Translate This Page

Saturday, July 17, 2010

Ketika Piano Menangis Karena Dirinya Tak Pernah Disentuh Tuannya...

Kazu ingat sebuah cerita tentang piano, yang Kazu rasa Kazu juga pernah mengalaminya. Sebuah cerita yang pada akhirnya bahagia setelah perjuangan dan air mata yang melandanya. Entahlah, sedikit banyak cerita itu menggambarkan betapa Kazu ingin sekali memiliki benda besar dengan barisan tuts hitam dan putih yang duduk berdampingan secara harmonis. Cerita yang mengingatkan Kazu untuk selalu menjaga apa yang sama-sama (Kazu dan tokoh cerita itu) diimpikan dan akhirnya terwujud..
"Aku berumur kurang lebih 5 tahun ketika melihat iklan tentang piano di koran pagi itu. Iklan itu tidak begitu menarik karena aku sudah punya pianoku sendiri. Aku di usia itu tidak begitu peduli dengan piano yang kumiliki, hingga akhirnya piano itu berakhir di tempat pembuangan sampah karena ulahku sendiri.


Suatu siang, aku melihat sebuah iklan di koran tentang piano. Harganya pada saat itu masih terjangkau. Aku berharap bisa memilikinya dengan alih-alih "yang baru yang bagus". Sayangnya kedua orangtuaku tak membelikannya. Mungkin takut hal yang sama akan terjadi. Aku pun tak terlalu memikirkannya, karena entah kenapa saat itu piano bukan sebuah hal penting untukku.


Beberapa tahun kemudian, mulai muncul ketertarikanku terhadap piano setelah orangtuaku mengajakku ke sebuah resital piano. Melihat kakak itu memamerkan keahliannya menggerakan ke-sepuluh jarinya diatas deretan tuts hitam putih, spontan jari-jariku terasa gatal. Sesampainya di rumah aku mencari pianoku dan menyadarinya bahwa aku yang membuatnya terlantar di tempat sampah. Entah seperti apa nasibnya sekarang, dan aku sedikit kecewa membayangkan bagaimana mesin-mesin itu merobek kayunya yang hitam dan deretan tuts hitam putih itu kemudian tak lebih dari sekedar batangan kayu yang entah nasibnya jatuh ke pembakaran atau di-recycle.


Ayah membelikanku sebuah keyboard ketika aku memasuki usia 10 tahun, dimana ayah dan bunda pada akhirnya melihat bakatku yang sesungguhnya. Aku pun akhirnya sadar bahwa musiklah teman baikku. Suatu malam aku menangis mengingat betapa jahatnya aku menyakiti piano teman masa kecilku dulu. Sempat aku melihat piano yang mirip dengan piano milikku di rumah seorang teman, dan berharap bisa membawanya pulang. Aku sangat merindukan suaranya.


Memasuki tahun pertama di primary high school, aku pun bertemu dengan guru piano pertamaku. Dari sanalah aku mulai mengenal piano yang sebenarnya, bukan sekedar suara dari speaker keyboard. Aku mulai mengenal kegunaan setiap pedal dan mengerti mekanisme kerjanya sehingga menghasilkan bunyi-bunyi yang indah. Keinginanku terhadap piano semakin memuncak ketika aku mendengar ulang sebuah kaset musik klasik yang pernah kubeli saat aku masih di SD.


Ide mengenai piano semakin bertambah dan sepertinya berada di urutan pertama wishlist-ku bulan Desember itu. Aku semakin menginginkan kehadirannya ada di rumah. Semakin aku menginginkannya, semakin aku sadar bahwa keadaan yang membuatnya tak bisa bersamaku. Aku menangis dan berharap orangtuaku bisa membelikannya untukku. Sebenarnya, keinginan ini sudah ada ketika aku berusia 10 tahun, dimana pada akhirnya ayahku membelikanku sebuah keyboard sebagai pengganti piano. Tapi tetap, piano itu tak tergantikan dan yang ada di benakku hanyalah piano. Tangisanku semakin menjadi ketika suatu hari aku menyadari bahwa sebuah kejadian sempat memaksaku untuk melupakan segala sesuatu tentang piano.


