Translate This Page

Saturday, July 10, 2010

It's an Monotonous Exhausting Cloudy Saturday Midday and Then You Realize That Matthew Charles Sanders is Screaming On Your Mind and Chopin is Playing Fantaisie Improptu With Pipe Organ

Any better ideas for longer title, huh?!

It seems to be a monotonous day, whereas Ive had a half 'monophonic' day. Having no idea for going downtown and whom the one that I can go with, then finding nothing's interesting on the dining table, and a piano with no music sheets to be played. What can be done for more but sleeping or kicking some asses? So pathetic.

Listening to the same pieces repeatedly, sitting on the same chair and facing the same Tablet PC, watching the same TV shows, talking with the same people, or at last playing the same pieces. Realizing that holiday will be over soon and school's gonna start in (approximately) 33 hours, I wanna drown myself into a hot tub.

I should re-paint my life and remake new plans.
And a glass of Tequila may help for a while.

Tuesday, July 6, 2010

I Was Looking For The Old Town But Skyscrapers Blocked My Way

Rencana jalan-jalan ke Jakarta hari ini sedikit terbilang mendadak, ditambah lagi bangun pagi disambut dengan sakit damn perut. Tapi perjalanan yang dimulai jam setengah 8 itu dilalui dengan mampir di Rest Area buat beli Soyjoy kesukaan saya dan juga kejebak macet di gerbang tol Pondok Gede (udah biasa jadi nothing's special). 

Akhirnya, mobil Kijang Innova warna silver dengan plat D1291HE berhasil nerobos kegilaan jalan raya dan meluncur ke area Mega Kuningan. Ga kaya Bandung yang masih 'ikhlas' nyisain lahan kecil buat bangunan berlantai 1 atau 2 di sebelah gedung tinggi, Jakarta tuh kayanya it's all about skyscraper everytime you look out the window. Bagus sih, karena pembangunannya ke atas bukan ke bawah (anggaplah menghemat lahan dan juga simbol kemajuan *halah*). Tapi setelah dipikir-pikir lagi bosen juga karena kiri kanan tiang-tiang langit semua.

Setelah men-drop off papa sama rekan-rekan kerjanya di kantor Departemen Agama (entah ada urusan apa, tapi denger-denger sih kayanya sebentar lagi saya diajak main ke Singapura lagi *yihaa!*), saya bingung sendiri harus kemana. Ditemani supir saya yang baik hati *tingting*, menjelajahi daerah sekitar kantor Departemen Agama yang ternyata tetanggaan sama gedung Pertamina. Tepat di depannya ada Masjid Istiqlal. Saya dengan naluri paparazzi saya yang emang udah nyiapin kamera dari awal, langsung ngambil sudut-sudut istimewa ala trigonometri buat take pictures. Semua gambar yang hari ini saya ambil sengaja di-tone ke monochrome. Sedikit menyayangkan karena saya ga bisa masuk ke bagian Masjid lebih dalam, dikarenakan cuaca juga yang panasnya alaihim that made me scream "I can't stand the heat anymore!!". Tapi yang saya liat di TV ato koran sih bagian dalam masjidnya, wuiiih keren!! Pillar-pillar penyangga ceilingnya patut diacungin jempol, dengan ketebalan yang kayanya setebel pohon Sequoia *ato apalah itu*.

Bego! Lupa setting aperture akhirnya.. blur!

Bagian depan Masjid. Salut sama architectural goal-nya


Sudah cukup puas mateng di area Istiqlal, saya cukup nyebrang jalan aja buat mampir ke salah satu cagar budaya yang udah disahkan (menurut papan informasinya). Katedral Jakarta, yang sepintas mirip Katedral Koln di Jerman. Dan sayang banget saya juga ga bisa masuk ke bagian gedung walaupun sebenernya satpamnya sih ngijinin saya (anak baik sih *haha*) karena kalo mau masuk ke dalam harus ijin dulu ke.. Siapa ya? Lupa saya, entah uskupnya ato siapa ya saya lupa atau Bapak XXX entahlah. Cukup saya ngambil gambar dari luar walaupun kurang greget!

Fasad bergaya Gothic, I like this!


Patung Kristus Raja. Di bawah patung ini, ada celah kecil untuk taro lilin. Orang-orang berdoa disana. A photo of me would show the benches for people to sit and pray.

Patung Maria di antara dua pintu masuk. Di pintu masuk sebelah kanan ada ramp buat kursi roda.

