Translate This Page

Tuesday, July 13, 2010

Smoothly Steadily Flowing In Andante That I Call It 'Nocturne'

"Bunda, ade kena insomnia lagi...!"
"Yaudah dicoba tidur aja."
"Susah..", kata Kazu sembari kucek-kucek mata.

2 jam sebelumnya, Kazu baru aja menikmati tidur nyenyak dan cukup hangat setelah main ke rumah Uncle Big (baca: Uncle Ivan) dan main piano sama Oling. Di jalan emang dingin jadi sesampainya di rumah, kasur dan selimut serta sweater jadi stuffs yang bisa diandalkan.

Karena tidur sore, akhirnya malamnya ga bisa tidur. Inget bahwa besok masih ada sekolah dan #wtf apa itu MOS? Am I involved? Absolutely no and don't wanna be involved. Kazu pikir masih banyak orang lain yang berhak dan lebih pantas jadi panitia atau anggotanya. But this is not about what I wanna talk about.

Mengingat kebiasaan tidur larut malam, sampai sempet bikin postingan tentang insomnia beberapa waktu lalu. Malam hari, ada beberapa lagu atau pieces klasik yang sangat pas dijadikan sebagai lagu pengantar bobok. Udah bukan lagu "Lullaby" lagi karena udah ga mempan #nyengir. Tangan ini secara otomatis pindahin playlist ke Classical dan langsung double-click itu pieces.

Frederick Chopìn : Nocturne Opus 9 No. 2 in E♭ (baca: E-flat major)

Andante, dengan tempo segitu Kazu rasa Chopìn sedikitnya berhasil bikin hormon Melatonin dan Serotonin di tubuh Kazu bekerja supaya Kazu ngantuk dan grusuk-grusuk di atas kasur lagi. Ketukannya 12/8, sepintas mirip Valse kalau didengerin tanpa ngeliat sheet. Atau mungkin piece ini juga bisa dipake buat midnight ballroom dance, semakin malam semakin pelan aja tuh dansa. Info dari Wikipedia bener-bener ngebantu banget buat Kazu ngedalamin ini piece walopun sampe sekarang ga bisa-bisa maenin piece ini.

Banyak not-not dekoratif dan trill (setidaknya digambarkan sama acciacatura atau triplet). Mungkin terbilang ga terlalu rumit buat dicoba-coba sendiri tanpa baca partitur (mengandalkan kekuatan pendengaran ala Nodame), tapi khusus buat not-not dekoratif itu kayanya agak susah buat diulik, walopun ternyata ngga sesusah yang dibayangkan. Progres piece ini dari mulai awal ke akhir, semakin lama semakin keras (crescendo). Di bagian akhir ada trill panjang yang lumayan bikin pegel. Piece ini berakhir dengan halus (mirip lagu Lullaby lagi ujung-ujungnya), tanpa sforzando di akhir ato marcatto apapun itu yang nyentak. Bener-bener bikin ngantuk!

Sleepy, I think I gotta go to bed..

Sunday, July 11, 2010

Mungkin Hanya Kerupuk Tapi Perjalanannya Jangan Diabaikan

Baru aja Kazu jalan ke ruang makan dan menemukan toples besar di atas meja makan. Siapa yang taro? Si kakak kerajinan masukkin makanan ke dalam toples, atau bunda, atau siapa? Si mbak? Atau satpam Duta? Ah tak mungkin, para satpam sedang jagain portal pastinya sambil ngopi. Setelah diintip ternyata isi toplesnya itu kerupuk! Tau kan, kerupuk yang selalu jadi objek mahakarya anak TK Cahaya Kehidupan? Itu lah..

Sambil ketawa ringan, Kazu inget waktu bunda cerita tentang kerupuk itu dan perjuangannya. Sebenernya sih perjuangannya ngga begitu susah karena dapetnya juga ga sesusah ngeluarin kepala yang ga sengaja masuk ke stupa candi Borobudur (it simply reminds me to a case occurred several days ago). Tapi perjalanan yang ditempuh si kerupuk itu ternyata melanglangbuana persis nama jalan di kota Kuningan, Jalan Lang Lang Buana tempat tinggal temen Kazu si Alan.