Musik klasik merasuk di pikiran berbulan-bulan kemudian. Aku pun mengikuti sebuah kelas piano dan mendapati jiwaku sangat tenang bersamanya. Aku bahkan rela tinggal di kelas tersebut hanya untuk bermain piano. Aku sangat senang jika ayah membawaku ke fakultas musik di universitas tempatnya mengajar dan bekerja. Aku selalu ingin bermain piano kapanpun dan dimanapun aku menemukan piano. Entah itu piano rusak atau piano bagus, jari-jari ini sangat gatal untuk menyentuhnya. Doaku setiap malam kepada Tuhan untuk bisa memberiku hadiah besar itu. Dan sembari aku berdoa, aku terus berusaha mencari informasi apapun tentang piano dan semakin berlatih musik klasik dengan tekun. Aku sadar, kekuranganku ini tak boleh jadi penghalang. Bagaimanapun juga, apapun yang aku lakukan dengan keyboardku adalah salah satu jalan agar aku bisa mendapatkan piano yang aku inginkan. Dan pada akhirnya, keinginan terbesarku adalah menjadi pianis konser yang bermain dengan orkestra ternama.


Suatu sore, ayahku menelponku tiba-tiba. Aku kaget karena sore itu sedang hujan dan ayahku memintaku menyusulnya untuk bertemu di sebuah shopping center. Sesampainya disana, aku terkejut karena ayah dan ibuku justru membawaku ke sebuah toko musik. Dan yang lebih terkejut adalah ketika ayahku menyuruhku mencoba seluruh piano yang ada disana lalu memilihnya untuk dibawa pulang! Terima kasih pada Tuhan dan kedua orangtuaku kupanjatkan ketika kusadari bahwa mimpi ini akhirnya menjadi nyata, mimpi yang selalu menghantuiku selama bertahun-tahun dan aku tak menyangka akan secepat ini benda raksasa itu akan hadir di tengah-tengah kehangatan keluargaku.


Raksasa hitam itu duduk tenang di kediamannya di ruang keluarga. Sekarang dan setiap hari, alunan lagu-lagu terdengar dan bergema di langit-langit rumah. Partitur musik klasik mulai berserakan dimanapun, dan gema dari suara piano itu sudah terdengar familiar sekarang. Aku, tak akan menyia-nyiakannya setelah aku memimpikannya. Aku tak akan sampai mengulang kejadian yang sama. Impianku untuk mendapatkan piano lain yang lebih besar memang sempat terbersit, namun apapun yang terjadi benda ini akan selalu mewarnai hari-hariku. Jiwaku menyatu dengannya dan tak akan kubiarkan apapun menjauhiku darinya. Piano adalah sahabat terbaikku, dan sampai kapanpun akan selalu tetap menjadi yang terbaik.."
Kazu inget dulu Kazu ingin banget punya piano sampe akhirnya papa belikan Kazu sebuah piano. Tapi Kazu bersyukur karena, apa yang dilakukan oleh tokoh cerita tersebut sudah Kazu lakukan. Kazu tak menyia-nyiakan keberadaannya dan piano itu adalah teman terbaik Kazu. Kazu ingat pernah menangis karena sangat menginginkannya, dan mencari banyak berita tentang piano-piano. Sebuah piano menjadi pilihan Kazu dan Kazu rasa itulah pilihan yang terbaik. Piano itu masih ada sampai sekarang dan menemani Kazu berlatih Sonata yang sampe sekarang belum kelar-kelar :(

Di cerita lain, terkadang merasa menyesal ketika akhirnya memiliki sesuatu yang sering dibiarkan atau sepelekan (anggaplah semacam hit-and-run driver atau by-pass). Sudah menyimpannya bertahun-tahun dan membiarkannya dengan segala macam keadaan yang menerpanya. Sementara di luar sana, ada beberapa orang yang berharap bisa memilikinya. Terlalu sedih untuk melepasnya, tapi terlalu apatis untuk menyentuhnya.