Sekali-kali boleh kan berani tampil di depan kamera :P



Sebenernya ada beberapa foto saya lagi sih, salah satunya ada yang lagi berlutut sama ada satu yang kurang enak diliat (berdiri di depan pintu Katedral tapi gayanya ga banget). Cuman jangan ditampilin disini soalnya mukanya aneh! Di tempat itu bisa berdoa. Di bawah patung Kristus Raja ada celah kecil buat taro lilin. Keliatan bekas-bekas kebakar karena api lilinnya, dan tulisan bahasa entah Belanda atau Jerman atau Latin yang sama-sama ngga jelas karena ketutupin jelaga dari lilin.

Oke, capcus ke tempat berikutnya saya pergi ke Atrium Senen. Tau gak, baju saya udah basah sama keringet dan terpaksa lah saya beli baju baru. Di Pojok Busana, saya beli satu tank yang oh waw harganya (Thanks God) enak di kantong!

Ugh!

Ohya, di persimpangan menuju Atrium Senen juga saya liat lagi billboard dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang intinya memperingatkan anak-anak muda supaya ga kejerumus sama narkoba. Dengan judul "This High or That High" dan dua gambar dari satu pemuda dengan jas lengkap. Bedanya, di gambar kiri menunjukkan si pemuda yang sukses (dalam keadaan high) karena ga pake narkoba. Di sebelah kanan, karena si pemuda pake narkoba jadinya dia high beneran alias meninggal (digambarin si pemuda ada di dalem peti mati dengan rangkaian bunga *hiyyy*). Ga saya foto billboardnya soalnya ngeliatnya juga merinding. Entah efek dari sananya atau karena cuaca, muka si pemudanya keliatan pucet banget. Saya jadi takut. Kalo yang udah pernah liat billboardnya mungkin ngerasa agak merinding juga. Makanya sebagai generasi penerus bangsa, kita ga boleh pake narkoba! Say no to drugs!

Sampe di parkiran Departemen Agama, ternyata papa udah selese rapatnya. Maka langsunglah mobil diarahkan menuju Parjis van Java. Kali ini kita ngelewatin jalan Thamrin, dan saya banyak dapet foto-foto kota Jakarta. Sebenernya saya kehilangan sisi Jakarta tua dengan segala keunikan dan keantikan bangunan-bangunannya. Saya justru cari sisi tuanya. Antik, kuno, kesan rustic dan historical. Bangunan-bangunan yang jadi saksi bisa kemajuan ibukota dan kejadian-kejadian di masa kolonial Belanda dulu. Beberapa udah alih fungsi, entah jadi kafe atau sekedar motel. Beberapa bahkan menyandang atribut 'horror'. Saya bener-bener cari sense kaya gitu. Sense yang saya rasa, Jakarta hampir kehilangan mereka (baca: Bangunan tua). Seperti halnya Bandung yang perlahan-lahan bangunan beraya kolonialnya mulai digusur jadi high rise. Kebanyakan yang saya dapet itu foto-foto skyscrapers, mall, offices, sampe high rise apartment. Saya pengen banget ke distrik kota tua Jakarta, dan naek sepeda onthel.
So the pictures below show the city buzz. Sepintas ga ada yang menarik, bahkan kalo kata saya sih Singapura sama Jakarta itu seimbang dari segi arsitektur modern bangunan dan persaingan tingginya. Tapi sebagai anak bangsa, kita harus bangga kalo Jakarta itu memberikan hasil yang cukup signifikan dalam pembangunannya.






Tugu Selamat Datang, dan shopping center yang selalu bikin saya inget sama iklannya yang dibintangi sama Sherina : "Welcome to Grand Indonesia..."

Honestly, I love this picture. That cloudy sky was so amazing (note 'Tugu Selamat Datang' and Hyatt Hotel behind)


Pernah nonton film "Nagabonar Jadi 2"? Harus inget scene di depan patung ini *ngakak*




Tapi, tak ada yang lebih menjengkelkan lagi selain macet! Menduduki urutan pertama dari penyebab kekesalan paling menjijikan sepanjang masa.




But it was a great day somehow. I enjoyed it and I wish I can have any trips for the next weeks :P Dan saya bener-bener ga sabar buat ke Singapore lagi *beberapa janji yang belum ditepati, salah satunya beli iPod! (curhat colongan). Jakarta has a lot of great monuments and historical buildings. Sayang saya ngga bisa men-discover semuanya. Mungkin besok atau lusa atau minggu depan, yeah someday! The history that makes me so curious..