Jadi ceritanya gini, karena di Duta tuh jarang banget tukang kerupuk lewat bahkan ngga ada (kalau di rumah di jalan Pasantren dulu tukang kerupuk sama tukang sayur tuh balapan cepet sampe rumah: buat ngadem di bawah pohon nangka!). Nah, tukang sayur aja yang palingan lewat walopun memang sayur-sayuran juga bunda beli dari supermarket macam Carrefour, Yogya, Griya, atau Borma, atau Metro (sayurannya baju *halah*). Akhirnya, tau tak bunda dapetin itu kerupuk dari mana? Jadi ceritanya papa juga kelola yayasan yang tempatnya di daerah Gerlong Girang (bukan tante girang ya :P), dan si bunda tuh justru beli dari tukang kerupuk yang lewat ke depan itu yayasan! So far, wasn't it?! Dan setelah beli itu kerupuk, pake acara di tinggalin di yayasan dulu. Terus masuk tas bunda ikut pergi ke Cimahi Mall (ngapain coba?), ikut juga pergi ke Yogya Cimahi, ikut macet di jalan, dan curiga ikut balik lagi ke jalan Setiabudhi buat ke Borma Setiabudhi. Dan selama itu juga, itu kerupuk satu sachet (baca: plastik) rileks aja ngangon di dalem tas bunda. Sampe akhirnya sampe rumah dan alas Kazu lagi ga ada di rumah sampe ga kebagian itu kerupuk.

Tadi pagi, bunda dateng habis pergi sama papa dan bawa Kazu oleh-oleh. Tau tidak apa? Kerupuk putih! Sempet kaget tapi terus ketawa karena bingung, baru kali ini ada yang ngasih oleh-oleh kerupuk.

Emang sih cuman kerupuk, tapi kalo diliat dari perjalanannya ga bisa dianggap enteng. Belum lagi perjuangannya buat dapetin itu makhluk blonde keriting. Rumah dimana, beli dimana. At last, thanks ya bunda. Besok-besok Kazu pengen kerupuk tempe, beliin dong..

You're Falling And No Matter How Thick The Cummulonimbus You're Just About Hitting The Ground So Hard That You Can Crash

Have played Mortal Kombat before? Say that you're about beating up your opponent and you almost do that. Remember any 'last words' like "Finish Him!" on this game? Then seems like your opponent won't have any chances to get up and hit back that he will die as soon as you kick him or throw him into a big grinder.

Have you ever watched Tekken 3 on the movie? Jin Kazama was on a fight with his 'real' father (even though his father didn't consider Kazama as his son). Kazama was hit repeatedly and yeah he was so much in pain (don't ask about that). His father was about killing him in several seconds, and Kazama laid on the floor powerlessly. But guess what, he got up and hit his father back. Kazama was still alive! What made him so strong that he could beat his father? 

Faith and Hope

I remember a story told by my teacher about a black bat living on a tree in a village. It's told that there was a house of a family who had a huge tree in their front yard. And there was a bat living on that tree. People living in that village believed that bats shouldn't be around them because they would bring calamities for their life. Someday, the house owner found the bat sleep-hanging on a branch that afternoon. He was scared and asked for people's help to cast the bat out. Then, a large number of people suddenly came to his house yard and tried everything to harass the bat's peaceful dream. A stone, two stones, three stones, finally a stone hit the bat and the bat fell down to the ground. The bat was harassed and defended himself by covering his body with both of his wings. He tried to run away from the shots. Then, a man brought his rifle to shoot the bat to death. He shot the bat and then the bat looked extremely miserable. He kept trying to fly and run but people kept hitting and shooting him. The bat must had tried to fly although his wings were hurt that finally the bat died.

A wisdom I got from the story that I still remember until today, and make it as my guide whenever I feel so down. Believe that whenever you're trapped or cornered and you presume that you won't have any chances to get up, solve the problem and trash it out, you still have a power in yourself to get up. I see how miserable the bat was but he kept trying and trying to run away and fly. We will never know the result, but we still have a power even just a little to stand up and face it. I'd been so depressed before that I couldn't think and kept mourning, but soon I realized that I had a little power to reach a shining ray that would help me out from the bad dream.

You're falling from the seventh sky, you're about hitting the ground that you predict yourself to death. You have nothing to think but die and you have nothing to do because you know that you'll pass away in several minutes. But hey, who knows.. There's someone who has put a big mattress down there so when you're about 5 meters from the ground, you're just about falling on that comfy mattress.