Kazu denger cerita tentang temen yang punya segala fasilitas (yang beberapanya adalah impian Kazu). Salah satunya adalah sebuah piano. Kazu dari dulu sampe sekarang kalo denger ada piano dirusakin atau dibiarin sampe rusak berkarat ato bahkan yang kasus paling gatel waktu tau ada sebuah baby grand piano 'Steinway & Sons' dari jaman Belanda yang dibiarin sama pihak .................. sampe kayunya lepas! Menyakitkan! Ga bisa dimaafkan! Kazu aja ngedenger satu tuts bunyinya udah ga nge-tune pasti langsung kelabakan! Oh, maaf balik lagi ke ceritanya. Diceritakan bahwa si anak itu (bukan cerita tapi emang bener) ikut kelas piano klasik, sama kaya Kazu. Dan *hehehe* tuh anak junior Kazu ternyata (tapi belagunya minta ampun). Dan yang disesali oleh Kazu dan guru piano Kazu adalah, apa yang dia punya (piano) justru ga dimanfaatin bahkan dibiarin gitu aja. Kabarnya sih tuh anak hobinya maen terus, sementara tugas piano ga dilatih. Gimana guru Kazu ngga gatel? Kalo dibandingin sama perjuangan dia yang memang dulu ga punya piano sampe-sampe harus tinggal di kampus buat bisa latihan piano dan perjuangannya bisa dapetin piano kayanya kontras banget. Kazu pikir, kenapa ngga tuh anak kasih aja pianonya ke orang yang emang pengen dan berniat banget buat latihan piano dibandingin dibiarin gitu aja? Maen pianonya aja masih ga bener toh? Pernah mendengar tangisan sebuah piano? Mungkin kedengerannya aneh, gila, gak mungkin atau gak waras. Tapi Kazu merasakannya walaupun ngga secara fisik piano itu menangis. Kazu cuman ninggalin dia beberapa hari, tapi tangisan yang Kazu dengar itu ternyata dari hati Kazu sendiri. Piano itu seolah ninggalin SMS di hati Kazu yang akhirnya dibaca pada malam harinya, waktu Kazu ikutan kemah alam dengan sekolah.
"Aku merindukan tuanku yang selalu menyentuh jajaran tuts hitam-putihku. Aku merindukan saat-saat tuanku memainkan sebuah lagu lama, kemudian datanglah teman-temannya ikut bernyanyi. Tuanku sekarang entah pergi kemana, dan harus berapa lama aku harus sendiri?"
Refleks, Kazu merasakan hal yang sama
"Kangen piano. Kalo aja bisa dibawa kesini.. Cuman 2 hari sih ga pegang piano, tapi rasanya ada yang hilang. Ngga ngeliat penampakannya aja bikin gereget. Gimana ya keadaannya di rumah? Ngga rusak kan dimaenin ga bener sama orang lain?"
Setelah satu hati, pasti ada hubungan batin. Walaupun dia cuma benda mati!

Kazu juga sempet inget biola Kazu yang dibiarin selama setaun, lalu akhirnya Kazu sadar bahwa itu biola ga bisa dibiarin gitu aja. Kazu mulai ikut kelas biola dan terus latihan biola sampe akhirnya bisa. Kazu sadar bahwa Kazu yang minta buat beli biola dan Kazu yang harus bisa memanfaatkannya dengan baik.

Kazu sadar, bahwa apa yang kita minta maka kita harus ambil konsekuensinya. Begitupun alat musik. Saat kita sudah satu hati dengan sebuah alat musik, maka alat musik itupun akan menggunakan 'hati'-nya untuk berhubungan dengan hati kita memainkan sebuah lagu yang dimainkan dari hati.

'Mary Had a Little Lamb' Is A Famous Song, But 'Resurrection Mary' Is Another Story

"Mary had a little lamb, little lamb, little lamb..
Mary had a little lamb, its fleece as white as snow.."

Pernah denger lagu diatas? Atau mungkin hapal? Yap, Mary punya domba kecil. Bulunya seputih salju. Kelihatannya pemandangan yang menarik ya. Mary kecil peliharan domba di peternakan (atau apapun itu lah), bawa dombanya main-main ke padang rumput. Sounds cutey, right? Tapi kalo Kazu ganti topiknya jadi 'Resurrection Mary', that's another story..


Cerita 'Resurrection Mary' ini (urban legend) udah terkenal banget di Chicago, tentang penampakan gadis di malem hari yang ngeberhentiin mobil-mobil yang lewat di jalanan buat numpang. Legenda ini udah muncul sejak tahun 1930an. Menurut saksi yang pernah ngalamin kejadian itu, sosok Mary ini digambarkan sebagai sesosok gadis berambut blonde, pake dancing dress warna putih. Si Mary ini nakal, malem-malem malahan nyasar dan akhirnya kepaksa minta tumpangan ke mobil-mobil yang lewat. Pengemudi yang lewat itu kasih tumpangan. Dan setelah mendekati pemakaman Resurrection di Archer Avenue, gadis itu menghilang gitu aja.