Sunday, July 4, 2010

It Was Cold, I Mean.. Freezing Night!

Sore yang aneh karena semua perasaan dari mulai kesel, deg-degan, bingung, senang, takut, dan heboh jadi satu di satu hari yang sama. Awalnya sih saya sama Ko Shady ngga menyangka bahwa sore itu akan jadi awal dari 'my-almost-hypothermia', soalnya langit sore itu biru dan dari segi awan mengawan ngga ada tanda-tanda H2O bakalan terjun bebas keroyokan. Mungkin karena kita selama satu jam (dan selama itu pula saya membuang-buang uang ditambah dengan pesen Starbucks yang.. Ugh, I wished I could order something else but not Signature Chocolate! Maybe Hazelnut Roast Chocolate or.. Frappucino?) saya ada di dalam ruangan nomer 35 Family Karaoke Inulvista bersama Ko Shady, Ko Vicky, dan teman-teman langka lainnya. Setelah karaoke selesai, kita mulai berangkat kerumah Sammzybear karena adeknya sunatan (Aha! Aha!). Waktu udah nunjukkin pukul setengah 7 dan tentunya langit udah item sekarang ini. Saking itemnya, kita ngga bisa ngeliat kumulonimbus udah ngantri di atas sana.

Sampe di perempatan Pasteur dan jalan Sukajadi, disana terjadi sedikit perdebatan mau lewat kemana kita pergi. Setelah dipikir-pikir, Refian nyeletuk buat lewat ke 'situ' aja. Saran yang cukup baik buat terbebas dari kemacetan jalan Pasteur yang didominasi sama plat B.

Taman Pemakaman Pandu
Biasanya saya ngga setakut itu kalo ke pemakaman (malah waktu ke makam nenek sendirian juga biasa aja, justru saya nyesel ngga ikut prosesi pengembalian opa ke bumi *hiks hiks), tapi waktu itu sekitar jam 7 kurang dan langit gelap banget! Kompleks pemakaman itu terletak di pinggir jalan raya Pasteur dan ramp menuju jembatan Pasopati yang tingginya lumayan buat bunuh diri *halah*, tapi masalahnya bukan letaknya yang rame di pinggir jalan soalnya komplek pemakaman itu memanjang ke belakang bukan menyamping (cukup menyamping tapi lebih tepat disebut panjang). Kompleknya lengkap sudah dengan atribut-atribut funeral homes semacam mausoleum, batu nisan, salib, patung malaikat, sampe gargoyle. Bahkan yang lebih keren di bagian tengah komplek ada semacam makam yang dikasih gerbang besaaaaar banget kaya mau masuk keraton dan ada namanya di gerbangnya. Kayanya udah tua banget tuh 'rumah'. Apa yang bikin ngeri?

Saya cukup menyesali karena pihak pengelola pemakaman ato tata kota ngga ngasih LAMPU. Ditambah jalannya yang wavy semakin cocok buat uji nyali (kayanya tiap kuburan juga bisa jadi tempat uji nyali). Thanks God, motor yang dinaekin saya sama Ko Shady ada di urutan kedua, diantara motor Ko Vicky sama motor Nyoman. Setidaknya kalo ada yang colek saya di pundak kan keliatan sama motor yang di belakang (ato jangan-jangan ngga keliatan.. hiyyy!!). Dan seharusnya ada pedestrian kecil buat pejalan kaki di pinggir jalan, karena ini dari bahu jalan langsung ke bodi si kuburannya. Kondisi jalan yang cukup off-road sepertinya bikin keadaan tambah horror kalo motor oleng ke kiri ato ke kanan. Syukur-syukur jatohnya ke jalan, kalo jatohnya ke atas kuburannya? Maaf aja ya om, tante, nek, kek kalo kebangunin. Mending kalo si mpunya kaga marah. Kalo marah? Pasti lari ala Makibao.

Setelah selesai perjalanan rohaninya yang bikin saya berdoa sepanjang jalan gara-gara soak ngeliat nama-nama di batu nisan ato salibnya yang warnanya emas (so pasti blink blink kena sorot lampu motor) atau cukup ngebingungin gara-gara namanya ditulis pake karakter pinyin, sampelah di jalan Padjadjaran. Motor yang dibawa Ko Shady ngebut soalnya ngejar motor yang di depan (baca: Nyoman). Udah sampe belokan samping rel kereta api di jalan Padjadjaran, motor terus melaju sampe ngelewatin tong sampah tempat saya merelakan Signature Chocolate Tall Cup Starbucks melayang menuju gudang sampah kuning. Hiks hiks, tau gitu saya sekalian beli yang Hazelnut Chocolate Roast. Eh, ternyata jalannya dipalang gara-gara perbaikan jalan belum kelar. Oaladalah, muter balik walopun ujung-ujungnya sampe juga di jalan besar deket persimpangan menuju Kebon Kopi.

