (terutama ke nomer HP Kazu, justru membawa mukjizat :D). Untungnya, ada oknum yang berhasil dibekuk polisi karena tindakan pengisian ulang tabung gasnya itu ketawan. Makan tuh penjara! Kazu ngga habis pikir, orang-orang kaya gitu apa ngga punya hati ato pikiran apa kek, ngga mikir prospek ke depannya bakalan kaya gimana. Mungkin mereka untung, tapi orang lain belum tentu untung (masih mending kalo orang lain yang beli tabung gas 'dadakan' itu dapet harga yang lebih mahal, lah kalo meledak terus to'am?).

Lebih baik kalo kata Kazu sih, secepatnya lakukan sosialisasi ulang tentang tabung gas 3 kilogram dan cara pakenya sesuai dengan regulasi yang ada, pengecekan ulang semua tabung gas (ga pandang bulu, seniornya juga si tabung 12 kilogram harus dicek!), dan pemberantasan raccoons yang pada nekat ngisi ulang tabung gas secara ilegal. Jadi kan ga perlu lagi ada berita tabung gas meledak. Kasian si imut itu, biarkan dia eksis dengan keimutannya di dapur para ibu *tingting!*

Saturday, July 31, 2010

Stay Away From Me, My Elder Brother, and My Friends You Psycho!

Saya itu takut kalau berhadapan dengan psikopat. Dan tentunya selama hidup saya, sudah mengenal beberapa orang yang memang dicap sebagai psikopat. Psikopat ngga selalu pembunuh, tapi bisa saja seseorang yang.. entahlah. Dia tidak gila, tapi kelakuannya itu lebih-lebih daripada gila. Entah freak atau maniac, semacamnya mungkin.

Sebenarnya bukan saya yang berhadapan langsung dengan psikopat yang satu ini, tapi koko saya dan temannya. Bisa dikatakan, saya cuma terpaksa terlibat saja karena si psikopat itu tiba-tiba nge-post sesuatu di wall Facebook saya. Ada yang merasa senang karena dihubungi oleh seorang psikopat?

Awalnya saya lihat di notification, si psycho itu katanya nge-post sesuatu di wall saya. Otomatis saya langsung cek (siapa tahu justru sekarang si psycho mau cari mati sama saya). Ternyata, dia meminta tolong dan memelas sama saya buat menghubungi temennya koko saya buat reactivate accountnya. Si psycho yang satu ini bener-bener ngga ada matinya. Kalau sudah ditolak saya rasa ya udah. Bisa coba lagi tapi ngga dengan maksa. Ini psycho dan parahnya bule! Mungkin ini yang disebut bule gila. Dan parahnya lagi, si psycho ini ngejelek-jelekin koko saya di wall Facebooknya. Belum lagi kerjasama dia sama seorang cewe yang saya rasa belum tahu sintingnya si bule ini. Si psycho meminta tolong sama saya, tapi mungkin karena urgent atau apa jadi sedikit memaksa. Lantas, saya mencoba mengalihkan pembicaraan dan segera menutup wall-to-wall antara saya dengan dia. Saya udah pusing berhubungan dengan psycho semacam dia.

Langsung setelahnya saya kasih tau koko saya. Koko lupa buat kasih tau saya supaya ngga ada kontak dengan dia. Kalau saya ingat kata-kata bule itu di wall Facebooknya, bikin saya merinding. Gimana ngga, psychopath dengan tinggi badan yang lebih tinggi daripada saya dan koko saya udah ngejelek-jelekin koko saya sampe ngancem koko saya dan juga temen saya! Tapi yang saya aneh, kalau sampe dia ngancem saya kok dia beraninya main sama anak kecil? Anak kecil yang ngga tau apa-apa lagi, yang masih dibilang hobinya maetakut sama n mobil-mobilan macem Tamiya ato nge-game kaya Social City? Tapi gimana pun juga saya ngga takut sama dia. Lebih tepatnya, saya ngga akan biarkan dia sampe lakukan sesuatu yang frontal ke koko saya. Now, it's my turn to take care of my elder brother.