Sejarahnya disebutkan bahwa Mary ini gadis Polandia yang lagi menghadiri pesta dansa di Oh Henry Ballroom (selanjutnya ganti nama jadi Willowbrook Ballroom) sama pacarnya. Di beberapa waktu, ada perbedaan argumen dan terjadi pertengkaran. Mary marah dan memutuskan buat pulang sendiri walaupun diluar itu malam musim dingin. Mary meninggalkan ballroom itu dan mulai berjalan pulang. Tapi naas, waktu pulang dia ditabrak sama sebuah truk yang bahkan langsung kabur begitu aja. Mary ditinggal dan meninggal disana. Orangtuanya menguburkan Mary di pemakaman Resurrection, dengan gaun pesta putih dan sepatu dansanya. Ketika diselidiki lagi, banyak banget argumentasi tentang siapa sebenernya Mary ini. Dari wikipedia, Kazu dapet informasi bahwa Ursula Bielski, seorang author dari Chicago menemukan hubungan dengan seseorang bernama Anna "Marija" Norkus yang meninggal di tahun 1927 di jalan pulangnya. Kemudian teori ini akhirnya jadi terkenal.

Di awal tahun 1930an, mulai banyak report yang bermunculan tentang kemunculan gadis muda yang minta tumpangan ke mobil-mobil yang lewat di Archer Avenue, diantara Oh Henry Ballroom dan pemakaman Resurrection. Si gadis menghilang begitu aja waktu mobil mendekati area pemakaman. Di salah satu buku yang pernah Kazu baca, ada cerita tentang pengendara motor yang kebetulan lewat ke depan pemakaman itu. Si pengendara motor melihat sesosok gadis yang kelihatannya terkunci dibalik gerbang pemakaman itu. Si pengendara motor berfikir gadis itu diculik atau dibawa kesana dan seseorang yang jahat mengunci dia jadi dia ngga bisa keluar. Si pengendara motor menelpon polisi dan ajaibnya waktu polisi datang, gadis itu udah menghilang. Tapi dia meninggalkan jejak di pagar besinya.

Jadi, ada yang mau kenalan sama Resurrection Mary?

Friday, July 16, 2010

It's Hurt But It's The Best Part

Hal terbaik tidak selalu terasa nyaman. Sadar atau tidak, terkadang jenis bantal atau kasur yang paling baik untuk kita bukanlah jenis kasur yang sangat nyaman. Siapa bilang, hanya selembar tikar bukan sesuatu yang baik? Selembar tikar tidak cukup membuat nyaman, tapi untuk sebagian orang itulah yang terbaik.

Hal terbaik tidak selalu terasa manis. Sadar atau tidak, obat yang kita minum terkadang terasa pahit. Siapa bilang, pahit itu menyakitkan? Ternyata, pil kina yang terkenal pahitnya itu justru bisa menyembuhkan kita dari malaria? Bahkan, sirup pedas itu justru menghangatkan tubuh kita.

Hal terbaik tidak selalu terasa hangat. Sadar atau tidak, air panas alami berbelerang itu terasa sangat panas. Siapa bilang, air panas itu membuat kulit melepuh dan menghancurkan epidermis? Ternyata, kandungan di dalam air panas itu justru menghancurkan penyakit yang ada di dalam tubuh.

Hal terbaik tidak selalu terasa menarik. Sadar atau tidak, belajar memang melelahkan. Sebagaimanapun metode belajar terbaru, pasti terbersit sebuah kebosanan. Siapa bilang, kebosanan itu hal terburuk? Ternyata, dari kebosanan itu justru memiliki pengaruh terbesar ke kehidupan tahun-tahun mendatang. Siapa sangka, pengorbanan di masa muda membuahkan hasil prestisius di usia dewasa.

Hal terbaik tidak selalu terasa sehat. Sadar atau tidak, jarum suntik melukai kulit dan membuatnya mengeluarkan darah segar. Siapa bilang, suntikan itu selalu menyakitkan? Ternyata, dengan suntikan itu justru vaksin masuk ke dalam tubuh dan berperang melawan penyakit-penyakit di dalam tubuh.