Udah sampe disana, kita berpisah. Ko Vicky pergi ga tau kemana disusul sama Nyoman. Kita berdua di jalan Kebon Kopi dan oh shit hujan turun di saat yang tidak seharusnya! Dikira hujannya bakalan kecil that I could make it through the rain, tapi ternyata could you feel it coming down? Came down harder, harder. Came down faster, faster ala El Nin-yo Tata Young! Astaga, motor langsung capcus kenceng banget dan Thanks God ngga nabrak hehe. Karena one two three reasons akhirnya kita berhenti sebentar di depan satu toko. Entahlah toko apa itu. Pas kita berteduh, disusul sama Nyoman yang berteduh di toko sebelahnya. Saya mulai kedinginan dan beku. Akhirnya saya jadi orang Korea juga (gara-gara nafasnya beruap hahaha). Asli loh sumpe loh itu saya hampir hipotermia. Mantep, basahnya kaga nahan!

Setelah hujan mulai pelan, kita lanjutin perjalanan menuju Melong Green tempat Sammzybear tinggal bersama keluarga dan tetangga-tetangganya. Di jalan, brrrr angin malamnya ga nahan. Bukan menusuk tulang lagi kayanya, ngobrak ngabrik! Curiga saya sakit demam besoknya. Tapi ternyata ngga saya bertahan *yihaaa!* dan langsung disuguhin baju ganti di rumah Sammzybear. Adiknya habis disunat, jadi bahan usil anak-anak yang lain.

Setelah ngobrol ini itu sana sini atas bawah kiri kanan depan belakang nyerong nyamping, akhirnya yang tersisa tinggal saya, Ko Shady, Sammzybear, sama Ko Vicky. Adeknya udah cape mungkin gara-gara nangis pengen maen PB tapi ga bisa jadi dia masuk ke bagian rumah yang lebih dalam. Di ruang tamu tinggal kita berempat. Karena Ko Vicky sama Sammzybear ngomongin sesuatu yang ga jelas, akhirnya saya jadi ngomongin hal yang ga jelas sama Ko Shady. Singkat cerita, saya pulang dan sebelum pulang dipuji sama Ko Vicky soalnya outfit saya udah ngepas banget *yihaa!* (tapi kok kaya.. Pee Wee Gaskins?). Di jalan, saya cuma ngandelin baju kering pinjeman dari Sammzybear sama kemeja GAP punya Ko Vicky. Dingin!! Brrrrr... mana bensin City Sport1 125cc merah tinggal satu strip, dan celana jeans PENDEK saya juga basah! Good job, great, fantastic, spectacular, gue sakit besoknya kayanya.

Sampe rumah ternyata saya selamat (amiiin..) dan langsung ganti baju ke yang lebih kering. Dipikir-pikir hari ini menyenangkan emang (apalagi sebelumnya juga berendem dulu di air panas Ciater yihaa!), walopun rada horror dan menyakitkan. For Sammzybear's little brother, congratulation ya! Bisa beli PS nih!

Sunday, June 27, 2010

Melangkah Dengan Sepatu Baru :D

Asyiknya kemarin malam berhasil membujuk papa buat beli sepatu baru, gara-garanya sih sepele : Sepatunya sudah kumal dan rusak di beberapa bagian dengan jahitan-jahitan yang mau eksis. Bahkan si papa sudah menunjukkan tanda-tanda 'murah hati' di CiWalk kemaren malem.

"De, liat itu ada toko olahraga. Barang kali mau beli bola."
"Ah, aneh-aneh aja. Aku carinya sepatu sama jaket."
"Wah, tadi di atas ada sepatu tuh banyak, sale lagi."

Kenapa ngga bilang dari tadi? Kalo bilang dari tadi kan saya ke Pattaya-nya bisa nanti..