Miracle is true, buddies!

Saturday, July 10, 2010

It Must Be Kidding and I Can't Believe That I Have My Own 12 Octaves Pipe Organ In My Bedroom Then I'm Gonna Slap Myself!

I have my own perception about differences of 'Want' and 'Wish'. Because when people talk about wishes, they're actually not wanting it but wishing it.

'Want' (to want) is a verb that defines a state where a subject expects for something that usually happen in a short temp. When someone 'wants' something, he usually finds any way to get it as soon as possible. As soon as he gets what he wants, he will leave it.

For example :
  • "I wanna go home.."
  • "I wanna go to the restroom.."
  • "I want candy.."
  • "I want my Dad now!"
Explanation :
  • The first sentence is "I wanna go home.." which describes the situation where the subject wants to be home. He will find his way home and as soon as he comes home, does he still want to go home? I don't think so. He's already home, isn't he?
  • The second sentence is "I wanna go to the restroom". Let's say that the subject wants to pee. As soon as he finishes it, does he still want to pee? He gotta check his bladder, for sure.
  • "I want candy" like children used to say. The children may ask for more but after they feel enough, do they still want to eat more? Instead they should see the dentist (LOL)
  • The last sentence simply describes me. As soon as I meet my dad, nothing to worry for more.
 'Wish' (to wish) is a word defines a state where a subject actually wants something but it happens for a long temp. In other word we can call it 'hope'. Even though the subject doesn't think about it, but he still wants it. Just like the ideas when we were children. "I wanna be a super star" and "I wish I can be a superstar".  The first statement shows the subject wants to be a superstar in a short time (maybe tomorrow or as soon as possible), whereas the second statement shows the subject wants to be a superstar someday (not that fast).

For example :
  • "I wish I can afford my own house.."
  • "I wish I can play drum.."
  • "I wish the concert will be great.."
  • "I wish the movie won't be that damn boring.."
Explanation :
  • The first sentence describes a statement that the subject wants to afford his own house. He may not want it right on that moment but he wishes that someday he can afford it.
  • The second sentence tells someone's dream. 'Wish' is better than 'Want' to be called or considered as 'Prayer'
  • The third sentence can be considered also as an 'expectation'. But sometimes, the expectation shows an ambition or obsession that is 'too high to be reached' or 'too hard to be climbed'. The subject may wish for something too obsessive. He may not watch a great concert like his wish.
  • The fourth is similar to the third sentence.
 Most of what's on my mind are 'wants' not 'wishes'. I want a new phone, I want a Macbook, I want a pony, I want my Hyundai Atoz, or anything. 'Wants' can be got by easier way than 'wishes', whereas the way to reach and get the wishes are not as easy as 'wants'. 'Wishes' can be reached by hardworks, great efforts, self-trusting, and prayers. 'Wishes' are dreams to be realized. We can't reach the wishes instantly, it needs process. I used to want, not to wish. I have no wishes actually because I want my wishes right now (read: instantly appears). And great results are made from hardworks that took longer time.

A new lesson for me : Start wishing, not just wanting.

It's an Monotonous Exhausting Cloudy Saturday Midday and Then You Realize That Matthew Charles Sanders is Screaming On Your Mind and Chopin is Playing Fantaisie Improptu With Pipe Organ

Any better ideas for longer title, huh?!

It seems to be a monotonous day, whereas Ive had a half 'monophonic' day. Having no idea for going downtown and whom the one that I can go with, then finding nothing's interesting on the dining table, and a piano with no music sheets to be played. What can be done for more but sleeping or kicking some asses? So pathetic.

Listening to the same pieces repeatedly, sitting on the same chair and facing the same Tablet PC, watching the same TV shows, talking with the same people, or at last playing the same pieces. Realizing that holiday will be over soon and school's gonna start in (approximately) 33 hours, I wanna drown myself into a hot tub.

I should re-paint my life and remake new plans.
And a glass of Tequila may help for a while.

Tuesday, July 6, 2010

I Was Looking For The Old Town But Skyscrapers Blocked My Way

Rencana jalan-jalan ke Jakarta hari ini sedikit terbilang mendadak, ditambah lagi bangun pagi disambut dengan sakit damn perut. Tapi perjalanan yang dimulai jam setengah 8 itu dilalui dengan mampir di Rest Area buat beli Soyjoy kesukaan saya dan juga kejebak macet di gerbang tol Pondok Gede (udah biasa jadi nothing's special). 