Hal terbaik tidak selalu terasa indah. Sadar atau tidak, ulat adalah makhluk yang bagi sebagian orang menjijikkan. Pergerakannya yang dapat dibilang statis karena sangat lamban dan juga efek gatal yang dihasilkannya membuat orang enggan mendekatinya. Siapa bilang, makhluk menjijikkan itu buruk? Ternyata, setelah ia memasuki fase metamorfosis, kemudian dari kepompongnya ia berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah.

Demikian pula dengan saya. Terkadang saya mengharapkan sesuatu yang terbaik harus memiliki kriteria-kriteria sesuai dengan keinginan saya. Saya sering menganggap bahwa yang diberikan oleh Tuhan atau hadiah yang Tuhan berikan bukan untuk saya karena tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi ternyata, Tuhan punya jalan lain. Sakit itu Tuhan berikan agar saya merasakan apa itu sehat. Pahit yang Tuhan berikan agar saya tahu bagaimana itu manis. Hina yang Tuhan berikan mengingatkan saya bahwa posisi puncak bukanlah segalanya. Ketidaknyamanan yang Tuhan berikan agar saya bisa merasakan bagaimana nyaman itu. Dan buruk yang Tuhan berikan, agar saya bisa memaknai apa yang Tuhan maksudkan mengenai definisi dari 'indah'.

I should have realized it...

A Glass, Techno-House, The Dance, and Comfy Couch on Late Saturday Night

The Ideas of Choco-ness

Thursday, July 15, 2010

A Fantasy, Tom & Jerry, Allegro, Monstrous, and Hasty

A monstrous monster, so fabulous..

"Cuman di KTP doang kok.." Isn't A Good Sentence

Sore itu Kazu ke ruang keluarga di lantai 2 dan ngeliat ke arah TV. Si 'ceuceu' lagi nonton TV. Sore-sore gitu masih aja ada sinetron, entahlah TV jaman sekarang aneh-aneh aja (bukan TVnya, tapi acaranya). Penasaran sama apa yang ditonton, Kazu coba ngedeket.
 Acara apaan sih? Sinetron lagi ya?"
 Bukan, film gitu."
 Film apaan?"
 Ga tau. Tentang 'Islam KTP' gitu kalo judulnya sih."
Sedikit 'nyerempet' juga tuh judul film kalo ngeliat situasi human beings sekarang ini. Sadar ngga sadar, kita semua lagi diarahkan menuju paham sekularisme. Ngga peduli mau agamanya apa etnisnya apa, coba deh fikirkan lagi baik-baik. Terasa ngga sih semakin kesini, form 'Agama' yang ada di KTP secara ngga langsung cuman jadi atribut doang? Malahan bisa disebut atribut 'Alegori' karena Indonesia terdiri dari beragam ras dan agama.

Senakal-nakalnya Kazu, jujur Kazu terus mencoba buat melakukan apa yang Tuhan suruh dan kabur dari apa yang Tuhan larang (walaupun semua manusia pasti punya dosa atau kesalahan, baca: manusiawi). Terkadang Kazu ngerasa sangat sinful dan terus berharap bisa hapus semua dosa-dosa (walopun susah karena yang namanya dosa itu kaya papan tulis, dihapus terus ditulisin lagi). Menjauhi apa yang Tuhan larang juga susah. Dan Kazu sempet berfikir, "Ya Tuhan, apa saya pantes disebut hamba?". Dengerin lagu-lagu rohani ato ikut pupujian di mesjid Gumil tuh kayanya sama aja bohong kalo terus aja larangannya diterobos, mirip si Ko Shady yang sempet ngacir walopun traffic lights udah nunjukkin lampu merah.

Bukannya sok alim ato sok religius tiba-tiba karena Kazu sendiri sadar, yeah kadang bablas lah yang namanya ibadah (God, forgive me please). Kadang ngerasa sirik sama koko (baca: kaka) yang teguh pendirian (baca: istiqomah). Dia tuh bener-bener yang namanya ibadah ga boleh dilupain. Kalo kita jalan-jalan, pasti koko minta waktu sebentar kalo emang udah waktunya (ditandai dengan pendengaran super sensitif dia terhadap suara azan). Jadi Kazu bener-bener harus jadiin koko sebagai panutan (yeah I know, Ko Chis is kinda source of super annoyance). Kazu juga salut sama beberapa temen Kazu yang terbilang #bangorunited tapi ternyata pada rajin ibadah, yang umat Kristiani rajin ke gereja, yang umat Muslim pada jadi anak masjid. Walopun mereka itu pada bangor! Percaya ato ngga, naek motor kebut-kebutan, ada juga yang sangar, eh tapi ternyata hatinya hanya mereka serahkan sepenuhnya kepada pengabdian dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa semata! Gosh, memang yang namanya orang ga bisa dinilai dari luarnya doang!