Akhirnya setelah bujuk rupa dan sedikit memelas gara-gara hadiah naik kelas (rada curiga sih kalo ngeliat ke nilai-nilai yang turun gunung), sore ini saya diajak papa ke toko sepatu. Setelah pilih-pilih yang keliatannya enak dipandang enak dipakai akhirnya saya terjebak dalam 2 pilihan, Fila dan Vans. Keduanya bikin saya dilema, punya bentuk yang sama-sama saya suka, dari segi warna juga pilihannya enak-enak : Fila dengan skema warna navy blue, merah, sama putih dan Vans dengan skema warna hitam, merah, dan putih. Dari segi harga ga jauh beda. dan dua-duanya bikin saya bingung! Coba aja bisa pilih dua-duanya, kan asik *ngarep*

Akhirnya pilihan saya tujukan pada Vans. Yeah, memang warnanya hitam bukan navy blue dan dari segi komposisi bahan juga beda. Tapi ga berarti saya ga suka loh! Sizenya 41, berarti saya bertumbuh besar *maksudnya kakinya melebar*. Senangnya!

Thanks God, akhirnya saya ganti sepatu juga. Kaki juga jadi lebih nyaman.
See ya, the old Weidenmenn. Kalo lagi bosen nanti kamu saya pake juga kok. It's about time.. Tenang aja :P

Big Spender

Minggu ini merupakan minggu dengan pengeluaran yang cukup dahsyat buat seorang saya (yang notabene sering bokek dan merasa bokek, padahal entah di dompet atau tabungan ada berapa duitnya). Bayangkan, dari total hasil tabungan sebanyak IDR 300.000 yang terkumpul (termasuk dari nabung, ngambilin kembalian belanjaan *soblok*, bayaran hasil disewa *jasa musisi maksudnya*, sampe jatah ongkos sekolah) udah kepake sebanyak IDR 150.000! Dan barusan aja ngisi powercard di Game Master sebanyak IDR 10.000. Dari IDR 300.000, sebenernya ga ada apa-apanya sih dipake segitu. Tapi kalo diliat grafiknya, turunnya drastis banget dan menandakan bahwa saya ga bisa dipercaya buat megang duit *hiks hiks*

Agak shock juga saya kalo dipikir-pikir selama seminggu ini ngabisin setengahnya dari total IDR 300.000 buat hal-hal yang ga begitu penting (beberapa memang sangat penting sih, termasuk cicilan utang *halah*). Tapi yang saya ngga ngerti, kenapa uangnya bisa habis gara-gara Chic Choc, Pringles, Soyjoy, Cadburry, sama yang menurut saya lebih konyol : Seblak?! Kalo dipikir-pikir jajan sebanyak itu ga akan sampe 150.000, lha wong seblak aja cuman 2 rebuan. 5 rebu udah bisa sekalian beli Teh Poci juga. Bayar utang, lha saya aja bayarnya cuman 5 rebu, itu juga sisa 6 rebunya diikhlasin sama yang diutanginnya. Terus apa lagi ya? Oh iya, Game Master juga sih. Tapi saya cuman isi powercard 20 rebu. Misalkan kepake 20 rebu, jadi sisanya 280 rebu kan dari total 30 rebu itu. Nah namanya beli seblak and the gang kurang lebih 25 rebu (nyadar diri Soyjoy tuh mahal), berarti kan masih ada 255.000 perak lagi kan?

Yang 255.000 perak ini dikemanain? Itu dia saya juga ga ngerti. Saya beli apa aja sih sampe duit abis segitu? Oh iya saya inget! Ke Starbucks ngabisin 25 rebu (dapet bonus 10 rebu dari si papa), akhirnya sisa duitnya jadi 230 rebu. Ohya, sempet ke Timezone juga ngisi powercard 10 rebu jadinya sisa 220 rebu. Terus apalagi yang bikin duit saya tinggal 140 rebu?

Apapun itu intinya 2 poin :
  • Mengurangi frekuensi jajan
  • Mencari lagi duit
Masalahnya udah liburan kaya gini yang namanya duit itu wajib ada di dompet, apalagi barusan dari CiWalk ngeliat Nike, Cardinal, Jail, Adidas, udah pada nge-sale. Belum lagi pengen beli sepatu Converse, buset lah ini anak banyak maunya tapi pelit banget.. Ckckck

Ya Tuhan, semoga saya bisa ngehemat. Amin!

Eh, tapi kan mau karaokean --"
Haduh haduh, Zuma, Zuma...