Akhirnya, mobil Kijang Innova warna silver dengan plat D1291HE berhasil nerobos kegilaan jalan raya dan meluncur ke area Mega Kuningan. Ga kaya Bandung yang masih 'ikhlas' nyisain lahan kecil buat bangunan berlantai 1 atau 2 di sebelah gedung tinggi, Jakarta tuh kayanya it's all about skyscraper everytime you look out the window. Bagus sih, karena pembangunannya ke atas bukan ke bawah (anggaplah menghemat lahan dan juga simbol kemajuan *halah*). Tapi setelah dipikir-pikir lagi bosen juga karena kiri kanan tiang-tiang langit semua.

Setelah men-drop off papa sama rekan-rekan kerjanya di kantor Departemen Agama (entah ada urusan apa, tapi denger-denger sih kayanya sebentar lagi saya diajak main ke Singapura lagi *yihaa!*), saya bingung sendiri harus kemana. Ditemani supir saya yang baik hati *tingting*, menjelajahi daerah sekitar kantor Departemen Agama yang ternyata tetanggaan sama gedung Pertamina. Tepat di depannya ada Masjid Istiqlal. Saya dengan naluri paparazzi saya yang emang udah nyiapin kamera dari awal, langsung ngambil sudut-sudut istimewa ala trigonometri buat take pictures. Semua gambar yang hari ini saya ambil sengaja di-tone ke monochrome. Sedikit menyayangkan karena saya ga bisa masuk ke bagian Masjid lebih dalam, dikarenakan cuaca juga yang panasnya alaihim that made me scream "I can't stand the heat anymore!!". Tapi yang saya liat di TV ato koran sih bagian dalam masjidnya, wuiiih keren!! Pillar-pillar penyangga ceilingnya patut diacungin jempol, dengan ketebalan yang kayanya setebel pohon Sequoia *ato apalah itu*.

Bego! Lupa setting aperture akhirnya.. blur!

Bagian depan Masjid. Salut sama architectural goal-nya


Sudah cukup puas mateng di area Istiqlal, saya cukup nyebrang jalan aja buat mampir ke salah satu cagar budaya yang udah disahkan (menurut papan informasinya). Katedral Jakarta, yang sepintas mirip Katedral Koln di Jerman. Dan sayang banget saya juga ga bisa masuk ke bagian gedung walaupun sebenernya satpamnya sih ngijinin saya (anak baik sih *haha*) karena kalo mau masuk ke dalam harus ijin dulu ke.. Siapa ya? Lupa saya, entah uskupnya ato siapa ya saya lupa atau Bapak XXX entahlah. Cukup saya ngambil gambar dari luar walaupun kurang greget!

Fasad bergaya Gothic, I like this!


Patung Kristus Raja. Di bawah patung ini, ada celah kecil untuk taro lilin. Orang-orang berdoa disana. A photo of me would show the benches for people to sit and pray.

Patung Maria di antara dua pintu masuk. Di pintu masuk sebelah kanan ada ramp buat kursi roda.

Sekali-kali boleh kan berani tampil di depan kamera :P



Sebenernya ada beberapa foto saya lagi sih, salah satunya ada yang lagi berlutut sama ada satu yang kurang enak diliat (berdiri di depan pintu Katedral tapi gayanya ga banget). Cuman jangan ditampilin disini soalnya mukanya aneh! Di tempat itu bisa berdoa. Di bawah patung Kristus Raja ada celah kecil buat taro lilin. Keliatan bekas-bekas kebakar karena api lilinnya, dan tulisan bahasa entah Belanda atau Jerman atau Latin yang sama-sama ngga jelas karena ketutupin jelaga dari lilin.

Oke, capcus ke tempat berikutnya saya pergi ke Atrium Senen. Tau gak, baju saya udah basah sama keringet dan terpaksa lah saya beli baju baru. Di Pojok Busana, saya beli satu tank yang oh waw harganya (Thanks God) enak di kantong!

Ugh!