(Hampir) setiap satnite, Kazu pergi ke kafe atau sekedar main ke mall. Kalau di kafe, yang namanya rokok ato alkohol udah biasa. Bukannya mau menjelek-jelekan atau gimana, tapi Kazu tahu bahwa di agama Islam yang namanya mengkonsumsi alkohol itu dilarang (hukumnya haram) tapi memang masih ada beberapa orang yang melanggarnya. Bukannya mau sok alim atau lagi-lagi merasa diri lebih baik, tapi kalau memang itu larangannya kenapa dilanggar? Cerita lain, ada yang menganggap agama itu kuno. Buat mereka, hidup ya hidup sementara agama itu urusan yang lain. Paham yang kaya gini disebut sekularisme. Buat mereka, selama jantung mereka masih deg-degan dan nafas mereka masih bisa hah-heh-hoh ya it's time for having fun as much as you can. Hidup mereka kayanya diisi sama yang namanya dapetin duit (cari uang), nikah, punya anak, menjalani kehidupan, having fun, makan, minum, duet eksresi dan sekresi, sampe akhirnya berujung dibawah batu nisan. Tapi ternyata, kalo diliat di KTP ternyata di form agama mereka tuh ada agamanya, bukan atheis ato animisme sampe dinamisme. Loh, kalo mereka punya Tuhan terus selama ini mereka anggap Tuhan mereka apa? Tiap dijalan lewat ke Masjid ato tempat ibadah lainnya dibablas aja, malahan mentok di Embassy ato Mansion. Sampe malem clubbing dan besok paginya ngelewatin kebaktian pagi. Pas diingetin cuman bilang 'oh' udah gitu lagi-lagi having fun, belanja di mall sampe belanjaannya bikin lift overload. Besoknya kerja terus udah dapet duit having fun lagi. Itu nyata dan memang ada orang yang seperti itu, dan Kazu tanpa maksud buat ngehina atau ngejelek-jelekin tapi memang begitulah kenyataannya. Tuhan tidak lagi menempati urutan pertama, coba bayangkan betapa sedihnya Tuhan kalo Tuhan itu introvert melankolis. Tapi Tuhan itu berkuasa penuh atas semuanya, dia ngga akan nangis tersedu-sedu apalagi sampe bikin notes curhatan di Facebook atau blog.

Jadi, kalau memang di KTP itu ada agamanya kenapa tidak dibuktikan? And I keep praying that Lord will always be with me, in my side and in my heart. Jangan sampai Kazu termasuk ke dalam golongan sekuler dan semoga Kazu selalu ingat sama keberadaan-Nya. Amin!

A Zero But Hero

Again, the story that I still remember well. A story that inspires me (may also inspire a lot number of people who have read it), a great inspiration about finding of self-esteem and self-confidence. A story that makes me believe that no matter what weaknesses on you, but there lies a magic spark (song: The Power of The Dream by Celine Dion).

The story tells about a man who lived in a small ville. He had a bad appearance physically. We could see something horrible about his face. Yep, his face and several parts of his body were extremely damaged that affected to the rest of his life. His face was so monstrous that I wouldn't explain about that for more. We might walk away, run, or scream when he passed us by in the street. But unlike us (if we were in that story), people living in that small ville liked him so much. Youngster, men, women, the oldies, they appreciated and respected him just like they respected each other. They didn't discriminate him as 'The Ugly Man' or 'Hell Boy'. That man lived his life like people used to live: work, eat, meet people in the street then say 'hi'. He lived an ordinary life, like the others did. He didn't marry for a secret reason they didn't know what. Children weren't afraid to play or meet him. Other men in the village talked with him and had coffee time in the evening. We might ask, "Why did they do that?" or "What did that man do so people weren't afraid of him?".

When that man was a young teenager, there was a firehouse and a baby within. The mother escaped first but she left the baby inside. No one dared to get in to the house and take the baby out of the fire, even the strong men just tried to extinguish the fire from the outside. That man with his bravery got in to the house and looked for the baby. He found the baby and quickly took the baby out of the fire. The situation got worse and the fire kept burning up. He ran through the fire and successfully brought the baby to his mother. The baby was safe, but that man was almost burnt to death. He was brought to the hospital and got examined there for a serious skin-damaged. And that was why he had his skin damaged almost all over his body.