Saturday, June 26, 2010

The Knowless Takes His Place

He doesn't know anything about us, even he always blamed everything to us.
He takes a new position which means that the one we've loved should resign and be substituted.
He doesn't even think about us, gotta see how selfish he is.
He doesn't want to care about us, eventhough his mouth said that but his heart didn't say the same.
He takes everything easily, even for the most serious problem. But he makes it more serious and more complicated for something easy, stupid, ridiculous, and damn funny.
He doesn't even know what's happening on us, but he tries to blend with us with his stupid argumentation.

Let's see how everything will go to the devil miserably soon...

Insomnia

Sebuah efek yang lama-lama jadi penyakit karena sudah mencapai taraf akut. State dimana seorang saya, Kaz mengalami suatu hal yang membuat saya susah memejamkan mata (terutama selepas membuat cerita horror atau terbayang sesuatu yang tak enak dipikirkan), malas berbuat apa-apa tapi banyak keinginan. Insomnia, penyakit yang sepertinya mewajibkan saya berada di depan Tablet PC saya untuk melanjutkan novel horror itu (justru saya tak bisa bergerak dan melirik kiri-kanan jadinya), atau membuka Mozilla Firefox (belakangan saya ganti jadi 'Godzilla Firefox'), atau terpaksa menyalakan TV dan menonton acara-acara yang relatif membosankan.

Penyakit ini berawal dari kegiatan saya internetan, bahkan sebelum pindah rumah dari rumah yang lama menuju komplek Duta yang jalanannya menjadi surga bagi para anak-anak, pengendara sepeda, pengendara skuter atau otopet dan pemain bulutangkis dadakan. Dulu, sedang jamannya main Rock Legend, dan mewajibkan saya terus memantau kegiatan band saya lewat monitor CRT. Belum lagi demam download yang selalu menyerang saya jika ada internet berkecepatan 'cukup' tinggi, komputer dengan minimum requirements ber-OS Windows atau Mac, prosesor Intel 'Pentium 4' atau 'Centrino Duo' atau 'Core2Duo; atau 'Quadcore', harddisk kapasitas besar, dan Mozilla Firefox dengan tema Persona 'L Death Note'. Ditambah lagi playlist di iTunes yang semakin mendukung penyakit ini merajalela dan menyerang saya selama 3 jam ke depan.