Ohya, di persimpangan menuju Atrium Senen juga saya liat lagi billboard dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang intinya memperingatkan anak-anak muda supaya ga kejerumus sama narkoba. Dengan judul "This High or That High" dan dua gambar dari satu pemuda dengan jas lengkap. Bedanya, di gambar kiri menunjukkan si pemuda yang sukses (dalam keadaan high) karena ga pake narkoba. Di sebelah kanan, karena si pemuda pake narkoba jadinya dia high beneran alias meninggal (digambarin si pemuda ada di dalem peti mati dengan rangkaian bunga *hiyyy*). Ga saya foto billboardnya soalnya ngeliatnya juga merinding. Entah efek dari sananya atau karena cuaca, muka si pemudanya keliatan pucet banget. Saya jadi takut. Kalo yang udah pernah liat billboardnya mungkin ngerasa agak merinding juga. Makanya sebagai generasi penerus bangsa, kita ga boleh pake narkoba! Say no to drugs!

Sampe di parkiran Departemen Agama, ternyata papa udah selese rapatnya. Maka langsunglah mobil diarahkan menuju Parjis van Java. Kali ini kita ngelewatin jalan Thamrin, dan saya banyak dapet foto-foto kota Jakarta. Sebenernya saya kehilangan sisi Jakarta tua dengan segala keunikan dan keantikan bangunan-bangunannya. Saya justru cari sisi tuanya. Antik, kuno, kesan rustic dan historical. Bangunan-bangunan yang jadi saksi bisa kemajuan ibukota dan kejadian-kejadian di masa kolonial Belanda dulu. Beberapa udah alih fungsi, entah jadi kafe atau sekedar motel. Beberapa bahkan menyandang atribut 'horror'. Saya bener-bener cari sense kaya gitu. Sense yang saya rasa, Jakarta hampir kehilangan mereka (baca: Bangunan tua). Seperti halnya Bandung yang perlahan-lahan bangunan beraya kolonialnya mulai digusur jadi high rise. Kebanyakan yang saya dapet itu foto-foto skyscrapers, mall, offices, sampe high rise apartment. Saya pengen banget ke distrik kota tua Jakarta, dan naek sepeda onthel.
So the pictures below show the city buzz. Sepintas ga ada yang menarik, bahkan kalo kata saya sih Singapura sama Jakarta itu seimbang dari segi arsitektur modern bangunan dan persaingan tingginya. Tapi sebagai anak bangsa, kita harus bangga kalo Jakarta itu memberikan hasil yang cukup signifikan dalam pembangunannya.






Tugu Selamat Datang, dan shopping center yang selalu bikin saya inget sama iklannya yang dibintangi sama Sherina : "Welcome to Grand Indonesia..."

Honestly, I love this picture. That cloudy sky was so amazing (note 'Tugu Selamat Datang' and Hyatt Hotel behind)


Pernah nonton film "Nagabonar Jadi 2"? Harus inget scene di depan patung ini *ngakak*




Tapi, tak ada yang lebih menjengkelkan lagi selain macet! Menduduki urutan pertama dari penyebab kekesalan paling menjijikan sepanjang masa.




But it was a great day somehow. I enjoyed it and I wish I can have any trips for the next weeks :P Dan saya bener-bener ga sabar buat ke Singapore lagi *beberapa janji yang belum ditepati, salah satunya beli iPod! (curhat colongan). Jakarta has a lot of great monuments and historical buildings. Sayang saya ngga bisa men-discover semuanya. Mungkin besok atau lusa atau minggu depan, yeah someday! The history that makes me so curious..

Sunday, July 4, 2010

It Was Cold, I Mean.. Freezing Night!

Sore yang aneh karena semua perasaan dari mulai kesel, deg-degan, bingung, senang, takut, dan heboh jadi satu di satu hari yang sama. Awalnya sih saya sama Ko Shady ngga menyangka bahwa sore itu akan jadi awal dari 'my-almost-hypothermia', soalnya langit sore itu biru dan dari segi awan mengawan ngga ada tanda-tanda H2O bakalan terjun bebas keroyokan. Mungkin karena kita selama satu jam (dan selama itu pula saya membuang-buang uang ditambah dengan pesen Starbucks yang.. Ugh, I wished I could order something else but not Signature Chocolate! Maybe Hazelnut Roast Chocolate or.. Frappucino?) saya ada di dalam ruangan nomer 35 Family Karaoke Inulvista bersama Ko Shady, Ko Vicky, dan teman-teman langka lainnya. Setelah karaoke selesai, kita mulai berangkat kerumah Sammzybear karena adeknya sunatan (Aha! Aha!). Waktu udah nunjukkin pukul setengah 7 dan tentunya langit udah item sekarang ini. Saking itemnya, kita ngga bisa ngeliat kumulonimbus udah ngantri di atas sana.