He was well-known for his patriotic action that would be remembered for a long life-time. People would remember him as a man who sacrificed himself to save a baby out of the fire. He had a good life with respectful people around him. He might feel sad of his appearance, but he wouldn't regret it. He was proud of what he had done and that was enough for him. He didn't want to change his face anymore, that was enough.

A new lesson again taken from a story above. We might have got the wisdom before. Sometimes, you don't need to be as beautiful as your favorite actress or as handsome as your favorite actor to be famous or well-known by people. Handsome, beautiful, rich, muscular, sexy, or anything, and sometimes they're nothing. You don't need to build your body so then people will know you as Mister Muscle, or you don't need to have a super diet that will only hurt yourself at the end in making people know you as Miss Slender. Physical weakness won't be an obstacle if you believe. I do believe, deep inside people's heart there's always a feeling or passion of being famous somehow. No matter how quiet person you are or how introvert you are, sometimes you want them to know you (or at least become a famous person). And sometimes your weakness crashes your dream. But, watch TV shows nowadays and you're gonna find people who make their weaknesses as their advantages. Who says, people with physical weakness are slums? Ucok Baba is a famous presenter and actor who has physical disorder which makes him look child-alike (we can call it 'dwarfish'). He doesn't mention his 'dwarfishness', and what he mentions is to entertain people and become more confident day by day. Big is beautiful and it does matter for Miss Impian contestants. 'Fatty' isn't something for them and they're well known for their 'fatty-ness'. Most girls are worried about their weight, but they don't. They enjoy being fatty and just like, "Here we are with our fatty-ness. And no matter what they say, so what?". Remember Hee Ah-Lee, a four fingered Korean pianist who has 'Lobster Claw Syndrome'? For common thoughts, what can a four-fingered girl with knee-leg do for more than staying in her bedroom and enjoying a whole life there? All the thoughts are fading when you watch her concert. Honestly, playing classical repertoire for me isn't as easy as people can think or assume. Even the seniors practice hard to play expert pieces. So how about her? You may think that she won't do that but she plays Fantaisie Improptu with her four fingers! Note that: four fingers only! And what audience should do next is just standin tall, giving her a super great applause and shout it, "Outstanding!". God is fair, He never fails.



So, still grumbling about your weaknesses?

Tuesday, July 13, 2010

Smoothly Steadily Flowing In Andante That I Call It 'Nocturne'

"Bunda, ade kena insomnia lagi...!"
"Yaudah dicoba tidur aja."
"Susah..", kata Kazu sembari kucek-kucek mata.

2 jam sebelumnya, Kazu baru aja menikmati tidur nyenyak dan cukup hangat setelah main ke rumah Uncle Big (baca: Uncle Ivan) dan main piano sama Oling. Di jalan emang dingin jadi sesampainya di rumah, kasur dan selimut serta sweater jadi stuffs yang bisa diandalkan.

Karena tidur sore, akhirnya malamnya ga bisa tidur. Inget bahwa besok masih ada sekolah dan #wtf apa itu MOS? Am I involved? Absolutely no and don't wanna be involved. Kazu pikir masih banyak orang lain yang berhak dan lebih pantas jadi panitia atau anggotanya. But this is not about what I wanna talk about.

Mengingat kebiasaan tidur larut malam, sampai sempet bikin postingan tentang insomnia beberapa waktu lalu. Malam hari, ada beberapa lagu atau pieces klasik yang sangat pas dijadikan sebagai lagu pengantar bobok. Udah bukan lagu "Lullaby" lagi karena udah ga mempan #nyengir. Tangan ini secara otomatis pindahin playlist ke Classical dan langsung double-click itu pieces.

Frederick Chopìn : Nocturne Opus 9 No. 2 in E♭ (baca: E-flat major)

Andante, dengan tempo segitu Kazu rasa Chopìn sedikitnya berhasil bikin hormon Melatonin dan Serotonin di tubuh Kazu bekerja supaya Kazu ngantuk dan grusuk-grusuk di atas kasur lagi. Ketukannya 12/8, sepintas mirip Valse kalau didengerin tanpa ngeliat sheet. Atau mungkin piece ini juga bisa dipake buat midnight ballroom dance, semakin malam semakin pelan aja tuh dansa. Info dari Wikipedia bener-bener ngebantu banget buat Kazu ngedalamin ini piece walopun sampe sekarang ga bisa-bisa maenin piece ini.