Apa saja yang dilakukan selama insomnia itu?
  • TV merupakan salah satu media terkomprehensif setelah internet, sehingga tak jarang saya menonton acara-acara seperti gossip malam yang menyebalkan, reality show, acara tanya jawab yang membosankan seperti lomba catur, bahkan siaran langsung F1
  • Secangkir moccachino atau coklat panas merupakan teman yang baik ketika insomnia (baca: begadang). Bahkan, suatu hari pernah saya rencanakan untuk insomnia sehingga sore harinya saya paksa pergi ke kedai kopi buat beli Choconut Almond
  • Handphone adalah teman yang baik ketika jeda iklan atau commercial break, atau ketika ada berita sisipan yang ngga penting. SMS adalah jalan terakhir ketika internet tiba-tiba nge-hang atau lemot dalam rangka in-touch dengan rekan-rekan senasib
  • Internet, media informasi yang kaya akan pengetahuan, hiburan, dan juga virus. Lewat internet inilah saya sering curhat mengenai kesedihan saya menjalani hari-hari dengan insomnia yang pada akhirnya membuat saya telat masuk kelas karena bangun jam setengah 7 pagi
  • Facebook atau Twitter selalu jadi andalan ketika insomnia datang menghampiri, dan juga Blog yang terima kasih sudah menjadi pendengar setia saya ketika saya harus marah-marah dan mengumpat
  • Torrents adalah geng motor yang menculik 'harta karun' yang saya inginkan
  • Indowebster adalah situs surga bagi para downloaders yang ingin menyedot harta karunnya dengan kecepatan yang tak bisa dipandang sebelah mata
  • Google merupakan bank info terbesar yang saya lihat, karena dengan kita mengetikkan kata 'Lingerie' maka sudah cukup bisa membuat kaum Adam betah di depan layar
  • Bantal guling merupakan teman yang baik yang bisa dijadikan sandaran ketika merasa mata sudah mulai merapat sekitar 2 milimeter
  • Jaket, sweater, vest rajut, hoodie, anorak, bahkan parka yang melindungi dari udara yang cukup dingin. Tapi percaya atau tidak, saya pakai jaket setebal itu tapi lihat celananya, di atas lutut!
  • Curhat colongan : Di rumah saya yang manapun, lokasi tempat insomnia selalu dekat dengan piano. Bukan masalah main piano atau tidaknya, tapi takut sewaktu-waktu papan penjarian itu tertekan tiba-tiba tanpa komando dari saya. Dan itu artinya novel saya menjadi nyata
  • Menulis note di Facebook atau copy-paste dari note seseorang adalah hal terakhir yang mentok kalau tak ada ide lagi (minimal notification berhenti kedip-kedip)
  • Menghindari cermin atau kaca atau benda-benda lain yang membuat refleksi
  • Game! Hal penting yang saya lakukan ketika insomnia datang menyerang adalah membuka game-game semacam Social City, Farmville, atau game-game lain yang memaksa saya untuk selalu online 24hours/7days/4weeks/12months
  • iPod atau MP4 demi menjaga telinga mendengar dari hal-hal yang tak pantas di dengar seperti gossip artis tengah malam atau berita mengenai bursa saham
  • Believe it or not, buku dongeng sebelum tidur biasanya berada tak jauh dari saya
  • Menggeser sofa ke spot terdekat, takut-takut tak mampu berjalan ke lantai atas untuk tidur. Sofa pun bisa jadi kasur dadakan walaupun epidermis akan bentol-bentol digigit nyamuk
  • Mengecek keamanan pintu dan jendela di lantai dimana saya berada (tak perlu lah naik-naik ke lantai atas. Sudah cukup banyak jendela disini). Tak hanya cukup dengan satpam yang bersiap sedia di depan rumah, pencuri atau penculik bisa saja masuk. Saya takut anak sekecil saya dengan wajah tak berdosa ini harus jadi korban penculikan dan dibarter dengan anak kambing, atau anak kecil berpostur chibi menggemaskan ini harus menghadapi para penyamun yang suatu saat bisa saja menyerang saya dan memasukkan saya ke dalam kardus TV lalu ditukar dengan hadiah langsung berupa kulkas satu pintu
  • Secangkir susu hangat untuk mempercepat perapatan mata (kalau memang sudah tak ada kegiatan yang lain)
  • Menghafal isi kamus. Coba saja dan lihat efeknya
  • Senam jari. Bukan di atas piano atau game Audition online, tapi di atas kalkulator nyasar --"
  • Menggigit sesuatu yang pantas digigit : Keripik pisang, kacang disko, biskuit coklat, chocobi, bourbon, bahkan ujung bantal
Selepas insomnia, maka rasa kantuk pun datang. Dan itu akhirnya segala barang pecah belah, perabot kotor, sampah kertas, puntung rokok ngawur (baca: Cheese Stick), selimut kusut, kabel modem, charger, Tablet PC, handphone, remote TV, iPod, bantal guling beserta pacarnya si sarung guling apek, dan yang terakhir diri saya yang kucel bin kumel ini harus dibereskan dan di kembalikan ke tempatnya. Mengembalikan mereka ke habitatnya merupakan perjuangan yang agak sulit, setelah halusinasi horror dan juga rasa malas serta berat badan yang tiba-tiba naik 20 kilogram membuat saya sulit bergerak. Kalau tidak dibereskan maka ratu Yuliana dari Belanda akan menyerang saya dengan bom molotov pada keesokan paginya.

Keesokan harinya saya bangun telat lagi, melangkah gontai ke kamar mandi sampai lupa ambil lingerie eh maaf salah briefs di lemari, dan kesiangan sampai sekolah sehingga terpaksa diadakan debate contest dadakan di pos satpam sekolah.

Le Temps Qui Passe : Human Recognition

Some of you might be lucky to have a gadget which has an ability of handwriting recognition, so do I who have been working on this Tablet PC for a long time. Handwriting recognition enables you to write your own handwriting letters and the system in the computer or device will recognize the letters. Usually the devices use a stylus or Tablet pen as a pen to write the letters.

As men keep developing the technology, and finally invent something called 'Human Face Recognition' which is used in security system that we can find in Airports, Harbor, even in the streets. The system enables us to recognize someone's face that the one who is chosen to be recognized was in a trouble or criminal performs.

But, there's something that sometimes the computer cannot recognize, even a man himself cannot recognize it. What's that? Human recognition. This is not about the physical identification or handwriting letters. But the man himself, something inside the man himself. Some cases and most of them are about the characters and attitudes, not the physical identification itself. I bet I've known them for so long but I guess I lose my bet because today I realize that I cannot recognize them anymore. Sometimes you think you've known someone well at all, but actually you haven't known him or her at all that you keep arguing for the recognition. The changes can happen sometimes somehow, and the changes can affect anyone, anywhere, and anytime. So sad I realize that I see no one I used to know, and so sad that I find nothing I used to know. What I hear is something I never recognize it. What I see is someone I never meet. Everything seems so different, even the system cannot recognize it. So I pray that everything's gonna be alright or at least back to where it has been. And I hope that someday the ability of recognizing them will come back into me as soon as possible.