Sampe di perempatan Pasteur dan jalan Sukajadi, disana terjadi sedikit perdebatan mau lewat kemana kita pergi. Setelah dipikir-pikir, Refian nyeletuk buat lewat ke 'situ' aja. Saran yang cukup baik buat terbebas dari kemacetan jalan Pasteur yang didominasi sama plat B.

Taman Pemakaman Pandu
Biasanya saya ngga setakut itu kalo ke pemakaman (malah waktu ke makam nenek sendirian juga biasa aja, justru saya nyesel ngga ikut prosesi pengembalian opa ke bumi *hiks hiks), tapi waktu itu sekitar jam 7 kurang dan langit gelap banget! Kompleks pemakaman itu terletak di pinggir jalan raya Pasteur dan ramp menuju jembatan Pasopati yang tingginya lumayan buat bunuh diri *halah*, tapi masalahnya bukan letaknya yang rame di pinggir jalan soalnya komplek pemakaman itu memanjang ke belakang bukan menyamping (cukup menyamping tapi lebih tepat disebut panjang). Kompleknya lengkap sudah dengan atribut-atribut funeral homes semacam mausoleum, batu nisan, salib, patung malaikat, sampe gargoyle. Bahkan yang lebih keren di bagian tengah komplek ada semacam makam yang dikasih gerbang besaaaaar banget kaya mau masuk keraton dan ada namanya di gerbangnya. Kayanya udah tua banget tuh 'rumah'. Apa yang bikin ngeri?

Saya cukup menyesali karena pihak pengelola pemakaman ato tata kota ngga ngasih LAMPU. Ditambah jalannya yang wavy semakin cocok buat uji nyali (kayanya tiap kuburan juga bisa jadi tempat uji nyali). Thanks God, motor yang dinaekin saya sama Ko Shady ada di urutan kedua, diantara motor Ko Vicky sama motor Nyoman. Setidaknya kalo ada yang colek saya di pundak kan keliatan sama motor yang di belakang (ato jangan-jangan ngga keliatan.. hiyyy!!). Dan seharusnya ada pedestrian kecil buat pejalan kaki di pinggir jalan, karena ini dari bahu jalan langsung ke bodi si kuburannya. Kondisi jalan yang cukup off-road sepertinya bikin keadaan tambah horror kalo motor oleng ke kiri ato ke kanan. Syukur-syukur jatohnya ke jalan, kalo jatohnya ke atas kuburannya? Maaf aja ya om, tante, nek, kek kalo kebangunin. Mending kalo si mpunya kaga marah. Kalo marah? Pasti lari ala Makibao.

Setelah selesai perjalanan rohaninya yang bikin saya berdoa sepanjang jalan gara-gara soak ngeliat nama-nama di batu nisan ato salibnya yang warnanya emas (so pasti blink blink kena sorot lampu motor) atau cukup ngebingungin gara-gara namanya ditulis pake karakter pinyin, sampelah di jalan Padjadjaran. Motor yang dibawa Ko Shady ngebut soalnya ngejar motor yang di depan (baca: Nyoman). Udah sampe belokan samping rel kereta api di jalan Padjadjaran, motor terus melaju sampe ngelewatin tong sampah tempat saya merelakan Signature Chocolate Tall Cup Starbucks melayang menuju gudang sampah kuning. Hiks hiks, tau gitu saya sekalian beli yang Hazelnut Chocolate Roast. Eh, ternyata jalannya dipalang gara-gara perbaikan jalan belum kelar. Oaladalah, muter balik walopun ujung-ujungnya sampe juga di jalan besar deket persimpangan menuju Kebon Kopi.