Banyak not-not dekoratif dan trill (setidaknya digambarkan sama acciacatura atau triplet). Mungkin terbilang ga terlalu rumit buat dicoba-coba sendiri tanpa baca partitur (mengandalkan kekuatan pendengaran ala Nodame), tapi khusus buat not-not dekoratif itu kayanya agak susah buat diulik, walopun ternyata ngga sesusah yang dibayangkan. Progres piece ini dari mulai awal ke akhir, semakin lama semakin keras (crescendo). Di bagian akhir ada trill panjang yang lumayan bikin pegel. Piece ini berakhir dengan halus (mirip lagu Lullaby lagi ujung-ujungnya), tanpa sforzando di akhir ato marcatto apapun itu yang nyentak. Bener-bener bikin ngantuk!

Sleepy, I think I gotta go to bed..

Sunday, July 11, 2010

Mungkin Hanya Kerupuk Tapi Perjalanannya Jangan Diabaikan

Baru aja Kazu jalan ke ruang makan dan menemukan toples besar di atas meja makan. Siapa yang taro? Si kakak kerajinan masukkin makanan ke dalam toples, atau bunda, atau siapa? Si mbak? Atau satpam Duta? Ah tak mungkin, para satpam sedang jagain portal pastinya sambil ngopi. Setelah diintip ternyata isi toplesnya itu kerupuk! Tau kan, kerupuk yang selalu jadi objek mahakarya anak TK Cahaya Kehidupan? Itu lah..

Sambil ketawa ringan, Kazu inget waktu bunda cerita tentang kerupuk itu dan perjuangannya. Sebenernya sih perjuangannya ngga begitu susah karena dapetnya juga ga sesusah ngeluarin kepala yang ga sengaja masuk ke stupa candi Borobudur (it simply reminds me to a case occurred several days ago). Tapi perjalanan yang ditempuh si kerupuk itu ternyata melanglangbuana persis nama jalan di kota Kuningan, Jalan Lang Lang Buana tempat tinggal temen Kazu si Alan.

Jadi ceritanya gini, karena di Duta tuh jarang banget tukang kerupuk lewat bahkan ngga ada (kalau di rumah di jalan Pasantren dulu tukang kerupuk sama tukang sayur tuh balapan cepet sampe rumah: buat ngadem di bawah pohon nangka!). Nah, tukang sayur aja yang palingan lewat walopun memang sayur-sayuran juga bunda beli dari supermarket macam Carrefour, Yogya, Griya, atau Borma, atau Metro (sayurannya baju *halah*). Akhirnya, tau tak bunda dapetin itu kerupuk dari mana? Jadi ceritanya papa juga kelola yayasan yang tempatnya di daerah Gerlong Girang (bukan tante girang ya :P), dan si bunda tuh justru beli dari tukang kerupuk yang lewat ke depan itu yayasan! So far, wasn't it?! Dan setelah beli itu kerupuk, pake acara di tinggalin di yayasan dulu. Terus masuk tas bunda ikut pergi ke Cimahi Mall (ngapain coba?), ikut juga pergi ke Yogya Cimahi, ikut macet di jalan, dan curiga ikut balik lagi ke jalan Setiabudhi buat ke Borma Setiabudhi. Dan selama itu juga, itu kerupuk satu sachet (baca: plastik) rileks aja ngangon di dalem tas bunda. Sampe akhirnya sampe rumah dan alas Kazu lagi ga ada di rumah sampe ga kebagian itu kerupuk.

Tadi pagi, bunda dateng habis pergi sama papa dan bawa Kazu oleh-oleh. Tau tidak apa? Kerupuk putih! Sempet kaget tapi terus ketawa karena bingung, baru kali ini ada yang ngasih oleh-oleh kerupuk.

Emang sih cuman kerupuk, tapi kalo diliat dari perjalanannya ga bisa dianggap enteng. Belum lagi perjuangannya buat dapetin itu makhluk blonde keriting. Rumah dimana, beli dimana. At last, thanks ya bunda. Besok-besok Kazu pengen kerupuk tempe, beliin dong..