"Cuz the saddest part is when you can't recognize people whom you love so much..." Klaus R Dewanto Ivanov - Pianist, Violinist

The ability will come back into me. And they will be back to where they've been before. Everything will be okay soon and another sun will shine brightly. Yeah, just like a song sung by Laura Fygi : Le Temps Qui Passe..

Friday, June 25, 2010

Budaya Mengantri (Semua Kena Kok)

Malem ini jadi malem yang berhasil bikin saya ngumpat-ngumpat di motor. Gimana nggak, sesosok pria seumuran kepala empat nyerobot antrian saya di kasir. Whadefak, kasian ibu-ibu di depan saya aja sampe kedempet sama bodinya yang ga kalah jebrag sama mukanya.

Jadi gini ceritanya, pulang dari Purwacaraka saya mampir dulu ke sebuah minimarket dengan akhiran ..........mart (hayo apa hayo?). Nah, setelah ngambil A&W Sarsaparila dan pulpen bertuliskan Zakumi, World Cup 2010 saya langsung ikut antrian di kasir. Di depan saya juga ada ibu-ibu yang lagi proses bayar beserta anaknya yang masih kecil. Lagi asik-asik ngeliatin deretan coklat sama kondom yang dipajang mencrang (oops?!), tiba-tiba ada sesosok manusia semacam Shrek berdiri di belakang saya. Langsung aja tuh Pak Tua naro dua gelas minuman kaleng buat panas dalem (ketawan lagi sakit goroan) sama entah pulpen entah coklat di meja kasir. Si ibu yang lagi proses bayar juga agak risih, apalagi gue yang di depannya banget. "Nih bocah maunya apa sih?", batin saya. Dan sebelnya tuh tua-tua keladi ngeliatin saya dengan tatapan sinis. Saya kesel jadi balik ngedelekin (ga terima dong gue didelekin ga ada salah, anjrit tuh abah-abah ladu!). Si mbak kasir juga jadi ikutan mesem mukanya gara-gara biawak itu ikut ngeksis di catwalk produk, eh maksudnya meja kasir. Pas saya udah mau bayar, itu bapak-bapak nyedek si ibu-ibu itu sampe akhirnya 'mengalah' (anjrit ga gentle banget tuh bocah). Saya yang masih baik cuman ngeliatin sinis ke orang itu. Setelah orang itu bayar, saya rada ngumpat sedikit. Kasirnya ngedenger tapi cuman ikutan kesel dalam hati sambil ngelus dada. "Sabar.. sabar..", katanya.

Setelah selese, saya ke motor lagi dan langsung cerita ke anak-anak. Mereka ketawa-ketawa pas sepanjang jalan ke Duta saya mencak-mencak marah-marah ngumpat-ngumpat ngedoain hiu martil itu yang jelek-jelek. Dari mulai Hachiko, Patkai, wilayah Saritem, penghuni neraka, orang idiot sampe segalanya saya sebutin (keabsen semua kayanya). Kocak deh malem itu. Coba ya budayakan ngantri. Anak kecil kaya saya aja mau ngantri, masa abah-abah ladu kaya gitu ga mau ngantri? Lagian kalo ngantri juga pasti semuanya keladenin kok sama kasirnya (ya minimal dipindah kasir kalo emang shiftnya selesai ato mesin kasirnya rusak). Ckckck kalo gini sih gimana negara bisa maju?

For The Expectation That's Hard To Come True

Would you just try to spend the time just for me please? Maybe a whole day, a half day, even an hour? Or should I pay for your time in paying your salary?

Guess what, you've been to many places that I must have been so envy cuz couldn't be there. Remember, you've missed my birthday for twice that I was hurt. You've been so busy and put me as the third place. You've spoiled her and ignore me like I'm a jerk because she's been so special for you huh?! Frequently you snapped me for something I didn't know. You blamed me for something that damnfully I swore I never knew about that!

Why can't you try to listen to me? Look at me, I'm sick right now but nobody knows about that. Even Mom keeps getting busier day by day and considers that pain as something easy. Listen to me and look at me! We're definitely living in different world, and you always blame me for that. Look back what you've done, you made me like this. Eat that!

Daddy, can you listen to me..