Udah sampe disana, kita berpisah. Ko Vicky pergi ga tau kemana disusul sama Nyoman. Kita berdua di jalan Kebon Kopi dan oh shit hujan turun di saat yang tidak seharusnya! Dikira hujannya bakalan kecil that I could make it through the rain, tapi ternyata could you feel it coming down? Came down harder, harder. Came down faster, faster ala El Nin-yo Tata Young! Astaga, motor langsung capcus kenceng banget dan Thanks God ngga nabrak hehe. Karena one two three reasons akhirnya kita berhenti sebentar di depan satu toko. Entahlah toko apa itu. Pas kita berteduh, disusul sama Nyoman yang berteduh di toko sebelahnya. Saya mulai kedinginan dan beku. Akhirnya saya jadi orang Korea juga (gara-gara nafasnya beruap hahaha). Asli loh sumpe loh itu saya hampir hipotermia. Mantep, basahnya kaga nahan!

Setelah hujan mulai pelan, kita lanjutin perjalanan menuju Melong Green tempat Sammzybear tinggal bersama keluarga dan tetangga-tetangganya. Di jalan, brrrr angin malamnya ga nahan. Bukan menusuk tulang lagi kayanya, ngobrak ngabrik! Curiga saya sakit demam besoknya. Tapi ternyata ngga saya bertahan *yihaaa!* dan langsung disuguhin baju ganti di rumah Sammzybear. Adiknya habis disunat, jadi bahan usil anak-anak yang lain.

Setelah ngobrol ini itu sana sini atas bawah kiri kanan depan belakang nyerong nyamping, akhirnya yang tersisa tinggal saya, Ko Shady, Sammzybear, sama Ko Vicky. Adeknya udah cape mungkin gara-gara nangis pengen maen PB tapi ga bisa jadi dia masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. Di ruang tamu tinggal kita berempat. Karena Ko Vicky sama Sammzybear ngomongin sesuatu yang ga jelas, akhirnya saya jadi ngomongin hal yang ga jelas sama Ko Shady. Singkat cerita, saya pulang dan sebelum pulang dipuji sama Ko Vicky soalnya outfit saya udah ngepas banget *yihaa!* (tapi kok kaya.. Pee Wee Gaskins?). Di jalan, saya cuma ngandelin baju kering pinjeman dari Sammzybear sama kemeja GAP punya Ko Vicky. Dingin!! Brrrrr... mana bensin City Sport1 125cc merah tinggal satu strip, dan celana jeans PENDEK saya juga basah! Good job, great, fantastic, spectacular, gue sakit besoknya kayanya.

Sampe rumah ternyata saya selamat (amiiin..) dan langsung ganti baju ke yang lebih kering. Dipikir-pikir hari ini menyenangkan emang (apalagi sebelumnya juga berendem dulu di air panas Ciater yihaa!), walopun rada horror dan menyakitkan. For Sammzybear's little brother, congratulation ya! Bisa beli PS nih!

Sunday, June 27, 2010

Melangkah Dengan Sepatu Baru :D

Asyiknya kemarin malam berhasil membujuk papa buat beli sepatu baru, gara-garanya sih sepele : Sepatunya sudah kumal dan rusak di beberapa bagian dengan jahitan-jahitan yang mau eksis. Bahkan si papa sudah menunjukkan tanda-tanda 'murah hati' di CiWalk kemaren malem.

"De, liat itu ada toko olahraga. Barang kali mau beli bola."
"Ah, aneh-aneh aja. Aku carinya sepatu sama jaket."
"Wah, tadi di atas ada sepatu tuh banyak, sale lagi."

Kenapa ngga bilang dari tadi? Kalo bilang dari tadi kan saya ke Pattaya-nya bisa nanti..

Akhirnya setelah bujuk rupa dan sedikit memelas gara-gara hadiah naik kelas (rada curiga sih kalo ngeliat ke nilai-nilai yang turun gunung), sore ini saya diajak papa ke toko sepatu. Setelah pilih-pilih yang keliatannya enak dipandang enak dipakai akhirnya saya terjebak dalam 2 pilihan, Fila dan Vans. Keduanya bikin saya dilema, punya bentuk yang sama-sama saya suka, dari segi warna juga pilihannya enak-enak : Fila dengan skema warna navy blue, merah, sama putih dan Vans dengan skema warna hitam, merah, dan putih. Dari segi harga ga jauh beda. dan dua-duanya bikin saya bingung! Coba aja bisa pilih dua-duanya, kan asik *ngarep*

Akhirnya pilihan saya tujukan pada Vans. Yeah, memang warnanya hitam bukan navy blue dan dari segi komposisi bahan juga beda. Tapi ga berarti saya ga suka loh! Sizenya 41, berarti saya bertumbuh besar *maksudnya kakinya melebar*. Senangnya!

Thanks God, akhirnya saya ganti sepatu juga. Kaki juga jadi lebih nyaman.
See ya, the old Weidenmenn. Kalo lagi bosen nanti kamu saya pake juga kok. It's about time.. Tenang aja :P

Big Spender

Minggu ini merupakan minggu dengan pengeluaran yang cukup dahsyat buat seorang saya (yang notabene sering bokek dan merasa bokek, padahal entah di dompet atau tabungan ada berapa duitnya). Bayangkan, dari total hasil tabungan sebanyak IDR 300.000 yang terkumpul (termasuk dari nabung, ngambilin kembalian belanjaan *soblok*, bayaran hasil disewa *jasa musisi maksudnya*, sampe jatah ongkos sekolah) udah kepake sebanyak IDR 150.000! Dan barusan aja ngisi powercard di Game Master sebanyak IDR 10.000. Dari IDR 300.000, sebenernya ga ada apa-apanya sih dipake segitu. Tapi kalo diliat grafiknya, turunnya drastis banget dan menandakan bahwa saya ga bisa dipercaya buat megang duit *hiks hiks*

Agak shock juga saya kalo dipikir-pikir selama seminggu ini ngabisin setengahnya dari total IDR 300.000 buat hal-hal yang ga begitu penting (beberapa memang sangat penting sih, termasuk cicilan utang *halah*). Tapi yang saya ngga ngerti, kenapa uangnya bisa habis gara-gara Chic Choc, Pringles, Soyjoy, Cadburry, sama yang menurut saya lebih konyol : Seblak?! Kalo dipikir-pikir jajan sebanyak itu ga akan sampe 150.000, lha wong seblak aja cuman 2 rebuan. 5 rebu udah bisa sekalian beli Teh Poci juga. Bayar utang, lha saya aja bayarnya cuman 5 rebu, itu juga sisa 6 rebunya diikhlasin sama yang diutanginnya. Terus apa lagi ya? Oh iya, Game Master juga sih. Tapi saya cuman isi powercard 20 rebu. Misalkan kepake 20 rebu, jadi sisanya 280 rebu kan dari total 30 rebu itu. Nah namanya beli seblak and the gang kurang lebih 25 rebu (nyadar diri Soyjoy tuh mahal), berarti kan masih ada 255.000 perak lagi kan?

Yang 255.000 perak ini dikemanain? Itu dia saya juga ga ngerti. Saya beli apa aja sih sampe duit abis segitu? Oh iya saya inget! Ke Starbucks ngabisin 25 rebu (dapet bonus 10 rebu dari si papa), akhirnya sisa duitnya jadi 230 rebu. Ohya, sempet ke Timezone juga ngisi powercard 10 rebu jadinya sisa 220 rebu. Terus apalagi yang bikin duit saya tinggal 140 rebu?

Apapun itu intinya 2 poin :
  • Mengurangi frekuensi jajan
  • Mencari lagi duit
Masalahnya udah liburan kaya gini yang namanya duit itu wajib ada di dompet, apalagi barusan dari CiWalk ngeliat Nike, Cardinal, Jail, Adidas, udah pada nge-sale. Belum lagi pengen beli sepatu Converse, buset lah ini anak banyak maunya tapi pelit banget.. Ckckck

Ya Tuhan, semoga saya bisa ngehemat. Amin!

Eh, tapi kan mau karaokean --"
Haduh haduh, Zuma, Zuma...

Saturday, June 26, 2010

The Knowless Takes His Place

He doesn't know anything about us, even he always blamed everything to us.
He takes a new position which means that the one we've loved should resign and be substituted.
He doesn't even think about us, gotta see how selfish he is.
He doesn't want to care about us, eventhough his mouth said that but his heart didn't say the same.
He takes everything easily, even for the most serious problem. But he makes it more serious and more complicated for something easy, stupid, ridiculous, and damn funny.
He doesn't even know what's happening on us, but he tries to blend with us with his stupid argumentation.

Let's see how everything will go to the devil miserably soon...